Gelap

Kehidupan Di Kampung 3

๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ Indonesia
Kecepatan: 1.0x
Status: Siap
×

Bantuan pengaturan pemutaran

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tapi tetap tidak bisa putar, cek pengaturan Ponsel/PC Anda.
Pastikan mesin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin Anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lainya

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Pengaturan > Aksesibilitas > Keluaran Teks-ke-Suara.
Jika tidak ada, Pengaturan > kotak pencarian di atas > masukan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih text-ke-suara atau text-ke-ucapan, atau yang mirip itu.
Untuk menambahkan bahasa, klik ikon gear โš™ > install data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Pengaturan > Aksesibilitas > Konten yang Diucapkan/Konten lisan
Atau pengaturan > kotak pencarian di atas > masukan "konten yang di ucapkan/konten lisan" enter
Untuk tambahkan bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple (๏ฃฟ) > Pengaturan Sistem > Aksesibilitas > Konten yang Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mulai > Pengaturan > Waktu & Bahasa > Ucapan atau Speech.
Windows 7 & 8
Control Panel > Ease of Acces > Speech Recognition > Text to Speech
Windows XP
Start > Control Panel > Sounds, Speech, and Audio Devices > Speech
Windows 2000 & ME
Start > Settings > Control Panel > Speech
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Harap cari pengaturan untuk aktifkan text-to-speech di mesin pencari, seperti Google, Bing, dll

Catatan Untuk saat ini, halaman ini bekerja sesuai mesin dari perangkat anda.
Jadi suara yang di hasilkan, mengikuti mesin TTS dari perangkat anda.

Kehidupan Di Kampung 3

. . . ย . Aku sering dipuji mbah dan itu dikatakan kepada mak ku.
โ€œanak mu ini hebat lho nduk (panggilan anak perempuan jawa), kayaknya dia kuat.
โ€ Terus terang aku tidak mengerti yang dimaksud kuat.
Kala itu kupikir yang dimaksud kuat adalah kemampuanku menimba air, membelah kayu bakar dan mengangkat beban-beban berat.
Mbah ku dan makku tidak kawin lagi setelah mereka berpisah dengan suaminya.
Aku tidak pernah menanyakan alasannya, karena aku rasa lebih nyaman hidup bertiga gini dari pada harus menerima kehadiran orang luar.
Padahal yang naksir mbah, apalagi emakku lumayan.
Suatu hari kemudian aku dipanggil emakku setelah mereka berdua berbicara berbisik-bisik di kamar Aku waktu itu sedang asyik meraut bambu untuk membuat layangan di teras rumah.
Emakku duduk di sampingku.
โ€œLe (Tole istilah panggilan anak laki-laki Jawa), kamu nanti malam tidur dikamar bersama mbah dan simbok.
โ€ kata mak.
โ€œAh gak mau, kan tempat tidurnya sempit, kalau tidur bertiga,โ€ kataku.
Tempat tidur mereka sebenarnya hanya dua kasur kapuk yang dihampar diatas plastic dan tikar di lantai.
Masih ada ruang untuk menggelar tikar tambahan di sisi kiri atau kanannya.
Sehingga jika ditambah satu bantal, bisalah untuk tidur bertiga, dengan catatan seorang diantaranya tidur di tikar.
Selama ini aku tidur di balai-balai bambu di ruang tengah.
Di desaku disebut amben bambu.
Tidak ada masalah tidur di amben meski tanpa kasur.
Aku tidur hanya beralas tikar dan ditemani bantal kumal serta sarung.
Aku bertanya-tanya, tetapi tidak dijawab mak atau mbah, kenapa malam itu aku harus tidur seranjang dengan mereka.
โ€œUdahlah turuti saja, jadi anak yang penurut, jangan suka terlalu banyak tanya,โ€ nasihat mbahku.
Saking polosnya aku, yang terbayang dalam benakku adalah nanti malam aku bakal tidur bersempit-sempitan dan bersenggolan.
Aku paling tidak senang jika tidur bersinggungan dengan orang lain.
Tidak terlintas sedikitpun pikiran yang negatif.
Biasanya aku tidur jam 10 malam, tapi malam itu jam 8 malam aku sudah diseret masuk ke kamar mereka.
Aku tidur di kasur bersama mbah, disebelah yang lain mbok ku tidur ditikar.
Mulanya hanya tidur telentang, Tidak lama lama kemudian mbah tidur memelukku.
Terus terang aku merasa risih dipeluk.
Tapi mau protes tidak berani, jadi diam saja.
Mbah mengusap-usap wajahku, lalu dadaku.
Aku mengenakan kaos usang yang di beberapa tempat sudah ada yang sobek.
Entah berapa lama diusap-usap, aku menunggu dengan persasaan tegang.
Tangan kanan mbah yang tadi mengusap dadaku mulai merambat ke bawah ke arah sarungku.
Aku terbiasa tidur sarungan dan di dalamnya tidak pakai celana, karena selain untuk menghemat pemakaian celana juga rasanya lebih enak leluasa.
Terpeganglah gundukan kemaluanku dri luar sarung.
Tangan mbahku meremas-remas, mengakibatkan aku tegang.
Ditariknya sarung keatas sehingga terbukalah bagian kemaluanku.
Kamar tidur rumah kami hanya bepenerangan lampu minyak yang sejak tadi sudah di kecilkan.
Jadi pemandanganku hanya remang-remang.
Diraihnya kemaluanku lalu digenggamnya penisku yang sudah mengeras sempurna.
Nikmatnya luar biasa, tapi juga aku merasa takut, sehingga debaran jantungku makin keras.
Penisku di kocok-kocok, sampai akhirnya aku terbuai dan rasa takutku sudah terlupakan.
Tanpa sadar aku melenguh nikmat.
Entah kapan si mbah membuka bagian depan bajunya sehingga ketika kepalaku ditarik ke dadanya wajahku merasakan kelembutan payudaranya.
Mulutku diarahkan ke puting susunya dan aku diperintah menjilati dan mengemut susunya.
Perintah itu aku turuti dan naluriku juga menuntunnya.
Sedap nian rasanya mengemut dan menjilati puting susu yang mengeras.
Meski tidak ada rasa, tetapi memainkan puting susu lebih nikmat rasanya dari pada mengunyah marshmallow.
Setelah bergantian kiri dan kanan aku diminta nenek menaiki tubuhnya.
Sarungku sudah dilepasnya sehingga bagian bawahku sudah telanjang.
Aku turuti saja perintah si mbah.
Aku merasakan bagian bawah mbah juga sudah terbuka.
Tidak pernah terbayangkan dan terpikirkan kenikmatan dan sensasi ini.
Jiwaku terasa melayang di awang-awang.
Aku tidak ingat dan peduli siapa yang ada di bawah tubuhku.
Yang kurasakan adalah seorang wanita menggairahkan.
Sensasi masuknya penisku perlahan-lahan ke vagina mbah terasa sangat nikmat.
Terasa vaginanya licin tapi juga tidak mudah memasukkan penisku.
Sesaat kemudian mbah agak mendorong tubuhku dan menariknya kembali.
Mbah mengendalikan gerakanku dengan memegangi melalui kedua tangannya di bongkahan pantatku.
Aku tidak menyangka kenikmatan luar biasa ini.
Embah terdengar mendesis dan terkadan mengerang.
Aku makin cepat melakukan gerakan seiring dengan makin nikmatnya rasa yang menjalari mulai dari kemaluanku sampai ke seluruh tubuh.
Seingatku aku tidak terlalu lama bergerak begitu, karena selanjutnya ada gelombang nikmat yang mendera tubuhku dan berujung pada kontraksi di penis dan seluruh otot di bawah.
Aku merasa mengeluarkan sesuatu dari lubang kencing.
Tanpa diberi komando selama proses pelepasan itu aku membenamkan dalam-dalam penisku ke dalam memek mbah.

Sumber:Internet