Gelap

Anak Buah Orang Tuaku Memuaskanku

🇮🇩 Indonesia
Kecepatan: 1.0x
Status: Siap
×

Bantuan pengaturan pemutaran

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tapi tetap tidak bisa putar, cek pengaturan Ponsel/PC Anda.
Pastikan mesin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin Anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lainya

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Pengaturan > Aksesibilitas > Keluaran Teks-ke-Suara.
Jika tidak ada, Pengaturan > kotak pencarian di atas > masukan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih text-ke-suara atau text-ke-ucapan, atau yang mirip itu.
Untuk menambahkan bahasa, klik ikon gear ⚙ > install data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Pengaturan > Aksesibilitas > Konten yang Diucapkan/Konten lisan
Atau pengaturan > kotak pencarian di atas > masukan "konten yang di ucapkan/konten lisan" enter
Untuk tambahkan bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Pengaturan Sistem > Aksesibilitas > Konten yang Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mulai > Pengaturan > Waktu & Bahasa > Ucapan atau Speech.
Windows 7 & 8
Control Panel > Ease of Acces > Speech Recognition > Text to Speech
Windows XP
Start > Control Panel > Sounds, Speech, and Audio Devices > Speech
Windows 2000 & ME
Start > Settings > Control Panel > Speech
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Harap cari pengaturan untuk aktifkan text-to-speech di mesin pencari, seperti Google, Bing, dll

Catatan Untuk saat ini, halaman ini bekerja sesuai mesin dari perangkat anda.
Jadi suara yang di hasilkan, mengikuti mesin TTS dari perangkat anda.

Anak Buah Orang Tuaku Memuaskanku

. . . . . . . . . Anak Buah Orang Tuaku Memuaskanku. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . by. . . . . . .  . Cerita Seks – Anak Buah Orang Tuaku Memuaskanku – Perkenalkan nama saya Har, berasal dari suatu* kota J.
Sekarang ini saya bekerja di suatu* perusahaan di J.
Adapun cerita* ini terjadi tidak cukup* lebih 6 tahun yang lalu ketika* saya masih kuliah tingkat akhir di kota yang sama.
Sebagaimana kelaziman* kota-kota di Jawa Tengah dimana masyarakatnya hidup saling membantu, demikian pun* dengan family* saya.
Sebagai salah seorang yang memiliki status* relatif tinggi di kantor-nya, bapak saya memiliki sejumlah* anak buah, yang pada ketika* ada acara-acara keluarga laksana* syukuran, arisan, dll datang ke lokasi* tinggal* untuk menolong* tanpa diminta sekalipun.
Dari sejumlah* anak buah bapak saya yang sering berangjangsana* itu terdapat* seseorang yang tidak jarang* saya perhatikan, sebutlah namanya Mbak Ati yang berusia tidak cukup* lebih 5 tahun diatas saya.
Orangnya biasa-biasa saja, tidak terlampau* cantik bahkan, namun* menurut* keterangan dari* saya mempunyai* sex appeal yang tinggi.
Perawakannya, menurut* keterangan dari* istilah Jawa lencir, dengan kata lain* badan agak kurus tetapi* tinggi semampai dengan buah dada tidak begitu besar namun* mengkal.
Dari sejumlah* kedatangan ke lokasi* tinggal* saya itulah saya semakin akrab dengan Mbak ati, yang untungnya pun* sangat supel guna* bergaul dengan siapa saja, mungkin pun* karena saya anak boss-nya.
Sebagai informasi, Mbak Ati berasal dari kota B yang berjarak 50 km dari kota saya, sampai-sampai* di kota J tersebut* dia ngekos dan masing-masing* akhir minggu me*sti bolak-balik guna* menjenguk suami dan anaknya yang darurat* ditinggal di kota B.
Adapun suaminya bekerja di suatu* perusahaan ekspedisi, dan di kota B suami dan anak Mbak Ati tinggal bareng* dengan orang tua Mbak Ati.
Kejadian antara saya dengan Mbak Ati bermula* dari kedatangan Mbak Ati bareng* salah seorang rekan* kantornya, yang terus cerah* saya tak sempat* namanya ke rumah.
Hari dan tanggal-nya pun* saya lupa, hanya* yang saya ingat ialah* hari itu ialah* selang sejumlah* hari sesudah* lebaran.
Pada siang tersebut* saya sedang sendirian sedang di* rumah, dimana saudara-saudara dan orang tua saya sedang bepergian.
Maklumlah saat tersebut* saya sedang mengerjakan* penulisan skripsi sehingga tidak sedikit* waktu di rumah.
 . “Bapak-Ibu terdapat* Mas” tanya Mbak Ati yang mempunyai* sex appeal tinggi. “Enggak terdapat* Mbak” jawab saya, sambil menjelaskan* bahwa kedua orang tua saya sedang pergi sejak* pagi, sehingga barangkali* siang ini telah* pulang.
“Apa inginkan* ditunggu?” tawar saya untuk* mereka.
Mereka kemudian* mengangguk setuju dengan asumsi orang tua saya akan kembali* +/- 1 jam lagi.
Kemudian mereka masuk dan duduk lesehan di ruang keluarga lokasi* tinggal* saya.
Sebagai seorang tuan lokasi* tinggal* yang baik, saya bermukim* mereka sebentar guna* membuatkan minuman dan menyuguhkan makanan ringan.
Setelah tersebut* kami ngobrol ngalor-ngidul seraya* nonton TV yang sedang di* ruangan tsb.
Selang 15 menit lantas* teman Mbak Ati pamit guna* ke belakang sebentar, sampai-sampai* tinggallah kami berdua.
Sebagai seseorang laki-laki yang udah lama menyimak* dan ada peluang* berdua dengan Mbak Ati, saya keluarkanlah segala kenekatan saya.
Sampai kini* saya tidak jarang* kali* tersenyum sendiri menilik* hal tsb.
Saya dekati Mbak Ati dengan deg-degan.
“Mbak?” tanya saya, “Apa?” jawab Mbak Ati. terus diam sebentar, setelah tersebut* .. “Boleh cium enggak?” kata saya tiba-tiba, saat tersebut* Mbak Ati diam aja, ya udah saya anggap berarti boleh.
Kemudian saya cium pipinya kanan kiri berulang kali.
Mbak Ati cuman berbicara* “ati-ati bila** kelihatan temen lho, khan gak enak”.
Demi kehati-hatian pula saya kemudian* ke belakang guna* memantau kegiatan* temen Mbak Ati.
Setelah merasa aman, sebab* temen tersebut* buang air besar maka saya pulang* lagi ke ruang keluarga.
“Aman kok Mbak” cerah* saya sambil menyatakan* keadaan.
Kemudian saya ciumin lagi pipinya sekali lagi, setelah tersebut* saya tingkatkan menghirup* bibirnya.
Seperti biasa, kesatu*-tama terdapat* perlawanan dari Mbak Ati yang mempunyai* sex appeal tinggi, mungkin sebab* kaget.
Namun demikian setelah tersebut* bibir dan lidah kami saling berpagutan.
Yang saya ingat masa-masa* itu ialah* lipstik yang dikenakan Mbak Ati nempel di bibir saya, sampai-sampai* saya me*sti mencuci* dengan kaos saya hahahaha.
 .  . Sambil mengungkapkan kekaguman saya akan format* tubuhnya yang lencir, tidak tak sempat* tangan saya lantas* menjelajahi buah dadanya dari luar.
Ukurannya tidak begitu besar, barangkali* 34A, tetapi* masih mengkal.
Tidak puas dengan itu, tangan kanan lantas* saya masukkan ke dalam BH-nya seraya* memilin-milin putingnya.
Karena ini empiris* kesatu*, memang rasanya susah* untuk dilukiskan.
Pokoknya benar-benar baru memegang sesuatu yang lunak* dan kenyal.
Mengingat kami me*sti berati-hati supaya* tidak ketahuan teman-nya Mbak Ati, maka saya menyimpulkan* untuk menghentikan serangan.
Saya anggap urusan* tsb lumayan* sebagai awalan, yang urgen* Mbak Ati yang mempunyai* sex appeal tinggi enggak menolak bila** saya cium dan pegang buah dadanya.
Advertisement. Setelah menantikan* selama 1 jam, dimana kedua orang tua saya pun* belum kembali, maka Mbak Ati dan temannya menyimpulkan* untuk kembali* sambil berpesan supaya* menyampaikan untuk* ortu bahwa mereka berdua tadi sudah* datang berkunjung.
Selang sejumlah* waktu sesudah* kejadian itu, Mbak Ati yang mempunyai* sex appeal tinggi masih sering berangjangsana* ke lokasi* tinggal* saya guna* sekedar menolong* acara family* atau kantor, maupun sebatas* main-main.
Oh iya Mbak Ati memiliki kegemaran* fitnes di suatu* tempat yang berjarak 200 meter dari lokasi* tinggal* saya, sampai-sampai* setelah berlalu* sering main ke rumah.
Selang sejumlah* bulan lantas* baru terdapat* kejadian yang tidak cukup* lebih sama dengan kejadian diatas.
Hal itu dibuka* dengan nyaris* berakhirnya masa berlaku SIM saya.
Mengingat terdapat* saudara Mbak Ati yang bekerja di kepolisian, maka pada ketika* mengurus perpanjangan SIM, saya meminta pertolongan* Mbak Ati yang mempunyai* sex appeal tinggi.
Dan Mbak Ati-pun menyetujuinya.
Beberapa hal* yang sehubungan* dengan administrasi telah ditamatkan* oleh saudara-nya Mbak Ati, dimana saya melulu* perlu datang guna* pengambilan potret* saja.
Karena saya belum kenal dengan saudara-nya itu, saya datang bareng* dengan Mbak Ati yang mempunyai* sex appeal tinggi dengan terlebih dahulu saya jemput dia dengan mobil ke kantornya.
Setelah foto, Mbak Ati meminta pertolongan* saya guna* mengantar dia ke sebuah* tempat yang cukup* jauh untuk sebuah* urusan yang penting, mumpung terdapat* mobil katanya.
Adapun SIM yang nyaris* jadi nanti akan dikirimkan* oleh dia sendiri ke rumah.
“Wah peluang* lagi nih” pikir saya agak nekat lagi.
Kemudian saya ajak ngobrol tentang* kejadian yang sudah* kami lakukan sejumlah* bulan sebelumnya.
Dia menuliskan** enggak apa-apa.
Jawaban beda* yang saya peroleh justeru* tidak saya duga, dimana dia menuliskan** memiliki sejumlah* koleksi majalah porno.
Tidak saya sia-siakan tawaran itu, lantas* kami ke kos Mbak Ati terlebih dahulu memungut* majalah tsb.
Didalam mobil seraya* menyetir saya melihat-lihat majalah tsb.
Mbak Ati menyaksikan* sambil senyum-senyum.
Namun sebab* saya pikir menyaksikan* majalah-nya dapat dilaksanakan* di lokasi* tinggal* saja, maka usahakan* saya lebih memanfaatkan peluang* berdua yang ada.
Sehingga tangan kiri saya mulai saya tempelkan ke paha Mbak Ati.
Karena tidak terdapat* penolakan, maka saya teruskan sampai wilayah* pangkal pahanya.
Yang saya inget waktu tersebut* Mbak Ati mengenakan 2 buah celana dalam secara bersamaan.
Sehingga serangan saya agak tersendat.
Setelah dijelaskan, bahwa dia menggunakan* 2 CD, maka dengan leluasa tangan saya bisa* menyentuh wilayah* kewanitaannya.
Selama perjalanan tangan kiri saya tidak sedikit* berkutat di wilayah* tsb.
sampai-sampai* semakin lama semakin basah.
Kadang-kadang saya tarik untuk sebatas* ganti persneling atau menghirup* bau wilayah* kewanitaan.
Woow laksana* ini ya baunya vagina.
Rasanya kayak nano-nano, campur aduk.
Setelah berlalu* urusannya, Mbak Ati saya antar pulang* ke kantornya.
Suatu empiris* baru telah meningkat* lagi.
Malam harinya, Mbak Ati datang ke lokasi* tinggal* saya mengirimkan* SIM yang sudah* jadi, cocok* dengan janjinya pada siang tadi.
Selang sejumlah* waktu sesudah* Mbak Ati datang, saya pun* tidak mengerti kenapa* semua serba kebetulan, kedua orang tua saya bakal* pergi ke acara kondangan.
Sehingga yang terdapat* dirumah bermukim* saya, Mbak Ati dan seorang adik saya yang masih kecil.
Meneruskan acara siang tadi, sesudah* orang tua saya pergi, Mbak Ati saya tarik ke dalam kamar saya.
Pada saat tersebut* adik saya sedang belajar di kamarnya.
Dengan tidak banyak* protes, tetapi* tidak saya hiraukan, kami lantas* berciuman bibir dengan hebat.
Teknik tarik unik* lidah diperkenalkan oleh Mbak Ati untuk* saya.
Rasanya benar-benar paling* mengasyikkan.
Sambil mengerjakan* ciuman lidah, tangan saya bergerilya ke selama* buah dada yang tiada bosan-bosannya saya pegang dan kemudian pun* sekitar wilayah* selangkangannya.
Selang sejumlah* menit kemudian, tanpa pernah ada ucapan-ucapan* yang keluar, saya lepaskan semua* pakaian yang menempel pada tubuh Mbak Ati.
Benar-benar sebuah* pemandangan yang paling* indah.
Yang menjadi perhatian utama saya ialah* bentuk vagina-nya.
Benar-benar mengejutkan, tanpa terdapat* bulu yang menempel sedikitpun.
Waktu saya tanya, dia membalas* semenjak kecil memang tidak tumbuh bulu sedikitpun di wilayah* vaginanya.
Karena penasaran saya teliti detail wilayah* vagina-nya.
Setelah puas baru saya ciumin unsur* dalemnya.
Mbak Ati cuman merintih-rintih tetapi* tidak bersuara.
Baunya benar-benar kayak nano-nano, susah* untuk digambarkan.
Saya yakin semua* pembaca pernah mengalaminya sendiri.
Namun untuk mendapat * vagina yang tanpa bulu sedikitpun, saya pikir itu ialah* pengalaman yang langka.
Setelah puas menciumi vaginanya, saya meminta Mbak Ati untuk mengerjakan* oral terhahap kemaluan saya.
sebab* itu ialah* pengalaman kesatu* rasanya benar-benar paling* mengasyikkan.
Sehingga dalam hitungan menit pertahanan saya jebol.
Kejadian yang tidak saya duga ialah* Mbak Ati melahap seluruh* air mani saya.
Mengingat sebab* Mbak Ati belum puas banget, sementara* saya telah* lemas, maka saya lantas* menciumi lagi wilayah* vagina Mbak Ati yang paling* antik tsb.
Kurang lebih 20 menit saya ciumin dan sesudah* Mbak Ati menyampaikan* “Ahh” saya akhiri oral sex tsb.
Sadar bahwa kami tidak sendirian di rumah, maka untuk sedangkan* kami cukupkan acara pada malam tersebut* sambil saling berbisik untuk mengerjakan* hal-hal yang lebih asyik pada peluang* lain.
.
Sumber:Internet