Gelap

Satu Centang Abu 23

๐Ÿ‡ฒ๐Ÿ‡พ Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear โš™ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple (๏ฃฟ) > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Satu Centang Abu 23

. Happy reading! *** Hilman Swardi Sagarmatha 'POV "I won't let these little things slip out of my mounth.
Cause it's you, it's you, oh it's you, they add up to.
I'm in love with you and all your little things" Aku bersenandung ringan.
Rupanya, lagu little things dari one direction berhasil membuatku terhanyut dalam liriknya.
Mencintai seseorang dengan apa adanya, dimulai dari hal-hal kecil yang bisa membuat kita bahagia.
Sederhana bukan? Tapi jarang orang yang mempraktikkannya.
Kuharap aku bukan salah satu dari mereka.
Tak tak tak Kakiku bergerak cepat untuk menuruni tangga, tak ingin membuat Eryana menunggu lama.
Sudah cukup seminggu yang lalu kita berjauhan.
Maksudku, berjauhan hati.
Entahlah.
Perasaanku begitu sensi selama seminggu kemarin.
Aku sendiri tak tahu apa penyebabnya.
Tapi aku curiga jika hal ini berkaitan dengan sindrom couvade, seperti yang Darwis katakan kemarin.
Bersikap labil dan emosional seperti yang biasa dirasakan oleh ibu hamil di luar sana.
Lucu memang.
Aku yang merasakannya, padahal yang hamil bukan aku.
Begitu juga dengan morning sickness yang masih kurasakan setiap hari.
Tentu bukan hal yang mudah untuk pengalaman pertamaku.
Lemas, pusing, dan pencernaanku terganggu.
Eryana selalu mencemaskan itu.
Ia selalu menatapku dengan khawatir dan berkata jika tidak seharusnya aku yang mengalami semua ini.
Berbanding terbalik denganku yang justru lebih menikmatinya.
Ya, aku berusaha menikmatinya.
Demi istri dan calon anakku.
Apapun akan kulakukan untuk mereka berdua.
Termasuk membuatkan Eryana susu seperti sekarang ini.
Aku menghidupkan kompor, mengatur api, lalu meletakkan panci yang sudah kuisi air di dalamnya.
Sembari menunggu, tanganku bergerak untuk meraih gelas dan menuangkan beberapa sendok susu bubuk khusus ibu hamil yang baru saja kami beli tadi pagi.
Tidak menunggu lama, air sudah mendidih.
Aku mematikan kompor kemudian menyeduh susu itu, lalu mengaduknya hingga benar-benar larut.
Tidak lupa aku juga menambahkan air dingin agar tidak terlalu panas saat Eryana meminumnya nanti.
Tok tok tok Tok tok tok Tok tok tok Suara ketukan pintu yang terdengar tak sabaran menggiring langkahku untuk segera membukanya.
Tanpa menaruh gelas terlebih dahulu, aku justru ingin mengutuk seseorang yang sudah mengganggu quality time ku dengan Eryana.
"Selamat si--" Bruk! Seorang perempuan dewasa menubruk tubuhku dengan keras, hampir saja gelas berisi susu ini jatuh jika aku tidak mencengkramnya kuat.
"Mas Hilman?! Apa kabar? Ya ampun udah lama nggak ketemu!" Seru perempuan yang sedang memelukku ini.
Aku berusaha untuk melepasnya, tapi ia semakin mengeratkan tangannya di punggungku.
"Jalangg!! Minggir dari suamiku!!" Mataku membola ketika menatap Eryana yang sudah menarik rambut perempuan itu.
Sejak kapan wanita hamil ini di sini? Oh, jangan bilang jika Eryana baru saja menuruni tangga dengan cepat.
"Mas, siapa dia?" Eryana menggeram sambil melepaskan jambakannya.
Dapat kulihat rontokan rambut begitu banyak di sela-sela jemarinya.
Aku menggeleng seraya mengedikkan bahu tak acuh.
Syukurlah, Eryana tidak langsung kabur saat melihat perempuan ini memelukku tadi.
"Ada perlu apa? Lancang sekali memeluk suami orang!" Ketus Eryana sambil bersedekap di depan dada.
"Suami orang? Dia istri kamu, Mas?" Kutatap perempuan itu dari atas hingga ke bawah.
Aku merasa kenal dengannya.
Ia tersenyum miris, "Kamu masih belum bisa mengenali aku rupanya.
Aku baru saja selesai operasi plastik tahun ini.
" Perempuan itu mendekatiku, "Ini aku! Anaya Shinta! Ana-mu!" Prang! Seketika pikiranku blank, hingga gelas yang kubawa pun jatuh.
Bersamaan dengan Eryana yang sudah berlari ke luar rumah.
Dengan panik aku mengejarnya, tanpa peduli dengan teriakan perempuan yang mengaku Ana.
Oh God! Jangan sampai wanitaku salah paham untuk yang kedua kalinya! Bahkan aku saja belum memastikan, itu benar-benar Ana atau tidak.
Kami berlarian cukup jauh.
Melewati dua komplek yang hampir berjarak 1 km dari rumahku.
Aku khawatir.
Tidakkah wanita itu berpikir jika ia masih membawa sebuah nyawa lagi? Di sini bukan hanya dirinya saja yang terancam, namun calon bayinya! Hap Sampai di salah satu tanah kosong milik warga, aku berhasil meraih lengannya, memeluknya erat sembari menciumi puncak kepalanya yang sedikit berkeringat.
Tentu ia terus memberontak dan memukuliku dengan brutal.
Jangan lupakan tenaga Eryana yang begitu kuat, membuat tubuhku serasa remuk dan hampir lengah.
"Sayang--" "Udah puas kamu?! Puas bohongin aku?!" Eryana menjauhkan tubuhnya dari tubuhku dengan napas yang tersengal-sengal.
Ia menatapku nyalang.
"Eryana, dengar! Saya belum mengingat apapun mengenai perempuan tadi! Bisa saja dia berbohong!" Aku hendak meraih tangannya, namun langsung ia tepis dengan kasar.
"Udah, Mas! Aku udah capek! Aku capek terus-terusan berjuang sendirian! Kalau Mas masih mencintai perempuan itu, Mas Hilman boleh kok pisah dari aku.
" Ucapnya lirih, hatiku tersayat mendengarnya.
"Saya kan sudah bilang kalau saya--" "Hanya mencintai Anaya Shinta?! Hentikan sandiwaramu, Mas! Mataku cukup sehat untuk membaca tulisan di bab akhir buku abu-abu itu!" Teriak Eryana sambil melempar buku abu-abu itu hingga mengenai dadaku.
"Eryana, kamu harus percaya sama saya! Saya mencintai kamu jauh sebelum mengucapkan kalimat sakral itu! Sebelum kita akad nikah!" Aku masih gentar untuk meyakinkannya.
Ia harus percaya padaku! Aku tidak ingin kehilangan dirinya! "Bullshit! Aku nggak akan dengar omongan kamu lagi! Dan sekarang, jangan cegah aku untuk pergi dari sini!" Aku membelalakkan mata.
Tidak! Ia tidak boleh pergi! Aku sangat mencintainya! Dan harusnya Eryana tahu itu.
Alih-alih berjalan menjauh, aku malah semakin mendekat ke arahnya.
Hingga ia benar-benar mendorong tubuhku dan menatapku dengan kilatan amarah "Jangan temui aku lagi! Atau aku akan bunuh diri!" *** Bucinnya hiatus dulu๐Ÿ˜ญ -Eryana- --- Aku nggak akan berhenti ngucapin terima kasih buat. kalian yang masih nunggu cerita ini๐Ÿค— si_melon๐Ÿ’œ.
Sumber:Internet