. Eryana menatap hasil gambarannya dengan murung, baru kali ini ia gagal membuat sketsa wajah seseorang.
Tadinya ia akan menggambar wajah Hilman, namun yang terjadi malah tidak mirip sama sekali.
Bagian pipinya terlalu menggembung, berbeda dengan pipi hilman yang tirus.
"Iiihhh kesell!!" "Eh, jangan!!" Hilman mencegah tangan Eryana yang hendak merusak sketsa wajah itu.
"Ayo ini diminum dulu, rotinya juga dimakan.
Kamu dari semalam cuma makan mie instan loh.
Saking sibuknya sama sketsa wajah saya.
" Eryana cemberut, namun tetap mengambil nampan yang dibawa Hilman.
"Mas, sumpah ini jelek banget.
" Ia kembali menatap kertas itu dengan ngeri.
"Jelek apanya, Na.
Bahkan saya sendiri belum tentu bisa gambar sebagus kamu.
" Hilman menarik kertas itu dari tangan Eryana yang hendak meremasnya.
"Masss, siniin gambarnya.
Mau aku buang.
" Ia berusaha menggapai kertas itu, namun Hilman terus meninggikannya hingga Eryana lelah dengan kegiatannya sendiri.
Ia mendengus pasrah, kemudian meneguk susu khusus ibu hamil itu hingga tandas, menyisakan segelas air putih dan semangkok sup ayam buatan Hilman yang masih hangat.
"Jangan dibuang dong.
Bisa buat kenang-kenangan ini.
Tanda kalau semua yang ada di dunia ini butuh proses.
" "Ho'oh.
Kayak cinta aku ke kamu.
" What?! Eryana langsung menutup mulutnya dengan tangan.
Ia melihat Hilman yang sudah mengerling jahil ke arahnya.
Bulu kuduknya meremang, jantungnya berdebar-debar lagi.
Ia merasa bodoh.
Niatnya berujar dalam hati, malah ikut terucapkan langsung.
"Saya tahu itu.
" Tukas Hilman dengan santai, tanpa memedulikan Eryana yang sudah mengumpatinya di dalam hati.
Menghembuskan napas pelan, Eryana beranjak dari duduk.
Ia berjalan gontai menuju lantai bawah tanpa menggubris teriakan Hilman.
Ia mengambil jus melon dari dalam kulkas.
Bersama Hilman, membuat udara di sekitarnya terasa panas dan engap.
Maka ia menghindari lelaki itu dengan alibi mengambil jus melon.
Setelah meneguk jus melon itu hingga tandas, Eryana pun memutuskan untuk kembali ke kamar sembari membawakan potongan buah melon dengan keju parut dan susu kental manis di atasnya.
Wanita itu berdehem, kemudian ikut duduk di samping Hilman, di ranjang.
"Ini, Mas.
Tadi aku bawain buah melon.
" "Hm.
" Gumam Hilman yang ternyata sudah sibuk dengan laptopnya.
Eryana memutar bola matanya malas.
Tangannya bergerak menyuapi Hilman, memasukkan irisan melon bercampur keju dan susu ke mulut lelaki itu.
"Kenapa, Mas?" Herannya ketika melihat Hilman yang terdiam.
Tidak mengunyah ataupun menelan.
Seperkian detik lelaki itu menutup mulut dengan tangannya sendiri.
Lalu melompat dari ranjang, berlari menuju kamar mandi, kemudian memuntahkannya di sana.
Pikiran Eryana berkecamuk, ia terdiam sambil menatap semangkuk melon itu.
Apa rasanya aneh ya? Ia memasukkan potongan buah itu ke dalam mulutnya.
Tidak ada yang aneh.
Seperti biasa, bahkan ini lebih enak daripada sebelumnya.
Hilman yang tidak kunjung keluar dari kamar mandi.
Membuat Eryana harus menyusulnya.
"Mas, kamu nggak papa?" Tanya Eryana saat melihat Hilman yang terduduk di atas closet.
Lelaki itu terlihat lemas.
"Bukan sebuah masalah, Sayang.
Sudah rutinitas.
" Masih sempat-sempatnya Hilman tersenyum di tengah wajahnya yang sudah pucat.
Memang tidak bisa dipungkiri, selama sebulan ini Hilman terus tersiksa dengan morning sickness.
Ia bahkan sampai kasihan sendiri melihat suaminya yang terus mual-mual dari pagi hingga siang.
Seakan janin yang tengah dikandungnya itu, mengharuskan Hilman untuk ikut merasakan apa yang seharusnya dirasakan ibunya.
Sumber:Internet