Gelap

Satu Centang Abu 8

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Satu Centang Abu 8

. Sepulang dari rumah sakit, Hilman tidak langsung tidur.
Ia masih sibuk mencari pelaku penggelapan dana restonya.
Karena hampir seluruh dana pengeluarannya habis tanpa sisa, membuat lelaki itu kembali ke modal awal.
Hilman memeriksa dengan teliti angka nominal yang sudah berbaris rapi memenuhi tabel di layar laptop.
Ia mencocokkannya dengan laporan keuangan yang tertulis di balik map.
Malam ini, ia harus harus benar-benar menyelesaikan masalahnya.
Karena jika terus-terusan dibiarkan, yang ada malah resto cabang Hilman bangkrut karena kekurangan modal.
Tidak seperti biasa, kasus penggelapan dana ini terjadi.
Pasalnya, ia tidak pernah merasa mempunyai musuh dalam dunia bisnis kuliner ini.
"Mas, boleh ikut begadang nggak?" Eryana menyelonong masuk ke ruang kerja Hilman.
Ia datang dengan piyama tidur yang sudah membungkus tubuhnya.
Tidak lupa juga gadis berambut sebahu itu membawa laptop dengan tangan kiri karena tangan kanannya masih lembab dan sedikit perih.
Hilman mengalihkan perhatian dari laptop, "Tangan kamu?" Tunjuknya menggunakan dagu Eryana tersenyum.
"Sudah mendingan kok, habis dikasih salep dari dokter tadi.
" Hilman hanya menganggukkan kepala.
Gadis itu langsung duduk di sofa ruang kerja, memakai kaca mata baca, lalu mulai sibuk dengan dunia kepenulisannya.
Begitu pula dengan Hilman yang sudah merevisi beberapa nominal di laporannya.
Suasana mereka begitu hening.
Hingga beberapa jam kemudian, Eryana yang lebih dulu selesai dari kegiatannya pun mulai mengajak Hilman berbicara.
Ia menghampiri lelaki itu di meja kerjanya.
"Selesainya masih lama, Mas? Masalah penggelapan dana yang kemarin, ya? Emang Tama nggak bisa bantu? Apa aku aja yang bantu kamu? Ah tapi aku udah ngantuk.
Dilanjutin besok nggak bisa, ya? Atau kita sewa detektif andal aja.
Hm, kalau nggak, kita--" "Diam atau saya akan suruh kamu tidur di sini?" Ancam Hilman yang sudah sangat risih dengan ocehan istrinya.
Pikirannya sudah penuh dengan masalah resto, akan semakin bertambah jika gadisnya terus-terusan berbicara.
Eryana menekuk wajahnya, "Gitu amat sih, Mas.
Aku kan cuma mau bantu kamu, siapa tahu ada jalan keluar kalau kita selesaikan bersama.
Aku juga nggak..." Ucapannya kembali terhenti ketika melihat suaminya mulai mengemasi barang-barang yang ada di atas meja.
Lelaki itu menutup laptopnya kasar, lalu membawa map-map tadi di tangan kirinya.
Hilman menatapnya tajam.
"Oke, malam ini kamu tidur di sini.
" Ucap lelaki itu yang langsung keluar dari ruang kerja, kemudian menguncinya dari luar.
Ia menulikan telinga, tidak peduli dengan Eryana yang masih menggedor-gedor pintu ruang kerjanya dengan berteriak.
Karena yang terpenting sekarang adalah ia harus menyelesaikan masalah rumah makannya.
Lagipula, gadis itu juga sudah tidak sakit kan? Jadi Hilman bisa menguncinya dengan aman di sana.
Tanpa takut Eryana pingsan.
*** Brak brak brak "Maaasss!! Mas Hilmaaann!!" Eryana terus menggedor pintu itu dengan kedua tangannya.
Bahkan beberapa kali ia sudah mencoba untuk mendobraknya.
Namun apalah daya, tenaganya tidak sebanding dengan pintu yang terbuat dari kayu jati itu.
Eryana menendang pintu dengan kesal.
"Bang**t ini orang! Niat bantuin malah dikunciin.
Mana nggak ada yang nolong gue lagi.
Hape juga di kamar, lupa nggak dibawa.
Ck, bisa mati gaya kalau gue terus-terusan begini.
" Ujar gadis itu pada dirinya sendiri.
Eryana menyerah.
Daripada menghabiskan tenaga untuk berteriak dan mendobrak pintu itu, lebih baik ia memanfaatkan waktu untuk melihat-lihat isi ruang kerja Hilman yang sangat rapi dan bersih dengan nuansa monokrom, warna kesukaan lelaki itu.

Sumber:Internet