Gelap

Cerita Dewasa Hot Dokter Ngentot Pasien Dan Anaknya

🇮🇩 Indonesia
Kecepatan: 1.0x
Status: Siap
×

Bantuan pengaturan pemutaran

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tapi tetap tidak bisa putar, cek pengaturan Ponsel/PC Anda.
Pastikan mesin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin Anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lainya

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Pengaturan > Aksesibilitas > Keluaran Teks-ke-Suara.
Jika tidak ada, Pengaturan > kotak pencarian di atas > masukan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih text-ke-suara atau text-ke-ucapan, atau yang mirip itu.
Untuk menambahkan bahasa, klik ikon gear ⚙ > install data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Pengaturan > Aksesibilitas > Konten yang Diucapkan/Konten lisan
Atau pengaturan > kotak pencarian di atas > masukan "konten yang di ucapkan/konten lisan" enter
Untuk tambahkan bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Pengaturan Sistem > Aksesibilitas > Konten yang Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mulai > Pengaturan > Waktu & Bahasa > Ucapan atau Speech.
Windows 7 & 8
Control Panel > Ease of Acces > Speech Recognition > Text to Speech
Windows XP
Start > Control Panel > Sounds, Speech, and Audio Devices > Speech
Windows 2000 & ME
Start > Settings > Control Panel > Speech
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Harap cari pengaturan untuk aktifkan text-to-speech di mesin pencari, seperti Google, Bing, dll

Catatan Untuk saat ini, halaman ini bekerja sesuai mesin dari perangkat anda.
Jadi suara yang di hasilkan, mengikuti mesin TTS dari perangkat anda.

Cerita Dewasa Hot Dokter Ngentot Pasien Dan Anaknya

. . . . . . . . . Cerita Dewasa Hot Dokter Ngentot Pasien dan Anaknya. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . by. . . . . . . Cerita Dewasa Seks – Ini kisah yang terjadi di desa Kolesabano, sebuah desa kecil yang agak terpencil.
Akses jalanannya tidak seperti di Jakarta sudah aspal semuanya, di sana masih tanah liat dan batu.
Orang-orangnya sederhana dan lugu.
Kalau pagi mereka selalu saling menyapa dan murah senyum.
Rasa gotong royong pun masih kental disini.
Mereka bermatapencaharian sebagai petani.
Disana ada sawah dan ladang.
Kebun buah-buahan pun ada banyak disini.
kalau mau makan tinggal petik.
Disana tidak ada sekolah, orang tidak bisa mengenyam pendiidikan.
Jadi kalau ada orang pintar disini, mereka puja seperti dewa.
Dr.
Prasetyo adalah seorang dokter umum yang dikirim kesana untuk melayani masyarakat disana.
Apa yang dikatakan olehnya pasti didengarkan dan dituruti, misalnya saja seorang dokter.
Jangan dokter, lulusan SD saja mereka posisikan di atas mereka.
Suatu hari di ruang praktek Dr.
Pras yang sederhana seorang ibu paruh baya sedang berkonsultasi dengannya mengenai kondisi buah hatinya.
Cahaya pagi yang menembus jendela kayu menunjukkan kekhawatiran di raut wajahnya.
Alisnya tak henti-hentinya mengernyit setiap kali ia menceritakan keadaan anak perempuannya yang memakai jilbab warna biru sama seperti yang sedang dikenakannya.
Pundak anaknya dipegani seperti seorang ibu yang takut anaknya akan lenyap kalau dilepas.
“Dok, anak saya kayaknya kurang sehat beberapa hari ini.
” “O kondisinya apakah batuk-batuk?”. “Ya sedikit, nafsu makannya berkurang dok.
” Dr.
Pras mengangguk-angguk.
“Nama kamu siapa,dik?” “Fitri, dok.
” “Sudah berapa lamu kamu sakit?”. “3 hari dok…gak sembuh-sembuh…dah minum teh manis.
” “Pusing-pusing gak?”. “Gak, dok.
” “Sebelumnya ada makan apa, gak?” “Makan biasa aja dok..” “Ada jajan?”. “Paling gulali.
” “Hmm….
” Dr.
Pras tampak sedang berpkiri untuk menganalisa kondisi Fitri.
“Ya udah kamu naik ke ranjang periksa yah…dokter periksa”. “Iya dok…”. Fitri berjalan ke ranjang periksa yang tak jauh dari situ, ia menaiki tangga kecil hingga ia bisa sampai ke atas ranjang dan tiduran.
“Di angkat ya bajunya, biar dokter bisa periksa pakai stetoskop.
” Fitri mengangguk dan menarik ke atas bajunya sehingga payudaranya yang masih mengkal kelihatan.
Dr.
Pras mulai menggunakan stetoskopnya dan mencoba mendegar detak jantungnya.
Stetoskop itu di letakkan di dada dan dipindah-pindahkan di sekitar situ.
Kadang ditaruh di atas putingnya Fitri.
“Dingin dok…,” komentar Fitri.
“Tahan dikit ya…”. Saat Dr.
Pras memindahkan stetoskopnya, saat diangkat kadang pinggirannya menyenggol ujung puting Fitri.
Entah sengaja atau tidak, jari kelingkingnya kadang juga menoel putingnya.
Si ibu tidak bisa melihat yang dilakukan Dr.
Pras sebab ia berada di belakangnya.
Fitri merasakan sesuatu yang aneh, dan pipinya berubah memerah.
Tanpa disadari puting coklatnya menjadi mengeras mencuat.
Kalau tertoel lagi, kakinya langsung mengapit seperti menahan sesuatu di bagian bawah situ.
“MMmm…untuk pemeriksaan selanjutnya ibu tunggu di bangku yah, saya harus melakukan tes.
” “Iya dok.
” Dr.
Pras menarik gorden yang mengelilingi ranjang periksa.
Ibu Fitri tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi di dalam.
2 menit tidak ada apa-apa.
Namun setelah agak lama si ibu mulai mendengar suara-suara aneh dari dalam.
Seperti anaknya sedang melenguh-lenguh…”A Merasakan firasat buruk ia bangkit menyibak gordennya.
Betapa terkejutnya saat ia melihat CD putrinya sudah turun setengah paha dan tangan Dr.
Pras sudah berada di kemaluan putrinya.
Saking kagetnya si ibu sampai tidak bisa bicara apa-apa.
“A..a..a” “Ibu! apa yang sedang ibu lakukan, saya sedang di tengah pemeriksaan.
” Si ibu tiba-tiba merasa bersalah, apakah benar ia sedang mengganggu jalannya pemeriksaan anaknya? Pikiran akal sehatnya seperti sedang terpecah saking syoknya.
“Tunggu disitu yah.
” Lalu si dokter menutup lagi gordennya.
Tak lama suara lenguhan terdengar lag, “Mmmhh ah Si ibu menjadi ragu-ragu apakah sebaiknya ia membuka gorden itu atau dibiarkan saja.
Tapi Lama-kelamaan bukan cuma suara putrinya, kini ia mendengar suara si dokter, “Mmhh…shh…ah lekas sembuh.
” Si ibu semakin khawatir.
Akhrinya dia sibak lagi gordennya.
Kali kagetnya menjadi-jadi, sebab burungnya si dokter sudah keluar dari celananya dan ada di dalam mulut anaknya.
“Dokter! Dokter…lagi apa…?” dengan nada agak histeris.
Si ibu tidak mempercayai penglihatannya.
“Aduh ibu ini lagi-lagi mengganggu,” Tukas Dr.
Pras kesal, “Saya sudah analisa, anak ibu terkena penyakit Vibilio Facumacis, obatnya adalah ia harus dibikin orgasme dan menelan sperma.
Kalau ibu ganggu terus, gak selesai loh ini.
Saya gak tanggung kalau penyakitnya bertambah parah.
” “Ii..iya..tapi dok….
” “Hhhhhh…,” Si dokter menghela nafas panjangsambil geleng-geleng.
“Ya sudah ibu bantu deh, ibu colok-colok kemaluan anak ibu untuk membangun kekebalan tubuhnya.
” Si ibu terdiam dan ragu-ragu.
“Ayo sini…bantu saja…gak apa-apa…daripada ganggu selesai-selesai.
” “Ii..iya…” Si ibu berjalan mendekati tempat tidur periksa.
Dr.
Prasetyo membelakangi si ibu itu lalu ia meraih tangannya dan meletakkan di kemaluan putrinya.
“Nah…sekarang keluar masukin jarinya di lubangya yah…”. “Iii…iya dok…”. Si ibu pun mulai memasturbasi anaknya.
Fitri langsung memejamkan mata dan melenguh-lenguh kecil, “Aa Dr Prasetyo tiba-tiba menarik ke atas gamis si ibu.
Tentu saja perbuatannya membuat si ibu kaget.
“Dokter ngapain lagi?!”. “Ibu juga perlu dibangun kekebalannya, kalau gak penyakit ini akan menular.
Jadi kemaluan ibu juga harus dimainin.
” “Yang bener dok…”. “Ya bener, siapa disini dokternya?” Si ibu kebingungan.
“Ii..iya…” “Jangan khawatir saya tidak akan sentuh ibu, kalau itu yang ibu khawatirkan, Fitri yang akan bantu prosesnya.
” “Maksudnya…?”. “Fitri yang akan gituin ibu..ngerti kan…” “Hah?”. “Sudah ibu tenang aja, nurut aja kalau mau sembuh yah.
” Dr.
Prasetyo lalu membungkuk dan memberikan penjelasan kepada Fitri.
“Fitri supaya ibumu gak ketularan kamu keluar masukin jari kamu di lubangnya ibu yah…kayak yang diakukan ibu ke kamu..ok” “Iya dok…”. “Pinter,” ujar Dr.
Pras menepuk-nepuk kepala Fitri.
Dr.
Pras bangkit lagi, “Nah ibu..siap ya…saya angkat gamisnya yah…biar Fitri bisa masturbasiin ibu untuk cegah penyakit.
” “II..iya dok…” Dr.
Pras pun mengankat gamis si ibu hingga seperut dan menarik turun CD putihnya.
Si ibu membantu memegangi kain gamisnya agar jangan jatuh.
Dr.
Pras sempat menelan ludah saat ia melihat paha si ibu yang semok.
Gak kurus, tapi berisi….
Baca selengkapnya disini .
Sumber:Internet