Gelap

Mudik Yuk 2

🇮🇩 Indonesia
Kecepatan: 1.0x
Status: Siap
×

Bantuan pengaturan pemutaran

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tapi tetap tidak bisa putar, cek pengaturan Ponsel/PC Anda.
Pastikan mesin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin Anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lainya

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Pengaturan > Aksesibilitas > Keluaran Teks-ke-Suara.
Jika tidak ada, Pengaturan > kotak pencarian di atas > masukan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih text-ke-suara atau text-ke-ucapan, atau yang mirip itu.
Untuk menambahkan bahasa, klik ikon gear ⚙ > install data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Pengaturan > Aksesibilitas > Konten yang Diucapkan/Konten lisan
Atau pengaturan > kotak pencarian di atas > masukan "konten yang di ucapkan/konten lisan" enter
Untuk tambahkan bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Pengaturan Sistem > Aksesibilitas > Konten yang Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mulai > Pengaturan > Waktu & Bahasa > Ucapan atau Speech.
Windows 7 & 8
Control Panel > Ease of Acces > Speech Recognition > Text to Speech
Windows XP
Start > Control Panel > Sounds, Speech, and Audio Devices > Speech
Windows 2000 & ME
Start > Settings > Control Panel > Speech
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Harap cari pengaturan untuk aktifkan text-to-speech di mesin pencari, seperti Google, Bing, dll

Catatan Untuk saat ini, halaman ini bekerja sesuai mesin dari perangkat anda.
Jadi suara yang di hasilkan, mengikuti mesin TTS dari perangkat anda.

Mudik Yuk 2

. . Anton sangat senang memandangi wajah terpejam memelas yang ayu ini.
Dirinya sangat menikmati pemandangan wajah mengerenyit tersentak- sentak. menahan kenikmatan, setiap kali dirinya menghujam keras menekan batang tongkatnya didinding kewanitaan Hindun.
Hindun tidak mungkin mengetahui, bahwa Anton termasuk pakar untuk urusan beginian.
Kelebihan Anton adalah wajahnya yang sangat baby face dengan tubuh kurus tapi liat.
Lumayan banyak wanita penjaga warung, entah itu dia merangkap sebagai wanita penghibur maupun perempuan baik-baik, diberbagai terminal maupun sepanjang ribuan km jalan sumatera jawa yang merindukan wajah remaja. yang imut-imut polos.
Mungkin akibat sifat natural wanita yang keibuan rindu mengemong bayi dan anak kecil.
Ternyata setelah lelah mengemong sang anak, tak disangka membalas budi dengan memberikan kepuasan tak terduga.
Anak kecil tetapi memiliki onderdil perkasa yang menyamai kebanyakan lelaki.
Anton tidak terlalu terobsesi dengan sex, tetapi sangat menyukai dimanja wanita, dia membalas kebaikan wanita yang memanjanya dengan kejutan pemuasan birahi.
Anton lebih menikmati pemandangan wajah-wajah sayu yang kuyu bersimbah keringat, menggeliat diharibaannya, dihajar oleh kejantanannya.
Semakin wajah perempuan tersiksa keenakan, semakin dirinya terpuaskan.
“Kakak?kenapa?.
’ Ketika kepala Hindun agak terlonjak saat menerima hujaman kesekian kalinya.
Seluruh tubuh wanita itu semakin bergelinjang keras.
Pinggul Hindun mulai berusaha mengejar dengan liar kemana larinya si tongkat keras.
`Sshhhhh?.
shhh?.
’ Hindun mendesah keras, orgasme mulai menjalari seluruh tubuhnya.
Kepalanya terdongak, matanya terpejam, wajahnya sayu.
Nafasnya terengah-engah.
Mulutnya terbuka lebar menampakkan rongga mulutnya, mencoba menggapai oksigen sebanyak-banyaknya, akibat nafasnya yang terasa tersumbat.
Hindun merasa kejantanan Anton sedemian besar mengganjal rahimnya sehingga seolah-olah. sampai menyumbat tenggorokan pernafasannya.
Kedua Tangannya mencoba bertahan menggayut di leher Anton.
Anton tidak perlu bekerja keras, Hindun dengan cepat mulai mencapai titik akhir pendakiannya.
Desahannya semakin tak terkendali.
Anton hapal situasi ini, tangan kanannya segera meraih bokong Hindun, membekap kuat-kuat.
`Kak?sakit?’ Menekankan bokong Hindun ketubuhnya saat kejantannya kembali menghujam.
`Ttt?.
hhh?aduhh?’Batang itu kembali menghujam, pinggulnya tak berdaya melarikan diri ditahan tangan kanan Anton,’Tidak Anton ?ohh’ Anton kembali menghujam, stabil.
Hanya tangan kanannya semakin keras mencengkeram bokong telanjang Hindun.
Disengajanya kuku jarinya menusuk tajam daging kenyal dibelahan pantat. wanita itu.
Cengkeraman bokong itu dilepas saat tubuhnya menarik diri dari liang kemaluan, Hindun mendesah saat pinggulnya lega berhasil menggelinjang melepaskan diri sejenak dari ganjalan keras.
Tetapi bokong itu segera kembali dicengkeram Anton saat kejantanannya kembali. menghujam.
`Akhh?’ Kepala Hindun tersentak kebelakang, hampir saja membentur dinding bis.
Anton mulai merasakan empotan lembut kewanitaan Hindun dibatang kerasnya, saat ibu ini mulai mengarungi saat-saat puncak kepuasannya.
Terasa bagian bawah tubuh ibu ini mengejang dan menggelinjang.
Mencoba melarikan diri dari sergapan tongkat perkasanya.
Dirinya menarik perlahan dan segera menghujam kembali, kali ini lebih perlahan tetapi semakin keras ditekankan kedinding kemaluannya.
.
Hindun menggelantung lunglai mendekap dileher anak remaja yang tadinya akan di. ajarinya kealam kedewasaan.
Kewanitaanya kembali dan kembali dihujam kejantanan anak ini, mendorongnya terus mengarungi puncak kenikmatan.
Detik detik berlalu, tubuhnya terasa lemas, Hindun sudah lupa diri akan segalanya, pikirannya terbang keawang-awang kepuasan birahi.
Bagian bawah tubuhnya mengejang dan kembali mengejang, seiring kedisiplinan Anton menggosok gerbang kewanitaannya dengan tongkatnya yang perkasa.
Anton tahu umumnya perempuan alim akan terjaga panjang orgasmenya bila. ditopang oleh hujaman kejantanan lambat tetapi bertenaga.
Anton tersenyum puas memandangi wajah kuyu memelas dihadapannya, mengkerenyitkan mata dan mendesah keras setiap kali hujaman kerasnya. tiba.
Anton senang, karena tahu ibu alim ini sudah lebih dari empat puluh detik mengarungi puncak kenikmatan.
Anton berusaha keras menyangga puncak kenikmatan Hindun selama mungkin dengan hujaman lambanta tapi. sangat bertenaga.
Perlahan menekan-nekan dengan kuat.
Dengan mempertahankan disiplin Anton mengayuh terus perlahan namun bertenaga.
“Oh ?Anton?.
ohhh?sudah?Anton?ohh’ Hindun menceracau lepas kendali, tersiksa oleh deraan kenikmatan yang kembali dan kembali menghempas. seiring kejantanan keras yang menghujam bawah tubuhnya.
Lengannya sebisa mungkin begayut dileher Anton.
Semenit lebih berlalu pinggul Hindun menggeletar dalam cengkeraman tangan Anton dihantamkan berkali-kali. kearah desakan sang tongkat, Lenguhannya tak terkendali menyebut Anton sebagai kesayangannya, padahal belum cukup 15 menit dikenalnya.
Anton berhasil memaksa Hindun kembali dan kembali lagi kepuncak kenikmatannya, setiap kali gelinjangan pinggul Hindun mau mereda, Kejantanan pria ini menghujam kembali diiringi cengkeraman keras dibokongnya mendorong. kemaluannya menerima hantaman, berhasil memaksa Hindun kembali menggelepar.
`Oh ?.
Sudah?’ Keluh Hindun dirasuki orgasme berkepanjangan, rasanya sudah tidak tertahankan.
Hindun tidak sanggup lagi menerima deraan kenikmatan, lengannya sudah menyerah.
Hindun sudah sedemikian lemas, bergelayutan dileher Anton, hampir jatuh.
Terpaksa kedua tangan Anton memeluk tubuh mungil ibu ini.
Agar tidak jatuh.
Tangan kiri Anton membelit dari pundak menyilang ke ketiak Hindun.
Tangan kanan Anton kembali mencengkeram pantat telanjang Hindun.
Menahannya agar tidak merosot jatuh.
Kuku jarinya setengah dicakarkan dibelahan pantat Hindun, dibenamkan dalam dalam pada daging kenyal yang sudah sedemian panas membara.
Beruntung tongkatnya yang sedemikian keras, mengganjal kuat, membantu tubuh mungil Hindun tidak merosot Wah.. ada ide baru, terbersit dalam pikiran cerdas Anton saat mendekap tubuh yang masih bergetar-getar.
Tubuh lemas Hindun sepenuhnya dalam dekapan Anak kecil itu.
Kemaluannya berdenyut-denyut terengah-engah seusai dipompa kerasnya sang tongkat.
Kejantanan Anton yang tidak berkurang juga kekerasannya, terasa demikian mengganjal dikemaluan Hindun.
Membantu Ibu muda ini meresapi berlalunya keindahan birahi, Anton kembali berkegel ria.
Batangnya didenyutkan sekeras mungkin dalam genggaman kemaluan Hindun yang masih terengah berdenyut-denyut.
Tangan kanan Anton memperkeras cengkeraman tangannya di pantat Hindun, menekankan bokong indah itu sekuatnya kekejantanannya.
`Kak?.
aduh kakk ngilu, ?aduh?’ Anton mulai lagi berpura-pura `Hhhh Anton?.
hhh?’Hindun tersentak kembali kesadarannya, mendengar keluhan anak kecil ini, didera penderitaan akibat perbuatannya.
’Oh Anton?nggak apa?apa.. Ton..’ `Tapi kak?.
ngilu kak?aduhh ?’Anton semakin merengek, memperdengarkan kemanjaan suara remajanya.
Tangan kanannya sekeras mungkin mencekeram pantat Hindun, mendorongnya menekan kejantanannya, menunjukkan seolah- olah tidak tahan didera penderitaan akibat perbuatan Hindun, menyiksa dirinya yang sama sekali belum mengerti hubungan suami istri.
Pura-pura tidak disengaja Anton menggigit lembut leher jenjang Hindun, menunjukkan ketidaktahannya didera rasa ngilu.
Tangan Hindun meraih wajah baby face itu kewajahnya.
`Anton sayang?.
mmphhhh’ Mulut Hindun terkulum oleh gerakan tidak sengaja bibir Anton menyentuh bibirnya.
Hindun spontan bereaksi membalas ganas sentuhan bibir pria itu, bibirnya segera mengulum keras bibir Anton, menghisap kuat, mengemot mulut tersebut dengan bersemangat.
Lidahnya mulai menjelajah kemana- mana.
Kedua tangannya menggapai rambut dan menahannya agar bibirnya dapat. leluasa mengulum bibir Anton.
`Anak ini pasti belum tahu pelajaran ini,’ pikir Hindun semakin bersemangat mengemut dan menciumi mulut Anton.
Matanya kembali terpejam menikmati dirinya sedang memberi pelajaran. praktek langsung teknik berciuman yang benar, kepada anak kecil ini.
Hindun lupa sejenak bahwa dikemaluannya masih ada tongkat keras yang. mengganjal.
Perhatiannya teralih upayanya menghibur Anton yang tengah tersiksa dengan kuluman yang menggairahkan.
`Ini dia..’ pikir Anton, awalnya Anton tidak merespon kuluman Hindun, tetapi setelah sekian lama Hindun menciumi bibirnya, Anton mulai merespon secukupnya, lidahnya mulai menjalar, bertarung membelit jelujuran lidah Hindun.
Anton mulai balas mengemot dan menghisap lembut mulut Hindun, seolah- olah menunjukkan telah bisa mencontoh.
Anton mengulum semesra mungkin.
`Oh anak ini?cepat pintar, mesra sekali ciumannya’ benak Hindun menerawang meresapi kemesraan yang diperolehnya. ini.
Anton mulai menunjukkan nafsunya dengan mengulum lebih keras, seraya mendekap tubuh dan bokong Hindun.
Hindun terlena oleh kemesraan.
Panasnya birahi yang membara yang melelahkan jiwa raganya sekarang. seolah-olah disirami air sejuk kemesraan dalam dekapan dan ciuman panas, remaja yang dibayangkannya semesra kasih sayang anaknya sendiri.
Hindun semakin ganas mengimbangi ciuman mesra Anton, tangannya sudah mengacak-ngacak rambut Anton, saat lidahnya berusaha mendominasi permainan ciuman tersebut.
`Sudah berapa menit yahh?’ benak Anton mencoba mengingat lamanya mereka berciuman mesra.
`Nach sekarang saatnya ?’ Anton menganut teknik seks dari Cina ilmu Tao, dimana ejakulasi bukanlah keharusan dalam setiap berhubungan badan.
Anton tengah belajar bagaimana bisa orgasme tanpa ejakulasi.
Kalau berhasil hasilnya akan luar biasa, penisnya adalah sama seperti anggota badan lainnya, dapat diperintah dari otak.
Seperti diketahui penis seringkali bertindak diluar otak.
Disenggol dikit sudah bangun, atau selalu muncrat tanpa dapat ditahan.. Anton melepaskan dekapannya, dan menarik lepas perlahan kejantanannya.
`Sleppp..’ Hindun shok, tiba-tiba merasakan ganjalan yang tadi sedemikian menyiksa dirinya tiba-tiba menghilang.
`”Hhhh?’ Hindun mendesah.
Wajahnya sayu menengadah, membuka matanya memandang Anton, yang tengah memancarkan wajah baby face lugunya.
Hindun merasa Anton sedang memandang kagum pada dirinya dengan pandangan penuh kasih- sayang. seorang anak terhadap ibunya.
Terasa diperutnya ganjalan daging keras sang tongkat yang ternyata tetap mengacung keras.
Baju terusan panjangnya kembali melorot jatuh.
`Kak.. terus bagaimana?’ Hindun kaget, baru sadar arah pertanyaan anak ini.
Dia tadi lupa membaca mantera penambal.
Hindun kebingungan, `mantera seharusnya tadi dibacakan, kok lupa…, waduh gimana nih, kok bisa lupa…’ `Ton…’ Hindun kebingungan `Ya kak…’ ujar Anton sepolos. mungkin `Kakak tadi lupa baca mantera…’ `Maksud kakak, seharusnya tadi kakak baca mantera? Kapan kak, kok Anton nggak ngerti’ `Mana mungkin anak ini ngerti orgasme perempuan’ pikir Hindun sok tahu meremehkan, `Iya Ton, seharusnya tadi kakak baca waktu, itunya Anton ada didalam sini.
’ `Ya sudah masukan lagi, terus kakak baca mantera, yang penting kata orang pintar harus pada puncaknya’ Anton belagak sok tahu. mengusulkan upaya penyelesaian masalah.
`Tapi Ton, puncaknya sudah lewat..’ Hindun jengah sendiri menjelaskan hubungan suami istri kepada remaja yang dianggapnya anak kecil ini.
`Puncaknya kapan? Sudah lewat’ Anton menunjukkan kebingungannya.
`Iya Ton’ “wah gimana dong kak, saya jadinya sama dengan Bapak tadi berhubungan dengan perempuan didalam bis, mencemari mantera.
Aduhh kak gimana ini, saya bisa dipukuli Bang Ridwan, (supir maksudnya)’ Anton akting setengah menangis.
`Sabar Anton’ Hindun membujuk `Kalo dipukuli saja nggak apa-apa, bisa sembuh, tapi kalo dipecat tidak boleh ikut kerja, saya harus kemana.
Anton yatim piatu tidak punya siapa-siapa’ Suaranya diupayakan sepilu mungkin.
`Gimana kalau kita ulangi sebentar lagi’ ucap Hindun cemas, karena menyadari hal itu semakin menyalahi pantangan’ `Ya nggak mungkin kak, kan harus dengan lelaki yang lain kakak menambal manteranya.
Waduh kak, bis ini dalam bahaya sewaktu-waktu bisa tertimpa kesialan, pasti makan korban.
Saya sudah sering lihat kak.
Orang pintar kami sangat sakti, itu sebabnya kenapa bis kami hampir tidak pernah kecelakaan.
Peraturan kami keras’ `Ohh…’ sirna harapan Hindun `Kak sungguh kak, saya harus segera lapor supir bang Ridwan agar dia bisa mengambil langkah pencegahan’ `Ohhh…’. sebersit ide tak genah muncul.
Bagaimana kalau dengan sang supir.
Ini masalah bis, tentu supir harus bertanggung jawab.
Hindun panik mencari solusi.
`Kak saya lapor ya kak? Anton meraih celana dalamnya dan mengenakannya.
Hindun terpana kebingungan Anton kembali meraih celana panjangnya yang tadi dilepas Hindun, mulai mengenakannya perlaha-lahan, menantikan umpannya dimakan wanita muda ini.
`Kayaknya berhasil nehhh’ soraknya dalam hati.
(Penulis: sebenarnya apa sih niat anak ini?). Hindun terdiam lama sampai Anton selesai merapihkan kemejanya dan. memasang resleting celanyanya.
Anton menepak-nepak kemeja mencoba meluruskan yang kusut, suatu upaya yang sia-sia.
Kemejanya telah kusut akibat dijadikan arena pertarungan dua manusia dewasa.
`Anton…’ Hindun menggapai lengannya `Pak supir bisa dimintaiin tolong tidak?’ `Maksud. kakak, seperti tadi? Nanti kakak lupa lagi, bisa semakin cilaka’ `Iya…’ Wajahnya langsung memerah `Mudah-mudahan tidak… Kakak akan lebih. hati-hati’ `Wah nggak tahu yah, Bang Ridwan mau nggak yah.
Bang Ridwan tidak seperti supir lain yang punya pacar disetiap kota, dia sangat takut istri.
Tapi dia punya kelemahan pernah saya pergoki dipeluk cewe di pool bis, kalo diancam dilaporin keistrinya pasti dia takut.
’ `Iya Ton, coba bujuk pak supir mudah-mudahan dia mau’ Mendengar uraian anak kecil ini, Hindun mendapat kesan positif terhadap sang supir yang seingatnya tadi agak gemuk tapi ramah, membantunya menyimpan barang bawaan kedalam bagasi bis’ `Nanti saya bicara dengan supir, kakak kembali duduk saja nanti segera kita ketemu di belakang membicarakan. hasilnya.
Saya keluar duluan kak.
`Iya Anton’ Hindun berharap-harap cemas.
`Gimana bang macetnya, ohh tinggal dikit lagi tinggal satu kapal lagi’ Anton menguap menjatuhkan badannya dikursi samping Pak Supir.
“Enak kamu tidur, lumayan juga lama karena macet’ Sahut Ridwan, pria agak gemuk berusia 42 tahun berperawakan sedang, dengan seragam sama dengan Anton.
`Bang, Anton punya kenalan ibu alim, keren bang, putih mulus, cantik banget’ `Semua cewe bisa aja kenalanmu’ Ridwan mencemooh `Ini lain bang, emangnya Abang aja yang jago perempuan’ “Ah kau ngomong besar doang’. Selama ini memang Ridwan selalu memamerkan kehebatannya menaklukan. wanita, dalam obrolan pornonyanya sepanjang perjalanan.
Sebenarnya bukan untuk pamer tetapi pengisi waktu mencegah rasa bosan dan ngantuk. mengemudi.
`Bener bang, bahkan saya bisa minta dia melayani abang, tapi ada syaratnya’ `Maksud kau bagaimana? kalau pelacur mah gampang aja. tinggal kau bayar, beres’ “Dijamin seratus persen, ibu alim terhormat, kalau tidak potong gaji enam bulan’ `Buset nih anak,’ Ridwan setengah tidak percaya?’ Kenapa tidak kau saja yang mainin dia? `Anu bang, saya kan nggak pengalaman, pengen belajar langsung dari Abang jagonya’ Cuping hidung Ridwan mengembang bangga `Maksudmu, syarat tadi apa? `Syaratnya dua, pertama saya diijinkan menonton abang main perempuan, mmm itu dengan si Wita tetangga di pool Medan, terus, setelah saya menimba ilmu saya boleh praktek dengan salah satu cewe abang.
Tapi abang harus bilang kemereka untuk ngajarin dengan sungguh-sungguh’ `Oo gitu.
Syaratnya, masuk akal juga’ Ridwan segera menjawab `Ok’ karena dia yakin tidak. mungkin ini anak kecil menemukan perempuan baik-baik yang bisa seenaknya. disuruh melayani lelaki lain.
`Bener nich bang? Janji….
sumpah…’ `Sumpah supir, kalau ingkar kena musibah.
Awas kalau nggak bener, hilang gajimu enam bulan’ Janji Ridwan, sambil membayangkan Anton kalah, dan gajinya dipotong, lumayan buat beliin Wita motor bekas.
`Begini bang, nanti…’ “Nanti ….
’ Buset nih anak, Ridwan kaget `Iya nanti, waktu didalam kapal saat bis parkir didek, kan semua penumpang naik kekabin, Abang bisa tinggal di bis, nanti ada Ibu keren kenalan saya yang pasti mau melayani abang.
“Bener nihhh’ Ridwan mencoba mengingat-ingat ke dua puluh enam penumpangnya, memang ada beberapa ibu-ibu muda dan cantik.
`Ok bang’ `Ok…ok..” Anton melangkah kebelakang, menyusuri gang bis yang remang-remang Hindun seusai merapihkan dandanannya kembali kebangku, `Kok lama Ndun..’ Indor menggeliat menoleh kebelakang menyadari Istrinya telah kembali. duduk.
“Anu bang, airnya habis, terpaksa agak repot, abang sih nakal.
Hindun berbisik `Ooo…’ “Nanti mau kebelakang lagi, tadi kehabisan tisu’ Hindun membuka tasnya mencari-cari.
Hindun memandang kedepan, dilihatnya dalam keremangan dua sosok lelaki didepan, supir dan kenek terlibat dalam pembicaraan serius, entah pembicaraan apa.
Dadanya tak terasa kembali berdebar keras.
Membayangkan berbagai kemungkinan.
Indro kembali mencoba tidur, kelelahan, dua minggu lembur dan usai melakukan setoran wajib.
Selang beberapa saat dilihatnya tubuh kerempeng si kenek kembali. melangkah kebelakang, saat melewati bangkunya menyentuh lengannya, memberikan kode.
Selang beberapa saat Hindun menyusul kebelakang.
“Kak, hampir habis saya tadi, untung banyak penumpang kalo tidak saya pasti digebukin.
Pak supir bersedia tapi saya kena hukuman berat, antara lain potong gaji dan puasa 14 hari’ “Ohh sukurlah” bisik Hindun dengan. muka merah, menyadari kejadian apa yang akan terjadi sesuai permintaannya.
Tapi niat membela aib keluarga cukup kuat memenangkan pertarungan batinnya.
`Gimana caranya…’ “Gini kak sebentar lagi bis masuk kapal, seluruh penumpang harus turun.
Kakak maksa tinggal saja di bis, bikin saja alasan, jaga barang kek, pusing kek, tangganya tinggi, kek.
Disitu kesempatan satu- satunya.
Nanti kalau semua penumpang sudah turun kakak sembunyi diruang ini, duduk saja disini.
Tunggu, dan jangan lupa manteranya.
’ `Terima kasih Ton,…memmmphhh’ Hindun merangkul remaja ini menghadiahinya dengan kecupan panjang yang mesra.
Didekapnya tubuh kurus itu dengan tumpahan kasih sayang seolah-olah dia anaknya yang. hilang selama ini.
Luar biasa perasaan Hindun terhadap Anton.
‘Kak jangan lupa supir kita orangnya alim, dia sangat terpaksa setelah saya ancam lapor keistrinya sedang dipeluk cewe lain’ “Kakak tidak akan. pernah lupa kebaikan Anton’ Hindun sedikit lega mengetahui lelaki lain. yang akan menganukannya lelaki baik-baik, sampai harus diancam.
‘Makasih ya sayang’ jemarinya mencubit mesra hidung Anton. Keduanya kembali kembali kedepan, selang saat yang aman.
Ridwan yang mengintip dari spion gerakan keduanya mau tidak mau percaya. `Ehh apa yang kau bilang sama ibu itu…’ bisik Ridwan `Tenang aja bang, yang penting nanti saat semua penumpang naik keruang vip, kalau abang menjumpai ibu itu diruang rokok, itu artinya ok, santap saja bang’ `Masa sih…’ `Pokoknya ingat dua syarat tadi, atau mau batal, mendingan saya aja nanti dengan ibu itu’ `Ok..ok,…’ terburu-buru menyanggupi didorong rasa rasa ingin tahunya, setengah percaya setengah nafsu.
Membayangkan menyetubuhi wanita baik- baik adalah sensasi luar biasa.
Dirinya sudah bosan menyetubuhi pelacur-pelacur yang bisanya akting terpuasi.
Padahal dia menyadari gimana pelacur bisa puas, wong sudah dikerjai banyak lelaki sebelumnya.
`Tapi gini bang, ingat saat ibu itu orgasme, abang ejakan kalimat ini –la paloma la paladi pajene makari….
’ `Apa pula itu…’ `Iya itu kondisinya, jangan-jangan abang nggak mampu menakluki perempuan’ Anton mencemooh.
`Sialan kau, apa tahumu.., ya sudah.. gimana tadi – la palo,,,,.
Ok gampang’ `Para penumpang silahkan turun, mengikuti bapak kondektur menuju ruang vip di atas.
Disana lebih nyaman.
Dilarang tinggal di dalam bis karena mesin bis harus mati sehingga ac ikut mati’ Ridwan mengumumkan setelah. bis terparkir dengan baik di dek kapal feri.
Para penumpang perlahan-lahan mulai turun, lega bisa meluruskan kaki setelah sekian jam terjebak macet.
`Bang Indro, gimana nih bang, ditas ini ada banyak barang berharga, kalau di bawa tasnya besar berat lagi, saya jaga dibis saja deh’ `Tapi kata supir nggak boleh’ `Sebodo amat, barang kan punya kita, lagi pula Hindun agak sakit, gara-gara abang tadi’ Bisik Hindun sambil mencubit pinggang suami dari belakang.
`Pak kondektur saya bisa tinggal dibis yah, saya agak pusing kalau naik tangga’ Hindun menjamah baju kondektur.
“Tidak bisa ibu, nanti di bis pengap, acnya mati’ Anton berpura-pura `Ah nggak apa-apa’ Hindun memaksa didengar Indro `Yah terserah ibu, ayo pak ajak anaknya ikut saya.
Ridwan dibawah bis mengarahkan penumpang ke tangga.
Anton melewatinya dan berbisik,’ beres bang, laksanakan tugas dengan baik, jangan lupa bacaannya’ `Ya..ya..ya…’ Jakunnya tak terasa naik turun menelan ludah.
Setelah semua penumpang menghilang di balik tangga lantai atas, Ridwan kembali kedalam bis, dan mengunci pintunya.
Tangannya menggapai dashboar dan menyentuh panel mematikan seluruh lampu.
Bis semakin kelam, walaupun masih diterangi lampu ruang kapal dan sesekali sorot kendaraan lain yang. sedang parkir.
Dia melangkah kebelakang perlahan dan berdebar-debar `setengah percaya setengah berharap’ Eh benar saja, ketika membuka pintu sekat ruang rokok, dirinya mendapati sosok perempuan muda, yang kulit wajahnya halus, putih bercahaya dikeremangan malam.
Cantik sekali dimata Ridwan.
Ibu itu duduk tegang dideretan bangku belakang.
Disamping pintu toilet.
Ridwan gugup mau bilang apa… Hindun yang sudah grogi dari tadi semakin grogi.
Bagai kucing takut ikan curiannya lepas, Ridwan segera menghampiri Hindun, duduk disampingnya memandang tajam wajah yang manis.
Dalam kegelapan dan sisa cahaya seadanya Ridwan mengagumi wajah keibuan yang. segera tertunduk malu dengan muka kemerahan.
`Waduh rejeki nomplok, pikir Ridwan’ Takut kalau salah ngmong tangan kiri Ridwan merangkul. pundak Hindun, tangan kanannya meraba tangan Hindun yang saling menggenggam erat dipangkuannya menahan gugup.
‘Wah hebat si Anton’ Bibirnya mengecup lembut pipi halus dihadapnya.
Tangan kirinya merasakan pundak itu bergetar gemetar.
`Waduh bener- bener ibu baik-baik nehh’ sorak Ridwan.
Kecupannya bergeser ke belakang telinga Hindun, menyapukan nafas panasnya disana.
Hidungnya disapukan sepanjang leher, seusai tangan kirinya menyibak gelombang rambut indah Hindun.
Diemutnya cuping telinga bawah, yang sontak membuat perempuan itu menggelinjang geli.
Kedua tangannya yang tadi saling berpegang tangan, di pangkuannya kaget lepas, sebelah mencari pegangan dikursi, sebelah lagi menahan tubuh pria yang mulai mendekap.
Ridwan segera menyadari tangannya tidak lagi menjamah tangan ibu ini tapi jatuh kepangkuannya, digundukan pangkal paha yang tertutup baju terusan panjang.
`Ehh aneh juga ibu ini, diam saja barangnya tersentuh… atau memang, si kunyuk itu benar-benar berhasil membujuk’ Sembari menjilat leher dan sesekali menggigit kecil. kuping yang harum itu, Hindun kegelian, baru menyadari tangan kanan Ridwan mulai membelai dan menekan keras pangkal pahanya.
`Yess….
’ Sorak Ridwan menyadari tidak ada reaksi perlawanan dari sang wanita.
`Wah kalo begini tancap saja boo…’ Benak Ridwan berputar.
Hindun semakin jengah merasakan tangan lelaki ini di daerah terlarangnya.
Pikirannya buntu menganalisa situasi, ohh ini akibat perbuatan kami sendiri, beginilah akibatnya.
Semakin berani, Jemari Ridwan mencari-cari kancing atau pengait baju ibu itu, satu satu berhasil dilepas, sembari lidahnya menjelujuri belakang telinga dan leher jenjang Hindun.
Serangan Ridwan yang tidak sengaja pada daerah utama kepekaan Hindun mulai menyulut bara gairahnya.
Hindun mulai tersengal, sangat gugup membayangkan apa yang akan terjadi.
tangan kirinya meremas jok bangku disampingnya akibat serangan geli.
Tangan kanannya seolah tidak berani menyentuh tubuh pria yang mendesaknya.
Tanpa disadari Hindun sebagian besar kancing bajunya sudah lepas.
Ridwan menariknya berdiri dan memelorotkan baju terusannya.
Hindun pasrah melakoni apa yang sudah dibayangkanya akan terjadi.
Terpampanglah tubuh mulus indah, kontras putih dalam keremangan malam, berbalut celana dalam dan bh berenda warna cream.
Tubuhnya gemetar telanjang dihadapan lelaki lain.
Tangan kirinya yang bebas reflek mencoba menutupi wilayah sucinya, tapi terlambat.
Kalah sigap.
Tanpa basa-basi Ridwan langsung memelorotkan celana dalam cream tersebut, yang segera memapangkan keindahan pangkal paha yang seharusnya pantang dilihat lelaki lain. kecuali suaminya.
Kaget ditelanjangi mendadak, Hindun tak sengaja membantu dengan menggeser dan melangkahkan kaki melepas celana dalamnya.
Kuping Rindwan menggesek bukit lembut saat melakukan gerakan itu.
Hindun hanya bisa memegang rambut pria tersebut agar badannya tidak jatuh.
Ridwan mendorong lembut tubuh telanjang menggairahkan itu kembali duduk.
Dia mengambil posisi berlutut dihadapan sang wanita.
Tangannya membelainya paha mulus dihadapannya, lidahnya mengecup dan menjilat sebelah paha yang lain.
`’Ohh…’ Hindun mulai mendesah, menikmati geli yang membakar birahinya.
Pahanya dikatupkan, malu.
Ridwan menyadari gerakan ini, kecupannya diganti gigitan kecil, dan sebelah tangannya mulai meraba dari sisi bawah paha Hindun.
`Ihh…’ Hindun mulai menggelinjang lembut menggairahkan, tangannya mulai berani membelai rambut pria yang belutut dihadapannya.
Saat dirasakannya gigitan dipahanya, tangannya tersentak menjambak mesra rambut Ridwan.
Ridwan menyibakkan pangkal paha yang terkatup, dibelainya sepanjang kedua sisi dalamnya, sengaja menyentuh pangkal paha mulus yang hanya dilindungi secupak bulu-bulu halus.
`Ohhh… bangg…’ Aduh siapa namanya abang ini, Hindun cemas dan grogi, saat pangkal kewanitaannya tersentuh lelaki asing.
Tapi nikmat.
Jelujuran lidah Ridwan mulai menjalari sisi dalam pahanya, bahkan terkadang hampir sampai disana.
`Ohh…’ Hindu kembali menggelinjang dan mencoba mengatupkan pahanya’ Tangannya meremas. rambut si supir.
Sembari tetap berlutut, Ridwan sedikit memelorotkan Hindun dari kedudukannya, sampai hanya pantatnya sedikit tertumpu diujung tempat duduk.
Diangkatnya sebelah kaki siibu tersebut kepundaknya, belakang lututnya ditumpangkan kebahunya.
Sebelah kakinya diperlakukan sama.
Jadilah adegan tersebut, wajah Ridwan hampir menyentuh kewanitaan Hindun, menyapukan nafas panas, seperti awan panas melanda daerah perbukitan, yang menambah bara birahi sang wanita.
Hidungnya menyentuh bulu-bulu lembut yang tak berdaya melindungi daerah rahasia.
Kedua tangannya masing-masing meremas paha telanjang yang menumpang di. pundaknya.
Hindun mulai menggeliat tak terkendali, nafasnya mulai tersengal, terengah-engah, pikirannya mulai panik membayangkan apa yang akan terjadi.
Daerah sucinya mulai dijarah pria asing, aduh gimana ini.
`Argghhhh,…’ Hindun mengerang keenakan, saat Ridwan melancarkan serangan kilat, mengecup bibir atas kemaluannya.
Wangi merk terkenal dari tisu basah meningkatkan aroma harum kewanitaan Hindun yang sudah kembali. basah.
Ridwan sangat bersemangat menghirup aroma indah dari wanita yang diyakininya benar-benar alim ini.
Sangat jauh berbeda dari aroma wanita penghibur lain.
Gaya tempur Ridwan, jauh berbeda.
Taktik andalannya adalah serangan pendahuluan oral.
Teknik dan stamina lidah Ridwan pantas diacungi jempol.
Hal ini akibat ukuran penisnya yang standar asia, yang kadang- kadang sering diledek para wanita penghibur.
Tetapi dengan keahlian oralnya, Ridwan mampu menjatuhkan sebagian besar wania yang dijumpainya.
Penisnya hanya dijadikan hidangan penutup.
Lidah kasar Ridwan menyapu mulai dari lubang pantat naik keatas menyikat. bulu pepohonan, membajak lubang kemaluan, menumbangkan klit, mengampelas gundukan bukit, terus naik sampai kepusar ‘Bangg ….
ohhh….
’ Hindun terbata-bata wilayah kesuciannya dibajak lidah kasar lelaki ini.
‘Ohhh….
’ Hindun kembali melenguh ketika Ridwan mengulangi sapuan lidahnya.
Tak sadar kedua tangan Hindun menjambak keras rambut Ridwan, mencoba menahan sentakan kenikmatan yang mengiringi sapuan lidah yang. kasar.
‘Ohhh ….
’ kembali Ridwan mengulangi gerakan yang sama, kali ini lebih perlahan tetapi dengan tekanan semakin kuat, bahkan saat menyapu lubang kewanitaan, lidahnya dicucukan kedalamnya.
‘Hindun tersentak menggelinjang, tangannnya mencoba meringankan derita kenikmatan dengan menekan keras kepala kepangkal pahanya.
‘Aduhhh …’ kembali Hindun mengeluh, upayanya menahan kenikmatan tidak berhasil bahkan semakin membuat Ridwan bersemangat.
‘Bener ibu alim, mudah sekali takluknya’ pikir Ridwan.
Pelacur membutuhkan upaya jauh lebih keras untuk sampai tahap ini.
Kembali mengulangi sapuan lidahnya.
‘Shhh….
’ Hindun mulai melemahkan jambakan tangannya dirambut Ridwan ketika dirinya mulai. terbiasa dengan deraan birahi keganasan lidah sang supir.
‘O desahnya menikmati sapuan lidah Ridwan dikemaluannya, perlahan tapi pasti berahinya dapat mengimbangi gelombang kenikmatan. yang ditimbulkan.
Pinggulnya mulai menggeliat bergairah menyambut rindu setiap sapuan lidah Ridwan.
Ridwan sangat menyukai pinggul yang mengelinjang ini, menambahkan kobaran semangatnya.
Sungguh perempuan baik.. perempuan baik.
‘Bagaimana bu… suka?? Ridwan menengadah memandang wajah ayu terpejam dihadapannya.
Wajah Hindun memerah, terengah-engah disiksa kenikmatan dari lelaki asing, dan ditanya pula, ‘Ngg…’ gimana jawabnya.. ‘Nama ibu siapa?’ (penulis: gila nih Ridwan sudah nyosor barang perempuan baru nanya nama, sialan… sialan..) ‘Hindun bang….
’ Sebenarnya Ridwan berhenti sejenak untuk mengatur nafas, gerakannya tadi membutuhkan pemulihan nafas, maklum saja mengobrak abrik pangkal pertahanan wanita, diarea yang sangat sempit, sangat terbatas suplai oksigennya.
‘Abang..sia….
ssss…’ Hindun hendak balik bertanya, juga dengan susah payah mengatur engahan nafasnya.
‘Hindun sayang….
hemppphhh’ Kembali Ridwan mendadak menyosor daerah suci Hindun.
Sapuannya berganti arah, bila tadi vertikal, sekarang horisontal, mulai dari sisi dalam paha dibahu kirinya, menjelajah lembut kepangkal paha Hindun, menggelitik-gelitik dipangkal paha dengan ujung lidahnya, dan kembali menyapukan pangkal lidahnya yang kasar dikulit mulus paha dalam. yang tertumpang bahu kanannya.
‘Ssshhh….
’ Hindun tersentak menahan serangan model baru ini, Tubuhnya tersentak kebalakang kesandaran bangku.
Jemari hanya mampu meremas remas rambut lelaki itu.
Menahan kenikmatan setiap periode sapuan lidah.
‘Ohh…’ Selang sekian kali lidah kasar Ridwan bekerja keras bolak- balik. membajak pangkal pahanya, Hindun kembali merasakan sensasi baru yang sama sekali belum pernah dialaminya.
Birahinya kembali meletup, kali ini mulai menuntut sesuatu.
Memahami ritme serangan silelaki, Saat lidah lelaki ini masih berkutat di tengah batang pahanya, tubuhnya merasakan gejolak kewanitaannya untuk segera diperhatikan, liang kewanitaanya menuntut untuk segera dijamah kasarnya lidah silelaki, dengan gelinjangan indah.
‘Bang….
aduh…’ tangannya menjambak kembali dan menekan keras wajah silelaki dilubang kewanitaanya, saat tiba saatnya lidah itu menggelitik sekitar bibir kemaluannya.
‘Hempphh..’ hidung Ridwan terganjal gunungan bukit, saat pinggul Hindun menggelinjang keras mengejar sapuan lidah Ridwan dibibir kemaluannya, dimana saat bersamaan wajahnya dibenamkan dalam-dalam dengan gemas oleh ibu alim yang sedang. mengangkang, kepangkal kemaluannya.
Senang sekali Ridwan diperlakukan demikian, ibu alim telah menjadi ibu yang binal, sukses.
Mana ada perempuan alim membenamkan dalam- dalam wajah lelaki asing di liang kehormatannya, dengan begitu bergairah.
Ketika lidah Ridwan berpaling kearah lain, untuk berlaku adil menjelajah paha kanan Hindun, Hindun tidak rela, dia mengatupkan pahanya kuat-kuat, tidak rela lidah itu pergi meninggalkan benteng kehormatannya.
Kewanitaanya menuntut penyiksaan lebih lanjut.
Tubuhnya sudah didesak-desak berahi yang menggelegak menuntut hak.
‘Abang…oh….
’ Hindun sudah menggelinjang kasar.
Bahasa tubuhnya jelas, birahinya menuntut segera dimulai pendakian kepuncak.
Ridwan memahami bahasa tubuh ini.
Lidahnya mulai berkonsentrasi menghajar liang kewanitaan, yang sungguh kurang ajar menuntut dengan membekap wajahnya keras-keras.
Lidahnya yang akan mengiringi pendakian Hindun.
Dikangkangkannya pangkal paha Hindun lebar-lebar, lidahnya mulai dijulur-julurkan kedalam liang yang sudah sangat basah kuyup.
Ludahnya sudah bercampur aduk dengan lendir bertaburan.
‘Ahhh….
ahhh …ahhh..’ Hindun mengerang saat kasarnya lidah menyodok-nyodok dinding. kemaluannya.
Berahinya sudah lepas kendali, pinggulnya bergeliat-geliat mencoba mengimbangi lidah Ridwan yang berhasil masuk cukup dalam keliang. kewanitaannya.
‘Sshh… shhh…shhh’ Jemari ibu alim ini menjambak membenamkan wajah lelaki asing dikangkangannya dalam-dalam, setiap saat Ridwan dengan kasar mencucuk-cucukan sedalam-dalamnya lidahnya.
Sesaat berlalu Ridwan dengan tidak juga puas menyiksa ibu alim ini dengan. kenikmatan tegangan tinggi.
‘Abang…ohh abang…’ Hindun mulai menceracau.
Dengan malu-malu mencoba mengundang sang lelaki menuntaskan. perbuatannya, dengan cara membenam-benamkan berulangkali wajah silelaki didalam kangkangannya saat dirasakan kepala itu memiliki lidah yang. sanggup mengorek-ngorek kenikmatan miliknya.
Ridwan tersenyum dalam hati, bener-bener mudah ibu ini.
Lidahnya semakin buas memporak-porandakan lubang kesucian Hindun.
‘Abangg…ssss… ohh abang… ohh abang’ Hindun semakin tidak tahan, suaranya sudah bergetar hampir menangis.
Pinggulnya bergelinjang tak karuan.
Tangannya sudah tidak beraturan membenam-benamkan wajah Ridwan.
Ridwan semakin buas, lidahnya sudah mencucuk-cucuk sedemikian cepat.
Yeah gerakan lidahnya mirip lidah ****** yang sedang minum, sangat cepat, salah satu jurus dasar teknik oral Abang Ridwan.
‘Abang.. a bang….
ayo…’ Lepas juga kata-kata ini, tanpa terkendali, diledakan gejolak birahi yang menuntut sesegera mungkin dipenuhi haknya.
Lupa rasa malu lupa nilai kehormatan.
‘Ayoo bang…ohh.. anuiin dong bang ohhh bangngg..’ Hindun merengek dalam hati Saat berlutut, sembari mempertahankan hujaman-hujaman lidahnya, Ridwan melepaskan celananya, agak sulit tetapi berhasil ‘Bang..ahh.. udah bang…sudah…’ suara Hindun mulai bergetar menangis.
Geliatan pinggulnya sudah tidak membantu, sudah lepas kendali, meronta tak semakin liar terkendali.
‘Gerakannya terakhir berhasil melepas celana dalamnya sambil berjongkok, lidahnya tetap mencucuk-cucuk dengan keras’ ‘Abang..sshh jaha Mendadak Hindun merasakan lelaki ini perlahan bangkit berdiri sambil tetap. memanggul kedua pahanya.
‘Shhh…’ agak lega Hindung terengah menarik nafas, sejenak terbebas dari siksa nikmat lidah kasar lelaki.
Tidak sadar tubuhnya agak melorot, karena Ridwan sudah berdiri tegak dihadapannya sambil memanggul kedua pahanya.
Ridwan membetulkan posisi berbaring Hindun diujung bangku, hanya pinggulnya yang masih menumpu dibangku, punggung dan bahu Hindun agak tertekuk pada sandaran bangku.
Pikiran Hindun kacau, tapi agak lega bisa menarik nafas sejenak.
‘Ihhh….
’ mendadak disadarinya ada daging keras tiba-tiba menyodok lubang kemaluannya.
‘Ohhh…’ muncul sedikit rasa khawatir akan disetubuhi lelaki asing, akan tetapi kuatnya desakan birahi menyapu tuntas kekhawatirannya.
‘Hindun… ‘ Ridwan menguakkan kedua pangkal paha perempuan itu, sembari sedikit menekan penisnya keharibaan tubuh mungil yang mengangkang lebar menggairahkan dengan paha dipanggulnya.
Slep, Sedikit nyelip.
Agak mudah, mungkin karena sudah basah kuyup, apalagi sudah dikorek- korek lidah dengan buas.
‘Ohh…’ kembali rasa khawatir menyeruak, ‘aduh gimana ini..’ benaknya kembali berputar sedikit normal, sesaat setelah diberi kesempatan bernafas.
‘Abang nggak jahat kan…’ Ridwan menggoda wajah ayu kuyu yang terpejam terlentang. setengah tertekuk dihadapanya.
‘Nggak bang…shhh’ kemaluannya didera kehangatan ujung penis yang baru sedikit nyelip.
‘Gimana dik… ‘Ohh.. ayo bang….
ayo…heggg’ jawaban refleknya bertolak belakang dengan keraguannya barusan, tubuhnya mendadak kembali tidak sabar minta dihajar.
Belum selesai menjawab kemaluannya sudah dihajar dengan hujaman pelan. tapi bertenaga, bless …ambla Posisi mengangkangkan wanita dengan pahanya dipanggul pria, seolah- olah jalan tol memuluskan hujaman silelaki.
‘Ssshh.
Tangan Hindun menggapai-gapai mencari pegangan, hanya menjumpai ujung bangku yang segera digenggamnya erat-erat.
Walaupun sebenarnya penis Ridwan sedikit lebih kecil dari Indro, tapi efeknya sama saja bagi Hindun, karena posisinya tersebut.
‘Abang….
ohh…’Hindun mendesah lega, merasakan pendakiannya dapat segera tuntas Hindun tak malu-malu segera menggeliatkan pinggulnya mencoba. menyerang sang penis.
Hindun mencobakan gaya tradisionalnya, gerakan pinggulnya memutar-mutar, dan maju mundur.
Biasanya gerakannya ini merupakan responnya melayani Indro, memerah kejantanan suami dengan otot kemaluannya.
Bakti istri terhadap suami memijat alat vital sang suami, didalam gerbang kehormatannya.
‘Hhhh….
’ Hindun mendesah sendiri saat gempuran ototnya ditandingi sang penis yang mulai menggosok.
Geliatannya bukannya respon melayani, tetapi dorongan berahinya yang menuntut pemuasan.
‘Shh mendesah sendiri setiap gerakan pinggulnya berhasil menghasilkan desakan dikemaluannya.
Gerakan pinggulnya semakin cepat tak terkendali.
Kepala Hindun tersentak-sentak kekiri dan kenanan, menahan desakan kenikmatan geliatannya berbuahkan hujaman keras silelaki.
Tangannya mencoba menjangkau pinggang pria dihadapannya, agak sulit, lepas sendiri, dan kembali hanya meremas ujung bangku.
‘Bang..,ohh… Hindun….
ohh…’ pinggul Hindun yang memutar segera dihantam penis Ridwan, setiap memutar segera dihantam, semakin buas.
“Ohh,,, Hindun…ohh sud…h bang..shhh’ Ridwan setiap menghantamkan penisnya dengan cermat memandangi hasilnya, berupa wajah kuyu dengan mata berkerenyit terpejam, tersiksa didera kenikmatan, mendesah-desah, sesekali mengeluh keras.
Puas sekali rasanya, dirinya sangat berterima kasih pada kunyuk kecil si Anton.
Ridwan segera menyadari Hindun sudah tiba pada pucak pendakiannya, dia ingin menyiksa sebuas-buasnya perempuan alim ini.
Tapi dia teringat pesan si kunyuk.
“Hindun sayang… (penulis: sompret, sejak kapan jadi sayang-sayangan) ‘.. baca .. Hindun sayang, baca…’ ‘Shhh…..’ oh iya….
mantera…ohh…mantera…’ hujaman Ridwan tidak berhenti sejenakpun karenanya, tetap jalan terus… Otak Hindun kacau saat mulai mengarungi puncak kenikmatannya.
‘ paloma…’ Ridwan mengingatkan tak lupa menghujam semakin keras ‘Shh La pa. hegg….
La…la… ‘La paligi…’ Ridwan mengeja, dan kembali menghujam perlahan namun lebih keras.
‘Oh palgggg…hh ahhh’ Ridwan mengingatkan tapi juga dengan buas menghantam.
Susah payah Hindun melafalkan lanjutan mantera pendek tersebut, setiap mulai satu kata dirinya menerima hantaman keras.
Gerakan pinggulnya sudah berhenti, digantikan geliatan tak teratur.
Tubuhnya pasrah, sudah tidak mampu lagi memberikan serangan balasan.
Dirinya dengan mudah segera lemah tak berdaya ditaklukan lelaki ini.
Terutama akibat tidak siap menghadapi serangan kilat oral Ridwan dengan teknik khususnya.
Pinggulnya bergetar-getar menerima hantaman bertubi-tubi penis Ridwan.
Tubuhnya sudah lunglai tak berdaya, meresapi puncak kepuasan melingkupi dirinya.
‘Ohhhh….
abang… ohhhh….
’ Hindun menyatakan kepuasannya.
Berterima kasih tentunya, dibantu menunaikan tugas menghindari aib, sekaligus mendapat bonus puncak gairah.
Menyadari Hindun sudah sedemikian lunglai, Ridwan agak berkurang semangatnya.
Pendakiannya masih panjang.
Dia tidak menyukai menghantami batang pisang.
Lelaki seumurnya sangat menginginkan wanita menggeliat-geliat dibawah siksaan birahinya.
Ridwan memutuskan beristirahat sejenak.
Tangannya mejangkau tubuh mungil dihadapannya, menurunkan kedua paha dari pundaknya, menarik tangannya, mengangkatnya, tanpa melepas penis dikemaluan si perempuan.
Ridwan membopong Hindun, dan berbalik segera duduk setengah berselonjor dengan tubuh telanjang Hindun dipangkuannya.
Buset penisnya tetap menancap dengan baik.
Hindun terpaksa menekukkan lututnya, menyentuh dinding bangku.
Tubuhnya lemas mendekap lelaki yang memangkunya.
Kepalanya lunglai menyandar dibahu bidang.
Tanganya berhasil menggayut dileher si lelaki.
Hindun terengah-engah menyesapi saat-saat berlalunya badai kenikmatan yang melanda.
Pikirannya perlahan mulai kembali dari awang-awang.
Mendapati dirinya bagai menunggang kuda, tengah mendekap dan duduk dipaha lelaki asing, …’ohh ibu… anunya…anunya mengganjal diliang kewanitaanya, Hindun diserang rasa panik.
‘Aduhh…siapa lelaki ini yaaa’ Tapi dirinya juga segera menyadari dengan lega, sudah berhasil melaksakan kewajiban menambal mantera untuk mencegah aib akibat. perbuatannya bersama Indro suaminya.
Dirinya mulai berterima kasih kepada supir yang sedang memangkunya ini.
Tapi ohhh anunya kok masih mengganjal keras…. ‘Hindun…bisik Ridwan semesra mungkin, bibirnya mengecup belakang telinga Hindun yang tergolek dibahunya.
‘Hindun sudah …..? (orgasme maksudnya) ‘err..sudah bang…’ Malu sekali dirinya telanjang dipangku lelaki yang namanya sama sekali tidak diketahuinya.
Bahkan terpaksa mengakui sesuatu yang sebenarnya sangat intim yang mustahil diucapkan kelelaki asing.
Udara dingin mulai terasa membelai ketelanjangan tubuhnya, ihhh terasa agak dingin.
Tapi pangkal pahanya masih terasa hangat membara, sisa pertempuran yang baru saja berlangsung.
Tubuhnya yang lunglai bersandar didada Ridwan terasa menyenangkan menghalau dingin yang menyapu. punggungnya yang telanjang.
Benaknya memerintahkan agar dirinya segera menyudahi adegan ini mengerikan ini.
Tapi kesopanannya menahan tubuhnya beranjak bangkit.
Hindun pasrah menunggu tindakan lelaki ini selanjutnya, dirinya berharap-harap cemas, mudah-mudahan bisa segera terlepas dari rasa malu yang mulai semakin merasukinya.
Geli kembali menyengat, saat dirasakan jari kasar meraba punggungnya, ‘Kulit adik halus sekali, lembut’ Ridwan memuji.
‘Lembut sekali, tidak pernah saya menjumpai kulit selembut ini’ rabaan Ridwan melebar, sebelah tangannya meraba sisi kiri tubuhnya, sebelah tangan lainnya setengah meremas pinggul kanannya.
Sedikit rasa bangga menyeruak dalam diri Hindun.
‘Tapi dik, yang hebat, Adik begitu panas menggairahkan’ Hindun jengah mendengarnya, semakin bangga.
‘Tadi adik hebat sekali, luar biasa’ Tangan kiri meraba ketiak kanannya, membelai bulu ketiak, dan meremasnya’ Tangan kanan Ridwan memijit pangkal bokong belakangnya.
‘Ahhh…abang’ entah remasan atau pujian lelaki ini yang membuatnya mulai. terlena.
Hindun meresapi remasan dan pijatan disekujur tubuh telanjangnya.
Dirinya agak lupa ada tongkat keras yang masih terbenam.
Ridwan mengecup dan menghisap ketiak Hindun ‘Wah…harum sekali dik, mmmm….
’ Giginya menggigit mesra ketiak Hindun.
‘Abang…’ Hindun menggeliat geli.
Ridwan memiliki kesukaan berbeda, dirinya sangat menyukai ketiak wanita, karena baginya ketiak wanita memancarkan aroma yang tidak ada duanya.
Baginya kemaluan wanita dan payudara merupakan hidangan penutup, hidangan utamanya adalah mencupang habis-habisan pangkal ketiak wanita.
Menikmati santapan yang sedang telanjang menunggangi dirinya, Ridwan mulai melahap ketiak kanan wanita ini.
Bibirnya menyeruput keras bulu-bulu ketiak Hindun, menghisap-hisap dengan mesra, sesekali giginya mencacah daging lunak disana, seolah menggaruk.
Kembali Hindun merasakan sensasi asing.
Kembali dia menjumpai dirinya dalam posisi situasi yang sama sekali asing.
Ketiaknya dijarah dengan cara yang sama sekali tidak pernah dibayangkan.
Sensasi seperti tadi kembali merasuki dirinya.
Tak sadar, Tangan mulai membalas dengan belaian kepala yang memberi rasa geli campur nikmat.
Hindun mendekap semesra dia mendekap suaminya.
Puas menjarah ketiak kanan, Ridwan menyapukan lidahnya disepanjang dada telanjang Hindun yang hanya sebagain dilindungi bra cream, yang selama ini terlupakan.
Ridwan mencari sasaran lain, ketiak kiri.
‘Shhh….
’ Kasarnya lidah silekaki mengampelas kulit telanjang dadanya, menjangkiti Hindun dengan percik birahi.
Sang supir yang masih mengenakan kemeja seragam, mulai membantai ketiak kanannya.
Meniupkan nafas panas, mengecupnya dengan lembut, membajak dengan lidah, menggaruknya dengan gigi, mengemutnya dengan kuat, bahkan mencupangnya dengan dahsyat.
Bahkan terkadang seolah berniat mencabut bulu ketiak dengan gigitannya.
Tubuh Hindun mulai menggeliat, nikmat.
Birahinya mulai kembali membara.
Bagi Hindun ulah Ridwan lebih banyak gelinya dari nikmatnya, tapi itu sudah lebih dari cukup membuat matanya merem-melek.
‘Abang…’ Hindun mulai berharap bagian tubuh lainnya diperhatikan silelaki asing.
Payudaranya mulai cemburu, biasanya yang menjadi pusat perhatian sekarang kok dianaktirikan.
‘Bang…geli…’ Hindun mengeluh karena Ridwan kembali menjarah ketiaknya yang lain.
‘Shhh….
’ Hindun mulai tidak sabar merasakan Ridwan hanya berkonsentrasi diketiaknya.
Hindun menggeliatkan tubuhnya, mulai sengaja menyosorkan payudaranya kepipi Ridwan.
Sial Ridwan cuek saja, bahkan giginya kembali menggigit agak keras.
‘Abang…geli….
’ suara Hindun seperti memprotes.
Dirinya mengharap peningkatan tegangan kenikmatan, tapi tetap diabaikan.
Dirinya malu sekali menyatakan keinginannya.
Dirinya sudah mengehendaki payudaranya mulai dibantai.
Ridwan mulai mengalihkan sasaran serangannya, lidahnya yang kasar kembali menggerus sepanjang dada mulus wanita alim ini, membuatnya menggelepar.
‘Ahhhh …sialll..’ kok cuman lewat.
Benak Hindun mulai kacau, ketika sasaran Ridwan ternyata ketiaknya yang sebelah lagi.
Kembali Hindun membusungkan dadanya, mengejar bibir Ridwan, tapi silelaki berkelit dengan mengemut ketiak Hindun.
Bila sedari tadi Hindun dengan kealimannya menahan diri, membiarkan tubuh telanjangnya dikerjai lelaki asing, sekarang mulai tidak tahan menahan keinginan birahi yang telah membara.
Kedua tangannya menggenggam sisi kepala silelaki dan dipaksanya dibenamkan ke pangkal payudaranya.
Didekapkan kepala tersebut semesra mungkin.
‘Abangg…mmmm’ Suaranya sendu semesra mungkin, menyuarakan hasratnya akan peningkatan tegangan kenikmatan.
Hindun lega merasakan kecupan pada pangkal susunya.
‘Shhh…bangg…jangan berbekas” Hindun kembali menggelinjang saat dirasakan adanya gigitan kuat. dipangkal susunya.
Bagai ibu yang menyusui anaknya, Hindun mulai tidak malu memaksa Kepala Ridwan untuk tidak berpaling ketempat lain.
Dibekapnya kepala itu kuat kuat.
Selang beberapa saat Ridwan mulai kehabisan nafas, didirongnya tubuh Hindun agar sedikit renggang, Dirinya mulai mengatur nafas, tangannya diperintahkan bertugas membelai kedua sisi tubuh Hindun, mulai dari Ketiak ke pinggul, kepaha kelutut, dan kembali lagi keatas, berulang kali.
‘Adik hebat….
sangat bergairah….
’ Ridwan menyuarakan rayuan gombalnya, saat memandang wajah ayu yang terpejam, telanjang dihadapannya menunggangi dirinya.
Hindun memaksa matanya yang terpejam untuk terbuka, reflek tersenyum sayu menggambarkan rasa bangga dan nikmat.
‘Ahh abang…’ Hindun menyorongkan wajahnya dan melumat ganas bibir silelaki, menghisap-hisap lidah Ridwan dengan kuat, mencoba membuktikan kebenaran bahwa dirinya memang hebat bergairah.
Heh, Hindun sudah lupa duniawi, akibat pujian dan belaian.
‘Mmmm…Hindun….. hebat sekali tubuhmu’ Ketika Hindun melepaskan lumatan bibirnya.
Dia mendapati mata sang supir dalam keremangan malam, bersinar memancarkan kekaguman, menyapu sekujur tubuh telanjangnya yang sedang dalam posisi setengah berlutut menunggang.
Dirinya merasakan belaian tangan yang sedemikan rajin membelai seluruh tubuhnya, tak pernah berhenti bertugas.
‘Ah,,,abang, masa…’ Suaranya bernadakan pengingkaran tetapi sungguh berharap hal itu benar.
Berahinya semakin tak tertahan, kombinasi dan pujian mengacaukan otaknya.
Dorongan api birahinya serasa disiram bensin pujian gombal.
‘Betul dik…sumpah’ Ridwan menyatakan sumpahnya dengan mengecup pangkal susunya.
‘A bohongg…sshhh’ Dengan wajah mulai kemerahan menahan rasa bangga dan nikmat yang semakin melambung, kepala itu kembali dibenamkan didadanya.
‘Sungguh dik…abang gemass sekali, hmmpph’ Ridwan menghisap pangkal susu itu dengan kuat.
Tak tertahankan kobaran birahinya, Hindun sedikit menegakkan tubuhnya dan dengan gerakan indah menggairahkan membuka kaitan bra dipunggungnya, dan meloloskan bra itu melalui kedua sisi tangannya.
Mencampakkan seolah sampah tak berguna.
Seolah-olah berkata benda sialan itu dari tadi menghambat saja.
‘Yessss’ Ridwan tersentak gairahnya memandang adegan indah yang. berlangsung singkat, sangat dekat dihadapannya.
Sensasi ibu alim yang melakukan gerakan erotis, dalam posisi menunggang, telanjang, membuka kaitan bra, dan meloloskannya, dihadapan dirinya yang belum 30 menit berkenalan.
‘Kalau pelacur sih biasa, tapi ini ibu alim, coy, jangan- jangan nama gua pun dia nggak tahu’. ‘Abang juga….
nggg…hebat…’ Sopan santunnya membuat reflek menirukan membalas pujian.
Wajahnya kembali memerah, jengah.
Hindun menutupinya dengan kembali mengecup Ridwan.
‘Hemmphhh hebat apa dik…’ Ridwan menggoda, ‘Abang nakal, shhh’ Hindun gemas, membalas godaan itu dengan kasar menjambak sisupir dan membenamkannya kepuncak payudaranya.
Kegemasannya dijadikan pembenaran, kerinduan payudaranya untuk segera dijamah.
Oh lelaki ini kenapa membiarkan payudaraku begitu saja.
“ayo…ayolah…hajar susuku…’ jeritnya dalam hati. ‘Sshhh…..’ Efek perbuatannya bagai senjata makan ‘nyonya’ tubuhnya terhentak menerima lumatan dahsyat mulut Ridwan disusunya.
Susunya yang sedang-sedang saja ukurannya, terasa diselomoti sebagian besar oleh mulut lelaki ini.
Rasanya seperti hampir seluruhnya masuk kekerongkongannya.
‘Bang…ohhh’ Hindun kembali menggeliat ketika Ridwan dengan ganas mengemut seluruh susunya keras sekali.
Indah sekali pemandangan seorang ibu ayu yang kepalanya terhentak- hentak setiap kali. menahan rasa, disusui dengan buas oleh lelaki dewasa.
Hisapan Ridwan sangat dahsyat, dan memang itu keahliannya, teknik oral tingkat dasar, mengemut dengan sekuat tenaga.
Berkali kali Hindun menahan kenikmatan yang mengiringi jarahan disusunya.
Berahinya mulai lepas kendali, sekarang bukan kepalanya yang tersentak, tetapi seluruh tubuhnya mulai bergelinjang.
Sedari tadi sekuat tenaga, Hindun menahan bagian bawah tubuhnya untuk tidak bergerak, karena adanya ganjalan tongkat keras yang terpaksa harus rela dierami kewanitaannya tanpa daya.
Dia ketakutan akibatnya kalau pinggulnya bergerak, oleh sebab itu sedapat mungkin bertahan.
Akhirnya mana tahan.
‘Ohh….
abang…eghh’ tak tahan pentil susunya seolah tertelan kerongkongan si supir, pinggul Hindun tersentak kedepan, menghujam perut Ridwan.
‘Ah Hindun sedikit menyadari kedua tangan lelaki ini kejang. mencengkeram punggungnya saat hentakan pinggulnya tadi.
Hindun seolah tersadarkan gerakan pinggulnya menghujam kejantanan lelaki asing adalah. bukan perbuatan yang pantas bagi wanita alim.
Dirinya kembali menahan pinggulnya sekuat tenaga untuk tidak bergerak.
Mendadak Ridwan menyerang susu kirinya, dekemotnya sedalam dan sekeras mungkin, bahkan terasa pentil yang sudah keras menyentuh tenggorokannya ‘Shhh….
Benak Hindun kembali kacau didera kenikmatan ‘Ohh…ibu…nggak tahan lagi’ Terpaksa. pinggulnya dilepas, kembali menghantam membalas dendam atas serangan kenikmatan.
Ridwan yang mengetahui ibu alim ini mulai lepas kendali, meningkatkan serangannya.
Tangan kanannya dengan keras mencengkeram punggung menahannya tak bergerak, tangan kirinya menyerang dari sisi mengepung ‘flank attack’, menjamah susu kanan Hindun meremasnya dengan kuat.
Hindung kejang menahan pinggul tapi tak kuat dan segera lepas kendali, kejang dan menggelinjang.
Sensasi luar biasa dirasakan sitongkat keras.
Kedua mahluk ini tidak menyadari bahwa sitongkat keras saat ini menjadi. korban perbuatan mereka.
Tongkat itu digerus-gerus, diremas- remas oleh otot kewanitaan Hindun yang setengah mati menahan pinggulnya untuk tidak. bergerak, tetapi mulai sering lepas kendali, dan saat lepas dengan buas mencoba membantai sang tongkat.
Ridwan menikmati sensasi luar biasa ini, bukan hanya kenikmatan genggaman kuat rahim Hindun pada kejantanannya, tetapi lebih pada kelakuan ibu alim yang mulai melonjak-lonjak. menunggangi dirinya, silelaki asing.
‘Ohhh…abang..ohhh’ Hindun mulai menceracau, mulutnya tidak patuh lagi kepada otaknya.
Demikian juga pinggulnya yang semakin sering menggelinjang.
Ridwan mengubah serangannya, sekarang tangan kirinya memelintir kuat pentil susu kanan Hindun.
Mulutnya sembari mengemut kuat menduselkan kuat-kuat wajahnya kesusu kiri dengan gerakan memutar searah jarum jam, perlahan.
Tangan kanannya mencengkeram keras punggung, membenamkan kuku kekulit yang mulus.
Menahannya untuk menggelepar.
‘Aduuhhh…bang..eghh’ Hindun berusaha melonjak.
Tidak tahan menerima kenikmatan susunya dirajam dengan keras, hanya pinggulnya yang dapat bergerak melampiaskan deraan nikmat.
Dihantamkan kesatu arah, kepangkal sang tongkat.
Setiap pinggulnya menghujam, mau tidak mau kewanitaannya mendapatkan serangan balasan yang setara dahsyatnya, otot kewanitaanya menabrak kejantanan yang demikian keras dan kokoh.
Kekerasan tongkat itu mulai melambungkan birahinya kepuncak pendakiannya.
‘Shh …shhh … shhh’ Hindun menarik nafas panjang dan mengeluh.
Pinggulnya sudah lepas kendali, mulai bergerak sistematis.
Setiap pinggulnya bergerak menghantam, kenikmatan menghujam dirinya, Hindun semakin tidak tahan dan bergelinjang.
Sekarang dirinya sudah dikuasai birahi, tidak ada lagi rasa malu, dirinya wanita baik-baik menunggangi lelaki lain, tidak dikenal lagi.
Lonjakan pinggul Hindun yang dihantamkan kepangkal paha silelaki, sangat teratur dan bertenaga, sebagai upaya menggapai kenikmatan yang mulai semakin membumbung tinggi.
‘Ohh…ohhh…’ lonjakan tubuhnya tidak cukup lagi mengimbangi kenikmatan. yang menderanya, Bila sedari tadi Hindun cenderung mendekap Ridwan, sekarang birahinya memerintahkan otaknya agar pinggulnya bisa lebih. bebas, bisa lebih … Hindun, merangkulkan kedua tangannya dibelakang leher si supir, badannya direnggangkan sejauh mungkin.
Dengan mengandalkan kekuatan pegangan tangannya, pinggul Hindun berusaha lebih kuat menghantam.
Berharap kewanitaanya dapat bertarung lebih hebat mematahkan kerasnya tongkat. lelaki ini yang tidak juga patah dari tadi.
‘Hhhhh…hhhh Efeknya malah berbalik, seluruh daerah suci kewanitaanya terbuka oleh hantaman balik pangkal paha sitongkat, klitnya malah tergerus habis-habisnya’ Sesaat berlalu, Ridwan merasakan remasan kewanitaan wanita ini semakin menjadi, matanya nanar menonton wanita alim berkelojotan menunggangi kejantanannya.
Ridwan menyadari wanita ini perlu bantuan, dia menduga stamina ibu alim ini tidak seperti pekerja seks yang seluruh otot tubuhnya terlatih kuat untuk kegiatan ini.
Ridwan memperhitungkan hanya pengejaran birahi sajalah yang mempertahankan. sekian lama Hindun melonjak-lonjak dipanggkuannya menggerus dan. menghantami kejantanannya.
Hal ini disadari ketika lonjakannya tidak lagi sistematis tapi mulai berkelojotan.
Dia masih menginginkan beberapa saat lagi menikmati pemandangan sensasional dihadapannya, wajah ayu berkeringat, sayu dan eksotis, mata yang terpejam-pejam, kepala yang sesekali terhentak kebelakang, mulut yang terbuka lebar mencoba mengalirkan oksigen sebanyak- banyaknya, bergantian dengan erang kenikmatan setiap kewanitaanya menghantami kerasnya kejantanan, yang tetap kokoh bertahan.
.
Sumber:Internet