. .
Kami bisa menikah karena aku dijodohkan dengannya, Meyda
adalah anak dari teman karib ayahku.
Kalau tidak, bagaimana mungkin Meyda yang
sudah jadi artis, mau sama aku yang pegawai biasa ini.
Ayah Meyda banyak
menolong keluargaku ketika keluargaku mengalami kesulitan, tentu dengan alasan
balas budi kedua orang tuaku memaksaku untuk menyetujui perjodohan ini, apalagi
yang mencetuskan ide itu adalah ayah Meyda.
Ia percaya kalau aku bisa
membimbing dan menjadi imam yang baik bagi anak gadisnya yang cantik ini.
Akhirnya jadilah. kami menikah, diam-diam tanpa banyak publisitas.
Hanya dihadiri oleh sanak
saudara dan keluarga dekat, Meyda tidak ingin karirnya di dunia hiburan jadi
terhambat karena pernikahan ini.
Ok, aku bisa mengerti.
Yang jadi masalahnya. adalah ketika kami sudah resmi menjadi sepasang suami-istri.
Meyda selama
seminggu ini menghindariku ketika berada di tempat tidur, tepatnya dia
menghindar untuk melakukan hal yang lumrah dilakukan oleh sepasang suami-istri.
Apalagi kalau bukan bersetubuh !.
Tiga hari awal dia. beralasan datang bulan, itu masih aku terima karena dia memang tidak melakukan
sholat.
Hari berikutnya dia sholat, ketika aku utarakan hal itu, dia beralasan
masih belum bersih, capek, sakit perut, dan alasan lain yang mampu membuatku
terdiam.
Aku memang tidak suka memaksa pada seorang perempuan, tapi apakah dia
tahu kalau aku sangat tersiksa dengan perlakuannya itu.
Bayangkan, tidur berdua
dengan salah satu perempuan tercantik di negeri ini, tapi tidak bisa
ngapa-ngapain, sungguh sangat membebani pikiran.
Ketika aku tanya. lebih jauh, dia hanya diam tidak menjawab, dan ujung-ujungnya menangis.
Aku
jadi makin tidak tega memaksanya.
"Mungkin... dia laki-laki," ujar temanku setelah merenung lama.
Aku langsung batuk-batuk mendengarnya, segera kubuang rokok di tanganku ke
taman di sebelah rumah temanku itu.
"Seperti berita. di tv," lanjut temanku, tidak peduli dengan keterkejutanku.
"Itu tidak mungkin, kau tahu sendiri kan bagaimana dia.
Wajahnya manis dan
sikapnya feminis.
Kau juga sempat terpana ketika melihatnya untuk pertama kali,"
sergahku.
>"Bisa saja dia operasi plastik ke Korea... kau lihat’ kan, aktor dan
aktris Korea wajahnya sama-sama cantik, sulit dibedakan mana laki-laki dan mana
perempuan," temanku meminum kopinya sebelum melanjutkan.
"apalagi,
orang tuanya kaya raya, itu mudah dilakukan.
Artis-artis kita juga banyak yang
melakukannya.
"
"Itu tidak. mungkin, aku kenal Meyda sejak kecil," bantahku.
Memang benar, aku kenal
istriku sejak dia baru lahir.
Dulu kami tinggal bersebelahan.
Setelah aku lulus
SMA, keluargaku pindah ke kota ini, sementara Meyda masih kelas 2 SMP saat itu.
Aku bisa melihat tonjolan di tubuhnya yang mulai tumbuh, bahkan aku pernah
merasakannya saat dia lewat di sebelahku dan tanpa sengaja dadanya menyenggol. lenganku, rasanya kenyal dan lembut.
Setelah aku tinggal disini, kami jadi jarang
sekali bertemu, hanya pada saat lebaran saja kami bisa bertatap muka.
"Kalau dia bukan laki-laki..." kata temanku menggantung
kalimatnya, dia berlagak seperti detektif sebelum melanjutkan, "berati dia
tidak perawan, dia takut kamu kecewa nantinya.
"
Lagi-lagi temanku ini memberikan fakta yang tidak mungkin.
Aku kenal betul
sifat Meyda, dia gadis sholehah, selalu berkerudung dan berpakaian rapi untuk
menutupi semua auratnya.
Bahkan saat bermain film-pun, ia tidak mau
menanggalkan identitasnya itu.
Aku bangga kepadanya.
Apalagi kata orang tuanya,
dia tidak pernah pacaran, semua pria yang menyatakan cinta padanya ditolak
mentah-mentah.
Ada lagi kata-kata orang tuanya yang membuatku sangat senang
luar biasa, cinta pertama Meyda adalah aku!!
"Itu tidak mungkin," kali ini bantahanku mengandung sedikit keraguan.
Sudah banyak artis melakukan perzinahan, khususnya para pendatang baru.
Mereka
melakukannya demi sebuah peran, bukan tidak mungkin Meyda adalah salah satu
dari mereka.
Gadis berkerudung belum menjamin akhlaknya suci, bisa
saja gadis yang tidak berkerudung namun berpakaian sopan akhlaknya lebih suci. dari mereka yang berkerudung.
Bukan memvonis atau apa, tetapi aku pernah
melihat kenyataannya.
Di dunia yang sudah "edan" ini, apapun bisa terbalik
dengan mudahnya.
"Kamu sangat yakin?" tanya temanku yang menyadari ada keraguan di wajahku.
"Aku yakin," kataku.
Lagi-lagi temanku. merenung, seperti mencari kata-kata yang dapat merontokkan kepercayaanku
tentang kesucian Meyda.
"Bisa saja dia tidak mau tapi dipaksa," ujar temanku, tepat disaat
aku hendak mengambil satu batang rokok.
"dia diperkosa," nada temanku
sedikit berbisik ketika mengatakannya dan mampu membuat satu batang rokok di tanganku. lepas jatuh ke lantai.
Pemerkosaan, bukan hal yang luar biasa di negeri ini.
Setiap hari pasti ada
saja beritanya di tv dan di koran, dan masih banyak lagi yang belum diberitakan
atau mungkin belum terungkap.
Pelakunya pun mulai dari berbagai kalangan, dari
anak-anak sampai kakek-kakek, dari orang miskin sampai orang kaya, dari penduduk
biasa sampai para pejabat.
Bahkan ada pula dalam satu keluarga, dan yang paling
parah dengan hewan atau mayat.
"Kalau begitu. keadaannya, aku masih menerimanya," kataku lemah, seakan tidak rela hal
itu terjadi pada istriku.
Bukannya lelaki yang baik itu akan mendapatkan
perempuan yang baik juga? Tetapi seingatku, aku belum pernah memperkosa, lalu
kenapa aku mendapatkan istri yang telah diperkosa.
Apa ayahku yang melakukan
itu sehingga berimbas kepadaku? Atau kakek? Ah, enta yang aku tahu
mereka orang baik, tidak mungkin melakukan hal tersebut.
Sepeti biasa, Meyda menyibukkan diri di dapur dengan mencuci piring setelah
makan malam.
Sementara aku menunggunya di kamar sambil duduk
bersandar di sisi tempat tidur dengan buku di tangan.
Setelah Meyda selesai,
dia masuk ke kamar dan langsung tidur di sebelahku dengan memunggungiku,
seperti biasanya.
"Mey..." ujarku pelan seraya meletakkan buku di atas meja kecil di sebelah
tempat tidur.
"Iya, kak," jawab Meyda tanpa merubah posisinya.
Dia memang selalu
memanggilku dengan kakak, dan itu yang membuatku tidak tega memaksanya.
"Aku ingin bicara," setelah aku berkata demikian, Meyda bangkit dari
tidurnya dan duduk, tapi masih belum menatapku.
"kamu duduk. disini," aku meletakkan bantal di sebelahku agar dia bersandar disana.
"Kamu katakan sejujurnya, apa yang membuatmu menghidari hal yang lumrah
dilakukan oleh sepasang suami-istri itu?" aku tanyakan itu tepat setelah Meyda. duduk di sampingku.
Dia masih menundukkan kepala, membuatku sulit melihat
ekspresi wajahnya karena tertutup rambut hitam panjangnya.
Dia masih terdiam,
hanya bunyi bibir terbuka saja yang terdengar.
Aku yakin bibir mungil itu
pasti belum pernah tersentuh oleh laki-laki, masih terjaga untuk orang yang
sangat tepat, tetapi benarkah hal itu telah dirampas?
"Katakan saja yang sejujurnya, aku pasti akan menerimanya dengan
ikhlas," kataku lagi, aku sudah mempersiapkan diriku untuk mendengar
pengakuannya yang mungkin sangat menyakitkan.
Meyda mengangkat kepalanya, dia berusaha menatapku, tapi tidak bisa, dia
terlihat sangat takut.
"Aku... aku... katanya
terbata-bata.
"Katakan saja," ujarku pelan.
"Aku tidak tahu cara melakukannya!!!" kata Meyda.
Aku tercengang, aku masih belum bisa menangkap maksud dari kata-kata Meyda
barusan.
"Aku takut kakak kecewa padaku karena aku tidak tahu betul tentang hal. itu, jadi aku..."
Aku menghentikan kalimatnya dengan menempelan jari telunjukku di bibirnya.
Perlakuanku itu membuatnya menatap lurus ke arahku.
Polos sekali dia, karena
hal itu dia menghindariku.
Betapa lugunya istriku ini, aku langsung mendekapnya
dalam pelukan.
Aku rasa sekarang saatnya untuk membuktikan teori dari buku
Kamasutra yang pernah aku beli beberapa tahun lalu, tetapi belum pernah aku
praktekkan.
Kupandangi. wajah Meyda yang manis, juga kulit tubuhnya yang putih dan mulus, hidungnya
tampak kecil mancung lucu sekali, sedang rambutnya lurus panjang sebahu.
Tubuhnya
walaupun agak kecil tapi tidak kurus dan keliatan seksi sekali, dan yang bikin
aku gemas adalah gundukan bulat di dadanya yang kelihatan agak besar dibanding. tubuhnya yang kecil sehingga sedikit mendesak belahan baju tidurnya.
Meyda. agak kaget waktu kupeluk, tapi kelihatan tidak menolak.
Dia sedikit salah
tingkah sewaktu merasa dirinya kuperhatikan.
Untung saja dia tidak tahu
pikiranku yang sudah ngeres, kalo tahu bisa-bisa dia lari terbirit-birit.
Tenang, aku harus sabar dan pelan-pelan.
Sambil. tersenyum manis kubisiki dia.
"Kakak juga belum pernah,” kataku seramah
mungkin.
Meyda. mendelik kaget, mungkin tidak menyangka kalau aku akan berkata seperti itu.
"Eeh...
i-iya, kak.
" sahutnya gugup.
"Kita. sama-sama tidak tahu caranya, jadi mari sama-sama belajar.
" kataku
pura-pura polos.
"Eh,
i-i i-iya, kak..." jawab Meyda makin gugup dan salah tingkah.
"Kakak. janji tidak akan menyakiti kamu.." kataku terus memanfaatkan kesempatan.
"Emm...
i-iya, kak.
" jawab Meyda sedikit malu.
Wajahnya yang cantik sekarang jadi agak
memerah, namun jadi makin manis saja kelihatannya.
Bibirnya yang merah dan
mungil tersenyum malu sambil memperlihatkan giginya yang putih sempurna.
"Kamu. kok kelihatannya malu-malu sih, memangnya tidak suka ya aku bicarain ini?"
pancingku.
"Ooh...
t-tidak kok, kak.
" jawabnya sambil tersenyum manis.
Sudah makin berani dia.
’Bagus,’ pikirku.
”Mmm...
jadi mau dong kalau kakak meminta sekarang?" pancingku kemudian.
"Eee..."
dia tidak menjawab, tapi senyumnya jadi semakin manis sementara kedua tangannya
saling meremas dan diluruskan ke bawah, tersipu malu.
"Kok. cuma eee aja... ya udah kalau tidak mau, kakak tidak akan..."
"Mau. kok, kak.
ia memotong ucapanku, sambil tersenyum manis tentunya.
”Tapi. apa?” tanyaku sembari kupegang lembut genggaman tangannya, terasa halus dan
sangat mulus sekali.
Saat kuremas-remas, terasa ia agak ragu, namun akhirnya membalas
pelan.
Lumayan, mulai ada sedikit kemajuan.
"Nanti. kalau aku bilang sakit, kakak harus berhenti ya..." tanyanya makin berani.
"Iya,
tentu saja.
Kakak janji!” sahutku.
Meyda. tersenyum, lalu kemudian mengangguk.
”Baiklah, kak, kalau begitu silahkan
lakukan!” katanya sambil tersenyum.
Melihat. ulahnya yang menggemaskan itu, aku segera memeluk tubuhnya yang mungil tapi seksi
dan dengan sedikit bernafsu segera kusosor pipinya yang putih mulus dengan. bibirku.
Meyda sedikit terkejut melihat ulahku, ia segera menepiskan pipinya
dari bibirku.
Aku jadi kaget.
”Kenapa,
Mey?” tanyaku tak mengerti.
"Kakak. kok gitu dia memandangku sambil melotot, seakan menghakimiku.
”katanya
tadi tidak nyakitin, tapi kok kasar gitu?” tuduhnya.
Aku. segera menarik nafas untuk mengendalikan diri, sambil tersenyum manis kuraih
tangannya dan kutatap wajah manisnya yang masih kelihatan cemberut.
”Maafin
kakak, Mey.
Kakak tidak bisikku di telinganya.
”itu tadi wujud
kasih sayangku sama kamu...” lanjutku.
"Ini. pengalaman pertama bagiku, kak... jadi tolong buat agar jadi berkesan,"
kata Meyda, seakan tetap merajuk kepadaku.
Ia menarik lepas tangannya dari
genggamanku dan berpaling ke kiri.
Badannya yang hanya setinggi bahuku digoyangkan
kesal, membuat payudaranya yang bulat jadi kelihatan bergoyang indah.
”Iya,
Mey... maafin kakak,” sahutku sambil tak berkedip bentuk payudaranya yang
walaupun tidak seberapa besar namun terlihat cukup bulat, bentuknya seperti
buah apel tapi tentu saja berukuran lebih besar.
Baju tidurnya yang tipis
membuat bh-nya yang mungil terpampang jelas, juga bawahannya yang ketat
berwarna putih.
Pokoknya baju dan celana yang ia kenakan benar-benar seksi dan
terus terang justru sangat merangsang nafsuku.
Aku. segera merangkulnya kembali, kupandangi wajahnya dari samping.
Seolah-olah
masih marah, Meyda mengatupkan bibirnya, tapi justru makin menambah keranuman
dan keseksiannya.
Mm... ingin rasanya aku mengecup dan mengulumnya, tapi
mengingat ia masih cemberut, segera kuurungkan niatku.
Aku tidak ingin membuat
Meyda jadi lebih marah lagi, bisa-bisa malam ini aku tidak dapat merasakan kehangatan
tubuhnya.
"Meyda rayuku kembali.
"Kakak boleh tidak cium bibir kamu?"
tanyaku menggodanya.
"Iih...
kakak apaan sih," Meyda merajuk, tapi tidak kelihatan marah, membuatku jadi
makin berani, juga bernafsu.
"Meyda terus terang, malam ini kakak kepingin banget.
Kakak
pingin memberikan rasa kasih sayang kakak sama kamu... kamu mau kan?" tanpa
aku sadari, kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.
Antara. kaget dan heran dengan ucapanku, mata Meyda membelalak kaget, mukanya yang
manis malah jadi kelihatan lucu.
Bibirnya yang mungil merah merekah tampak basah
memerah.
”Kaakk...” hanya kata itu yang ia ucapkan, selanjutnya ia hanya
memandangku lama tanpa berkata apa-apa.
Aku. segera mengambil inisiatif dengan menggenggam erat kedua tangannya.
"Mey,
apapun yang kakak lakukan nanti, itu adalah bentuk rasa cinta dan kasih sayang Kakak
sama kamu..."
Selesai. berkata begitu, langsung kudekatkan mulutku ke wajahnya, dengan cepat kukecup
bibirnya yang mungil dengan lembut.
Ah, terasa begitu hangat dan lembab, juga nikmat
dan sangat manis sekali.
Hidung kami saling bersentuhan, bisa kudengar nafas
Meyda yang sedikit kaget, namun sama sekali tidak berontak.
Segera kulanjutkan
dengan mengulum bibir bawahnya, kusedot sedikit.
Mm... terasa sangat halus dan
mulus.
Baru pertama kali ini aku mengecup bibir perempuan, yang asyiknya
perempuan itu sangat cantik seperti Meyda.
Enak sekali
Lima. detik kemudian, kutarik mulutku dari bibir Meyda.
Aku
ingin melihat reaksinya, ternyata saat kukecup tadi ia memejamkan kedua matanya.
Dengan sorot mata redup Meyda memandangku, tatapannya sedikit aneh, namun wajah
manisnya kelihatan begitu mempesona.
Bibir mungilnya yang tadi kukecup masih
setengah terbuka, terlihat begitu merah dan basah merekah.
"Bagaimana, mau dilanjutkan?" rayuku dengan nafas memburu akibat menahan
nafsu.
Tanpa kusadari batang penisku sudah tegang tak terkira, terjepit di
celana.
Mulai terasa sedikit sakit, tapi terpaksa kutahan sekuat tenaga.
Meyda. cuma terdiam.
Kuberanikan
diri untuk menggerakkan tanganku, yang tadinya hanya meremas jemari tangan, kini
mulai meraba ke atas menelusuri pergelangan tangan, dan terus ke atas hingga
sampai di lengan.
Bahu Meyda kuremas-remas lembut sambil kupandangi gundukan
bulat menantang yang ada di depan dadanya.
Beha putih yang ia kenakan kelihatan
penuh terisi oleh daging lunak yang sangat merangsang.
Mmm...
jemari tanganku gemetar menahan desakan keinginan untuk menjamah dan meremasnya.
Kulirik
Meyda, ternyata dia masih memandangku dengan penuh keraguan, namun kuyakin ia
tahu kalau aku sudah dilanda oleh nafsu birahi yang menggelora... siap untuk
menerkam dirinya... menjamah meremas dan pada
akhirnya akan menyetubuhinya sampai.
”Mey,”
bisikku sambil berusaha tetap tersenyum, salah satu tanganku kuturunkan ke
bawah untuk menggerayangi pinggulnya yang padat menantang.
Kususupkan ke
belakang lalu kuusap pelan belahan pantatnya yang bundar dan kuremas gemas.
Wow,
begitu lunak dan hangat kurasa.
"A. kak," Meyda merintih pelan saat jemari tanganku bergerak semakin menggila,
kini aku menelusup ke pangkal pahanya yang padat berisi dan mulai mengelus-elus. gundukan bukit kecil yang ada di bukit kemaluannya.
Selama. beberapa saat kuusap-usap perlahan benda itu dari luar celana dalamnya, sebelum
dua detik kemudian kupaksa dua jariku masuk ke belahannya yang mulus dan indah.
Kini gundukan kemaluan Meyda telah berada dalam genggaman tanganku.
Dia
menggelinjang kecil saat jemari tanganku mulai meremas perlahan, terasa sangat empuk
dan hangat sekali.
sambil terus menggesek, kembali kudekatkan mulutku ke bibir
mungilnya.
”Aku. ingin tubuhmu, Mey...” bisikku diantara desahan nafas yang semakin memburu.
”H. lakukan, kak... tubuh Meyda milik kakak seutuhnya malam ini..." sahutnya.
Hatiku. bersorak girang seakan tak percaya, senang bercampur haru.
Aku tak pernah
menyangka bahwa hari ini akan tiba, saat dimana aku memperawani seorang gadis.
Bukan
gadis sembarangan, karena dia adalah Meyda Safira, salah satu artis tercantik
di Indonesia.
Secepat. kilat bibir mungilnya yang hangat kukecup kembali dan lekas kukulum nikmat.
Kuhayati dan kurasakan sepenuh hati betapa lembut dan nikmatnya daging merah. itu.
Hidung kami bersentuhan mesra, kudengar dengus nafas Meyda yang kencang memburu
saat aku terus mengecup dan mengulum bibirnya cukup lama.
Kuhisap habis bau
harum nafasnya yang begitu sejuk mengisi rongga paru-paruku.
Kujulurkan. lidahku dan kumainkan di dalam mulutnya, persis seperti yang diintruksikan oleh
kamasutra.
Dengan mesra Meyda membalas, ia menggigit lembut dan mengulum lidahku
dengan bibirnya.
Ah, terasa sangat manis dan begitu nikmat.
Kedua lidah kami terus
bersentuhan, hangat dan basah.
Tanpa bosan kukecup dan kukulum bibir atas dan
bawahnya secara bergantian.
Terdengar suara kecipakan saat mulut kami saling
beradu, tak kusangka Meyda bisa membalas semua lumatanku dengan begitu bergairah
pula.
"Ah,
Mey... kamu pintar juga!" pujiku tanpa curiga.
Mukanya. yang manis kelihatan sayu dan tatapan matanya tampak mesra, sambil tersenyum
manis ia menyahut, "Mm... Mey hanya menuruti naluri,
kak.
" sahutnya polos.
"Tapi. kok pintar sekali?" godaku.
.
Sumber:Internet