. . . . . . . .
. Gita Si Ayam Kampus Berdada Besar. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. .
.
. . .
. . . .
. . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . .
.
. . . . .
.
. . .
. .
. by. . . . .
. Gita Si Ayam Kampus Berdada Besar – Di hari kesatu*ku masuk kuliah di di antara* perguruan tinggi di Semarang, tidak terdapat* yang aku kenal satupun, sampai-sampai* aku laksana* orang nyasar, bingung celingak-celinguk kesana kemari.
Sewaktu sedang bingung-bingungnya tiba-tiba terdapat* cewek yang menegurku, ‘Eh, tau ruang belajar* MI1-3 nggak?’.
– Cerita Sex Bergambar
Eeiittss.., ternyata aku pun* cari ruang belajar* itu.., kemudian* aku jawab, ‘mm.., saya pun* tidak tahu, mendingan cari sama-sama yuk’.
‘Saya Gita’ dia sebut namanya duluan.
‘Aku Iwan’, aku sebut namaku juga, di situlah aku mulai punya teman mempunyai* nama* Gita.
Cewek manis ini memiliki* kulit kuning langsat, hampir* tanpa cacat, tinggi badan kira-kira 166 cm, dengan berat 49 Kg.
Tapi yang buat* aku tidak jenuh* melihatnya ialah* dadanya yang menantang, lumayan* besar guna* ukurannya, namun* tidak terlampau* besar sekali.
– Cerita Skandal Mahasiswi
Begitu pula dengan pantatnya, aku sangat* suka andai* dia menggunakan* jeans ketat, dengan kaos oblong warna putih.
Kadang andai* ia bercanda, ngomongnya nyerempet-nyerempet porno terus, walaupun sekali-sekali saja.
Tiga bulan telah* lamanya aku dekat dengannya, jalan kemanapun tidak jarang* kali* bersama, walaupun dia belum sah* jadi pacarku, namun* aku dan dia tidak jarang* kali* berdua kemanapun.
Sampai kesudahannya* aku dan dia pergi jalan-jalan ke wilayah* Dieng, salah satu wilayah* dingin di Jawa Tengah, niatnya hanya* jalan-jalan saja, tidak menginap.
“Baca Juga : Cerita Dewasa 2018 – Kakak Iparku Dilanda Nafsu Setelah Minum Obat Perangsangku”. Entah mengapa* hari ini dia mengajakku berkelakar* yang berbau porno terus, dari pagi sampai* siang hari.
Sampai kesudahannya* ia bertanya begini, ‘Wan, bila** kamu punya istri suka yang buah dada nya besar atau sedeng-sedeng saja?’.
Lalu aku jawab ‘Mm.., yang kayak apa ya?, kayaknya aku suka yang laksana* punya kamu tersebut* lho’.
‘Lho emang anda* pernah liat punyaku?’, tanya dia.
Aku bilang ‘Gimana inginkan* liat, orang kamunya ajah nggak pernah kasih kesempatan.., heheheh’.
Dia tanya lagi seraya* bercanda, ‘Kalo aku kasih peluang* gimana?’.
Aku jawab, ‘Yaa.., nggak aku sia-sia’in’.
‘Emang berani?’, tantang Gita.
‘Siapa takut..’, jawabku tidak inginkan* kalah.
‘Kalo gitu bukti’in!’, kata Gita.
‘Oke.., anda* cari losmen sekarang.., gimana?’, tantangku gantian.
‘Siapa takut..’, jawabnya tidak inginkan* kalah juga.
Jujur saja aku masih berfikir bahwa ini cuma berkelakar* saja, hingga* tiba-tiba di depan suatu* losmen, dia berkata, ‘Wan, disini ajah.., kayaknya losmennya bagus tuh’.
‘Deg!!’, jantungku terasa berhenti.
Dengan ragu-ragu kuarahkan mobilku masuk ke halaman losmen tersebut.
Aku masih diam dan separuh* tidak percaya.
Terus dia berkata, ‘Kamu angkat tas-tas kita, aku yang check in.., OK?’.
. Seperti babu untuk* majikannya, aku ikuti kata-katanya dan mengikuti tahapannya* masuk ke losmen.
Masuk ke kamar losmen langsung anda* tutup dan kunci pintunya, aku masih terdiam terus duduk di atas kasur hingga* dia berkata, ‘OK, kini* aku kasih anda* kesempatan liat dadaku, tapi tidak boleh* macem-macem yaa?’.
Tiba-tiba saja Gita unik* kaosnya ke atas, dan langsung membuang* ke atas lokasi* tidur.
Lalu dia terdiam seraya* menatapku yang pun* terdiam, walaupun sebetulnya* aku sedang terpana.
Beberapa ketika* dia arahkan tangan kanannya ke pundak kirinya, digesernya tali BH-nya jatuh ke lengan.
Lalu gantian tangan kirinya ke pundak kanan mengerjakan* hal yang sama.
Lalu tangan kanannya ditunjukkan* ke punggung, namun* tangan kirinya masih memegangi BH unsur* depannya.
Oh God.., Nafasku terasa berhenti di tenggorokanku.., BH-nya sudah* terlepas, namun* masih disangga* bagian depannya oleh tangan kirinya.
Gita terus memandangiku.
Gita menggigit bibir unsur* bawahnya.
Tiba-tiba ia berkata, ‘Aku nggak bakal* lepas ini, andai* kamu nggak buka pakaianmu semuanya’ Aku ragu-ragu.., namun* nafasku telah* tidak dapat* diatur lagi.., aku buka kaosku.., aku buka jeansku.., kemudian* aku berhenti, bermukim* celana dalam yang aku kenakan.., gantian aku yang menantang, ‘Aku nggak bakal* buka ini, andai* kamu nggak lepas tersebut* sekarang’ Gita diam sejenak kemudian* dia turunkan perlahan tangan kirinya dan kesudahannya* terlihat jelas buah dada nya yang kuning langsat dan benar-benar menantang.
Belum sempat aku rampung merasakan* pemandangan ini, tiba-tiba ia melompat ke arahku dan mendorongku telentang di kasur, dengan cepat dia menghirup* bibirku.
Aku yang masih kaget bakal* serangan seketika* ini tidak menyia-nyiakannya, kami saling berciuman, saling melumat bibir, ‘uugghh.., oohh..’, melulu* kata tersebut* yang Gita keluarkan.
Tiba-tiba saja di berdiri, dalam 5 detik celana jeansnya telah* terlepas.
Kami sama-sama melulu* memakai celana dalam saja, saling pandang tetapi tersebut* hanya dilangsungkan* 6 detik, dengan cepat ia unik* celana dalamku kebawah dan melepasnya.
. Gita tersenyum dan tidak banyak* tertawa, aku tak tahu dia senang menyaksikan* punyaku atau menertawai punyaku? Akupun tidak inginkan* kalah, kutarik perlahan-lahan celana dalamnya tidak banyak* demi sedikit, ternyata Gita telah* tidak sabar kemudian* dia tarik sendiri celana dalamnya dan melemparnya ke belakang, belum sempat celana dalamnya menyentuh lantai bibirnya telah* melumat bibirku, ‘oohh..’, kami kini* benar-benar telanjang bulat.
Gita mulai menghirup* leherku tapi tersebut* tidak lama sebab* aku keburu membalik badanku.
Sekarang gantian ia yang telentang di kasur.
Pemandangan yang estetis* sekali namun* kali ini aku tidak inginkan* lama-lama memandang, langsung aku berada diatasnya, kedua tangannya telah* kupegang dan tahan di samping kiri-kanan kepalanya.
Aku ciumi lehernya, bibir, leher lagi.
‘Hhmmhh.., uugghh.., sstt’, cuma tersebut* yang dia katakan.
Ciumanku telah* ‘bosan’ di leher.
Aku mulai turun.
Melihat gerakanku itu, tiba-tiba dia mengusung* dadanya.
Kesempatan ini tidak kusia-siakan.
Aku langsung ciumi buah dada nya sebelah kiri, sedang tangan kananku mengelus-elus buah dada nya yang kanan.
Kali ini tangan kirinya telah* memegang kepalaku.
‘sstt.., hh.., sstt..’, mulutnya berdesis laksana* ular.
Dia unik* rambutku dan kepalaku dan menunjukkan* kepalaku ke buah dada nya sebelah kanan.
Dengan t’.
Lalu dengan gigiku aku mulai mengigit-gigit tidak banyak* puting susunya, kiri-kanan, kiri-kanan tidak jarang* kali* bergantian dan adil.
Sementara dari mulut Gita terus terbit* kata, ‘Teruuss.., teruuss.., yang keras.., aahh.., gigit Wan.., gghh.., sstt’.
Sementara punyaku telah* tegang keras.
Kepalaku mulai turun lagi namun* tiba-tiba ia berteriak kecil, ‘Wan.., Iwan.., uugghh.., kini* ajjaah.., masuk’iin.., nggak usah pake mulut lagi.., masukin sekaraanng.., plizz..’.
Aku langsung di dorongnya.
Sekarang ganti posisi, aku yang telentang dan Gita sedang di* atasku.
Selangkangannya mencari-cari posisi, meski* aku tahu tentu* yang dia cari ialah* punyaku.
Begitu posisinya tepat, Gita mendorongnya dengan kuat.
‘uugghh..’, sedang aku tidak banyak* berteriak, ‘aahh’.
Punyaku telah* terbenam di dalam selangkangannya.
Gita terus menggerak-gerakan pinggulnya ke atas, ke bawah, kiri-kanan, naik-turun segala arah gerakan ia lakukan.
Matanya terpejam, bibirnya digigit seperti menyangga* sesuatu, tidak jarang* dari mulutnya terbit* kata-kata, ‘oohh.., sshhtt.., uugghh.., sshhss.., sshhiitt.., aacchh.., oouuhh..’, nafasnya bukan lagi* teratur.
Kedua tangannya meremas-remas buah dada nya sendiri, kepalanya tidak jarang* menengadah ke atas, ‘uugghh.., oohh.., sshhsstt’.
Sedangkan aku melulu* sanggup meremas sprei di kiri dan kananku dengan kedua tanganku.
Gigi atas dan gigi bawahku telah* saling menekan, tidak ada ucapan-ucapan* yang terbit* dari mulutku melulu* suara nafasku saja yang terdengar.
Kali ini aku yang memungut* alih ‘kekuasannya’ gantian kudorong namun* dia justeru* tengkurap, menyaksikan* pantatnya yang putih mulus.
Aku jadi tambah bernafsu guna* segera memasukkan punyaku ke punyanya.
Aku angkat pinggulnya dan Gitapun mengusung* badannya dengan kedua tangan dan kakinya.
Sekarang posisinya laksana* mau merangkak.
Langsung tanpa tunggu masa-masa* lagi aku mengupayakan* memasukan ‘adikku’ ke lubang vaginanya.
‘Mmaasuukkiinn.., ceeppeett..’, Gita memohon kepadaku namun* belum sempat ia menuntaskan* kalimatnya punyaku telah* masuk ke vaginanya.
‘oohh..’, dari mulutku terbit* kata tersebut.
Dengan motivasi* aku mulai mendorong ke depan, menarik, mendorong, unik* terus menerus seiring dengan gerakanku.
“AGEN TOGEL SINGAPORE TERPERCAYA – ALI. Gerakannyapun bertentangan* dengan gerakanku, masing-masing* aku mendorong ke depan ia mendorong pantatnya ke arahku diiringi desahan dan leguhan dari mulutnya.
‘uugghh.., aahh.., Sshshhss.., oohh.., uugghh..’.
Tiba-tiba ia berteriak, ‘Iwaann.., sshh.., oohh’, aku menikmati* sesuatu terbit* dari dalam lubang kemaluannya tapi, ‘oohh.., oohh.., aacchh.., Gitt.., aakku..’.
Akupun merasakan kesenangan* yang tiada bandingannya seiring dengan keluarnya cairan dari dalam punyaku.
‘oohh.., uugghh’, tidak sedikit* sekali cairanku keluar.
‘Terus Wan.., keluarin semuanya..’, pinta Gita.
Tubuhku terasa telah* tidak powerful* lagi berdiri.
Aku langsung telentang di kasur, sementara* Gita langsung memelukku dan membubuhkan* kepalanya di dadaku.
‘Gita sayang sama Iwan’, melulu* itu yang terbit* dari mulutnya, kemudian* matanya terpejam seraya* terus memelukku.
‘Iwan pun* sayang sama Gita’, kataku.
Akhirnya sejak tersebut* aku dan Gita sah* pacaran.
END by
.
Sumber:Internet