. Spesial part buku abu-abu😊Enjoy the reading! *** Marahan-baikan-marahan-baikan.
Sejujurnya Eryana sudah lelah dengan semua drama ini.
Sudah seminggu sejak kejadian di mobil beberapa waktu lalu.
Namun ia dan Hilman masih belum baikan juga.
Lebih tepatnya, lelaki itu yang sering menghindari Eryana.
Semua ucapannya selalu dianggap omong kosong oleh Hilman.
Percakapan mereka selalu berakhir dengan Hilman yang sudah memunggunginya beralasan untuk tidur.
Seperti malam ini, ia hanya bisa menatap nanar punggung Hilman yang sudah membelakanginya.
Mungkin malam ini ia akan begadang lagi seperti malam-malam sebelumnya.
Memikirkan rasa bersalah yang tak kunjung ia temukan obatnya.
Capek! Itu yang Eryana rasakan sekarang.
Ia seolah berjuang sendiri di tengah-tengah rumah tangganya.
Sementara Hilman masih sibuk meyakinkan perasaannya dengan wanita yang bahkan sudah berbeda alam dengan mereka.
Huh.
Daripada terus meratapi Hilman, lebih baik ia pergi ke taman belakang untuk menenangkan diri.
Eryana bangun dari posisi berbaringnya.
Berjalan pelan menuju pintu kamar sambil terus menatap diam suaminya.
Tidak lupa ia membawa buku abu-abu yang sudah lama ia anggurkan sejak terakhir kali ia membacanya di bab terakhir bagian satu, 'bertahan sebelum kehilangan'.
Di sinilah Eryana, menatap bintang yang menyebar di seluruh penjuru langit dengan bulan yang hampir membulat penuh di tengahnya.
Ia menghela napas lagi, melegakan dadanya yang sedikit terasa sesak.
Bahkan untuk menangis saja ia sudah tidak berminat.
Air matanya terasa kering setelah menangisi Hilman di malam-malam sebelumnya.
Bagian II.
Bertahan untuk Melupakan.
25 Maret 2013, di pusara-menjengukmu.
Bab 4, ayat 1 Hai, Na.
Hari ini aku datang, membawa sebuket bunga Lily kesukaanmu.
Bagaimana kabarmu? Kau masih bisa melihatku dari sana kan? Kuharap iya.
Karena aku sungguh merindukanmu.
H.
S.
S Yah.
Masih tentang Ana.
Ia mengedikkan bahu tak acuh, lalu kembali membuka halaman selanjutnya.
2 April 2013 - di pusara, menjengukmu lagi.
Bab 4, ayat 2 Hai, Na.
Tulisanku masih sama seperti bab sebelumnya.
Aku merindukanmu.
H.
S.
S Okay.
Masih Ana.
'Semoga saja selanjutnya sudah berganti bab.
' Harapnya dalam hati.
Semilir angin menerpa pipinya cukup keras.
Hawa dingin langsung menyeruak di seluruh tubuh, padahal Eryana sudah menggunakan jaket yang tebal.
Apa karena ia merendam kakinya di kolam renang? Eryana mengusap kedua telapak tangannya, setelah itu jemarinya bergerak untuk membuka halaman setelahnya.
5 Mei 2013 - di tempat tidur, mengacuhkannya.
Bab 4, ayat 3 Maaf, Na.
Sudah lama aku tidak mengunjungimu.
Hatiku benar-benar lelah merindukanmu.
Belum lagi, Rima selalu memaksaku untuk menemui temannya.
Aku lupa siapa namanya.
Yang jelas, gadis itu selalu menguntitku diam-diam.
Aku risih dengannya.
Jangan marah, Na! Karena aku tidak akan pernah suka dengannya! H.
S.
S Eryana menggeram, membaca kalimat terakhir yang terasa menyakitkan untuknya.
'Karena aku tidak akan pernah suka dengannya.
' Kenyataan apalagi ini? Hilman sudah membohonginya.
Menerbangkannya dengan kata cinta hingga ia merasa tersanjung, lalu dengan seenaknya lelaki itu menjatuhkannya hingga ia kembali tersandung.
Benar.
Hilman tidak bertanggung jawab atas perasaannya.
Dicengkramnya erat buku abu-abu itu hingga beberapa kertas di antaranya hampir sobek.
Tidak, Eryana tidak mau menyobeknya terlebih dahulu.
Ia masih ingin membaca kisah Hilman hingga akhir.
Bagaimanapun juga wanita itu sudah menyanggupi saran Pak Tomi yang menyuruhnya kembali menulis novel.
Ya.
Demi karirnya, ia harus menguatkan diri agar bisa membaca buku laknat itu sampai tamat.
23 Maret 2025 - di balkon, memandangnya.
Bab 5, ayat 1 Hai Ana! Maaf, sudah bertahun-tahun aku melupakan buku ini.
Aku baru menemukannya di bawah kolong lemari bututku.
Oke, hari ini aku akan mengabarimu.
Tentang seorang gadis yang kemarin kukenalkan padamu.
Ya.
Namanya Eryana Adelia.
Kamu tidak asing dengan namanya bukan? Karena memang gadis itu adalah penulis yang selama ini kamu kagumi.
Penulis yang memiliki nama pena Nanalia.
Aku baru menemuinya sekali.
Tepatnya dua hari yang lalu, saat kami melakukan piknik kecil-kecilan di rumah Rima.
Semua orang nampak mengolokku ketika aku datang ke sana sendirian.
Dan kamu tahu? Lagi-lagi Rima menjodohkanku dengannya.
Aku masih berusaha tak peduli.
Namun, malam itu aku tidak bisa tidur.
Pikiranku terus tertuju ke wajahnya yang ternyata sangat mirip denganmu.
Ah tidak.
Lebih tepatnya, wajah dan kepribadian kalian yang sangat mirip.
Aku mengetahuinya setelah menelpon Rima.
Dia bilang, Eryana sangat suka keju.
Eryana juga alergi dengan minyak oles.
Keduanya, sama sepertimu bukan? Bahkan rambut pendeknya, mata bulatnya, hidung setengah mancungnya, mulut tipisnya, kesukaannya, omelannya, cemberutnya.
Benar-benar mirip sembilan puluh lima persen denganmu.
Aku jadi menimbang-nimbang tawaran Rima untuk berkenalan lebih jauh lagi dengannya.
Jangan cemburu, Na! Sudah kukatakan kan kalau aku tidak akan mencintainya.
Kalau pun aku menikah dengannya, itu hanya karena wajah dan kepribadiannya yang sangat mirip denganmu.
So, don't worry Ana! H.
S.
S Kenyataan apalagi ini? Hilman menikahinya karena ia mirip dengan Ana?! Dan lelaki itu bilang jika tidak akan mencintainya?! Hell!! Menyakitkan sekali! Menyerah.
Eryana tidak sanggup membalik halaman selanjutnya.
Ia sudah bisa menerka apa tulisan Hilman yang akan ia baca nanti.
Terlalu sakit, jika Hilman akan menyamakannya dengan Ana lagi.
Cukup kasar Eryana menutup buku itu.
Kedua kakinya ia tarik ke permukaan air.
Sembari menghembuskan napas berat, wanita berambut sebahu itu berjalan gontai kembali ke kamar.
Tidak ada tangis di wajahnya, karena sekarang ia benar-benar merasa kecewa.
Dan air mata saja tidak sanggup untuk menggambarkannya.
Lagipula, sudah Eryana bilang kan, kalau air matanya terasa kering karena menangisi Hilman? Percuma ia berjuang mati-matian untuk mempertahankan rumah tangganya.
Cih, bahkan yang menghancurkan saja sudah tidak peduli! *** Sambungannya ada di part selanjutnya😁Nantikan berita baru dan keputusan akhir dari mereka berdua😊 See ya! si_melon💜.
Sumber:Internet