. Enjoy the reading!๐ *** Udara sejuk mendominasi seluruh penjuru kota.
Hujan baru saja reda beberapa menit yang lalu, menyisakan embun dan tetesan air di antara dedaunan yang rimbun.
Di sinilah Eryana, di taman rumah sakit.
Terduduk sendu dengan mata sembab yang senantiasa menatap kosong objek di depannya.
Antara lelah dan sakit, ia tidak bisa menahannya jika sudah berhadapan dengan lelaki itu.
Maka kabur sejenak dari radar Hilman dengan menghirup aroma hujan setelah menangis adalah keputusan terbaik menurutnya.
Seorang perempuan hamil menghampiri Eryana.
Tanpa meminta persetujuan, perempuan itu sudah duduk di sebelahnya.
"Oh, ternyata di sini.
" Sebuah suara yang sangat Eryana kenal membuatnya mendongak hingga bertemu dengan manik hitam perempuan itu.
Rima.
Adik ipar sekaligus sahabatnya.
Eryana berdehem, "Lo kok bisa tahu gue di sini.
" Tatapannya beralih menatap rerumputan yang tengah menggelitik jemari kakinya.
Rima mengedikkan bahu sembari tersenyum konyol.
"Feeling seorang sahabat memang nggak pernah salah.
" Eryana tersenyum mendengarnya.
Rima masih menganggapnya sahabat meskipun mereka sudah sama-sama berumah tangga dan mempunyai kehidupan sendiri.
"Kamu udah lama di sini? Kak Hilman tadi maksa buat cari kamu, loh.
Padahal kata dokter lukanya masih belum sembuh total.
Nggak boleh banyak gerak dulu.
" Sejenak Eryana merasa bersalah sudah meninggalkan Hilman, membuat lelaki itu khawatir.
"Terus sekarang gimana?" "Kak Faiz udah berhasil ngebujuk Kak Hilman.
" Eryana menghembuskan napas kasar.
Meskipun ia membutuhkan me time untuk me-refresh pikirannya.
Tapi tetap saja, sebagai seorang istri prioritas utamanya adalah suami.
"Hm.. ya udah deh.
Gue mau balik aja.
" Putusnya.
"Kamu yakin, Na? Nggak pengen cerita sesuatu dulu sama aku?" Eryana menaikkan satu alis, niatnya yang hendak beranjak dari duduk pun tertunda.
Ia lebih tertarik dengan tawaran Rima.
Sedikit bercerita mungkin bisa menghilangkan pikiran buruknya.
Siapa tahu Rima mengenali perempuan di masa lalu Hilman.
"Ah iya, Na.
Aku tadi nemuin ini di laci nakas.
" Rima merogoh sesuatu dari tas selempang, lalu memberikannya kepada Eryana.
Buku abu-abu?! Eryana menegang.
Jelas sekali yang ada di tangannya Rima adalah buku abu-abu milik Hilman.
Ya Tuhan! Ia hampir melupakannya.
"Tadi aku lagi beres-beres nakas, iseng buka laci ternyata ada buku abu-abunya Kak Hilman.
Aku pikir, kamu yang udah baca buku ini.
Soalnya, Kak Hilman udah lama nggak pernah nulis lagi di buku abu-abu.
Selama ini juga cuma aku yang tahu tentang buku abu-abu ini.
Dan sekarang, bertambah satu.
" Jelas Rima tanpa diminta.
Ia sudah peka dengan ekspresi sahabatnya yang penuh tanya.
"Terus Mas Hilman--" "Tenang aja.
Kak Hilman nggak tahu kok, aku ngambilnya diam-diam.
Lagipula, aku udah paham kalau Kak Hilman nggak akan ngasih izin kamu buat baca buku ini.
" Eryana bernapas lega.
Ia masih bisa mengulik isi buku itu meskipun rasa sakit di hatinya masih ada.
Diambilnya buku itu dari tangan Rima.
"Makasih ya, Rim.
Lo emang tahu segalanya.
" "Sama-sama, Na.
" Eryana memeluk Rima dari samping.
Wanita hamil ini sudah tahu tentang buku abu-abu.
Berarti tidak menutup kemungkinan jika Rima kenal dengan perempuan yang bernama Anaya Shinta.
Eryana mengurai pelukan.
"Kalau lo tau tentang buku abu-abu ini, berarti lo juga tau dong siapa Anaya Shinta.
" Rima terlihat berpikir sebentar, bola matanya bergerak-gerak ke samping.
"Anaya Shinta.
Hm, maksud kamu Kak Ana?" Eryana senang bukan main.
Tebakan Rima tidak meleset sama sekali.
"Iya itu maksud gue.
Lo tau?" Rima mengangguk mantap.
"Tau.
Dia kan cinta pertamanya Kak Hilman yang meninggal setelah diculik dan hilang selama beberapa hari.
" Eryana meneguk ludahnya kasar.
Cinta pertama?! "Kalau nggak salah, Kak Ana juga salah satu penggemar berat kamu loh Na.
Masa setiap ke toko buku sama Kak Hilman, yang dibeli selalu buku kamu.
" "Serius?" Wanita hamil itu mengangguk.
Eryana menatapnya tak percaya.
Berarti, yang selama ini ada di perpustakaan Hilman adalah buku-buku kesukaan Ana? Yang tak lain adalah karyanya sendiri.
'Bodoh sekali, Eryana! Kamu pikir Hilman akan menyukai karya-karya mu? Lalu menyimpannya di sebuah perpustakaan khusus? Jangan mimpi!' Entah kenapa hatinya kembali sakit, mendengar jawaban dari Rima tentang Hilman yang rela menyimpan barang-barang kesukaan Ana di ruangan khusus yang ia sebut perpustakaan.
Segitunya kah, Hilman tidak bisa move on dari Ana? 'Jelas! Ana itu cinta pertama Hilman!' "Na?" Rima menepuk pelan bahu sahabatnya, membuat wanita berambut sebahu itu tersentak.
"Ah iya, Rim.
" "Kamu kenal sama Kak Ana? Perasaan aku nggak pernah deh ngenalin dia ke kamu.
" Heran Rima.
Eryana tergagap.
"Heum, gue tahu dari buku ini kalau Mas Hilman itu cinta banget sama perempuan yang namanya Anaya Shinta.
Dari buku ini juga, gue tahu semuanya tentang masa lalu Mas Hilman.
" "Berarti, tentang trauma itu--" "Iya gue udah tahu.
Mas Hilman juga bukan kakak kandung lo, kan?" Rima mengangguk.
"Tapi nggak semua yang gue tahu ini dari buku abu-abu kok.
Soalnya ibu pernah cerita ke gue, tentang masa lalu Mas Hilman juga.
" Eryana menghela napas.
"Ck, sad girl lagi nih gue.
Tahu Mas Hilman belum move on dari cinta pertamanya.
" Wanita berambut sebahu itu tertawa hambar.
Rima merangkul bahu sahabatnya.
Ditatapnya Eryana yang tengah tertunduk lesu dengan mendekap buku abu-abu.
"Jangan berspekulasi dulu, Na.
Siapa tahu Kak Hilman udah move on dari Kak Ana.
" Ucap Rima dengan seulas senyum merekah di bibir tipisnya.
Move on? Bahkan lelaki itu masih menyimpan semua kenangan milik Ana di sebuah perpustakaan rahasia, yang tidak akan pernah Eryana tahu jika ia tak nekat membukanya waktu itu.
Setidaknya jika Hilman sudah benar-benar move on, maka lelaki itu tidak akan ragu untuk berbagi cerita kepadanya.
"Hm, udah sore aja nih.
Aku balik ke kamarnya Kak Hilman ya, Na.
Mau pamit.
Mada di rumah sendirian soalnya.
Kalau kamu masih pengen cerita, nanti aku bisa mampir ke rumah kamu.
" "Ah iya, gue ikut.
Nanti gue kabarin lagi kalau mau cerita.
" "Ya udah, yuk!" *** Makasi vote dan comment nya๐ค dukungan dari kalian sangat berarti untuk aku๐ Komen yuk yang mau double up๐ค si_melon๐.
Sumber:Internet