. Seperti hari-hari sebelumnya, keesokan paginya Guntur sarapan sendirian tanpa ditemani istrinya, Dara terlihat masih tertidur pulas di atas kursi sofa ruang tengah.
Dan Guntur memang tidak ingin mengganggunya.
Beberapa hari ini Guntur merasa ada perubahan pada istrinya.
Kadang Dara tampak lelah, kadang menampakan muka cerah dan ceria.
"Mungkin, Dara sudah sampai di puncak kekesalan hati, hingga menyerah terhadap keadaan," pikirnya dalam hati.
Guntur hanya mampu diam dalam kepasrahan hatinya, segala usaha telah ia lakukan untuk mengembalikan kesaktian tongkat pusakanya, tetapi masih juga belum menunjukan hasil yang signifikan.
"Ma! Papa pergi, ya!' Guntur menepuk bahu istrinya itu pelan dan hati-hati.
Dara tampak menggeliat, matanya sayu menatap Guntur sesaat, lalu menganggukan kepalanya pelan sembari berkata, "Iya, hati-hati!" Dengan gerakan pelan, Dara menjulurkan tangannya dan menyalami Guntur.
Lalu perlahan bangun dari pembaringannya, mengikuti langkah suaminya ke depan teras rumah sampai mobil yang dikendarai Guntur tidak tampak lagi dalam pandangan.
Dara kembali masuk ke dalam rumah menuju ke dalam kamarnya, lalu perlahan merebahkan badannya, kembali terlelap hingga waktu makan siang tiba.
Dara terbangun mendengar suara ketukan dan panggilan keras bi Lastri yang mengetuk pintu kamarnya.
Seperti biasa, bi Lastri sudah menyiapkan santap siang untuknya.
Dara lalu bergegas pergi ke kamar mandi, membersihkan badannya dan menuju ke meja makan.
Setelah makan siang, Dara bersantai sejenak di halaman belakang rumah.
Angin kejenuhan mulai menyapanya dengan nada tajam.
Dara benar-benar ingin melepaskan penat dan menghibur diri sendiri.
Sembari merenung menikmati desiran angin di taman belakang halaman rumah, Dara berbincang dengan dirinya sendiri, "Jalan-jalan ke Mall sepertinya seru, ya? Cuci mata sembari refreshing, bosan sekali rasanya diam saja di rumah," ucap Dara dalam hati.
Dara lalu segera bangkit dari kursi teras belakang rumah dan bergerak menuju ke dalam kamarnya, bergegas merapikan diri.
Kedua kakinya melangkah santai menuju ke tempat gantungan kunci mobil sembari berteriak ke arah Bi Lastri, "Bi! aku keluar dulu sebentar, ya!""Iya, hati-hati!" seru bi Lastri sembari tergesa-gesa menghampiri Dara tanpa banyak bertanya.
Bi Lastri lalu membukakan pintu gerbang dan kembali menutupnya setelah mobil yang dikendarai Dara keluar dari dalam garasi dan menghilang.
Di Mall pusat pembelajaan tengah kota, satu teriakan terdengar cukup nyaring di telinga Dara.
"Dara!" Dara yang sedang melihat beberapa pakaian yang tergantung di sebuah super market itu, segera menoleh ke arah asal suara.
Mata Dara tampak menyapu ke area sekitar, mencari asal suara yang memanggilnya.
Sedetik kemudian darahnya tersirap, dilihatnya seorang lelaki tampan keturunan Bombay yang pernah dikenalnya di tempat Gym, menghampirinya sembari tersenyum.
"Kalau tidak salah, itu Farhat, ya?" tanya Dara dalam hati, "wuih, masih ganteng aja ...." desisnya pelan tanpa sadar.
"Hai Dara!" Sapa lelaki itu, mendekati Dara sembari melemparinya dengan senyum yang memikat hati.
Dara membalas senyuman itu, memasang wajah manis untuk lelaki keturunan Bombay itu, keduanya lalu bersalaman penuh keakraban.
"Hai! Farhat, ya? Apa kabar?" ucap Dara balik bertanya.
Lelaki itu tersenyum menatap Dara, "Iya, betul.
Wah masih ingat, hehe ... aku baik, Dara, terima kasih," sahut Farhat tersenyum ramah.
Dara tersenyum dan menganggukan kepalanya pelan, sembari pura-pura kembali menyibukan diri memilih pakaian yang di pajang di supermarket itu, ia kembali bertanya.
"Kamu mau kemana? Sendirian?' tanya Dara basa-basi.
Sumber:Internet