. Eryana Adelia 'POV "Syukurlah dia tumbuh sehat di sini.
Saya masih nggak nyangka, dia udah berumur delapan minggu.
" Mas Hilman mengusap perut datarku, sambil terus menatap gambar hasil USG ku hari ini.
Ya.
Kami baru saja pulang dari rumah sakit dan sekarang tengah bersantai di ruang tamu.
Aku hanya tersenyum untuk menimpalinya.
Sejak kemarin, memang aku sangat sedikit berbicara.
Aku masih bungkam mengenai buku abu-abu itu, mencoba melupakannya sebentar agar lebih fokus dengan kehamilanku.
Lagipula, aku tidak setega itu untuk mencerca Mas Hilman sementara ia sedang berjuang menghadapi morning sickness di setiap paginya.
Keadaan kembali hening.
Tiba-tiba Mas Hilman meletakkan kepalanya di pahaku.
Ia menatapku dari bawah sambil menciumi perutku.
Entah mendapat bisikan dari mana, sekarang tanganku tengah mengusap rambut hitamnya dengan lembut.
Pikiranku tiba-tiba tertuju pada dua kata yang masih membuatku dilema sejak kemarin.
Berpisah atau terpisah? Kedua kata tersebut memang sekilas terdengar sama.
Namun ternyata tidak.
Keduanya memiliki makna yang berbeda.
Jika aku memilih berpisah, maka aku harus merelakan diri untuk membawa pergi seluruh perasaan jiwa dan ragaku.
Namun jika aku memilih terpisah, maka aku akan tetap di sini bersama Mas Hilman dengan sebuah perasaan yang tak sama.
Singkatnya aku harus memilih antara berpisah dengan raga, atau terpisah dengan sukma.
Andai saja ada pilihan ketiga untuk tetap menetap di sini dengan raga dan sukma yang sama.
Pasti aku akan memilihnya.
Mau bagaimana lagi? Hatiku tidak akan sanggup untuk benar-benar menjauh darinya.
Sedalam apa pun Mas Hilman mempermainkan perasaanku, tetap saja aku tidak bisa berpaling darinya.
Entahlah, jiwa bucinku sudah tertanam sejak lahir.
Dan sekarang semakin mengakar hingga ke ulu hati.
"Eryana, maafkan saya.
" Aku terlonjak ketika Mas Hilman tengah menggenggam tanganku, membawanya di depan wajah, lalu mengecupnya lembut.
"Eryana, saya benar-benar minta maaf.
" Lelaki itu semakin mengeratkan genggamannya.
Aku terpaku pada mata indahnya yang juga menatapku.
Jangan tanya bagaimana ritme jantungku sekarang, yang pasti mereka sudah berdisko ria.
Seakan mendemo ku untuk segera memberi keputusan.
"Saya merasa sangat keterlaluan, Eryana.
Tidak seharusnya saya bertingkah kekanakan seperti minggu yang lalu.
Saya lebih mementingkan perasaan saya sendiri, sampai saya mengabaikan ucapan maaf dari kamu.
Saya benar-benar menyesal.
" Ujarnya dengan nada penuh penyesalan di dalamnya.
Aku bisa melihat matanya yang terasa sendu saat menatapku.
Terlihat sebuah kesungguhan yang entah kenapa malah membuatku dilema untuk memutuskan perkara ini.
"Aku sudah maafin kamu, Mas.
" Ucapku pada akhirnya.
Mas Hilman menatapku dengan berbinar-binar.
"Tapi belum semuanya.
" Lanjutku yang langsung berdampak pada raut mukanya.
Bisa kurasakan, tubuhnya menegang saat menatapku.
"Apa yang membuat kamu belum bisa memaafkan saya sepenuhnya?" Aku menghela napas sembari memalingkan muka.
'Haruskah aku memberitahunya tentang buku abu-abu itu sekarang? Aku belum siap kehilangannya!' "Tolong katakan kepada saya Eryana.
" Pintanya dengan memelas.
Baiklah.
Aku menyerah lagi.
Ku lepaskan genggamannya dengan pelan.
Aku langsung berdiri.
Membuat kepalanya membentur permukaan sofa dengan keras.
Hm, biar saja.
Diam-diam aku menertawakannya dalam hati.
Melihatnya merasa sakit adalah sebuah kebanggaan, meskipun hati kecilku tidak tega melihatnya.
Sumber:Internet