Gelap

Petualang Sunyi

🇮🇩 Indonesia
Kecepatan: 1.0x
Status: Siap
×

Bantuan pengaturan pemutaran

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tapi tetap tidak bisa putar, cek pengaturan Ponsel/PC Anda.
Pastikan mesin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin Anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lainya

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Pengaturan > Aksesibilitas > Keluaran Teks-ke-Suara.
Jika tidak ada, Pengaturan > kotak pencarian di atas > masukan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih text-ke-suara atau text-ke-ucapan, atau yang mirip itu.
Untuk menambahkan bahasa, klik ikon gear ⚙ > install data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Pengaturan > Aksesibilitas > Konten yang Diucapkan/Konten lisan
Atau pengaturan > kotak pencarian di atas > masukan "konten yang di ucapkan/konten lisan" enter
Untuk tambahkan bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Pengaturan Sistem > Aksesibilitas > Konten yang Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mulai > Pengaturan > Waktu & Bahasa > Ucapan atau Speech.
Windows 7 & 8
Control Panel > Ease of Acces > Speech Recognition > Text to Speech
Windows XP
Start > Control Panel > Sounds, Speech, and Audio Devices > Speech
Windows 2000 & ME
Start > Settings > Control Panel > Speech
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Harap cari pengaturan untuk aktifkan text-to-speech di mesin pencari, seperti Google, Bing, dll

Catatan Untuk saat ini, halaman ini bekerja sesuai mesin dari perangkat anda.
Jadi suara yang di hasilkan, mengikuti mesin TTS dari perangkat anda.

Petualang Sunyi

. . . . . . . . . PETUALANG SUNYI. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . by. . . . . . PETUALANG SUNYI Untuk: Kekasih-kekasih gelapku di mana pun kalian berada. Aku mencintai Kalian. Setulus hati Bagian Satu​. Malam itu dingin sekali.
Usai membuat laporan mingguan dan mengirimkannya via email ke Grand Manajer Pusat di Jakarta, Aditya mematikan komputernya.
Dia menggeliat sebentar, melemaskan badannya yang terasa pegal lalu ke luar dari ruang kerjanya dan melihat Suparno tengah mematikan lampu-lampu di lantai 2.
Beberapa costumer masih ada yang memilih-milih belanjaan di lantai satu.
Satpam Asep dengan sopan mendekati para kastamer dan memberi tahu beberapa menit lagi toko akan tutup.
Kasir nomor 4, Susi, tampak sedikit kesal menunggu pelanggan terakhir.
3 Kasir lainnya sudah memperbaiki riasan wajahnya masing-masing dan bersiap-siap untuk pulang.
Adit menunggu sampai kastamer terakhir membayar di kasir.
Setelah menempuh beberapa prosedur penutupan toko, Adit memastikan 4 orang Satpam yang giliran jaga malam berada di tempatnya masing-masing.
“Saya pulang ya Pak Atmo.
” Kata Adit kepada Satpam Senior yang sudah bekerja di PT Retail Indonesia ini selama hampir 20 tahun.
“Siap, komandan.
” Jawabnya dengan penuh hormat.
Adit mengangguk.
Dia mengenakan blazer hitam kasualnya dan melangkah meninggalkan supermarket di kawasan Bandung Timur itu dengan langkah tenang.
Dia menyusuri trotoar jalanan yang mulai sepi sejauh beberapa puluh meter dan berhenti di depan jongko pedagang kaki lima yang menjual Gule Kaki Sapi.
Jongko itu penuh dengan para pembeli.
Sang penjual Gule tersenyum kepada Adit yang sudah menjadi pelanggannya sejak satu bulan lalu.
Adit menunjukkan jarinya minta dibungkus.
Jika jongko itu tidak penuh, biasanya Adit akan mengambil tempat duduk di pinggir dan menunggu pesanan sambil memainkan smartphone.
Tring.
Adit merogoh saku blazzernya dan melihat pesan whatsapp di HPnya.
Dari Pak Sasongko, Grand Manajer Pusat.
“Resume penjualannya bagus.
Trims.
” “Sama-sama, Pak.
Siap.
” Dia menjawab.
Seorang lelaki bermata juling melirik ke arah HP terbaru yang dimasukkan Adit ke dalam saku blazzernya dari ujung jalan.
Lelaki juling itu menggerakkan tangannya memberi kode tertentu kepada 2 orang temannya yang lain.
Dia kemudian melangkah cepat untuk menemukan ke 2 temannya.
“HP mahal, android terbaru.
” Katanya.
“Kita sikat di mulut gang.
” Jawab yang lain.
“Ayo kita sembunyi.
” Kata yang lainnya.
Selesai membayar, Adit melangkah meninggalkan jongko kaki lima itu dan menyusuri trotoar sejauh 50 meter.
Gang kecil yang gelap itu sudah terlihat beberapa meter sebelum Adit memasukinya.
Lebarnya hanya satu meter.
Di kiri dan kanan gang itu berdiri kokoh dua bangunan besar yang merupakan bangunan perkantoran swasta.
Tanpa curiga, lelaki dengan tinggi 175 cm memasuki gang itu yang akan menuntunnya menuju rumah kontrakannya berada.
Sudah satu bulan Adit dipromosikan menjadi manajer toko di Supermarket ini.
Sudah satu bulan pula setiap malam dia melewati gang itu dan tak pernah terjadi apa pun.
Pada dasarnya, lingkungan di situ aman-aman saja.
Gang gelap itu panjangnya 25 meter sampai di ujung belokan ke arah kiri.
Jika nanti tiba di belokan gang, suasananya akan berubah.
Sepanjang gang sesudah belokan akan terang benderang oleh lampu-lampu yang dinyalakan di tiap-tiap rumah penduduk.
Tapi gang gelap itu mau tidak mau harus dilewati dulu.
Adit memasuki gang itu dengan tangan kiri menjinjing kantung kresek berisi Gule Kaki Sapi yang dibungkus dalam plastik transparan, kerupuk udang serta dua bungkus nasi porsi jumbo.
Ketika berada di pertengahan gang, dia merasa ada seseorang yang mengikutinya dari belakang.
Lalu tiba-tiba ada dua orang yang berdiri di gang dan menghalanginya.
Seketika intuisinya mengatakan ada sesuatu yang tak beres.
Ada bahaya.
Matanya yang tajam mengawasi dua orang di depannya.
Salah satu di antara mereka membawa pisau belati.
“Hm, bocah-bocah yang tengah belajar jadi kriminal.
” Bisik Adit dalam hatinya.
Gang itu gelap dan sepi.
Sesekali cahaya lampu mobil yang berlari di jalan raya menerangi.
“Berikan HP dan dompet.
” Kata Salah seorang bocah yang diperkirakan berusia 16 tahunan.
“Cepat anjing!” Kata Salah seorang yang lain sambil menodongkan pisau.
Tiba-tiba orang yang berada di belakang Adit menerkam dan mencekik leher manajer muda berusia 25 tahun itu.
“Cepat! Atau nyawamu akan melayang!” Ancamnya.
Sebuah lengan yang kurus segera menjepit lehernya dan Adit merasakan bau busuk orang yang tak pernah mandi selama berhari-hari di belakangnya.
Kedua orang itu maju serentak dan akan berniat mengerubuti Adit.
Cuih! Adit meludahi orang yang ada di depannya.
Dengan tangan kirinya masih menjinjing kantong kresek berisi makan malamnya, Adit menekuk lututnya ke bawah dengan cepat dan tangan kanannya bergerak ke belakang untuk meraih baju leher orang yang sedang mencekiknya di kuduknya.
Hanya dengan sekali tarikan tangan dan dorongan punggungnya, orang yang mencekiknya segera saja terbanting memutar dan menghantam ke dua orang temannya yang merangsek maju.
Pisau yang ditodongkan itu tanpa ampun menancap di paha temannya sendiri.
“Aduh siah anjing!” Kata orang yang tertancap belati di pahanya itu menjerit kesakitan.
Satu gebrakan yang berlangsung satu detik itu cukup untuk melumpuhkan tiga bocah pengeroyoknya.
Mereka terjerembab di aspal gang dalam keadaan sedikit pusing akibat saling bertubrukan.
Atau tepatnya, akibat ditubruk oleh temannya yang lain yang dilemparkan Adit dengan tehnik bantingan Judo tingkat tinggi.
Lalu menyusul 3 buah hadiah tempeleng di pipi masing-masing bocah, membuat pipi mereka panas dan pedas.
Mereka pun meringis kesakitan.
Adit menarik dompetnya dan megeluarkan uang 50 ribu, lalu melemparkan kepada salah seorang bocah.
“Obati temenmu, jangan sampai infeksi.
Lain kali, kalau kita ketemu lagi seperti ini, aku tidak akan bersikap ramah.
Paham?” Tak ada jawaban.
Adit melangkahi tubuh mereka yang bergelimpangan di aspal gang dan meneruskan langkahnya menuju rumah kontrakannya.
Tapi kali ini sambil bersiul-siul tidak jelas.
*** .
Sumber:Internet