Gelap

Satu Centang Abu 15

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Satu Centang Abu 15

. Eryana Adelia 'POV Aku terduduk di sebuah kursi, di samping ranjang yang ditempati Mas Hilman saat ini.
Sudah tiga hari pasca kejadian di resto, operasi pun sudah dilaksanakan.
Namun sampai saat ini, mata abu Mas Hilman masih belum terbuka.
Cemas? Tentu saja.
Mas Hilman sudah mengorbankan dirinya untukku.
  Tapi apa yang bisa ku perbuat? Selain menyalahkan diri sendiri, berdoa, dan berharap baik untuknya.
Setiap hari aku selalu menunggu mata indahnya terbuka, tangan dinginnya kugenggam erat-erat.
Sesekali aku mengecupnya sambil berbisik, bercerita tentang kenangan kami yang tidak luput dari pertengkaran kecil di setiap harinya.
'Aku merindukanmu, Mas.
' Kalimat itu yang selalu kugunakan untuk mengakhiri cerita.
Masalah resto sudah ditangani oleh Sandy dan Mas Faiz.
Syukurlah, Sandy masih bisa ku andalkan meskipun aku harus merasa tak enak hati karena sudah menolaknya.
Hm, sepertinya aku harus mencarikan lelaki blonde ini pasangan agar aku tidak terus-terusan merasa bersalah.
"Na, aku sama yang lain mau ke kantin.
Kamu nitip sesuatu?" Rima mengusap bahuku lembut.
Aku hampir lupa kalau di ruangan ini masih ada Rima, Kak Damar, Mas Faiz, dan Mbak Intan.
Sebenarnya tadi ada Ibu, tapi sekarang sudah pulang setelah memberikan buku abu-abu milik Mas Hilman kepadaku.
Setidaknya kehadiran mereka bisa sedikit menghiburku di sini.
Aku jadi tidak merasa kesepian.
Meskipun keluargaku sendiri berhalangan hadir untuk menemaniku.
Papa dan Mama masih di Swiss, mengurus cabang perusahaan yang baru diresmikan.
Sedangkan Kak Karina dan suaminya, masih di pedalaman untuk mengabdi sebagai tenaga medis bersama buah hati mereka yang baru berumur empat bulan.
Rima kembali mengusap bahuku.
Aku memaksakan senyum.
Kurasa, makan tidak akan bisa membuatku tenang.
Jadi aku menggeleng sebagai jawabannya.
Meskipun sejak kemarin perutku belum terisi sama sekali.
"Kamu beneran nggak mau nitip sesuatu? Kata Ibu, dari kemarin kamu belum makan.
" Aku menggeleng lagi.
"Nanti gue pasti makan, Rim.
Tapi setelah Mas Hilman sadar.
" Aku mengulas senyum, menelungkupkan wajahku di sisi ranjang, mengisyaratkan Rima agar tidak banyak berbicara padaku lagi.
Bukan bermaksud mengacuhkannya, hanya saja aku sedang tidak dalam mood yang baik saat ini.
Sepertinya Rima peka dengan isyaratku.
Aku mendongakkan kepala setelah mendengar decitan pintu, tanda seseorang menutupnya.
Lega.
Sekarang aku bisa bercengkrama dengan Mas Hilman dan membaca buku abu-abu ini dengan tenang.
Aku membacakan isi buku itu kepada Mas Hilman dari halaman pertama hingga halaman yang sudah aku tandai kemarin.
Aku akan terus membacakannya meskipun tidak ada respon yang Mas Hilman tunjukkan kepadaku.
Tak apalah, aku hanya ingin bercerita saja.
Aku berdehem tepat saat berada di halaman yang aku tandai.
03 Maret 2013 - di tempat biasa, mencarimu.
Bab 3, ayat 1 An, sejak seminggu yang lalu kamu ke mana? Setiap hari aku selalu menunggu hadirmu.
Apa kamu sudah bosan berteman denganku? H.
S.
S Hm, seminggu yang lalu dari tanggal tiga Bulan Maret tahun dua ribu tiga belas.
Berarti, Mas Hilman nggak bertemu aku sejak tanggal dua puluh lima Februari.
Ada peristiwa apa ya, di tanggal itu.
Aku tidak mengingat apapun di hari itu.
Karena frustasi, ku putuskan untuk langsung membaca halaman berikutnya.
08 Maret 2013 - entahlah di mana, masih mencarimu.
Bab 3, ayat 2 Ana, aku lelah.
Rasanya, trauma ku semakin bertambah jika kamu benar-benar tidak kembali.
Mana genggaman tanganmu?! Mana pelukan yang selalu kamu berikan kepadaku?!
Sumber:Internet