. Enjoy the reading๐ *** "Huuuff Hilman menghembuskan napas panjang.
Mimpi buruknya kembali datang setelah hampir dua bulan lebih tidurnya selalu tenang.
Kejadian di taman beberapa tahun yang lalu kembali berkelebat di alam bawah sadarnya.
Saat orangtuanya tega meninggalkan ia sendirian di taman, hingga nyaris diculik oleh beberapa pria yang tak dikenalnya.
Lelaki itu berusaha menormalkan degup jantungnya seiring dengan peluh yang sudah menetes bebas di dahi.
Hilman menatap sekeliling, mencari-cari keberadaan istrinya yang tidak ia temukan.
Sudah pukul sebelas malam, namun Eryana belum juga kembali dari apotek sejak tiga jam yang lalu.
Membuat Hilman merasa cemas hingga akhirnya ia memaksakan diri untuk mencari wanita itu.
Ia benar-benar khawatir, mengingat sikap Eryana yang belakangan ini menjadi lebih pendiam saat ia ajak berbicara.
Menghela napas gusar, Hilman mencoba bangkit dari posisi tidurnya.
Ia menumpu tubuhnya menggunakan tangan kanan yang terbebas dari perban.
Pelan tapi pasti, lelaki itu menjejakkan kakinya di lantai.
Mencoba berdiri meski rasanya sulit, berbaring di ranjang selama seminggu lebih membuatnya kesulitan menahan keseimbangan tubuh.
Berbekal tiang infus di tangan kanannya, Hilman mulai menapaki lantai yang terasa dingin itu satu persatu.
Brakk! Naas.
Salah satu kakinya tergelincir saat tidak kuat menopang tubuhnya.
Ia terduduk.
Tiang infus yang tadi ia bawa, sudah tergeletak di sampingnya.
Hilman berusaha menguatkan diri untuk bangkit.
Kenapa dirinya mendadak lemah seperti ini?! "Mas Hilman?! Ya ampuunn!" Eryana terbelalak mendapati suaminya yang sudah terduduk di atas lantai.
Ia berlari menghampiri lelaki itu.
Tanpa banyak bicara, wanita itu langsung memapah Hilman menuju ranjang dengan tiang infus di sebelah tangannya lagi.
Bahkan ia sudah tidak peduli dengan kantong plastik berisi obat yang terlempar di sudut ruangan.
Biarlah, rasa bersalah mulai menjalar di hatinya.
Lagi.
Ia merasa keterlaluan karena menelantarkan suaminya sendiri.
Setelah menuntun tubuh kekar Hilman dengan penuh perjuangan.
Eryana bergegas memanggilkan dokter.
Ia takut terjadi apa-apa dengan suaminya.
"Mas tunggu di sini, ya.
" Hilman mencekal tangannya.
"Kamu mau ke mana?" "Aku mau panggil dokter.
" "Jangan.
" "Kenapa?" "Saya takut kamu pergi lagi, Na.
" Ucap Hilman sendu.
Eryana sedikit tersentak mendengar nada bicara Hilman yang berbeda dari biasanya.
"Aku nggak akan pergi lagi kok, Mas.
Aku cuma mau panggil dokter.
Aku takut terjadi apa-apa sama tangan ataupun kaki kamu karena jatuh tadi.
Aku janji cuma sebentar, kok.
" "Janji?" "Iya, janji.
Aku akan kembali dalam waktu lima menit.
" Eryana tersenyum saat Hilman sudah melepas tangannya.
Entah dorongan dari mana, wanita itu malah mencium pipi Hilman.
Kemudian berlari keluar dari ruangan tanpa menoleh kepada Hilman lagi.
Hilman tersenyum, ia rindu dengan ke-agresifan Eryana.
Sudah lama wanita itu tidak mengecup atau pun berbicara menggodanya.
Wajar kan jika Hilman merindukannya? Belum sampai lima menit, Eryana sudah datang bersama seorang dokter yang dari kemarin menanganinya.
Wanita itu tersenyum lebar menatap Hilman, tanpa memedulikan peluh yang sudah membanjiri kaosnya.
"Jadi bagaimana keadaan suami saya, Dok?" Tanya wanita itu setelah Hilman diperiksa.
Hati Hilman menghangat, mendengar pengakuan Eryana yang menyebutnya 'suami'.
Sumber:Internet