Gelap

Suamiku Lemah Syahwat 3

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Suamiku Lemah Syahwat 3

. Sekitar pukul sembilan malam, suasana di rumah Guntur yang besar dan mewah itu tampak hening.
Tidak ada sedikitpun terdengar suara orang berbincang.
Bi Lastri yang setiap hari selalu sibuk dengan segala pekerjaan rumah, sudah tertidur lelap di kamar belakang karena kelelahan.
Dara terlihat santai meluruskan tubuhnya di atas sofa ruang tengah.
Melonggarkan urat-urat syarafnya yang beberapa hari ini menegang sembari menikmati 'Playlist' lagu-lagu melayu yang mendayu pelan melalui perangkat headset yang menempel di kedua daun telinganya.
Malam ini Dara hanya ingin menikmati waktunya sendirian, tanpa harus merasa perlu lagi berjuang sendiri membangunkan senjata pusaka milik suaminya yang mati suri.
Alat reproduksi milik suaminya itu selalu membuat ia kelelahan tanpa mendapatkan hasil.
Keadaan itu akhinya membuat Dara selalu uring-uringan sendiri.
Kejengkelan hatinya bahkan kadang-kadang sampai terbawa sampai pagi.
Sepertinya Dara memang sudah sangat merasa lelah hati menghadapi keadaan suaminya.
Biasanya, hampir setiap malam, Dara selalu bersemangat membongkar resleting celana Guntur, berharap bagian tubuh sensitif suaminya memberikan reaksi.
Tetapi hari ini ia benar-benar tampak sangat malas melakukan apapun.
Dara seakan sudah tidak perduli lagi dengan keadaan Guntur yang menurutnya hanya mempunyai napsu yang besar saja, tetapi lemah dalam persenjataannya.
Melihat istrinya terbaring malas seakan tidak mempunyai gairah hidup seperti itu, Guntur merasa semakin berdosa, ia merasa tidak berguna.
Selama tiga bulan ini ia sama sekali belum pernah memberi nafkah batin untuk istrinya.
Dan itu rasanya sangat menyiksanya.
Terlebih malam ini ia meliihat Dara seperti sudah tidak memperdulikannya lagi.
Satu detik lalu, sempat terlintas dalam pikirannya sebuah kecurigaan yang mengusik hatinya, "Aneh?!" pikir Guntur mengerutkan kening.
Menghela napasnya beberapa saat, lalu kembali berkata dalam hati, "biasanya jam-jam segini ia sudah sibuk membongkar celanaku, mengusap dan mengulum, berusaha membangunkan kejantananku yang beberapa bulan ini mati suri, mengapa malam ini ia benar-benar acuh? apakah ia sudah pasrah menerima keadaanku? Tidak mau mencoba dan berusaha lagi?!" Tanya Guntur dalam hati, pandangan matanya tampak erat mengunci ke arah Istrinya.
"Huuftt!" Guntur menghembuskan napasnya dengan cepat, lalu kembali berkata dalam hati, "mudah mudahan istriku dapat memaklumi kelemahanku ini," pikirnya lagi, berusaha meredam semua keresahan dalam diri.
Pelan-pelan Guntur menghampiri Dara yang tengah terpejam menikmati nada dan alunan irama lagu yang bergema di telinganya.
"Ma!" panggil Guntur mengencangkan suaranya sembari menggoyangkan bahu istrinya itu.
Mendengar teriakan suaminya, tiba-tiba Dara terkaget untuk sesaat, lalu perlahan memutarkan kepala dan menoleh ke arah suaminya.
"Apa?" ia menjawab panggilan suaminya itu dengan acuh tak acuh.
Sebentar kemudian ia lepaskan dua buah headset yang terpasang di daun telinganya sembari menatap ke arah Guntur sekilas, lalu dengan santai memakainya kembali.
Sebuah senyum yang dipaksakan tampak melengkung tergambar abstrak di wajah Guntur.
Ia memahami kejengkelan hati istrinya, bahkan sebagai suami, ia merasa sangat berdosa, karena belum mampu memberikan nafkah batin kepada istrinya itu.
"Maafkan Papa, ya Ma ... setiap malam Mama selalu gelisah hingga sampai kurang tidur.
Papa ingin kita bisa bersentuhan secara normal, tetapi ..." keluh Guntur, terdiam sesaat sembari kembali membuang napasnya dan kembali berucap pelan, "punyaku masih belum bisa berfungsi, Papa mengerti, Mama pasti kecewa.
Maafkan Papa, ya Ma ...." ucap Guntur terdengar putus asa.
Dara terdiam, musik ditelinganya sudah ia kecilkan dari tadi, tetapi rasanya sangat malas untuk merespon percakapan suaminya itu.
Ia tetap memejamkan matanya, seakan tidak perduli dengan semua perkataan yang diutarakan suaminya.
"Papa harap, Mama mau menunggu dan bersabar, Papa yakin bisa sembuh dan kembali normal, Ma.
Papa sedang berusaha mencari informasi untuk mengatasi masalah Papa ini, semoga Gandi secepatnya mendapatkan informasi yang valid dan dapat dipercaya khasiatnya.
" Ucap Guntur menahan kekecewaan kepada dirinya sendiri.
Ia terlalu lelah untuk terus selalu meradang dalam keputusasaan.
Suaranya terdengar pelan, seakan memelas belas kasih dan pengertian lebih dari istrinya.
Dara menarik napasnya dengan kencang, lalu tanpa semangat ia berkata, "Iya terserah Papa, tidur saja sana! Sudah malam, aku ngantuk.
Mulai sekarang aku tidak akan mengusiknya lagi! Aku tunggu sampai Papa sembuh saja! Aku sudah capek!" ucap Dara ketus, mendelik ke arah Guntur, lalu membalikan punggungnya menghadap sandaran kursi sofa di ruang tengah rumah mereka.
Mendengar ucapan ketus istrinya, hati Guntur kembali harus merasakan perih, semua yang terjadi diantara mereka akhir-akhir ini benar-benar melukai perasaannya sebagai lelaki.
Guntur hanya dapat meredam rasa sakit yang nyelekit dalam hatinya.
Setelah mengambil napas dalam-dalam dan lalu menghempaskannya tanpa semangat, Guntur diam-diam mencoba merebahkan tubuh di sisi istrinya, kedua tangan mencoba untuk melingkari tubuh Dara dengan segenap perasaan.
Maksud hati ingin memeluk istrinya mesra, menghangati hatinya yang selalu dirundung kecewa.
Tetapi harapan Guntur pupus seketika, Dara berteriak membentaknya sembari mendelikan matanya yang bulat dan bening itu, "Papa tidur di kamar saja!" tolak Dara seraya menekan sikutnya ke dada kiri Guntur.
Hati Guntur seketika menciut, hatinya kembali teriris perih.
Keningnya tampak berkerut, terlihat lesu menatap ke arah istrinya.
"Mama mengusir Papa?!""Tidak!" Seru Dara, lalu kembali membalikkan tubuhnya setelah mendelik ke suaminya sembari berkata, "Untuk apa tidur berdua, jika Papa tidak bisa menunaikan kewajiban? Percuma, 'kan? Lebih baik Papa tidur saja di dalam kamar, malam ini aku ingin tidur sendiri di sini!" ucap Dara ketus.
Guntur kembali merasa tersudut, dadanya harus kembali merasakan perih.
Ucapan Dara yang pedas sudah merobek hatinya.
Tetapi, tidak ada yang dapat ia lakukan selain bersabar dan mencoba memahami kegelisahan istrinya.
Guntur menyadari, semua karena kelemahan tubuhnya.
Ia hanya mampu kembali menghela napasnya panjang berulang kali, menahan kegetiran dalam hatinya.
"Yaaah ...." keluhnya sembari bangkit berdiri, dan mengangkat kedua belah telapak tangannya ke udara, lalu berucap pasrah, "ya sudah, kalau Mama tidak mau ditemani, Papa mengalah.
" ucapnya lirih.
Dara diam seribu bahasa, tidak ingin ia berkata apa-apa lagi.
Dara lalu memeluk bantal yang tergeletak di sisinya dengan gerakan yang pelan tanpa semangat.
Melihat Dara benar-benar tidak ingin diganggu, akhirnya Guntur mengalah, perlahan pergi dengan langkah yang sangat pelan, ia biarkan istrinya tidur sendirian di kursi sofa ruang tengah, perjalanan menuju ke kamarnya seketika terasa berat dan melelahkan.
Beban pikiran yang mendekam di dalam kepala selama berbulan--bulan membuatnya frustasi.
Semua permasalahan yang menghantam pernikahannya sangat berpengaruh terhadap kualitas hidupnya, kehidupan rumah tangganya dengan Dara, wanita yang selama ini ia cintai itu kini terasa hambar, merobek harga dirinya sebagai seorang lelaki.
Tidak ada lagi keharmonisan seperti waktu mereka pacaran dulu.
Sebenarnya, waktu mereka menginap di villa miliknya, Dara sudah siap untuk menyerahkan semua miliknya, tetapi kala itu Guntur sangat ketakutan, jika Dara mengetahui kelemahannya, bisa jadi Dara pergi meninggalkannya saat itu juga.
Saat itu, Guntur berharap setelah mereka menikah ia sudah kembali menjadi lelaki normal yang gagah seperti sebelumnya, tetapi harapannya pupus.
Segala obat dari racikan kimia sampai obat-obatan herbal yang ia konsumsi masih juga belum menunjukan tanda-tanda keberhasilan.
"Arrrrgh!" Teriak Guntur dalam hati, suara kencang yang menggeram hanya terdengar dari dalam kepalanya saja, bergemuruh seperti ombak kemarahan yang siap menelannya hidup-hidup.

Sumber:Internet