Gelap

Satu Centang Abu 2

๐Ÿ‡ฒ๐Ÿ‡พ Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear โš™ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple (๏ฃฟ) > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Satu Centang Abu 2

. Enjoy the reading!๐Ÿค— โ™กโ™กโ™ก Eryana menyodorkan segelas jus melon di hadapan Hilman.
Ia tersenyum ketika lelaki yang baru tiga hari menjabat sebagai suaminya itu, tidak menyambut baik jus melon buatannya.
"Ambil saja, Mas.
Kamu kan habis main basket.
Pasti capek.
" Eryana mengambil sebelah tangan Hilman.
Diletakkannya jus melon tersebut di tangan lelaki itu.
Helaan napas dari Hilman dapat Eryana dengar.
Ia sedikit terkikik melihat kepasrahan suaminya untuk meminum jus melon tersebut hingga tandas.
Gadis berambut sebahu itu mengambil gelas yang kosong.
Lalu menempati space duduk di samping Hilman.
Ditatapnya wajah suaminya yang sangat berbeda di antara dua saudara Hilman yang lain.
"Mas, emang iya, besok malam ada pembukaan resto cabang baru, di Surabaya? Mas Hilman kok nggak bilang-bilang sih sama aku? Aku kan juga mau dikenalin sebagai Mrs.
Sagarmatha.
" Cerocos Eryana yang masih menatap wajah Hilman dari samping.
Ia bisa melihat bagaimana tetesan keringat dengan kurang ajarnya membasahi dahi Hilman yang berkerut.
Lelaki itu tampak memikirkan sesuatu.
"Tau dari mana?" Suara bass milik Hilman terdengar sangat seksi di telinga Eryana.
Membuatnya salah fokus menatap bibir tipis suaminya saat berbicara.
"Tau dari Tama.
" Sesaat Eryana tersadar perkataan asisten suaminya itu.
Jika ia tidak boleh bicara kepada Hilman tentang siapa yang memberitahunya perihal pembukaan cabang resto.
Ia melihat perubahan raut wajah Hilman yang sedikit berbeda dari sebelumnya.
Seperti menahan amarah, mungkin.
"Eh tapi Mas Hilman jangan marahin Tama, ya.
Kasihan dia.
Hari ini kan dia udah capek-capek nemenin aku belanja di supermarket.
" Sudah menjadi hal yang lumrah bagi Eryana jika ia akan ditemani Tama saat pergi.
Jangan ditanya Hilman bagaimana.
Lelaki itu justru tidak mau menemani Eryana pergi ke tempat-tempat ramai.
Sekalipun hanya ke taman komplek.
Tidak ada jawaban dari Hilman.
Ia bisa mendengar lelaki itu sedikit berdehem untuk menjawabnya.
Eryana mengusap pelan lengan kekar suaminya.
Membuat Hilman sedikit tersentak.
Lelaki itu tidak terbiasa dengan sentuhan dari perempuan.
Sekalipun adalah Rima, adiknya sendiri.
Dihempaskannya tangan Eryana yang masih bergelayut di lengannya.
Hilman beranjak dari duduk.
Melangkah meninggalkan istrinya yang masih mematung dengan menatap punggung kokohnya.
"Mas.
Sebentar.
Aku mau bicara.
" Tersadar dari lamunannya, Eryana sedikit berlari mengejar langkah Hilman yang hampir masuk ke dalam rumah.
Lelaki itu masih berjalan, namun sudah tidak secepat tadi.
"Mas, aku beneran mau datang ke acara itu.
Mas Hilman masih nggak ngizinin?" Tanya Eryana memelas.
Ia menatap mata tajam Hilman dengan manik abu di dalamnya.
Lelaki itu menghela napas berat lagi.
"Kamu bisa datang dengan Tama.
" Ucap Hilman yang sudah berlalu dari hadapannya.
Eryana menggerutu sebal.
Di dalam benaknya, ia ingin sekali menghadiri acara itu dengan Hilman.
Bukan dengan Tama yang tak lain adalah asisten Hilman dan teman SMA-nya dulu.
Tangannya bersedekap di depan dada.
Tatapannya masih setia mengikuti langkah Hilman yang kini sudah menapaki tangga berbahan kayu jati itu.
'Ish.
Kenapa nyebelin banget sih jadi orang! Nggak capek apa, tiga hari ini di rumah terus, nggak pernah keluar?!' Gerutunya dalam hati.
Ia memutar bola matanya malas.
Lalu mengayunkan langkah menuju lantai dua, hendak mengistirahatkan batin dan raganya.
Sungguh, berbicara dengan Hilman membuat energinya terkuras cuma-cuma.
Eryana membuka pelan knop pintu kamar mereka.
Kepalanya sedikit menyembul, pandangannya menyapu seluruh ruangan kamar yang kosong.
Tidak ada Hilman di sana.
Namun, jantungnya kembali berdegup kencang ketika melihat pintu kamar mandi yang tertutup.
Suara gemericik air menandakan jika ada orang di dalamnya.
Siapa lagi kalau bukan Hilman.
Meskipun hatinya sudah cukup lelah dengan sikap bodo amat Hilman, Eryana tetap menjalankan tugasnya sebagai istri dengan baik.
Seperti saat ini, ia menyiapkan baju ganti Hilman yang nanti akan dipakai lelaki itu untuk tidur.
Setelah itu, ia berniat akan melanjutkan kegiatan menulisnya.
Karena deadline penerbitan yang tersisa satu bulan lagi.
Eryana memakai kacamata bacanya.
Menghidupkan laptop.
Lalu mulai fokus mengetikkan alur demi alur yang terjadi pada tokohnya.
Ia terhanyut dalam ceritanya sendiri.
Sampai tidak sadar jika Hilman sudah keluar dari kamar mandi.
Bahkan lelaki itu sudah meninggalkannya sendiri di kamar.
'Betah banget nggak bicara, bilang terima kasih kek, atau apalah gitu.
Ini malah langsung ditinggalin.
Udah disiapin baju juga.
' Eryana kembali mencoba fokus pada tulisannya.
Wajah dan matanya yang bulat semakin membuatnya terlihat menggemaskan saat ia memakai kacamata seperti ini.
Sesekali keningnya berkerut, menemukan satu kalimat yang menurutnya kurang pas.
Sebisa mungkin Eryana mengatur kohesi dan koherensinya dengan sesuai.
Tuk Suara mangkuk dan gelas yang bertabrakan dengan nakas membuat Eryana menoleh.
Menemukan Hilman yang tengah meletakkan semangkuk mac and cheese dan segelas susu putih di atas nakas.
"Makan!" Titah Hilman tanpa menatap Eryana.
Membuat gadis itu mendengus sebal.
Bisa tidak sih, sekali saja suaminya itu berbicara manis padanya.
Bukan dengan nada memerintah dan arogan seperti ini.
Eryana mengambil mangkuk itu.
Dari baunya saja, ia sudah bisa menerka jika rasanya tentu tidak mengecewakan.
Lagipula sudah tiga hari ini Hilman memasak.
Dan semuanya memang benar-benar bisa memanjakan lidahnya.
Wajar saja, jika resto Hilman selalu terlihat ramai dan terus berkembang membuka cabang baru.
"Mas Hilman nggak makan? Mau aku suapin? Atau, kita makan semangkuk berdua deh.
Kaya di FTV.
Mau nggak?" Tanya Eryana menatap Hilman yang masih bergeming membaca buku tebalnya.
Posisinya tidak berubah selepas memerintah Eryana untuk makan tadi.
"Yeee... ditanyain malah nggak jawab.
Ya udah aku habisin.
" Eryana menyuapkan sesendok penuh makaroni bercampur keju itu ke dalam mulutnya.
Merasakan sensasi terenak yang belum pernah ia coba sebelumnya.
Makaroni yang lembut, saus keju yang creamy, juga keju parut di atasnya.
Sebuah perpaduan yang sangat sempurna menurut Eryana.
Tidak butuh waktu lama, semangkuk mac and cheese berhasil Eryana habiskan.
Diletakkannya mangkuk kosong itu di atas nakas.
Lalu meminum susu putih yang tadi dibuatkan Hilman hingga tandas.
Ia berucap syukur.
Perutnya benar-benar kenyang sekarang.
Hingga tanpa sadar Eryana bersendawa sangat keras di hadapan Hilman.
Membuat lelaki itu menoleh menatapnya heran.
Berbeda dengan Eryana yang bersikap biasa saja.
Yang bahkan tidak merasa malu sama sekali.
"Mas Hilman.
Makasih ya, mac and cheese nya! Benar-benar enak bangeeeet! Top deh pokoknya.
" Eryana mengacungkan dua jempolnya di hadapan Hilman.
Lelaki itu menggelengkan kepala pelan, tidak habis pikir dengan tingkah ajaib istrinya.
"Tuhkan nggak dijawab lagi.
Ish, nyebelin banget.
" Eryana mencubit pelan perut Hilman yang sialnya malah terasa keras di tangannya.
Duh kan, fantasi liarnya mulai bergelora.
"Awwhh.
" Ringis Hilman karena Eryana yang belum melepas cubitan itu.
"Akhirnya keluar juga suaranya.
Masa harus nunggu aku cubit dulu sih, Mas.
" Eryana terkekeh sambil mengusap pelan perut Hilman yang tadi ia cubit.
Memberikan gelenyar aneh yang ada di dalam diri lelaki itu.
Sadar dengan perbuatan Eryana, Hilman pun langsung menepis tangan kecil itu.
Ia membetulkan kaos hitamnya yang sedikit tertarik ke atas akibat perlakuan istrinya.
Kali ini Eryana tidak menggerutu kesal.
Bibirnya terus tersenyum menatap Hilman yang kini kembali menyibukkan diri dengan membaca buku.
Sebuah ide jahil muncul di otak cantiknya.
"Ah iya Mas.
Aku lupa.
" Ucapnya.
Seperti biasa, lelaki itu menatap Eryana tanpa ekspresi.
Membuat rencana gadis itu hampir gagal karena melihat wajah tampan suaminya saat tak berekspresi.
Eryana tersenyum manis kepada Hilman.
Lalu dengan gerakan cepat, gadis berambut sebahu itu mencium pipi sebelah kanan Hilman.
Membuat lelaki itu mengerjapkan matanya tak percaya.
Ia menggeram.
Menatap istrinya yang sudah berlari dari hadapannya.
โ™กโ™กโ™ก Gimana guys gimana?Semoga suka๐Ÿ™ si_melon๐Ÿ’œ
Sumber:Internet