. Keesokan paginya, saat Irvan pergi ke sekolah, aku membongkar lemari yang sudah lama tak kurapikan.
Di lemari pakaiaIrvan di kamarnya (walaudia tak pernah meniduri kamarnya itu) aku melihat beberapa keping CD.
Saat aku putar, ternyata semua nya film-film porno dengan berbagai posisi.
Dadaku gemuruh.
Apaah anakku sudah mengerti seks? Apakah dia sudah mencobanya dengan perempuan lain? Atau dengan pelacur kah? Haruskah aku menanyakan ini pada anakku? Apakah jiwanya tidak terganggu, kalau aku mempertanyakannya? Dalam aku berpikir, kusimpulkan, sebaiknya kubiarkan dulu dan aku akan menyelidikinya dengan sebaik mungkin dengan setertutupmungkin.
Seusai Irvan mengerjakan PR-nya (Diseekolah Irvan memang anak pintar), dia meniki tempat tidur dan memasuki selimutku.
Dia cium pipi kiri dan pipi kananku sembari membisikkan: Selamat malam…Mama…” Biasanya aku menjawabnya dengan: “Selamat malam sayag…” Tapi kalau aku sudah tertidur, biasanyaaku tak menjawabnya.
Dadaku gemuruh, apaah malam ini aku mempertanyakan CD porno itu.
Akhirnya aku membiarkan saja.
Dan…Aku kembali merasakan buah dadaku dikeluarkan dari balik dasterku yang mini dan tipis.
Irvan mengisapnya perlahan-lahan.
Ah…kembali aku bernafsu.
Terlebih kembali sebelah tangannya mengelus-elus bulu vaginaku.
Sebuah jari-jarinya mulai mengelus klentitku.
Aku merasakan kenikmatan.
Kali ini, aku yakin Irvan tidak tidur.
Aku merasakan dari nafasnya yang memburu.
Aku diam saja.
Sampai jarinya memasuki lubang vaginaku dan mempermainkan jarinya di sana.
Ingin rasanya aku mendesah, tapi…Aku tahu, Irvan menurunkan celananya, sampai bagian bawah tubuhnya sudah bertelanjang.
Dengan sebelah kakinya, dia mengangkangkan kedua kakiku.
Dan… Irvan menaiki tubuhku denngan perlahan.
Aku merasakan penisnya mengeras.
Berkali-kali dia menusukkan penis itu ke dalam vaginaku.
Irvan ternyata tidak mengetahui, dimana lubang vagina.
Brkali-kali gagal.
Aku kasihan padanya, karena hampir saja dia putus asa.
Tanpa sadar, aku mengangkangkankedua kakiu lebih lebar.
Saat penisnya menusuk bagian atas vaginaku, aku mengangkat pantatku dan perlahan penis itu memasuki ruang vaginaku.
Irvan menekannya.
Vaginaku yang sudah basah, langsung menelan penisnya.
Nampaknya Irvan belum mampu mengatasi keseimbangan dirinya.
Dia langsung menggenjotku dan mengisapi tetekku.
Lalu crooot… croot… croooootttt, sprmanya menyemprot di dalam vaginaku.
Tubuhnya mengejang dan melemas beberapa saat kemudian.
Perlahan Irvan menuruni tubuhku.
Aku belum sampai… tapi aku tak mungkin berbuat apa-apa.
Sumber:Internet