Gelap

Satu Centang Abu 24

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Satu Centang Abu 24

. Eryana berjalan menyusuri perumahan tanpa alas kaki.
Sesekali ia mengaduh, ketika menginjak kerikil kecil nan tajam yang terasa sakit di telapaknya.
Tidak ada air mata atau isak tangis, hatinya sudah lelah dengan semua bualan lelaki itu.
Hilman memainkan perasaannya.
Ia tahu itu, bahkan lebih dari sekedar tahu.
Selama ini, Eryana masih memakluminya dan berharap agar ada sebuah keseriusan di setiap kata manis yang terlontar dari bibir tipisnya.
Tapi ternyata, semua terasa sangat menyakitkan setelah membaca bab akhir dari buku laknat itu.
'Pergilah dariku Eryana! Aku tidak membutuhkanmu! Jika aku pernah berkata bahwa aku mencintaimu, maka itu adalah sebuah kebohongan besar yang selama ini aku tutupi.
Maka dari itu, pergilah!" Eryana tersenyum miris.
Masih terekam jelas tulisan Hilman di bab akhir buku itu.
Tidak ada ungkapan cinta seperti yang ia harapkan.
Tidak ada kata-kata manis yang biasa ia dengar dari Hilman.
Semuanya berbanding terbalik.
Tapi tak apa, ia jadi tahu jika Hilman tidak menginginkannya.
"Nana?!" Seseorang menepuk bahunya, ia bisa deru motor matic yang berhenti di dekatnya.
Eryana langsung menoleh.
Menemukan seorang gadis berkerudung yang tengah menatapnya heran.
"Asa?" "Kamu ngapain? Siang terik begini?" Asa menatap teman SMA nya yang nampak mengkhawatirkan.
Eryana berdehem pelan seraya menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
"Lagi pengen jalan-jalan aja sih.
" "Jalan-jalan? Kamu yakin? Tanpa alas kaki?" Eryana tersenyum layaknya orang bodoh saat tatapan Asa memicing ke arahnya.
"Naik! Kayaknya kamu butuh teman bicara.
" Wanita hamil itu bernapas lega, dengan senang hati ia akan menuruti perintah sahabatnya.
Karena Asa memang salah satu temannya yang bisa diandalkan selain Rima.
Gadis berkerudung ini lebih bijaksana dari mereka berdua, bahkan selalu memberi solusi jika ada masalah yang menderanya.
Motor matic berwarna merah itu melaju, membelah jalanan kota yang lebih ramai dari biasanya.
Maklum, jam makan siang.
Terbukti dari beberapa warung makanan yang terlihat ramai dikerumuni beberapa orang dengan memakai seragam formal.
Tidak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di kontrakan milik Asa.
Bersih dan nyaman.
Meski tidak sebesar rumahnya dan Rima.
Kontrakan ini hanya memiliki dua kamar sempit dengan satu kamar mandi di ruangan paling belakang.
"Jadi, gimana?" Tuntut Asa ketika mereka sudah berada di kamarnya.
Eryana menghela napas berat, matanya sudah mulai berkaca-kaca karena genangan air mata di dalamnya.
"Gue-- lagi marahan sama Mas Hilman.
" Ujarnya tercekat dengan kepala tertunduk.
Asa yang tadinya masih sibuk melepaskan kerudungnya pun langsung menatap Eryana.
Ia ikut duduk di hadapan wanita itu.
Tangannya terulur untuk mengusap bahu Eryana.
"Mas Hilman benci sama gue.
Dia nggak butuh gue.
Gue--" Eryana terisak, napasnya tersengal, ia terus menangis di pundak Asa yang sudah memeluknya erat.
Gadis berkerudung itu tahu bagaimana hancurnya perasaan Eryana saat ini.
Pasalnya, Eryana sangat jarang nangis sewaktu SMA dulu.
Bahkan Eryana selalu melindunginya dari kakak kelas yang dulu membully-nya.
"Gue bener-bener capek, Sa.
Hampir satu tahun pernikahan, dan selalu gue yang berjuang sendirian.
Gue nggak tahu lagi harus gimana.
" Eryana menangis pasrah di pelukan sahabatnya.
Usapan demi usapan di punggungnya membuat ia merasa lebih tenang.
Ia merasa masih ada orang yang peduli dengannya.

Sumber:Internet