Gelap

Malam Pertama Yang Tertunda

🇮🇩 Indonesia
Kecepatan: 1.0x
Status: Siap
×

Bantuan pengaturan pemutaran

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tapi tetap tidak bisa putar, cek pengaturan Ponsel/PC Anda.
Pastikan mesin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin Anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lainya

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Pengaturan > Aksesibilitas > Keluaran Teks-ke-Suara.
Jika tidak ada, Pengaturan > kotak pencarian di atas > masukan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih text-ke-suara atau text-ke-ucapan, atau yang mirip itu.
Untuk menambahkan bahasa, klik ikon gear ⚙ > install data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Pengaturan > Aksesibilitas > Konten yang Diucapkan/Konten lisan
Atau pengaturan > kotak pencarian di atas > masukan "konten yang di ucapkan/konten lisan" enter
Untuk tambahkan bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Pengaturan Sistem > Aksesibilitas > Konten yang Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mulai > Pengaturan > Waktu & Bahasa > Ucapan atau Speech.
Windows 7 & 8
Control Panel > Ease of Acces > Speech Recognition > Text to Speech
Windows XP
Start > Control Panel > Sounds, Speech, and Audio Devices > Speech
Windows 2000 & ME
Start > Settings > Control Panel > Speech
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Harap cari pengaturan untuk aktifkan text-to-speech di mesin pencari, seperti Google, Bing, dll

Catatan Untuk saat ini, halaman ini bekerja sesuai mesin dari perangkat anda.
Jadi suara yang di hasilkan, mengikuti mesin TTS dari perangkat anda.

Malam Pertama Yang Tertunda

. . Kami bisa menikah karena aku dijodohkan dengannya, Meyda adalah anak dari teman karib ayahku.
Kalau tidak, bagaimana mungkin Meyda yang sudah jadi artis, mau sama aku yang pegawai biasa ini.
Ayah Meyda banyak menolong keluargaku ketika keluargaku mengalami kesulitan, tentu dengan alasan balas budi kedua orang tuaku memaksaku untuk menyetujui perjodohan ini, apalagi yang mencetuskan ide itu adalah ayah Meyda.
Ia percaya kalau aku bisa membimbing dan menjadi imam yang baik bagi anak gadisnya yang cantik ini.
Akhirnya jadilah. kami menikah, diam-diam tanpa banyak publisitas.
Hanya dihadiri oleh sanak saudara dan keluarga dekat, Meyda tidak ingin karirnya di dunia hiburan jadi terhambat karena pernikahan ini.
Ok, aku bisa mengerti.
Yang jadi masalahnya. adalah ketika kami sudah resmi menjadi sepasang suami-istri.
Meyda selama seminggu ini menghindariku ketika berada di tempat tidur, tepatnya dia menghindar untuk melakukan hal yang lumrah dilakukan oleh sepasang suami-istri.
Apalagi kalau bukan bersetubuh !. Tiga hari awal dia. beralasan datang bulan, itu masih aku terima karena dia memang tidak melakukan sholat.
Hari berikutnya dia sholat, ketika aku utarakan hal itu, dia beralasan masih belum bersih, capek, sakit perut, dan alasan lain yang mampu membuatku terdiam.
Aku memang tidak suka memaksa pada seorang perempuan, tapi apakah dia tahu kalau aku sangat tersiksa dengan perlakuannya itu.
Bayangkan, tidur berdua dengan salah satu perempuan tercantik di negeri ini, tapi tidak bisa ngapa-ngapain, sungguh sangat membebani pikiran.
Ketika aku tanya. lebih jauh, dia hanya diam tidak menjawab, dan ujung-ujungnya menangis.
Aku jadi makin tidak tega memaksanya.
"Mungkin... dia laki-laki," ujar temanku setelah merenung lama.
Aku langsung batuk-batuk mendengarnya, segera kubuang rokok di tanganku ke taman di sebelah rumah temanku itu.
"Seperti berita. di tv," lanjut temanku, tidak peduli dengan keterkejutanku.
"Itu tidak mungkin, kau tahu sendiri kan bagaimana dia.
Wajahnya manis dan sikapnya feminis.
Kau juga sempat terpana ketika melihatnya untuk pertama kali," sergahku.
>"Bisa saja dia operasi plastik ke Korea... kau lihat’ kan, aktor dan aktris Korea wajahnya sama-sama cantik, sulit dibedakan mana laki-laki dan mana perempuan," temanku meminum kopinya sebelum melanjutkan.
"apalagi, orang tuanya kaya raya, itu mudah dilakukan.
Artis-artis kita juga banyak yang melakukannya.
" "Itu tidak. mungkin, aku kenal Meyda sejak kecil," bantahku.
Memang benar, aku kenal istriku sejak dia baru lahir.
Dulu kami tinggal bersebelahan.
Setelah aku lulus SMA, keluargaku pindah ke kota ini, sementara Meyda masih kelas 2 SMP saat itu.
Aku bisa melihat tonjolan di tubuhnya yang mulai tumbuh, bahkan aku pernah merasakannya saat dia lewat di sebelahku dan tanpa sengaja dadanya menyenggol. lenganku, rasanya kenyal dan lembut.
Setelah aku tinggal disini, kami jadi jarang sekali bertemu, hanya pada saat lebaran saja kami bisa bertatap muka.
"Kalau dia bukan laki-laki..." kata temanku  menggantung kalimatnya, dia berlagak seperti detektif sebelum melanjutkan, "berati dia tidak perawan, dia takut kamu kecewa nantinya.
" Lagi-lagi temanku ini memberikan fakta yang tidak mungkin.
Aku kenal betul sifat Meyda, dia gadis sholehah, selalu berkerudung dan berpakaian rapi untuk menutupi semua auratnya.
Bahkan saat bermain film-pun, ia tidak mau menanggalkan identitasnya itu.
Aku bangga kepadanya.
Apalagi kata orang tuanya, dia tidak pernah pacaran, semua pria yang menyatakan cinta padanya ditolak mentah-mentah.
Ada lagi kata-kata orang tuanya yang membuatku sangat senang luar biasa, cinta pertama Meyda adalah aku!! "Itu tidak mungkin," kali ini bantahanku mengandung sedikit keraguan.
Sudah banyak artis melakukan perzinahan, khususnya para pendatang baru.
Mereka melakukannya demi sebuah peran, bukan tidak mungkin Meyda adalah salah satu dari mereka.
Gadis berkerudung belum menjamin akhlaknya suci, bisa saja gadis yang tidak berkerudung namun berpakaian sopan akhlaknya lebih suci. dari mereka yang berkerudung.
Bukan memvonis atau apa, tetapi aku pernah melihat kenyataannya.
Di dunia yang sudah "edan" ini, apapun bisa terbalik dengan mudahnya.
"Kamu sangat yakin?" tanya temanku yang menyadari ada keraguan di wajahku.
"Aku yakin," kataku.
Lagi-lagi temanku. merenung, seperti mencari kata-kata yang dapat merontokkan kepercayaanku tentang kesucian Meyda.
"Bisa saja dia tidak mau tapi dipaksa," ujar temanku, tepat disaat aku hendak mengambil satu batang rokok.
"dia diperkosa," nada temanku sedikit berbisik ketika mengatakannya dan mampu membuat satu batang rokok di tanganku. lepas jatuh ke lantai.
Pemerkosaan, bukan hal yang luar biasa di negeri ini.
Setiap hari pasti ada saja beritanya di tv dan di koran, dan masih banyak lagi yang belum diberitakan atau mungkin belum terungkap.
Pelakunya pun mulai dari berbagai kalangan, dari anak-anak sampai kakek-kakek, dari orang miskin sampai orang kaya, dari penduduk biasa sampai para pejabat.
Bahkan ada pula dalam satu keluarga, dan yang paling parah dengan hewan atau mayat.
"Kalau begitu. keadaannya, aku masih menerimanya," kataku lemah, seakan tidak rela hal itu terjadi pada istriku.
Bukannya lelaki yang baik itu akan mendapatkan perempuan yang baik juga? Tetapi seingatku, aku belum pernah memperkosa, lalu kenapa aku mendapatkan istri yang telah diperkosa.
Apa ayahku yang melakukan itu sehingga berimbas kepadaku? Atau kakek? Ah, enta yang aku tahu mereka orang baik, tidak mungkin melakukan hal tersebut.
Sepeti biasa, Meyda menyibukkan diri di dapur dengan mencuci piring setelah makan malam.
Sementara aku menunggunya di kamar sambil duduk bersandar di sisi tempat tidur dengan buku di tangan.
Setelah Meyda selesai, dia masuk ke kamar dan langsung tidur di sebelahku dengan memunggungiku, seperti biasanya.
"Mey..." ujarku pelan seraya meletakkan buku di atas meja kecil di sebelah tempat tidur.
"Iya, kak," jawab Meyda tanpa merubah posisinya.
Dia memang selalu memanggilku dengan kakak, dan itu yang membuatku tidak tega memaksanya.
"Aku ingin bicara," setelah aku berkata demikian, Meyda bangkit dari tidurnya dan duduk, tapi masih belum menatapku.
"kamu duduk. disini," aku meletakkan bantal di sebelahku agar dia bersandar disana.
"Kamu katakan sejujurnya, apa yang membuatmu menghidari hal yang lumrah dilakukan oleh sepasang suami-istri itu?" aku tanyakan itu tepat setelah Meyda. duduk di sampingku.
Dia masih menundukkan kepala, membuatku sulit melihat ekspresi wajahnya karena tertutup rambut hitam panjangnya.
Dia masih terdiam, hanya bunyi bibir  terbuka saja yang terdengar.
Aku yakin bibir mungil itu pasti belum pernah tersentuh oleh laki-laki, masih terjaga untuk orang yang sangat tepat, tetapi benarkah hal itu telah dirampas? "Katakan saja yang sejujurnya, aku pasti akan menerimanya dengan ikhlas," kataku lagi, aku sudah mempersiapkan diriku untuk mendengar pengakuannya yang mungkin sangat menyakitkan.
Meyda mengangkat kepalanya, dia berusaha menatapku, tapi tidak bisa, dia terlihat sangat takut.
"Aku... aku... katanya terbata-bata.
"Katakan saja," ujarku pelan.
"Aku tidak tahu cara melakukannya!!!" kata Meyda.
Aku tercengang, aku masih belum bisa menangkap maksud dari kata-kata Meyda barusan.
"Aku takut kakak kecewa padaku karena aku tidak tahu betul tentang hal. itu, jadi aku..." Aku menghentikan kalimatnya dengan menempelan jari telunjukku di bibirnya.
Perlakuanku itu membuatnya menatap lurus ke arahku.
Polos sekali dia, karena hal itu dia menghindariku.
Betapa lugunya istriku ini, aku langsung mendekapnya dalam pelukan.
Aku rasa sekarang saatnya untuk membuktikan teori dari buku Kamasutra yang pernah aku beli beberapa tahun lalu, tetapi belum pernah aku praktekkan.
Kupandangi. wajah Meyda yang manis, juga kulit tubuhnya yang putih dan mulus, hidungnya tampak kecil mancung lucu sekali, sedang rambutnya lurus panjang sebahu.
Tubuhnya walaupun agak kecil tapi tidak kurus dan keliatan seksi sekali, dan yang bikin aku gemas adalah gundukan bulat di dadanya yang kelihatan agak besar dibanding. tubuhnya yang kecil sehingga sedikit mendesak belahan baju tidurnya.
Meyda. agak kaget waktu kupeluk, tapi kelihatan tidak menolak.
Dia sedikit salah tingkah sewaktu merasa dirinya kuperhatikan.
Untung saja dia tidak tahu pikiranku yang sudah ngeres, kalo tahu bisa-bisa dia lari terbirit-birit.
Tenang, aku harus sabar dan pelan-pelan.
Sambil. tersenyum manis kubisiki dia.
"Kakak juga belum pernah,” kataku seramah mungkin.
Meyda. mendelik kaget, mungkin tidak menyangka kalau aku akan berkata seperti itu.
"Eeh... i-iya, kak.
" sahutnya gugup.
"Kita. sama-sama tidak tahu caranya, jadi mari sama-sama belajar.
" kataku pura-pura polos.
"Eh, i-i i-iya, kak..." jawab Meyda makin gugup dan salah tingkah.
"Kakak. janji tidak akan menyakiti kamu.." kataku terus memanfaatkan kesempatan.
"Emm... i-iya, kak.
" jawab Meyda sedikit malu.
Wajahnya yang cantik sekarang jadi agak memerah, namun jadi makin manis saja kelihatannya.
Bibirnya yang merah dan mungil tersenyum malu sambil memperlihatkan giginya yang putih sempurna.
"Kamu. kok kelihatannya malu-malu sih, memangnya tidak suka ya aku bicarain ini?" pancingku.
"Ooh... t-tidak kok, kak.
" jawabnya sambil tersenyum manis.
Sudah makin berani dia.
’Bagus,’ pikirku.
”Mmm... jadi mau dong kalau kakak meminta sekarang?" pancingku kemudian.
"Eee..." dia tidak menjawab, tapi senyumnya jadi semakin manis sementara kedua tangannya saling meremas dan diluruskan ke bawah, tersipu malu.
"Kok. cuma eee aja... ya udah kalau tidak mau, kakak tidak akan..." "Mau. kok, kak.
ia memotong ucapanku, sambil tersenyum manis tentunya.
”Tapi. apa?” tanyaku sembari kupegang lembut genggaman tangannya, terasa halus dan sangat mulus sekali.
Saat kuremas-remas, terasa ia agak ragu, namun akhirnya membalas pelan.
Lumayan, mulai ada sedikit kemajuan.
"Nanti. kalau aku bilang sakit, kakak harus berhenti ya..." tanyanya makin berani.
"Iya, tentu saja.
Kakak janji!” sahutku.
Meyda. tersenyum, lalu kemudian mengangguk.
”Baiklah, kak, kalau begitu silahkan lakukan!” katanya sambil tersenyum.
Melihat. ulahnya yang menggemaskan itu, aku segera memeluk tubuhnya yang mungil tapi seksi dan dengan sedikit bernafsu segera kusosor pipinya yang putih mulus dengan. bibirku.
Meyda sedikit terkejut melihat ulahku, ia segera menepiskan pipinya dari bibirku.
Aku jadi kaget.
”Kenapa, Mey?” tanyaku tak mengerti.
"Kakak. kok gitu dia memandangku sambil melotot, seakan menghakimiku.
”katanya tadi tidak nyakitin, tapi kok kasar gitu?” tuduhnya.
Aku. segera menarik nafas untuk mengendalikan diri, sambil tersenyum manis kuraih tangannya dan kutatap wajah manisnya yang masih kelihatan cemberut.
”Maafin kakak, Mey.
Kakak tidak bisikku di telinganya.
”itu tadi wujud kasih sayangku sama kamu...” lanjutku.
"Ini. pengalaman pertama bagiku, kak... jadi tolong buat agar jadi berkesan," kata Meyda, seakan tetap merajuk kepadaku.
Ia menarik lepas tangannya dari genggamanku dan berpaling ke kiri.
Badannya yang hanya setinggi bahuku digoyangkan kesal, membuat payudaranya yang bulat jadi kelihatan bergoyang indah.
”Iya, Mey... maafin kakak,” sahutku sambil tak berkedip bentuk payudaranya yang walaupun tidak seberapa besar namun terlihat cukup bulat, bentuknya seperti buah apel tapi tentu saja berukuran lebih besar.
Baju tidurnya yang tipis membuat bh-nya yang mungil terpampang jelas, juga bawahannya yang ketat berwarna putih.
Pokoknya baju dan celana yang ia kenakan benar-benar seksi dan terus terang justru sangat merangsang nafsuku.
Aku. segera merangkulnya kembali, kupandangi wajahnya dari samping.
Seolah-olah masih marah, Meyda mengatupkan bibirnya, tapi justru makin menambah keranuman dan keseksiannya.
Mm... ingin rasanya aku mengecup dan mengulumnya, tapi mengingat ia masih cemberut, segera kuurungkan niatku.
Aku tidak ingin membuat Meyda jadi lebih marah lagi, bisa-bisa malam ini aku tidak dapat merasakan kehangatan tubuhnya.
"Meyda rayuku kembali.
"Kakak boleh tidak cium bibir kamu?" tanyaku menggodanya.
"Iih... kakak apaan sih," Meyda merajuk, tapi tidak kelihatan marah, membuatku jadi makin berani, juga bernafsu.
"Meyda terus terang, malam ini kakak kepingin banget.
Kakak pingin memberikan rasa kasih sayang kakak sama kamu... kamu mau kan?" tanpa aku sadari, kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.
Antara. kaget dan heran dengan ucapanku, mata Meyda membelalak kaget, mukanya yang manis malah jadi kelihatan lucu.
Bibirnya yang mungil merah merekah tampak basah memerah.
”Kaakk...” hanya kata itu yang ia ucapkan, selanjutnya ia hanya memandangku lama tanpa berkata apa-apa.
Aku. segera mengambil inisiatif dengan menggenggam erat kedua tangannya.
"Mey, apapun yang kakak lakukan nanti, itu adalah bentuk rasa cinta dan kasih sayang Kakak sama kamu..." Selesai. berkata begitu, langsung kudekatkan mulutku ke wajahnya, dengan cepat kukecup bibirnya yang mungil dengan lembut.
Ah, terasa begitu hangat dan lembab, juga nikmat dan sangat manis sekali.
Hidung kami saling bersentuhan, bisa kudengar nafas Meyda yang sedikit kaget, namun sama sekali tidak berontak.
Segera kulanjutkan dengan mengulum bibir bawahnya, kusedot sedikit.
Mm... terasa sangat halus dan mulus.
Baru pertama kali ini aku mengecup bibir perempuan, yang asyiknya perempuan itu sangat cantik seperti Meyda.
Enak sekali Lima. detik kemudian, kutarik mulutku dari bibir Meyda.
Aku ingin melihat reaksinya, ternyata saat kukecup tadi ia memejamkan kedua matanya.
Dengan sorot mata redup Meyda memandangku, tatapannya sedikit aneh, namun wajah manisnya kelihatan begitu mempesona.
Bibir mungilnya yang tadi kukecup masih setengah terbuka, terlihat begitu merah dan basah merekah.
"Bagaimana, mau dilanjutkan?" rayuku dengan nafas memburu akibat menahan nafsu.
Tanpa kusadari batang penisku sudah tegang tak terkira, terjepit di celana.
Mulai terasa sedikit sakit, tapi terpaksa kutahan sekuat tenaga.
Meyda. cuma terdiam.
Kuberanikan diri untuk menggerakkan tanganku, yang tadinya hanya meremas jemari tangan, kini mulai meraba ke atas menelusuri pergelangan tangan, dan terus ke atas hingga sampai di lengan.
Bahu Meyda kuremas-remas lembut sambil kupandangi gundukan bulat menantang yang ada di depan dadanya.
Beha putih yang ia kenakan kelihatan penuh terisi oleh daging lunak yang sangat merangsang.
Mmm... jemari tanganku gemetar menahan desakan keinginan untuk menjamah dan meremasnya.
Kulirik Meyda, ternyata dia masih memandangku dengan penuh keraguan, namun kuyakin ia tahu kalau aku sudah dilanda oleh nafsu birahi yang menggelora... siap untuk menerkam dirinya... menjamah meremas dan pada akhirnya akan menyetubuhinya sampai. ”Mey,” bisikku sambil berusaha tetap tersenyum, salah satu tanganku kuturunkan ke bawah untuk menggerayangi pinggulnya yang padat menantang.
Kususupkan ke belakang lalu kuusap pelan belahan pantatnya yang bundar dan kuremas gemas.
Wow, begitu lunak dan hangat kurasa.
"A. kak," Meyda merintih pelan saat jemari tanganku bergerak semakin menggila, kini aku menelusup ke pangkal pahanya yang padat berisi dan mulai mengelus-elus. gundukan bukit kecil yang ada di bukit kemaluannya.
Selama. beberapa saat kuusap-usap perlahan benda itu dari luar celana dalamnya, sebelum dua detik kemudian kupaksa dua jariku masuk ke belahannya yang mulus dan indah.
Kini gundukan kemaluan Meyda telah berada dalam genggaman tanganku.
Dia menggelinjang kecil saat jemari tanganku mulai meremas perlahan, terasa sangat empuk dan hangat sekali.
sambil terus menggesek, kembali kudekatkan mulutku ke bibir mungilnya.
”Aku. ingin tubuhmu, Mey...” bisikku diantara desahan nafas yang semakin memburu.
”H. lakukan, kak... tubuh Meyda milik kakak seutuhnya malam ini..." sahutnya.
Hatiku. bersorak girang seakan tak percaya, senang bercampur haru.
Aku tak pernah menyangka bahwa hari ini akan tiba, saat dimana aku memperawani seorang gadis.
Bukan gadis sembarangan, karena dia adalah Meyda Safira, salah satu artis tercantik di Indonesia.
Secepat. kilat bibir mungilnya yang hangat kukecup kembali dan lekas kukulum nikmat.
Kuhayati dan kurasakan sepenuh hati betapa lembut dan nikmatnya daging merah. itu.
Hidung kami bersentuhan mesra, kudengar dengus nafas Meyda yang kencang memburu saat aku terus mengecup dan mengulum bibirnya cukup lama.
Kuhisap habis bau harum nafasnya yang begitu sejuk mengisi rongga paru-paruku.
Kujulurkan. lidahku dan kumainkan di dalam mulutnya, persis seperti yang diintruksikan oleh kamasutra.
Dengan mesra Meyda membalas, ia menggigit lembut dan mengulum lidahku dengan bibirnya.
Ah, terasa sangat manis dan begitu nikmat.
Kedua lidah kami terus bersentuhan, hangat dan basah.
Tanpa bosan kukecup dan kukulum bibir atas dan bawahnya secara bergantian.
Terdengar suara kecipakan saat mulut kami saling beradu, tak kusangka Meyda bisa membalas semua lumatanku dengan begitu bergairah pula.
"Ah, Mey... kamu pintar juga!" pujiku tanpa curiga.
Mukanya. yang manis kelihatan sayu dan tatapan matanya tampak mesra, sambil tersenyum manis ia menyahut, "Mm... Mey hanya menuruti naluri, kak.
" sahutnya polos.
"Tapi. kok pintar sekali?" godaku.
.
Sumber:Internet