Gelap

Satu Centang Abu 17

๐Ÿ‡ฒ๐Ÿ‡พ Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear โš™ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple (๏ฃฟ) > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Satu Centang Abu 17

. Enjoy the reading๐Ÿ˜Š *** "Huuuff Hilman menghembuskan napas panjang.
Mimpi buruknya kembali datang setelah hampir dua bulan lebih tidurnya selalu tenang.
Kejadian di taman beberapa tahun yang lalu kembali berkelebat di alam bawah sadarnya.
Saat orangtuanya tega meninggalkan ia sendirian di taman, hingga nyaris diculik oleh beberapa pria yang tak dikenalnya.
Lelaki itu berusaha menormalkan degup jantungnya seiring dengan peluh yang sudah menetes bebas di dahi.
Hilman menatap sekeliling, mencari-cari keberadaan istrinya yang tidak ia temukan.
Sudah pukul sebelas malam, namun Eryana belum juga kembali dari apotek sejak tiga jam yang lalu.
Membuat Hilman merasa cemas hingga akhirnya ia memaksakan diri untuk mencari wanita itu.
Ia benar-benar khawatir, mengingat sikap Eryana yang belakangan ini menjadi lebih pendiam saat ia ajak berbicara.
Menghela napas gusar, Hilman mencoba bangkit dari posisi tidurnya.
Ia menumpu tubuhnya menggunakan tangan kanan yang terbebas dari perban.
Pelan tapi pasti, lelaki itu menjejakkan kakinya di lantai.
Mencoba berdiri meski rasanya sulit, berbaring di ranjang selama seminggu lebih membuatnya kesulitan menahan keseimbangan tubuh.
Berbekal tiang infus di tangan kanannya, Hilman mulai menapaki lantai yang terasa dingin itu satu persatu.
Brakk! Naas.
Salah satu kakinya tergelincir saat tidak kuat menopang tubuhnya.
Ia terduduk.
Tiang infus yang tadi ia bawa, sudah tergeletak di sampingnya.
Hilman berusaha menguatkan diri untuk bangkit.
Kenapa dirinya mendadak lemah seperti ini?! "Mas Hilman?! Ya ampuunn!" Eryana terbelalak mendapati suaminya yang sudah terduduk di atas lantai.
Ia berlari menghampiri lelaki itu.
Tanpa banyak bicara, wanita itu langsung memapah Hilman menuju ranjang dengan tiang infus di sebelah tangannya lagi.
Bahkan ia sudah tidak peduli dengan kantong plastik berisi obat yang terlempar di sudut ruangan.
Biarlah, rasa bersalah mulai menjalar di hatinya.
Lagi.
Ia merasa keterlaluan karena menelantarkan suaminya sendiri.
Setelah menuntun tubuh kekar Hilman dengan penuh perjuangan.
Eryana bergegas memanggilkan dokter.
Ia takut terjadi apa-apa dengan suaminya.
"Mas tunggu di sini, ya.
" Hilman mencekal tangannya.
"Kamu mau ke mana?" "Aku mau panggil dokter.
" "Jangan.
" "Kenapa?" "Saya takut kamu pergi lagi, Na.
" Ucap Hilman sendu.
Eryana sedikit tersentak mendengar nada bicara Hilman yang berbeda dari biasanya.
"Aku nggak akan pergi lagi kok, Mas.
Aku cuma mau panggil dokter.
Aku takut terjadi apa-apa sama tangan ataupun kaki kamu karena jatuh tadi.
Aku janji cuma sebentar, kok.
" "Janji?" "Iya, janji.
Aku akan kembali dalam waktu lima menit.
" Eryana tersenyum saat Hilman sudah melepas tangannya.
Entah dorongan dari mana, wanita itu malah mencium pipi Hilman.
Kemudian berlari keluar dari ruangan tanpa menoleh kepada Hilman lagi.
Hilman tersenyum, ia rindu dengan ke-agresifan Eryana.
Sudah lama wanita itu tidak mengecup atau pun berbicara menggodanya.
Wajar kan jika Hilman merindukannya? Belum sampai lima menit, Eryana sudah datang bersama seorang dokter yang dari kemarin menanganinya.
Wanita itu tersenyum lebar menatap Hilman, tanpa memedulikan peluh yang sudah membanjiri kaosnya.
"Jadi bagaimana keadaan suami saya, Dok?" Tanya wanita itu setelah Hilman diperiksa.
Hati Hilman menghangat, mendengar pengakuan Eryana yang menyebutnya 'suami'.

Sumber:Internet