Gelap

Satu Centang Abu 29

๐Ÿ‡ฒ๐Ÿ‡พ Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear โš™ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple (๏ฃฟ) > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Satu Centang Abu 29

. Lambaikan tangan kalau udah nyerah๐Ÿ˜Enjoy the reading! *** Pagi-pagi sekali Eryana sudah bangun, ia tersenyum sambil mengusap perut buncitnya yang sudah berumur lima bulan.
"Kamu lapar ya, nak.
Sebentar ya.
" Gumam Eryana ketika perutnya berbunyi keras.
Ia hendak membangunkan Hilman yang masih mendekapnya.
Namun wajah pulas Hilman dan dengkuran halusnya, membuat Eryana mengurungkan niat.
Suaminya itu pasti kelelahan setelah kemarin mengurus segala keperluan untuk launching bukunya hari ini.
Eryana mengecup pipi Hilman, menyibak selimut, lalu berjalan pelan menuju dapur.
Sepi.
Itu yang ia rasakan saat Bi Surti, asisten rumah tangganya, izin pulang kampung.
Eryana menghela napas.
Tangannya bergerak untuk membuka kulkas, mencari-cari sesuatu yang bisa ia masak sesederhana mungkin.
Maklum, sampai sekarang Eryana tidak pernah bergelut di dapur.
Jika Bi Surti pulang pun Hilman yang akan memasakkannya.
Tidak ingin ribet, Eryana memilih untuk mengambil roti tawar, selai melon, dan margarin.
Sepertinya roti bakar bukanlah sebuah ide yang buruk.
Terlihat sangat mudah meskipun Eryana belum pernah membuatnya.
Ia mengambil selembar roti tawar, mengoleskan selai melon, melipatnya menjadi dua, lalu mengoleskan sedikit margarin di luarnya.
Eryana tersenyum puas, aroma margarin menguar di indera penciumannya setelah ia menaruh roti itu di atas teflon.
Sembari menunggu, Eryana memutuskan untuk mengolesi roti-roti lainnya dengan selai melon.
Sesekali ia mengecek ponsel, memastikan segala sesuatu tentang keperluan acaranya nanti dengan teliti.
Selesai melakukan hal yang sama pada roti-rotinya, Eryana pun kembali ke kompor.
Senyumnya mengembang, ia tidak sabar menikmati roti bakar buatannya sendiri.
Dibaliknya roti itu dengan spatula.
Gosong! Dua-duanya gosong! Eryana sudah hampir menangis.
Rotinya berganti warna menjadi hitam pekat seperti arang.
Ia tidak yakin, roti itu masih bisa dimakan atau tidak.
Sedangkan asap semakin mengepul dari teflon.
Ia menghela napas berkali-kali.
Ternyata membuat roti bakar tidak semudah yang ia bayangkan.
Percobaan pertamanya saja gagal.
Bagaimana dengan percobaan kedua, ketiga, atau bahkan ke empat? Bisa-bisa ia tidak jadi makan sampai Hilman terbangun.
"Apinya kebesaran, Sayang.
" Eryana terlonjak saat sebuah lengan kekar sigap mengecilkan api kompor, disusul dengan aroma melon yang menguar dari tubuh seseorang.
Tidak salah lagi, seseorang yang sedang ia pikirkan kini tepat berada di belakangnya.
Eryana memutar tubuh.
Ia mengaduh ketika dahinya membentur dada bidang Hilman dengan keras.
Lelaki itu spontan mengusap kening Eryana, lalu menciumnya sekilas.
"Kamu kok udah rapi? Acaranya kan masih jam sembilan nanti.
" Heran Eryana saat melihat Hilman yang cukup tampan dengan kaos polos berwarna hitam dan celana pendek selutut berwarna senada.
Style khas Hilman yang tidak pernah berubah.
"Saya mau ke resto sebentar, siapa tahu anak-anak butuh bantuan.
" Ia hanya mengangguk singkat, resto Hilman memang andil dalam acaranya sebagai sponsor.
Tak tanggung-tanggung, ratusan porsi ayam geprek akan Hilman bagikan secara gratis.
Sedikit pun lelaki itu tidak merasa rugi.
"Mas, apa nggak terlambat kalau kamu ke resto dulu?" "Kamu nggak perlu khawatir.
Saya bisa jadi pembalap dadakan nanti.
Cukuplah sepuluh menit perjalanan.
" Sepuluh menit perjalanan? Sengebut apa lelaki itu nantinya.
Jarak mall dan rumahnya saja cukup jauh, ditambah lagi jarak resto yang berlawanan arah dengan mall tempatnya launching buku nanti.
Dan Hilman hanya menempuhnya selama sepuluh menit? Gila!
Sumber:Internet