. Eryana mengerjapkan matanya perlahan, mencoba beradaptasi dengan sinar matahari yang menyelinap masuk ke kamarnya.
Kepalanya masih terasa sedikit pusing.
Tapi tubuhnya sudah tidak kedinginan.
Ia malah merasa hangat sekarang.
Hangat? Seingat Eryana ia kemarin pingsan masih menggunakan gaun basah.
Dirabanya tubuh bagian atasnya sendiri.
Ia hampir memekik saat mengetahui bahwa dirinya tengah memakai hoodie hitam milik Hilman.
Ia bisa tahu dari aroma melon yang menyeruak di penciumannya.
"Non Eryana sudah bangun?" Tama datang membawa sebuah nampan berisi semangkuk bubur dan segelas susu putih hangat.
"Loh kok lo yang di sini, Tam.
Mas Hilman mana?" Eryana balik bertanya.
Ia masih memikirkan hoodie hitam yang tengah dipakainya.
"Tuan Hilman ada di ruang kerjanya, Non.
Dari semalam, saya yang disuruh jaga Non Nana.
" Eryana membelalakkan mata, "Apa?! Dari kemarin lo yang jaga gue? Terus yang gantiin baju gue, Lo juga?" Gadis itu terduduk setelah berteriak histeris.
Sambil memegangi kepala, ia menatap tajam Tama.
"Nggak lah, Non.
Yang gantiin baju Non kemarin itu Tuan Hilman.
Terus yang nyiapin sarapan ini juga Tuan Hilman.
" Eryana bernapas lega.
Bisa gawat kan kalau yang menggantikan bajunya memang benar-benar Tama.
Bisa rugi banyak dia.
"Ini Non sarapannya.
Silakan dimakan.
" "Nggak.
Gue nggak mau makan kalau Mas Hilman nggak ada di sini.
" Eryana bersedekap di depan dada.
Ia sudah kesal tingkat dewa dengan suaminya.
Bagaimana bisa lelaki itu meninggalkan istrinya yang sedang sakit bersama asistennya.
Segitu percayanya Hilman dengan Tama.
"Non.
Kali ini nurut sama saya yah, Non.
Nanti saya dimarahi lagi.
" Lirih Tama.
Nyalinya menciut melihat tatapan tajam Eryana.
Gadis itu masih bergeming menatap tajam asisten suaminya.
Sebelah alisnya terangkat, menatap wajah Tama yang banyak lebam kebiruan di sana.
"Eh bentar, bentar.
Itu wajah lo kenapa?" Tanya Eryana yang tidak dijawab oleh Tama.
Lelaki itu menatapnya gusar.
"Jangan-jangan Mas Hilman yang udah mukulin lo.
Tapi kenapa?" Gadis berambut sebahu itu masih menatap Tama dengan kebingungannya.
"Eh Tam.
Jawab dong!! Gue kan tanya.
" Tama menatapnya takut-takut.
"Itu hukuman buat Saya, Non.
Gara-gara saya, Non Nana jadi pulang naik ojek terus kehujanan sampai sakit seperti ini.
" Tama memelankan suaranya.
Ia takut jika Tuannya itu mendengar pembicaraannya dengan Eryana.
"Aduh maaf ya, Tam.
Gara-gara gue lo jadi kayak gini.
Maaf banget.
Gue kemarin nggak sempat ngomong ke Mas Hilman soal itu.
" Eryana prihatin dengan kondisi Tama.
Ia jadi tidak habis pikir dengan suaminya.
Hanya karena masalah seperti ini, Hilman sudah memukul Tama habis-habisan.
Bahkan hingga saat ini lebam biru itu masih ada di pipi, pelipis, dan dagu Tama.
"Udah Non, nggak papa.
Mending Non sekarang sarapan.
Biar saya nggak dimarahin lagi sama Tuan.
" Tama meringis, merasakan sakit di ujung bibirnya yang sobek.
Eryana tidak menggubris perkataannya.
Gadis itu malah bertanya, "Kalau lo buat kesalahan, lo selalu dipukulin sama Mas Hilman?" Tama tersenyum kikuk.
"Nggak Non.
Baru sekarang saya dipukulin.
Biasanya cuma dimarahin.
" Lelaki itu tersenyum sopan kepada Eryana yang masih heran dengan suaminya.
Eryana beranjak dari duduk sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Loh, Non mau ke mana? Ini sarapannya belum dimakan.
" Tama mendekat ke arah Eryana.
Sebelah tangan gadis itu berpegangan pada ujung ranjang.
Eryana mengibaskan tangannya ke atas.
Tanda kalau ia menolak untuk sarapan.
Sumber:Internet