Gelap

Satu Centang Abu 10

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Satu Centang Abu 10

. Eryana Adelia POV Aku mendesah pasrah.
Seharusnya malam ini aku bisa membawa Mas Hilman pergi ke resto.
Selain untuk menemaniku, aku juga ingin membuktikan perihal Agorapobhia itu.
Namun nyatanya, aku gagal membujuk Mas Hilman.
Alasannya begitu banyak hingga aku tidak bisa mengelak saat ia menyuruh Tama untuk menemaniku.
Sekarang, aku sedang berada di perjalanan menuju resto dengan Tama yang masih setia memegang kemudi di sampingku.
"Non, nggak papa?" Lelaki itu mengiba saat menatapku.
Aku hanya membalasnya dengan tersenyum.
Mood ku sudah berubah sejak tadi, maka aku memutuskan untuk tidak banyak bicara.
Semoga saja, Tama paham akan hal itu.
Setelah melewati macet dan hujan, akhirnya kami berhasil sampai dengan selamat di resto.
Tama memberikanku payung, mengajakku untuk segera masuk ke dalam resto itu.
Beruntung sekali, ia sigap melapisi laptopku dengan tas waterproof yang ia punya sehingga aku tidak khawatir dengan naskahku yang sudah pasti aman di sana.
Aku menyimpan payung di tempat penitipan barang, sedangkan Tama sudah izin untuk kembali mengurusi resto.
Tidak masalah, aku bisa bertemu dengan Pak Tomi tanpa ditemani lelaki itu.
"Nana?" Seseorang menepuk pundakku.
Aku yang baru saja selesai menitipkan payung pun langsung menoleh padanya.
"Siapa?" Aku kembali bertanya karena merasa asing dengan lelaki berambut pirang ini.
Jika sekilas aku lihat, ia memang tampan dengan hidung mancung dan bibir tipisnya.
Tapi masih kalah tampan sih dibanding dengan Mas Hilman.
"Kamu nggak ingat? Aku.
Sandy.
" Jelasnya dengan tersenyum lebar, memperlihatkan gigi gingsul yang membuatku teringat seseorang.
Aku menautkan alis, berpikir.
"Sandy Anggoro?" Tebakku final.
Nama panggilannya sangat mirip dengan teman kecilku dulu.
"Tuh ingat.
" Aku merasakan tangan besarnya sedang mengusap rambutku dengan lembut.
Aku tersenyum kikuk, "Ah iya, maaf.
" "Tidak masalah, Nanalia.
" Goda Sandy dengan memanggil nama penaku hingga kami tertawa bersama.
Aku mengajaknya berjalan mencari tempat duduk.
Setelah sebelumnya, ia lebih dulu menawariku untuk makan malam bersama.
Tidak masalah kan, kalau aku rindu dengan lelaki ini.
Bertahun-tahun tidak bertemu, kurasa Tuhan sudah berbaik hati menemukan kami kembali di Sabtu malam ini.
Pasalnya sejak Sandy pindah ke Bandung untuk sekolah bisnis, kami tidak pernah berhubungan lagi.
Berhubungan dalam artian saling menelpon atau sekedar mengirim pesan.
"Gimana kabar kamu?" Tanya Sandy setelah kami memesan makanan.
"Aku? Baik.
Kamu sendiri, sudah move on?" Tanyaku langsung kepada intinya.
Tiba-tiba aku teringat dengan cinta pertamanya.
"Move on? Kasep kamu baru tanya hari ini.
Udah lama aku move on nya.
" Sandy kembali terkekeh, membuatku terperangah dengan aura ketampanannya yang masih sama.
Ah iya, jangan bilang ke Mas Hilman kalau aku pernah menyukai lelaki di depanku ini.
Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal.
"Oh iya? Bagus dong.
Terus, siapa yang sudah membuat kamu move on? Apa ada gadis cantik yang berhasil mengalihkan pikiranmu?" Godaku mencairkan suasana.
Berbicara dengan Sandy adalah hal yang menyenangkan.
Aku tidak pernah kehabisan topik untuk dibahas bersamanya.
Sembari menunggu jawaban lelaki ini, aku memilih untuk menatap sekitar.
Berjaga-jaga jika Pak Tomi sudah datang.
Aku tidak mau revisi naskah ini semakin diundur hingga memperlambat acara launching bukuku.
"Na?" "Eh iya, San.
Jadi siapa gadis beruntung itu?" Ulangku mendadak tak fokus dengan apa yang ia bicarakan.

Sumber:Internet