Gelap

Mulusnya Pacar Kakak

🇮🇩 Indonesia
Kecepatan: 1.0x
Status: Siap
×

Bantuan pengaturan pemutaran

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tapi tetap tidak bisa putar, cek pengaturan Ponsel/PC Anda.
Pastikan mesin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin Anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lainya

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Pengaturan > Aksesibilitas > Keluaran Teks-ke-Suara.
Jika tidak ada, Pengaturan > kotak pencarian di atas > masukan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih text-ke-suara atau text-ke-ucapan, atau yang mirip itu.
Untuk menambahkan bahasa, klik ikon gear ⚙ > install data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Pengaturan > Aksesibilitas > Konten yang Diucapkan/Konten lisan
Atau pengaturan > kotak pencarian di atas > masukan "konten yang di ucapkan/konten lisan" enter
Untuk tambahkan bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Pengaturan Sistem > Aksesibilitas > Konten yang Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mulai > Pengaturan > Waktu & Bahasa > Ucapan atau Speech.
Windows 7 & 8
Control Panel > Ease of Acces > Speech Recognition > Text to Speech
Windows XP
Start > Control Panel > Sounds, Speech, and Audio Devices > Speech
Windows 2000 & ME
Start > Settings > Control Panel > Speech
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Harap cari pengaturan untuk aktifkan text-to-speech di mesin pencari, seperti Google, Bing, dll

Catatan Untuk saat ini, halaman ini bekerja sesuai mesin dari perangkat anda.
Jadi suara yang di hasilkan, mengikuti mesin TTS dari perangkat anda.

Mulusnya Pacar Kakak

. . Siang itu, ponselku berbunyi, dan suara merdu dari seberangsana memanggil.
"Di, kamu ke rumahku duluan deh sana, saya masih meeting.
Daripada kamu kena macet di jalan, mendingan jalan sekarang gihsana.
""Oke deh, saya menuju rumah kamu sekarang.
Kamu meeting sampaijam berapa?""Yah, sore sudah pulang deh, tunggu aja di rumah.
"Meluncurlah aku dengan motor Honda ke sebuah rumah di salahsatu kompleks di Jakarta.
Vina memang kariernya sedang naikdaun, dan dia banyak melakukan meeting akhir-akhir ini.
Akusih sudah punya posisi lumayan di kantor.
Hanya saja,kemacetan di kota ini begitu parah, jadi lebih baik beli motorsaja dari pada beli mobil.
Vina pun tak keberatan mengarungipelosok-pelosok kota dengan motor bersamaku.
Kebetulan, pekerjaanku di sebuah biro iklan membuat aku bisapulang di tengah hari, tapi bisa juga sampai menginap dikantor jika ada proyek yang harus digarap habis-habisan.
Vina,pacarku, mendapat fasilitas antar jemput dari kantornya.
Jadi,aku bisa tenang saja pergi ke rumahnya tanpa perlumenjemputnya terlebih dulu.
Sesampai di rumahnya, pagar rumah masih tertutup walau tidakterkunci.
Aku mengetok pagar, dan keluarlah Marta, kakak Vina,untuk membuka pintu.
"Loh, enggak kerja?" tanyaku.
"Nggak, aku izin dari kantor mau ngurus paspor," jawabnyasambil membuka pintu pagarnya yang berbentuk rolling doorlebar-lebar agar motorku masuk ke dalam.
"Nyokap ke mana?" tanyaku lagi.
"Oh, dia lagi ke rumah temannya tuh, ngurusin arisan," kataMarta, "Kamu mau duduk di mana Dodi? Di dalam nonton tv jugaboleh, atau kalau mau di teras ya enggak apa juga.
Bentar yah,saya ambilin minum.
"Setelah motor parkir di dalam pekarangan rumah, kututup pagarrumahnya.
Aku memang akrab dengan kakak Vina ini, umurnyahanya sekitar dua tahun dari umurku.
Yah, aku menunggu diteras sajalah, canggung juga rasanya duduk nonton tv bersamaMarta, apalagi dia sedang pakai celana pendek dan kaos oblong.
Setelah beberapa lama menunggu Vina di teras rumah, akucelingukan juga tak tahu mau bikin apa.
Iseng, aku melongok keruang tamu, hendak melihat acara televisi.
Wah, ternyatamataku malah terpana pada paha yang putih mulus dengan kakimenjulur ke depan.
Kaki Marta ternyata sangat mulus, kulitnyaputih menguning.
Marta memang sedang menonton tv di lantai dengan kakiberjelonjor ke depan.
Kadang dia duduk bersila.
Baju kaosnyayang tipis khas kaos rumah menampakkan tali-tali BH yang bisakutebak berwarna putih.
Aku hanya berani sekali-kali mengintipdari pintu yang membatasi teras depan dengan ruang tamu,setelah itu barulah ruang nonton tv.
Kalau aku melongokkankepalaku semua, yah langsung terlihatlah wajahku.
Tapi rasanya ada keinginan untuk melihat dari dekat paha itu,biar hanya sepintas.
Aku berdiri.
"Ta, ada koran enggak yah," kataku sambil berdiri memasukiruang tamu.
"Lihat aja di bawah meja," katanya sambil lalu.
Saat mencari-cari koran itulah kugunakan waktu untuk melihatpaha dan postur tubuhnya dari dekat.
Ah, putih mulus semua.
Buah dada yang pas dengan tubuhnya.
Tingginya sekitar 160 cmdengan tubuh langsing terawat, dan buah dadanya kukuh melekatdi tubuh dengan pasnya.
"Aku ingin dada itu," kataku membatin.
Aku membayangkan Martadalam keadaan telanjang.
Ah, "adikku" bergerak melawan arahgravitasi.
"Heh! Kok kamu ngeliatin saya kayak gitu?! Saya bilangin Vinalho!," Marta menghardik.
Dan aku hanya terbengong-bengong mendengar hardikannya.
Akutak sanggup berucap walau hanya untuk membantah.
Bibirkumembeku, malu, takut Marta akan mengatakan ini semua ke Vina.
"Apa kamu melotot begitu, mau ngancem?! Hah!""Astaga, Marta, kamu.. kamu salah sangka," kataku tergagap.
Jawabanku yang penuh kegamangan itu malah membuat Marta makinnaik pitam.
"Saya bilangin kamu ke Vina, pasti saya bilangin!" katanyasetengah berteriak.
Tiba-tiba saja Marta berubah menjadisangar.
Kekalemannya seperti hilang dan barangkali dia merasaharga dirinya dilecehkan.
Perasaan yang wajar kupikir-pikir.
"Marta, maaf, maaf.
Benar-benar enggak sengaja saya.
sayaenggak bermaksud apa-apa," aku sedikit memohon.
"Ta, tolong dong, jangan bilang Vina, kan cuma ngeliatindoang, itu juga enggak sengaja.
Pas saya lagi mau ngambilkoran di bawah meja, baru saya liat elu," kataku mengibasambil mendekatinya.
Marta malah tambah marah bercampur panik saat akumendekatinya.
"Kamu ngapain nyamperin saya?! Mau ngancem? Keluar kamu!,"katanya garang.
Situasi yang mencekam ini rupanya membuatkusecara tidak sengaja mendekatinya ke ruang tamu, dan itu malahmembuatnya panik.
"Duh, Ta, maaf banget nih.
Saya enggak ada maksud apa-apa,beneran," kataku.
Namun, situasi telah berubah, Marta malah menganggapku sedangmengancamnya.
Ia mendorong dadaku dengan keras.
Aku kehilangankeseimbangan, aku tak ingin terjatuh ke belakang, kuraihtangannya yang masih tergapai saat mendorongku.
Raihan tangankananku rupanya mencengkeram erat di pergelangan tangankirinya.
Tubuhnya terbawa ke arahku tapi tak sampai terjatuh,aku pun berhasil menjaga keseimbangan.
Namun, keadaan makinrunyam.
"Eh! kamu kok malah tangkep tangan saya! Mau ngapain kamu?Lepasin enggak!!," kata Marta.
Entah mengapa, tangan kananku tidak melepaskan tangan kirinya.
Mungkin aku belum sempat menyadari situasinya.
Merasaterancam, Marta malah sekuat tenaga melayangkan tangankanannya ke arah mukaku, hendak menampar.
Aku lebih cekatan.
Kutangkap tangan kanan itu, kedua tangannya sudah kupegangtanpa sengaja.
Kudorong dia dengan tubuhku ke arah sofa dibelakangnya, maksudku hanya berusaha untuk menenangkan diaagar tak mengasariku lagi.
Tak sengaja, aku justru menindihtubuh halus itu.
Marta terduduk di sofa, sementara aku terjerembab di atasnya.
Untung saja lututku masih mampu menahan pinggulku, namuntanganku tak bisa menahan bagian atas tubuhku karena masihmencengkeram dan menekan kedua tangannya ke sofa.
Jadilah akumenindihnya dengan mukaku menempel di pipinya.
Tercium aromawangi dari wajahnya, dan tak tertahankan, sepersekian detikbibirku mengecup pipinya dengan lembut.
Tak ayal, sepersekian detik itu pula Marta meronta-ronta.
Marta berteriak, "Lepasin! Lepasin!" dengan paraunya.
Waduh,runyam banget kalau terdengar tetangga.
Yang aku lakukan hanyarefleks menutup mulutnya dengan tangan kananku.
Marta berusahavaginaik, namun tak bisa.
Yang terdengar hanya, "Hmmm!" saja.
Namun, tangannya sebelah kiri yang terbebas dari cengkeramankujustru bergerak liar, ingin menggapai wajahku.
Hah! Tak terpikir, posisiku ini benar-benar seperti berniatmemperkosa Marta.
Dan, Marta sepertinya pantas untukdiperkosa.
Separuh tubuhnya telah kutindih.
Dia terduduk disofa, aku di atasnya dengan posisi mendudukinya namunberhadapan.
Kakinya hanya bisa meronta namun tak akan bisamengusir tubuhku dari pinggangnya yang telah kududuki.
Tangankanannya masih dalam kondisi tercengkeram dan ditekan ke sofa,tangan kirinya hanya mampu menggapai-gapai wajahku tanpa bisamengenainya, mulutnya tersekap.
Tubuh yang putih itu dengan lehernya yang jenjang dan sedikitmuncul urat-urat karena usaha Marta untuk vaginaik,benar-benar membuatku dilanda nafsu tak kepalang.
Aku berpikirbagaimana memperkosanya tanpa harus melakukan berbagaikekerasan seperti memukul atau merobek-robek bajunya.
Dasarotak keparat, diserang nafsu, dua tiga detik kemudian akumendapatkan caranya.
Tanpa diduga Marta, secepat kilat kulepas cengkeraman tangankudari tangan dan mulutnya, namun belum sempat Marta bereaksi,kedua tanganku sudah mencengkeram erat lingkaran celanapendeknya dari sisi kiri dan kanan, tubuhku meloncat mundur kebelakang.
Kaki Marta yang meronta-ronta terus ternyata mempermudahusahaku, kutarik sekeras-kerasnya dan secepat-cepatnya celanapendek itu beserta celana dalam pinknya.
Karena kakinyameronta terus, tak sengaja dia telah mengangkat pantatnya saataku meloncat mundur.
Celana pendek dan celana dalam pink itupun lolos dengan mudahnya sampai melewat dengkul Marta.
Astaga! Berhasil!Marta jadi setengah bugil.
Satu dua detik Marta pun sempatterkejut dan terdiam melihat situasi ini.
Kugunakan kelengahanitu untuk meloloskan sekalian celana pendek dan celanadalamnya dari kakinya, dan kulempar jauh-jauh.
Marta sadar,dia hendak vaginaik dan meronta lagi, namun aku telah siap.
Kali ini kubekap lagi mulutnya, dan kususupkan tubuhku diantara kakinya.
Posisi kaki Marta jadi menjepit tubuhku,karena dia sudah tak bercelana, aku bisa melihat vaginanyadengan kelentit yang cukup jelas.
Jembutnya hanya menutupibagian atas vagina.
Marta ternyata rajin merawat alatgenitalnya.
Pekikan Marta berhasil kutahan.
Sambil kutekan kepalanya disandaran sofa, aku berbisik,"Marta, kamu sudah kayak gini, kalau kamu teriak-teriak danorang-orang dateng, percaya enggak orang-orang kalau kamu lagisaya perkosa?"Marta tiba-tiba melemas.
Dia menyadari keadaan yang saat iniberbalik tak menguntungkan buatnya.
Kemudian dia hanyamenangis terisak.
Kubuka bekapanku di mulutnya, Marta cumaberujar sambil mengisak,"Dodi, Jangan diapa-apain saya.
Ampun, Di.
sayaenggak akan bilang Vina.
Beneran.
"Namun, keadaan sudah kepalang basah, syahwatku pun sudah diujung tanduk rasanya.
Aku menjawabnya dengan berusaha menciumbibirnya, namun dia memalingkan mukanya.
Tangan kanankulangsung saja menelusup ke selangkangannya.
Marta tak bisamengelak.
Ketika tanganku menyentuh halus permukaan vaginanya, saatitulah titik balik segalanya.
Marta seperti terhipnotis, taklagi bergerak, hanya menegang kaku, kemudian mendesis halustertahan.
Dia pun pasti tak sengaja mendesah.
Seperti mendapat angin, aku permainkan jari tengah dantelunjukku di vaginanya.
Aku permainkan kelentitnya denganujung-ujung jari tengahku.
Marta berusaha berontak, namunsetiap jariku bergerak dia mendesah.
Desahannya makin sulitditutupi saat jari tengahku masuk untuk pertama kali ke dalamvaginanya.
Kukocokkan perlahan vaginanya dengan jari tengahku,sambil kucoba untuk mencumbu lehernya.
"Jangan Dod," pintanya, namun dia tetap mendesah, lalumemejamkan mata, dan menengadahkan kepalanya ke langit-langit,membuatku leluasa mencumbui lehernya.
Dia tak meronta lagi,tangannya hanya terkulai lemas.
Sambil kukocok vaginanya danmencumbui lehernya, aku membuka resleting celanaku.
"Adik"-kuini memang sudah menegang sempurna sedari tadi, namun taksempat kuperlakukan dengan selayaknya.
Karena tubuhku telahberada di antara kakinya, mudah bagiku untuk mengarahkanpenisku ke vaginanya.
Marta sebetulnya masih dalam pergulatan batin.
Dia tak bisamengelak terjangan-terjangan nafsunya saat vaginanyadipermainkan, namun ia juga tak ingin kehilangan harga diri.
Jadilah dia sedikit meronta, menangis, namun jugamendesah-desah tak karuan.
Aku bisa membaca situasi ini karenadia tetap berusaha memberontak, namun vaginanya malah makinbasah.
Ini tanda dia tak mampu mengalahkan rangsangan.
Penisku mengarah ke vaginanya yang telah becek, saat kepalapenis bersentuhan dengan vagina, Marta masih sempat berusahaberkelit.
Namun, itu semua sia-sia karena tanganku langsungmemegangi pinggulnya.
Dan, kepala penisku pun masuk perlahan.
Vagina Marta seperti berkontraksi.
Marta tersadar,"Jangan..." teriaknya atau terdengar seperti rintihan.
Rasa hangat langsung menyusupi kepala penisku.
Kutekan sedikitlebih keras, Marta sedikit menjerit, setengah penisku telahmasuk.
Dan satu sentakan berikutnya, seluruh penisku telah adadi dalam vaginanya.
Marta hanya memejamkan mata danmenengadahkan muka saja.
Ia sedang mengalami kenikmatan tiadatara sekaligus perlawanan batin tak berujung.
Kugoyangkanperlahan pinggulku, penisku keluar masuk dengan lancarnya.
Terasa vagina Marta mengencang beberapa saat lalu mengendurlagi.
Tanganku mulai bergerilya ke arah buah dadanya.
Marta masihmengenakan kaos rumah.
Tak apa, toh tanganku bisa menyusup kedalam kaosnya dan menyelinap di balik BH dan mendapationggokan daging yang begitu kenyal dengan kulit yang terasabegitu halus.
Payudara Marta begitu pas di tanganku, tidakterlalu besar tapi tidak juga bisa dibilang kecil.
Kuremasperlahan, seirama dengan genjotan penisku di vaginanya.
Martahanya menoleh ke kanan dan ke kiri, tak mampu melakukanperlawanan.
Pinggulnya ternyata mulai mengikuti goyanganpinggulku.
Aku buka kaos Marta, kemudian BH-nya, Marta menurut.
Pemandangan setelah itu begitu indah.
Kulit Marta putihmenguning langsat dengan payudara yang kencang dan lingkarandi sekitar pentilnya berwarna merah jambu Pentil itu sendiriberwarna merah kecokelatan.
Tak menunggu lama, kubukakemejaku.
Aktivitas ini kulakukan sambil tetap menggoyanglembut pinggulku, membiarkan penisku merasai seluruh relungvagina Marta.
Sambil aku bergoyang, aku mengulum pentil di payudaranyadengan lembut.
Kumainkan pentil payudara sebelah kanannyadengan lidahku, namun seluruh permukaan bibirku membentukhuruf O dan melekat di payudaranya.
Ini semua membuat Martamendesah lepas, tak tertahan lagi.
Aku mulai mengencangkan goyanganku.
Marta mulai makin seringmenegang, dan mengeluarkan rintihan, "Ah... ah..."Dalam goyangan yang begitu cepat dan intens, tiba-tiba keduatangan Marta yang sedang mencengkeram jok kursi malahmenjambak kepalaku.
"Aaahhh," lenguhan panjang dan dalam keluardari mulut mungil Marta.
Ia sampai pada puncaknya.
Lalutangan-tangan yang menjambak rambutku itu pun terkulai lemasdi pundakku.
Aku makin intens menggoyang pinggulku.
Kurasakanpenisku berdenyut makin keras dan sering.
Bibir Marta yang tak bisa menutup karena menahan kenikmatanitu pun kulumat, dan tidak seperti sebelum-sebelumnya, kaliini Marta membalasnya dengan lumatan juga.
Kami salingberpagut mesra sambil bergoyang.
Tangan kananku tetap beradadi payudaranya, meremas-remas, dan sesekali mempermainkanputingnya.
Vagina Marta kali ini cukup terasa mencengkeram penisku,sementara denyut di penisku pun semakin hebat.
"Uhhh," aku mengejang.
Satu pelukan erat, dan sentakan keras,penisku menghujam keras ke dalam vaginanya, mengiringimuncratnya spermaku ke dalam liang rahimnya.
Tepat saat itu juga Marta memelukku erat sekali, mengejang,dan menjerit, "Aahhh".
Kemudian pelukannya melemas.
Diamengalami ejakulasi untuk kedua kalinya, namun kali iniberbarengan dengan ejakulasiku.
Marta terkulai di sofa, danaku pun tidur telentang di karpet.
Aku telah memperkosanya.
Marta awalnya tak terima, namun sisi sensitif yangmembangkitkan libidonya tak sengaja kudapatkan, yaitu usapandi vaginanya.
Ternyata, dia sudah pernah bercinta dengan kekasihnyaterdahulu.
Dia hanya tak menyangka, aku-pacar adiknya malahmenjadi orang kedua yang menyetubuhinya.
Grrreeekkk.
Suara pagar dibuka.
Vina datang! Astaga! aku danMarta masih bugil di ruang tamu, dengan baju dan celana yangterlempar berserakan ....TAMAT .
Sumber:Internet