Gelap

Satu Centang Abu 21

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Satu Centang Abu 21

. Eryana Adelia 'POV Keesokan paginya.
Saat bangun tidur, aku tidak menemukan siapa pun di sampingku.
Bahkan ranjang itu terasa dingin ketika aku mengusapnya.
Ke mana Mas Hilman? Apa sedang membuat sarapan di bawah? Atau sudah pergi ke ruang kerjanya seperti biasa? Aku terduduk.
Gemericik dari dalam kamar mandi membuatku yakin jika Mas Hilman lah yang berada di dalamnya.
Hoek hoek Seperti suara seseorang yang mual? Mas Hilman mual-mual? Apa lelaki itu sakit? Aku menahan diri untuk tidak menghampirinya meskipun aku tahu jika pintu kamar mandi itu tidak sepenuhnya tertutup, masih ada celah untuk aku melihat bagaimana kondisi Mas Hilman.
Khawatir.
Itu yang aku rasakan sekarang.
Tapi mau bagaimana lagi, egoku sudah terlanjur tinggi.
Aku takut diabaikan lagi seperti sebelum-sebelumnya.
Berjuang tanpa dihargai.
Terlanjur sayang tapi tersakiti.
Tidakkah ada yang lebih indah dari keduanya? Ku usap wajahku dengan kasar.
Aku hanya bisa menatap pintu kamar mandi itu.
Berharap agar seseorang yang berada di dalamnya segera keluar.
Dengan begitu aku bisa memastikan bagaimana kondisi Mas Hilman yang sebenarnya.
Sepuluh menit berlalu, namun Mas Hilman belum juga keluar dari kamar mandi.
Aku semakin cemas dibuatnya.
Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan laki-laki itu? Apa aku akan dicap sebagai istri yang tidak berguna karena mengabaikan suaminya yang sedang sakit? Well.
Aku tidak mau.
Terluput dari kesalahan Mas Hilman yang sudah mempermainkan perasaanku, di sini aku masih berstatus sebagai istrinya.
Tugasku untuk melayani dan merawat Mas Hilman masih berlaku.
"Huufftt.
" Aku tidak bisa diam saja, akal sehatku mulai mengompori agar aku segera menyusul Mas Hilman ke kamar mandi.
Dengan ragu, aku berjalan gontai ke sana.
Kepalaku menyembul di celah pintu.
Menemukan Mas Hilman yang terduduk lemah di closet dengan memegangi perutnya.
Ia menatapku.
Netra abunya jelas-jelas menuju padaku.
Aku paham.
Mas Hilman mengisyaratkanku untuk membantunya.
"Ayo, Mas.
Aku bantu.
" Sekuat tenaga aku membiarkan lengan kekar Mas Hilman berada di pundakku.
Wajahnya begitu dekat dengan wajahku.
Bahkan hembusan napasnya yang terasa hangat menyapu sekitar leherku.
Aku menuntunnya dengan perlahan.
Setelah membaringkannya di ranjang, aku bergegas untuk mengambilkan Mas Hilman sweater karena kaos yang tadi ia pakai sudah basah terkena bekas muntahannya.
Tidak lupa juga aku mengambil tisu dan minyak oles untuknya.
Hm, minyak oles.
Mengingatkanku pada sosok Ana dan tulisan Mas Hilman di buku abu-abu itu.
Tentang kami yang sama-sama memiliki alergi terhadap benda cair itu.
Aku jadi penasaran bagaimana visual Anaya Shinta yang sebenarnya? Aku ingin melihat fotonya, akan ku bandingkan dengan fotoku yang paling cantik.
Apa memang kami benar-benar mirip? Aku berjalan ke arahnya sambil membawa sweater, tisu, dan minyak oles di kedua tanganku.
Aku tahu, Mas Hilman terus menatapku.
Oleh karena itu, lebih baik aku tidak membalas tatapannya.
Kalian tahu kan kalau aku ini mudah khilaf? Jadilah sekarang aku berusaha untuk menatap arah lain sembari membuka botol minyak.
Namun pergerakanku terhenti saat Mas Hilman menggenggam jemariku.
Jantungku mulai berdegup kencang.
Aku tidak tahu harus bagaimana.
Tubuhku benar-benar terpedaya dengan lelaki bermata abu ini.
"Jangan Eryana, saya bisa membukanya sendiri.
Kamu kan alergi.
" Ucapnya dengan lirih.
Aku begitu canggung untuk sekedar mengiyakannya.
Mengingat seminggu terakhir hubungan kita yang tidak terlihat baik-baik saja.
Apalagi permasalahan ini ada sangkut pautnya dengan masa lalu Mas Hilman.
Membuat semua ucapanku tertahan di pangkal lidahku saja.

Sumber:Internet