. Jam dinding di kamar berdering kencang satu kali.
Dara yang tampak masih terlelap dalam nyenyak tidurnya tersentak seketika.
Dengan gerakan pelan ia duduk dan bersila di atas ranjang sembari menguap dan mengusap wajahnya beberapa kali.
"Sudah siang ..." bisiknya dalam hati, kedua matanya tampak melihat ke arah pintu yang masih tertutup dengan rapat.
Dara terdiam beberapa detik, membawa terbang alam pikirnya untuk sejenak.
Perasaannya masih terasa kisruh tak menentu.
Rasa penasaran yang mengganjal masih mendekam dalam hati seolah tidak pernah pergi dan terlepas, selalu menghantui jalan pikirnya.
Hasrat yang terpendam dalam dada selalu mengganggu hari-harinya.
Semua khayalan tentang nikmatnya penyatuan diri antara suami istri yang baru saja menikah, seakan menjadi satu hal yang mustahil baginya.
Seharusnya, saat ini mereka sedang menikmati masa-masa bulan madu dengan hasrat yang membara dalam dada, memompa andrenalin dengan kencang, seperti layaknya pasangan suami istri yang baru saja menikah.
Tetapi yang terjadi hanya sepi.
Dara sangat kecewa, gairahnya tidak pernah dapat dipenuhi oleh suaminya.
Ia merasa gagal menjadi wanita yang seutuhnya.
Hasrat yang setiap hari terkumpul semakin menumpuk terasa mengganjal, menghalangi aliran darahnya.
Ia merasa semua ini harus segera disalurkan.
Tiba-tiba, ingatannya tertuju pada satu peristiwa.
Suatu ketika, ia dan temannya pernah menonton sebuah film dewasa di rumah Wita.
Sebuah film, yang menceritakan tentang sepinya hati seorang istri yang tidak pernah mendapat kepuasan biologis dari suaminya, "Hmmm, iya, ya!" pikir Dara dalam hati , "tak berbeda dengan yang aku alami ..." desisnya dalam hati.
Dara tampak menganggukan kepalanya berkali-kali, "satu-satunya jalan, hanya dengan menggunakan jari ... atau, alat bantu? glek! Ah, sial! Aku tidak memiliki alat bantu dewasa!" pekiknya dalam hati.
Dara menelan air liurnya sendiri, membayangkan kembali film dewasa itu, membuatnya harus kembali menahan gejolak hasrat yang mulai kembali bergemuruh kencang, berdentum jantungnya seperti genderang perang.
Mata Dara liar menyapu seluruh sudut kamar, mencari sesuatu yang dapat di gunakannya sebagai alat bantu.
Area kewanitaannya tiba-tiba mengembang nyut-nyutan.
Tetapi ia tidak menemukan sesuatu yang dapat dijadikannya sebagai objek pelampiasan.
Sesaat kemudian ia bangkit, lalu bergegas turun dari ranjang.
Jantungnya terasa berdebar-debar, lirikan mata menyapu ke sekeliling ruangan.
Lalu, dengan langkah pelan, ia berjalan mendekati pintu.
Setelah berada di muka pintu, Dara mengunci pintu kamarnya dari dalam dan berbisik, "aman!" ucapnya dalam hati, dadanya terasa berdebar-debar.
Dara kembali membalikan tubuh, menuju ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya, dan mendekati cermin di atas meja toilet.
Di depan cermin, ia tampak tertegun beberapa saat, "hmm, tapi aku butuh! Tidak ada jalan lain, kecuali melakukannya ...." bisiknya dalam hati meyakinkan diri.
Napasnya kini sudah mulai terdengar tak beraturan.
Perlahan, Dara menanggalkan gaun tidurnya.
Berdiri tegak memandang pantulan tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya di depan cermin.
Semenjak menikah, ia memang jarang mengenakan pakaian dalam, berharap suaminya dapat bergairah.
Dara sangat menanti pergerakan jantan dari senjata pusaka suaminya.
Tetapi kenyataannya, sampai hari ini ia masih juga mendapatkannya.
Senjata pusaka suaminya itu tetap saja lemah.
Pelan-pelan, telunjuk tangan kanannya mulai mengusap lembut bukit kembar yang sebelah kiri.
sedangkan telapak tangan kirinya ia usapkan ke permukaan area sensitifnya yang dipenuhi bulu-bulu halus di sekitar area kewanitaan yang terbelah di antara pangkal pahanya itu.
Sumber:Internet