. "Nih anak, ya.
Nggak pernah sakit, sekali sakit malah cengengesan kayak gini.
" Geram Karina yang duduk di sisi kanan Eryana.
Rima yang masih terkejut pun ikut menghampiri sahabatnya.
"Nggak papa, Kak.
Itung-itung, buat latihan kalau Eryana besok hamil.
Kan gejalanya nggak beda jauh.
" Celetuk Eryana, membuat semuanya menatap Hilman dengan tatapan menggoda.
Lelaki itu tampak tidak terganggu dengan ucapan istrinya.
Ia masih terdiam menatap wajah pucat Eryana.
"Bisa aja kamu, Na.
" Darwis mengusap puncak kepala Eryana dengan lembut.
Bahkan saat sakit saja, gadis ini masih sanggup tersenyum lebar dan mencerocos seperti biasanya.
"Ah iya, Bang.
Resepnya udah aku tulis.
Nanti tinggal beli aja di apotek.
Ini ada obat buat penambah darah, sama penurun panas.
Sebenarnya, ada dugaan vertigo juga sih.
Tapi aku masih belum bisa mastiin.
Tiga hari ke depan, kalau Nana masih pusing boleh hubungi aku lagi.
" Jelas Darwis kepada Hilman.
Lelaki itu begitu serius mendengar penjelasan kakak iparnya.
"Vertigo? Bukannya dari dulu kamu emang udah punya vertigo, Na? Cuma semenjak SMA udah nggak pernah kambuh lagi, kan?" Tanya Rima yang langsung ditatap tajam oleh Eryana.
Hilman sudah menatap kedua perempuan itu bergantian.
"Benar, Na?" Tanyanya memastikan.
Eryana menghela napas pasrah, lalu mengangguk pelan.
Tidak ada waktu lagi untuk berdebat dengan suaminya.
"Ya udah, Bang.
Kalau gitu aku pergi dulu, ya.
Takut telat.
" Pamit Darwis mengalihkan perhatian mereka.
Hilman mengangguk tanpa senyum, "Biaya periksanya berapa?" Tanya lelaki yang hampir mengeluarkan dompet dari saku celana pendeknya.
"Nggak usah, Bang.
Lagipula kan adik sendiri.
Masa harus bayar.
" Jawab Darwis santai, lelaki itu mengemasi alat-alatnya.
Ia menyalami Hilman yang berusaha tersenyum kepadanya.
"Terima kasih, Wis.
" Ucap adik iparnya.
Hilman tersenyum lebar, "Sama-sama, Bang.
" Jawabnya tulus, lelaki beeprofesi dokter itu beralih kepada Karina.
"Sayang, aku tinggal dulu ya.
Tadi katanya masih pengen di sini.
" Pamit Darwis kepada Karina yang mulai beranjak dari duduknya.
Perempuan itu berjalan menghampiri Darwis.
"Iya, Mas.
Kamu hati-hati ya berangkatnya.
" Karina menyalami Darwis.
Kemudian, barulah keningnya dicium oleh lelaki itu.
Di hadapan Damar, Rima, Hilman, dan Eryana.
No sensor! Melihat kemesraan kakaknya dengan Darwis, membuat Eryana kembali lesu.
'Hufft, jangan mimpi Eryana! Hilman pasti tidak sudi melakukan itu denganmu!' Gerutunya dalam hati.
Selepas Darwis pergi, kini bergantian Hilman yang meninggalkan ruangan tanpa pamit kepada mereka.
Lelaki itu melengos pergi.
Merasa ada yang dibutuhkan oleh kakak iparnya, Damar pun berniat untuk menyusul Hilman.
Ia pamit kepada Rima.
"Sayang, aku pergi nyusul Kak Hilman dulu, ya.
Siapa tahu ada yang bisa aku bantu nanti.
" Damar mendekat ke arah Rima lalu mencium keningnya.
Nah kan, keromantisan mereka lagi-lagi membuat hati hati Eryana memanas.
Tadi Karina dengan Darwis.
Sekarang Rima dengan Damar.
Miris sekali hidupnya yang selalu terabaikan.
Tapi syukurlah, kedua wanita itu tidak mengalami apa yang ia alami sekarang.
Setidaknya, cukup dirinya saja yang merasakan.
*** Sudah satu jam lamanya sejak Hilman dan Damar pergi, ketiga perempuan itu masih asyik berbincang tentang pasangan masing-masing.
"Assalamualaikum.
" Salam Hilman dan Damar yang baru masuk.
"Waalaikumussalam.
" Jawab ketiganya kompak.
Eryana melihat tangan Hilman yang penuh dengan kantong plastik.
Lelaki itu berjalan mendekat ke ranjang.
Sumber:Internet