. .
. . . . . . . . . . . . . “Aha .
.
.
Koran baru sudah datang”, kataku dalam hati melihat surat kabar pagi terbitan hari ini tergeletak di dekat pintu pagar .
Kuambil surat kabar itu .
Langsung aku duduk di kursi di teras sambil membacanya .
Sebagai mahasiswa fakultas ekonomi aku sangat menyukai berita-berita tentang perekonomian Indonesia termasuk krisis ekonomi berkepanjangan yang tengah melanda Indonesia .
Kubolak-balik halaman-halaman surat kabar .
Mataku tertumbuk pada sebuah iklan satu kolom yang cukup mencolok .
“Dicari, gadis berusia 17 sampai 25 tahun .
Wajah dan penampilan menarik .
Bertubuh ramping .
Tinggi minimal 165 cm dengan berat yang sesuai .
Dapat bergaya .
Berminat untuk menjadi foto model .
Peminat diharapkan datang sendiri ke **** (edited) Agency, Jl .
Cempaka Putih **** (edited), Jakarta Pusat .
”
“aku bisa diterima apa nggak ya?” aku bertanya dalam hati .
Memang sih, kupikir-pikir aku memenuhi syarat-syarat yang diminta .
Usiaku baru menginjak 20 tahun .
Tubuhku ramping dengan tinggi 170 cm, seimbang dengan ukuran dadaku yang di atas rata-rata wanita seusiaku .
Wajahku cantik .
Teman-temanku bilang aku perpaduan antara Desy Ratnasari dan Maudy Ayunda .
Tapi menurutku sih mereka terlalu memujiku berlebih-lebihan .
Ah, coba-coba saja aku melamar .
Siapa tahu aku diterima jadi foto model .
Kan lumayan buat menambah penghasilan .
aku masuk ke dalam rumah, ke kamarku .
“Pakai baju apa ya enaknya?” batinku .
Ah ini saja .
Kukenakan blus biru muda dan celana panjang jeans belel yang cukup ketat yang baru saja beberapa hari yang silam kubeli di Cihampelas, Bandung .
Mobil Feroza yang kukendarai memasuki jalan yang disebut dalam iklan .
Ah, mana ya nomor **** (edited)? Nah ini dia .
Rumahnya sih cukup mentereng .
Di halamannya terpampang papan nama “**** (edited) Agency Photo Studio & Modelling .
Menerima anggota baru .
” Wah benar ini tempatnya .
Kuparkir mobilku di pinggir jalan .
Di sana sudah banyak bertengger mobil-mobil lain .
aku masuk ke dalam .
Astaga! Di dalam sudah banyak cewek-cewek cantik .
Pasti mereka juga adalah pelamar sepertiku .
Sejenak mereka memandangku ketika aku masuk .
Mungkin mereka kagum melihat kecantikan wajahku dan kemolekan tubuhku .
Kucari tempat duduk yang kosong setelah sebelumnya mendaftarkan diriku di meja pendaftaran .
Gila, hampir semua tempat duduk terisi .
Nah, itu dia ada satu yang kosong di sebelah seorang cewek yang cantik sekali, keturunan Indo .
Wajahnya mirip Cindy Crawford .
Kelihatannya ia sebaya denganku .
Tapi astaga, ia memakai baju yang berdada rendah alias “you can see,” dan rok jeans mini yang cukup ketat, sehingga menampakkan pangkal payudaranya yang berukuran cukup besar .
Ia nampak memandangku dan tersenyum .
Melihatnya aku menjadi minder .
Wah, sainganku ini top sekali .
Apakah mungkin aku terpilih menjadi foto model di sini? Satu persatu para pelamar dipanggil ke ruang pengetesan, sampai si Indo di sampingku tadi dipanggil juga .
Semua pelamar yang sudah dites keluar lewat pintu lain .
Akhirnya namaku dipanggil juga .
“Hanny K**** (edited) dipersilakan masuk ke dalam .
”
aku pun masuk ke dalam dan disambut oleh seorang pria bertubuh agak gemuk .
“Kenalkan aku Adolf, direktur sekaligus pemilik agensi ini .
Siapa nama kamu tadi? Oh ya, Hanny, nama yang bagus, sebagus orangnya .
Sekarang giliran kamu dites .
Coba kamu berdiri di sana .
”
aku pun menurut saja dan menuju tempat yang ditunjuk oleh Adolf, di bawah lampu sorot yang cukup terang dan di depan sebuah kamera foto .
“Coba kamu lihat-lihat contoh-contoh foto ini .
Pilih lima gaya di antaranya .
aku akan mengetes apakah kamu bisa bergaya .
Jangan malu-malu, don’t be shy!” kata Adolf sembari memberiku sebuah album foto .
aku melihat foto-foto di dalamnya .
Ah ini sih seperti gaya foto model di majalah-majalah! Mudah amat! Lalu aku memilih lima gaya yang menurutku bagus .
Setelah itu, jepret sana, jepret sini, lima gaya sudah aku berpose dan dipotret .
Tapi Adolf belum mempersilakan aku keluar ruangan .
Dia kelihatannya seperti berpikir sejenak .
“Nah, sekarang, Han .
Coba kamu buka kancing-kancing bagian atas blus kamu .
Nggak usah malu .
Biasa-biasa aja lah!”
Kupikir tak apa-apa lah kali ini .
Kubuka beberapa kancing atas blusku sehingga terlihat BH yang kupakai .
Mata Adolf sekilas berubah saat melihat pangkal payudaraku yang montok .
Lalu aku dipotret lagi dengan pose-pose yang sensual .
“Nah, begitu kan yahud .
Sekarang coba buka baju kamu semuanya .
”
Wah! Ini sih mulai kelewatan!. “Ayolah, jangan malu-malu!”
Sebenarnya dalam hati aku menolak .
Akan tetapi biarlah, karena aku sejak kecil selalu mengidam-idamkan ingin menjadi foto model .
Dengan perlahan-lahan kutanggalkan blus dan celana panjangku .
Mata Adolf tanpa berkedip memandangi tubuh mulusku yang hanya ditutupi oleh BH dan celana dalam .
aku sedikit menggigil kedinginan hanya berpakaian dalam di ruangan yang ber-AC ini .
Namun Adolf tidak mengindahkannya .
Ia malah menyuruhku menanggalkan busana yang masih tersisa di tubuhku .
Ah, gila ini! Tapi cueklah, hanya berdua ini! Lalu dengan membelakangi Adolf, kulepas BH-ku .
Kusilangkan tanganku di dada menutupi payudaraku .
“Han, masak kamu balik badan begitu .
Bagaimana aku bisa mengetesmu .
”
aku membalikkan tubuh menghadap Adolf .
Adolf menyuruhku menurunkan tangan yang menutupi payudaraku .
Adolf terpana menyaksikan payudaraku yang montok dan berisi dengan puting susunya yang tinggi menantang berwarna kecoklatan segar, tanpa tertutup oleh selembar benang pun .
aku menjadi risih pada pandangan matanya .
Adolf menyuruhku melepas celana dalamku .
Ia semakin melotot melihat bagian kemaluanku yang ditumbuhi oleh rambut-rambut halus yang masih tipis .
Sekilas kulihat kemaluan di balik celana panjangnya menegang .
“Nah, sekarang kamu diam di situ .
Akan kuukur tubuhmu, apakah memenuhi syarat”, kata Adolf sambil mengambil meteran untuk menjahit .
Pertama kali dia mengukur ukuran vital dadaku .
Ia melingkarkan meterannya melalui payudaraku .
Dengan sengaja tangan Adolf menyentil puting susuku sebelah kanan sehingga membuatku meringis kesakitan .
Tapi aku diam merengut saja .
“Kamu beruntung memiliki payudara yang indah seperti ini”, kata Adolf sambil mencolek belahan payudaraku .
“Nah, sudah selesai sekarang .
” aku merasa lega .
Akhirnya selesailah pelecehan seksual yang terpaksa kuterima ini .
“Jadi saya sudah boleh keluar?” tanyaku .
“Eit! Siapa bilang kamu sudah boleh keluar?! Nanti dulu, manis!”
Wah, kacau! Apa gerangan yang ia inginkan lagi?
“Susan!” Adolf memanggil seseorang .
Seorang gadis cantik keluar dari ruangan lain, telanjang bulat .
Ya ampun, ternyata ia adalah cewek Indo yang tadi duduk di sampingku di ruang tunggu .
Payudaranya yang montok bergantung indah di dadanya, seimbang dengan pinggulnya yang montok pula .
aku bertanya-tanya apa arti dari semua ini .
“Nah, sekarang coba kamu lihat, Hanny .
Susan ini adalah satu-satunya pelamar yang berhasil terpilih .
Mengapa? Sebab ia cocok dengan profil foto model yang saya inginkan untuk proyek kalender bugil yang akan saya edarkan di luar negeri .
Kalo kamu ingin berhasil seperti Susan, kamu harus berani seperti dia, Han”, kata Adolf sambil menunjuk ke arah gadis cantik yang bugil itu .
Astaga! Batinku .
aku harus dipotret bugil .
Bagaimana pandangan orang-orang terhadapku nanti apabila foto-foto telanjangku sampai dilihat orang-orang banyak?! Tapi kan cuma diedarkan di luar negeri?!
“Baiklah, tapi kali ini aja ya”, aku menyanggupinya .
Akhirnya aku dipotret dalam beberapa pose .
Pose yang pertama, aku disuruh berbaring tertelentang dengan pose memanjang di atas ranjang, dengan membuka pahaku lebar-lebar, sehingga menampakkan kemaluanku dengan jelas .
Pose kedua, aku duduk mengangkang di tepi ranjang sementara Susan menjilati liang kemaluanku .
Pose ketiga, aku dalam keadaan berdiri, sedangkan Susan dengan lidahnya yang mahir mempermainkan puting susuku .
Pose keempat, aku masih berdiri, sementara Susan berdiri di belakangku dan berbuat seolah-oleh kami berdua sedang bersenggama .
Susan berperan sebagai seorang pria yang sedang menghujamkan batang kemaluannya ke dalam liang kewanitaanku, sedangkan tangannya meremas-remas kedua belah payudaraku yang indah .
Dan aku diminta memejamkan mataku, seakan-akan aku sedang terbuai oleh kenikmatan yang tiada taranya .
Semua itu adalah pose-pose yang membangkitkan nafsu birahi bagi kaum pria namun amat memuakkan bagi diriku .
Tiba-tiba kurasakan kedua belah payudaraku diremas-remas dengan lebih keras, bahkan lebih kasar .
aku meronta-ronta kesakitan .
aku menoleh ke belakang .
Astaga! Ternyata yang di belakangku sudah bukan Susan lagi, melainkan Adolf yang sekarang tengah mempermainkan payudaraku dengan seenaknya! Entah Susan sudah ke mana perginya .
“Jangan, Pak! Jangan!” aku memberontak-berontak sebisa-bisanya .
Tapi semua itu tidak ada hasilnya .
Tangan Adolf lebih kuat mendekapku kencang-kencang sampai aku hampir tidak bisa bernafas .
“Kamu memang benar-benar cantik, Hanny”, kata Adolf sambil mencium tengkukku sementara tangannya masih terus merambah kedua bukit yang membusung di dadaku .
Tiba-tiba dengan kasar, Adolf mendorongku, sehingga aku jatuh tertelentang di sofa .
Melihat tubuh mulusku yang sudah tergeletak pasrah di depannya, nafas Adolf memburu bagai dikejar setan .
Matanya melotot seperti mau meloncat keluar melihat keindahan tubuh di depannya .
Kututup payudaraku dengan tanganku, tapi Adolf menepiskannya .
Betapa belahan payudaraku sangat lembut dan merangsang ketika mulut Adolf mulai menjamahnya .
Payudaraku yang putih bersih itu memang menggiurkan .
Mulut Adolf dengan buas menjilat dan melumat bagian puncak payudaraku, lalu mengisap puting susuku bergantian, sehingga aku menggelinjang kegelian .
Nafasku ikut memburu kala tangan Adolf mulai merayap ke selangkanganku, meraba-raba pahaku dari pangkal sampai lutut .
Lalu betisku yang mulus itu .
aku hampir-hampir tak bisa bernafas lagi ketika mulut Adolf terus mengisap dan menyedot puting susuku .
aku meronta-ronta .
Tapi Adolf terus mendesak dan melumat puting susuku yang runcing kemerahan itu .
Seumur hidupku, belum pernah aku diperlakukan sedemikian lupa oleh lelaki manapun, dan kini aku harus menyerahkan diriku pada Adolf .
Adolf mencoba mendorong batang kemaluannya masuk ke dalam liang senggamaku yang sempit .
Ia sudah tak kuat lagi membendung nafsunya yang memuncak ketika batang kemaluannya bergesekan dengan liang kewanitaanku yang merah terbuka .
Batang kemaluan Adolf akhirnya menghujam seluruhnya ke dalam liang kenikmatanku .
aku menjerit ketika liang kewanitaanku diterobos oleh batang kemaluan Adolf yang tegang dan panjang .
Betapa perih ketika “kepala meriam” itu terus masuk ke dalam liang kewanitaanku, yang belum pernah sekalipun merasakan jamahan laki-laki .
aku mencoba memberontak sekuat tenaga lagi .
Tapi apa daya, Adolf lebih kuat .
Lagipula aku sudah lemas, tenagaku sudah hampir habis .
Terpaksa aku hanya dapat menerima dengan pasrah digagahi oleh Adolf .
Dan akhirnya, aku merasa tak kuat lagi .
Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi .
aku tak sadarkan diri .
Saat aku siuman, aku menyadari diriku masih tergeletak telanjang bulat di sofa dengan cairan-cairan kenikmatan yang ditembakkan dari batang kemaluan Adolf berhamburan di sekujur perut dan dadaku .
Sementara kulihat ruangan itu telah kosong .
Segera kukenakan pakaianku kembali dan bergegas ke luar ruangan .
Kukebut Feroza-ku pulang ke rumah dan bersumpah tak akan pernah kembali lagi ke tempat terkutuk itu!. . . .
Sumber:Internet