Gelap

Satu Centang Abu 18

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Satu Centang Abu 18

. Seperti kata Dokter, pagi ini Hilman sudah diperbolehkan pulang.
Mereka tengah berkemas untuk meninggalkan rumah sakit.
Ya.
Hanya ada Eryana yang menemani Hilman di kepulangannya.
Karena Ibu sudah kembali ke Bandung dua hari yang lalu, sedangkan saudaranya yang lain masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
"Ayo, Mas! Ini aku udah selesai.
" Hilman yang tengah memainkan ponsel pun menoleh ke Eryana.
"Yuk!" Lelaki itu melompat dari ranjang.
Lalu dengan sigap berdiri di samping istrinya.
Mereka berjalan menuju pintu dengan Eryana yang sedikit kesusahan saat membawa tas kain yang berisi pakaian mereka.
Meski begitu, ia tidak berniat meminta tolong kepada Hilman.
Ia masih khawatir dengan tangan kiri lelaki itu yang mungkin akan berpengaruh jika Hilman membawakan tasnya.
Tangannya hendak membuka knop pintu.
Namun pergerakannya terhenti ketika Hilman memanggilnya lirih, dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Eryana.
" "Iya, Mas?" Lelaki itu terdiam cukup lama.
Raut wajahnya tiba-tiba menjadi tegang dan pucat.
Mata abunya menatap Eryana dengan gusar.
Bahkan dahi dan tangannya sudah berkeringat dingin.
Eryana bisa merasakan jika ada yang tidak beres dengan kondisi fisik Hilman.
"Kamu-- yakin kalau rumah sakit ini aman?" Eryana mengernyitkan dahi.
Ah iya, ia baru ingat.
Trauma! Dokter bilang, trauma Hilman masih ada.
Di saat seperti ini, ia harus menjadi pelindung untuk suaminya.
Ia akan menggantikan peran Ana untuk menggenggam dan memeluk lelaki itu.
Ya.
Itu yang menjadi salah satu misinya sekarang.
Menggantikan peran Ana di kehidupan Hilman, sampai suaminya benar-benar melupakan wanita bernama Anaya Shinta itu.
Eryana mengangguk pasti, "Aman kok, Mas.
Tenang.
Aku akan jadi barisan terdepan untuk melindungi kamu.
Siapa pun yang berani mengganggu kita, akan aku balas dengan jurus andalanku.
" Dengan senyum melekat di wajah putihnya, Eryana menggenggam tangan besar Hilman.
Mata bulatnya terus menatap dalam mata abu lelaki itu, berusaha meyakinkan sang empunya yang masih bergeming di depan pintu.
"Ayo, Mas.
" Hilman menghembuskan napas gusar, ia merasa jika traumanya kembali lagi.
Padahal, psikolog pribadinya mengatakan kalau trauma itu sudah hampir sembuh sembilan puluh lima persen.
Lalu, kenapa sekarang kembali seperti awal lagi? "Apa yang masih kamu pikirkan, Mas?" Hilman menoleh, menatap wanita cantik di sampingnya.
"Saya hanya sedikit merasa aneh hari ini.
Apa ada sesuatu yang bermasalah pada kondisi psikis saya?" Ucapnya lirih, tanpa menghentikan langkah mereka berdua.
Eryana terdiam.
Ia bingung harus menjawab apa.
Pasalnya, jika ia mengatakan yang sebenarnya, maka tidak menutup kemungkinan jika lelaki itu akan mencercanya lebih jauh.
Bisa-bisa ketahuan kalau ia sudah mengambil buku abu-abu milik lelaki itu dan membacanya tanpa izin.
Hilman melepas genggaman tangan mereka secara tiba-tiba.
Membuat Eryana menghentikan langkahnya.
Wanita itu menatap Hilman yang berusaha mengucek matanya, kelilipan.
"Eh jangan-- Jangan kamu garuk!" Dengan berjinjit, Eryana membuka mata lelaki itu lebar-lebar, lalu meniupinya pelan.
"Udah?" Hilman mengerjapkan mata, menetralisir rasa perih dan gatal yang menyeruak di sana.
Sembari tersenyum lelaki itu menjawab, "Terima kasih, Eryana.
Abaikan pertanyaan saya tadi.
" Dipeluknya pinggang ramping wanita itu, kemudian berjalan beriringan menuju Rama yang sudah menunggunya di parkiran.
*** "Aduuhh enak nggak ya.
" Gumam Eryana sambil menatap hasil masakannya.
Jujur, ini adalah kali pertama ia memasak.
Hanya mie instan dan telur.
Itupun Eryana membuatnya dengan susah payah.
Mau bagaimana lagi.
Ia tidak enak jika harus meminta Hilman yang memasakkannya.
Lelaki itu kan baru pulang dari rumah sakit, harusnya ia yang menyiapkan makanan untuk suaminya.
"Hai, Na.
" Deg.
Eryana tergagap mendengar suara Hilman.
Ia langsung berbalik badan, menemukan dada bidang suaminya yang sudah bertatapan dengan mukanya.
Wanita itu tersenyum kikuk membalas sapaan Hilman.
Jantungnya berdegup kencang.
Mendadak jiwa keagresifannya hilang, Eryana salah tingkah.
Namun masih berusaha menetralkannya.
Ia mendongak menatap Hilman.
Seluruh organnya mendadak lemas, menyadari mata abu Hilman yang tengah menatapnya lembut.
Sangat sangat lembut.
'God! Aku nggak bisa diginiin!' Lelaki itu mengernyit, beralih menatap dapurnya yang sudah seperti kapal pecah.
"Kamu habis masak? Wow!" Hilman menumpukan kedua tangannya di atas pantry, mengungkung tubuh Eryana yang tidak bisa berkutik.
Belum sempat gadis itu menjawab, tangan kanan Hilman sudah meraih garpu yang Eryana pegang.
Dililitkannya mie itu dengan garpu.
Masih menatap Eryana, Hilman memakannya dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan.
Eryana menelan salivanya kasar.
Tidak yakin dengan mie yang baru saja ia buat.
"Enak.
Seperti mie instan.
" Hilman tersenyum sambil menaikkan satu alisnya.
'Kan emang mie instan!' "Aku-- mau coba.
" Gugup Eryana karena jarak mereka yang tersisa beberapa senti saja.
Hilman melakukan hal yang sama, melilitkan mie itu ke garpu, lalu menyuapkannya ke Eryana.
Hambar dan mie yang terlalu lembek.
Itu yang Eryana rasakan.
Seketika membuatnya mual.
Ia tidak sanggup menelannya.
Tangannya langsung mendorong dada Hilman.
Wanita itu bergegas menuju wastafel, memuntahkan mie buatannya sendiri di sana.
"Lain kali jangan sungkan meminta saya memasak, Eryana.
Kalau nggak gitu, kita masih bisa order dari resto.
" Hilman mengambil tisu, mengusapkannya pada bibir Eryana.
"Tapi kan aku juga pengen bisa masak, Mas.
Aku kan cewe, udah jadi istri juga.
Malu kalau nggak bisa masak.
" Lirihnya sambil mengerucutkan bibir.
Hilman tersenyum lalu memeluk tubuh Eryana.
Lihatlah! Kenapa wanita ini begitu menggemaskan? "Ya udah, kalau gitu kita masaknya sama-sama.
Bantu saya buat makan malam nanti.
" "Tapi kan bahan masakannya udah habis.
Tinggal telur sama mie instan doang.
" Ucap Eryana dengan suaranya yang teredam di dada Hilman.
Lelaki itu mengusap rambut sebahunya.
"Ya udah sekarang kita pergi ke supermarket buat belanja bahan masakan.
Ayo siap-siap.
" Mereka mengurai pelukan.
Namun Eryana masih belum beranjak dari tempatnya, membuat Hilman mengurungkan niatnya untuk berbalik menuju kamar.
"Kenapa, Na?" "Mas Hilman udah nggak takut lagi?" Hilman mengernyit, "Takut? Kan masih ada kamu di samping saya.
" Eryana langsung tersenyum lebar.
Ternyata Hilman masih menganggapnya.
"Udah, yuk! Saya nggak bisa berangkat sendirian.
Saya butuh genggaman sama pelukan dari kamu.
" Lagi.
Jantung Eryana berdebar lebih keras.
Pipinya memerah, hatinya menghangat dengan ucapan Hilman.
Seakan ia masih diberi kesempatan untuk mengisi hati lelaki itu.
Menggantikan posisi Ana di lubuk hati Hilman yang paling dalam.
*** Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami.
Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Makasii vote dan comment nya😁 si_melon💜
Sumber:Internet