. Bagian I.
Bertahan sebelum Kehilangan10 Januari 2013 - di atas kasur, memikirkanmu.
Bab 1, ayat 1 Agoraphobia.
Sebuah kondisi ketika seseorang merasa takut berlebihan saat pergi ke tempat keramaian dan menganggap jika tempat itu tidak aman.
H.
S.
S Eryana mengernyitkan kening seraya menyesap susu strawberry dari cangkir.
Kaki jenjangnya ia luruskan di pinggiran jendela.
Rambut pendeknya ia biarkan tersibak mengikuti irama angin pagi.
Tangannya kembali bergerak untuk membalikkan halaman buku abu-abu itu.
14 Januari 2013 - di taman, menatapmu.
Bab 1, ayat 2 Genggam tanganku saat rasa takutku datang, terus peluklah aku hingga hati ini kembali tenang.
H.
S.
S Eryana masih mengernyitkan kening.
Agoraphobia? Ia merasa asing dengan istilah itu, baru kali ini juga Eryana mendengarnya.
Apa Hilman penderita Agoraphobia? Lalu apa maksud dari tulisan Hilman di halaman kedua? Apa lelaki itu membutuhkan genggaman dan pelukan saat phobia nya kambuh? Eryana terus memikirkannya di dalam. benak.
Rupanya ia membutuhkan sebuah bukti untuk menguatkan dugaan tersebut.
Ah iya, sore ini Hilman sudah berjanji untuk menemaninya bertemu Pak Tomi, kepala penerbit Pustaka Aksara.
Ia bisa memanfaatkan keadaan resto yang ramai, mengingat sekarang adalah Hari Sabtu.
Segera saja Eryana menutup buku lusuh itu.
Ia beranjak dari kursi.
Lalu berjalan menuju kamar setelah meletakkan cangkir bekas susu ke dalam wastafel.
Masih dengan dipenuhi tanda tanya, gadis itu meletakkan buku Hilman ke tempat semula, tempatnya menyimpan underwear.
Ia terduduk di samping ranjang.
Tangannya meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas.
Eryana perlu banyak penjelasan mengenai Agoraphobia.
Maka ia memutuskan untuk mencari info dari internet.
'Agoraphobia umumnya timbul saat seseorang pernah mengalami lebih dari satu kali serangan panik pada suatu tempat atau kondisi tertentu.
Hal ini menyebabkan penderita agoraphobia takut dan menghindari tempat atau kondisi tersebut.
' Eryana kembali menggeser layar ponselnya semakin ke bawah.
'Gejala fisik penderita adalah jantung terasa berdebar-debar, napas menjadi cepat, nyeri dada, tubuh terasa panas dan berkeringat, gemetaran, mati rasa/kesemutan, sakit perut/diare, kesulitan menelan, merasa ingin pingsan.
' Gadis itu menggelengkan kepala pelan.
Ia tidak pernah tahu jika Hilman akan semenderita ini ketika berada di keramaian.
Pantas saja waktu alerginya kambuh di resto, Hilman langsung menggenggam tangannya.
Menutupi wajah dan hampir seluruh kepalanya menggunakan tudung jaket.
Seakan-akan tubuhnya menolak untuk berada di tempat seperti itu.
Bahkan Eryana juga bisa merasakan bagaimana tangan Hilman yang terasa dingin dan gemetar saat menggenggamnya.
Ia sempat melihat wajah pucat suaminya, menyiratkan sesuatu yang harus ia ulik lebih dalam.
Dan Eryana baru mengetahuinya sekarang.
"Eryana.
" Gadis berambut sebahu itu tersentak.
Ia baru saja melamunkan lelaki tampan yang kini sudah berada di hadapannya.
Eryana tersenyum kikuk, jempolnya terus bergerak untuk menekan tombol 'home' agar layar ponselnya kembali ke wallpaper utama dengan mata yang terus menatap lelaki itu.
"Ada apa, Mas? Mau aku buatin sesuatu? Jus melon mungkin?" Tanya Eryana seiring dengan Hilman yang semakin mendekat ke arahnya.
Lelaki itu menggeleng pelan, mata tajamnya mengintrupsi Eryana untuk tetap menatapnya.
"Ibu saya baru datang dari Bandung.
Beliau menunggu kamu di bawah.
" Ucap Hilman lirih.
Tidak seperti biasa, suaranya terdengar sangat lembut di telinga Eryana.
Sumber:Internet