. Part agak panjang dan membosankan!Pembahasan cukup berat!Enjoy the reading :) *** Cklek.
"Baru pulang?" Eryana terlonjak melihat Hilman yang sudah berdiri menjulang di hadapannya.
Ia berusaha menormalkan degup jantungnya yang kembali berdetak kencang saat lelaki itu menajamkan netra abunya, meneliti tubuh Eryana dari atas hingga bawah.
Gadis itu menegakkan tubuh sembari menatap Hilman dengan lantang, ia berdehem untuk menghilangkan kegugupannya.
"Iyalah.
Mas Hilman kan juga tahu kalau aku baru pulang, terus kenapa tanya-tanya lagi.
Mas Hilman ada perlu sama aku? Tumben nunggu aku pulang.
" Eryana hendak melangkah melewati Hilman untuk menuju kamar mandi.
Namun lelaki itu sudah mencengkram tangannya kuat-kuat.
"Kenapa pulang telat?" "Kan aku udah bilang, aku ada meeting sama Pak Tomi.
" Eryana mendesah pasrah, ia mencoba melepaskan cengkraman di tangannya sekuat tenaga.
Namun lelaki itu semakin mengeratkannya, membuat ia meringis merasakan sakit dan panas secara bersamaan.
"Jangan bohong Eryana!" "Bohong apasih, Mas!" Gadis itu menghempaskan tangan Hilman saat dirasa cengkramannya mulai mengendur.
Matanya nyalang menatap suaminya yang berusaha meredam emosi.
"Pak Tomi tadi telpon saya karena ponsel kamu nggak bisa dihubungi.
Beliau meminta saya untuk menyampaikan kalau meeting kamu ditunda lagi.
Lalu, barusan kamu bilang--" "Iya iya aku ngaku.
Aku tadi memang nggak jadi meeting sama Pak Tomi.
Ponselku lowbatt, nggak bisa ngabarin kamu.
Puas??" "Siapa laki-laki itu?" Eryana mengernyit, "Laki-laki? Maksud kamu, Sandy?" "Ya itulah saya nggak mau nyebut namanya.
Siapa dia?" "Temanku.
" "Teman? Teman spesial? Teman tapi mesra? Atau teman tapi pacaran?" Eryana membuang napasnya kasar.
Sedetik kemudian, senyum iblisnya kembali merekah di bibir.
Ia menatap Hilman penuh arti.
"Kenapa tanya-tanya? Nggak seperti biasa Mas Hilman kepo.
Hm, aku tahu.
Apa jangan-jangan, Mas Hilman cemburu ya? Ya.. ya.
" Telunjuknya menoel-noel dagu Hilman yang runcing.
Lelaki itu mengedikkan bahunya tak acuh, lalu menepis tangan Eryana.
"Cemburu? Jangan harap Eryana.
Lagipula, saya hanya tidak ingin reputasi saya sebagai pengusaha kuliner dicap buruk karena membiarkan istrinya pergi berduaan dengan teman lelakinya.
" Hilman berdecih.
Ucapannya barusan sukses membuat Eryana terdiam tanpa tahu membalas apa.
Yang jelas, gadis itu sadar jika Hilman tidak benar-benar mengharapkan kehadirannya.
"Tama ke mana?" Hilman berjalan duduk di tepi ranjang, mengamati Eryana yang masih mematung di depan pintu.
Gadis itu merosotkan bahunya, melangkah menuju meja rias.
"Nggak tau tuh, paling masih repot sama urusan resto.
Kalau aja Tama nggak repot, pasti aku udah nolak ajakan Sandy buat pulang bareng.
Percuma sih, aku berusaha pulang tepat waktu biar kamu nggak marah-marah.
Nyatanya, sama aja!" Hilman bangkit dari duduknya.
"Saya nggak peduli apa hubungan kamu dengan laki-laki itu.
Yang jelas, kamu harus menjauhinya! Jangan harap saya akan mengizinkan kamu untuk menemuinya lagi!" Desis Hilman sebelum berjalan keluar dari kamar.
Eryana tercengang lalu dengan lantang menjawab, "Yeee, bilang aja cemburu! Dasar nggak jelas!" Prang.
Ia kembali terlonjak saat Hilman melempar sebuah guci mahal ke pintu kamar dengan kuat, hingga pecah menjadi beberapa keping.
"Saya dengar Eryana!"
Sumber:Internet