Gelap

Aduh Ayah!!

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Aduh Ayah!!

. . Aku adalah anak tunggal.
Ibuku adalah seorang wanita yang disiplin danagak keras sedangkan ayahku kebalikannya bahkan bisa dikatakan bahwaayah di bawah bendera ibu.
Bisa dikatakan ibulah yang lebih mengatursegala-galanya dalam keluarga.
Namun, walaupun ibu keras, di luar rumahaku termasuk cewek bandel dan sering tukar-tukar pacar, tentunya tanpasepengetahuan ibuku.
Tapi suatu saat, pada saat aku duduk di kelas 2SMA, ibuku pergi mengunjungi nenek yang sakit di kampung.
Dia akantinggal di sana selama 2 minggu.
Hatiku bersorak.
Aku akan bisa bebas dirumah.
Tak akan ada yang memaksa-maksa untuk belajar.
Aku juga bebaspulang sore.
Kalau Ayah, yah.. dia selalu kerja sampai hampir malam.
Pulang sekolah, aku mengajak pacarku, Anton, ke rumah.
Aku sudahbeberapa kali mengadakan hubungan kelamin dengannya.
Tetapi hubungantersebut tidak pernah betul-betul nikmat.
Selalu dilakukan buru-burusehingga aku tidak pernah orgasme.
Aku penasaran, bagaimana sihnikmatnya orgasme?Singkat cerita, aku dan Anton sudah berada di ruang tengah.
Kami merasabebas.
Jam masih menunjukkan angka 3:00 sedangkan ayah selalu pulangpukul enam lewat.
So, cukup waktu untuk memuaskan berahi.
Kami duduk disofa.
Anton dengan segera melumat bibirku.
Kurasakan hangatnya bibirnya.
"Ah.." kurangkul tanganku ke lehernya.
Ciumannya semakin dalam.
Kinilidahnya yang mempermainkan lidahku.
Tangannya pun mulai bermain dikedua bukitku.
Aku benar-benar terangsang.
Aku sudah bisa merasakanbahwa vaginaku sudah mulai basah.
Segera kujulurkan tanganku ke perutbawahnya.
Aku merasakan bahwa daerah itu sudah bengkak dan keras.
Kucobamembuka reitsleting celananya tapi agak susah.
Dengan segera Antonmembukakannya untukku.
Bagai tak ingin membuang waktu, secara bersamaan,aku pun membuka kemeja sekolahku sekaligus BH-ku tapi tanpa mengalihkanperhatianku pada Anton.
Kulihat segera sesudah CD Anton lepas,senjatanya sudah tegang, siap berperang.
Kami berpelukan lagi.
Kali ini, tanganku bebas memegang burungnya.
Tidakbegitu besar, tapi cukup keras dan berdiri dengan tegangnya.
Kuelus-elussejenak.
Kedua telurnya yang dibungkus kulit yang sangat lembut, sungguhmenimbulkan sensasi tersendiri saat kuraba dengan lembut.
Penisnyakemerah-merahan, dengan kepala seperti topi baja.
Di ujungnya berlubang.
Kukuakkan lubang kecil itu, lalu kujulurkan ujung lidahku ke dalam.
Anton melenguh.
Expresi wajahnya membuatku semakin bergairah.
"Ah.."kumasukkan saja batang itu ke mulutku.
Anton melepaskan celana dalamkulalu mempermainkan vaginaku dengan jarinya.
Terasa sentuhan jarinyadiantara kedua bibir kemaluanku.
Dikilik-kiliknya klitorisku.
Aku makinbernafsu.
Kuhisap batangnya.
Kujilati kepala penisnya, sambil tangankumempermainkan telurnya dengan lembut.
Kadang kugigit kulit telurnyadengan lembut.
"Nit, pindah di lantai saja yuk, lebih bebas!"Tanpa menunggu jawabanku, dia sudah menggendongku dan membaringkanku dilantai berkarpet tebal dan bersih.
Dibukanya rok abu-abuku, yang tinggalsatu-satunya melekat di tubuhku, demikian juga kemejanya.
Sekarang akudan dia betul-betul bugil.
Aku makin menyukai suasana ini.
Kutunggu, apayang akan dilakukannya selanjutnya.
Ternyata Anton naik ke atas tubuhkudengan posisi terbalik, 69.
Dikangkangkannya pahaku.
Selanjutnya yangkurasakan adalah jilatan-jilatan lidahnya yang panas di permukaanvaginaku.
Bukan itu saja, klitorisku dihisapnya, sesekali lidahnyaditenggelamkannya ke lubangku.
Sementara batangnya tetap kuhisap.
Akusudah tidak tahan lagi.
"Ton, ayo masukin saja.
""Sebentar lagi Nitt.
""Ah.. aku nggak tahan lagi, aku mau batangmu, please!"Anton memutar haluan.
Digosok-gosokannya kepala penisnya sebentar lalu.."Bless.." batang itu masuk dengan mantap.
Tak perlu diolesi ludah untukmemperlancar, vaginaku sudah banjir.
Amboy, nikmat sekali.
Disodok-sodok, maju mundur.. maju mundur.
Aku tidak tinggal diam.
Kugoyang-goyang juga pantatku.
Kadang kakiku kulingkarkan ke pinggangnya.
Tiba-tiba, "Ah.. aku keluar.." Dicabutnya penisnya dan spermanyaberceceran di atas perutku.
"Shit! Sama saja, aku belum puas, dia sudah muntah," rungutku dalam hati.
Tapi aku berpikir, "Ah, tak mengapa, babak kedua pasti ada.
"Dugaanku meleset.
Anton berpakaian.
"Nit, sorry yah.. aku baru ingat.
Hari ini rupanya aku harus latihanband, udah agak telat nih," dia berpakaian dengan buru-buru.
Akubetul-betul kecewa.
"Kurang ajar anak ini.
Dasar egois, emangnya aku lonte, cuman memuaskankamu saja.
"Aku betul-betul kecewa dan berjanji dalam hati tak akan mau /main/ lagidengannya.
Karena kesal, kubiarkan dia pergi.
Aku berbaring saja disofa, tanpa mempedulikan kepergiannya, bahkan aku berbaring denganmembelakanginya, wajahku kuarahkan ke sandaran sofa.
Kemudian aku mendengar suara langkah mendekat.
"Ngapain lagi si kurang ajar ini kembali," pikirku.
Tapi aku memasanggaya cuek.
Kurasakan pundakku dicolek.
Aku tetap cuek.
"Nita!"Oh.. ini bukan suara Anton.
Aku bagai disambar petir.
Aku masihtelanjang bulat.
"Ayah!" aku sungguh-sungguh ketakutan, malu, cemas, pokoknya hampir mati.
"Dasar bedebah, rupanya kamu sudah biasa main begituan yah.
Janganmembantah.
Ayah lihat kamu bersetubuh dengan lelaki itu.
Biar kamu tahu,ini harus dilaporkan sama ibumu.
"Aku makin ketakutan, kupeluk lutut ayahku, "Yah.. jangan Yah, aku maudihukum apa saja, asal jangan diberitahu sama orang lain terutama Mama,"aku menangis memohon.
Tiba-tiba, ayah mengangkatku ke sofa.
Kulihat wajahnya makin melembut.
"Nit, Ayah tahu kamu tidak puas barusan.
Waktu Ayah masuk, Ayah dengarsuara-suara desahan aneh, jadi Ayah jalan pelan-pelan saja, dan Ayahlihat dari balik pintu, kamu sedang dientoti lelaki itu, jadi Ayah intipaja sampai siap mainnya.
"Aku diam aja tak menyahut.
"Nit, kalau kamu mau Ayah puasin, maka rahasiamu tak akan terbongkar.
""Sungguh?"Ayah tak menjawab, tapi mulutnya sudah mencium susuku.
Dijilatinyapermukaan payudaraku, digigitnya pelan-pelan putingku.
Sementaratangannya sudah menjelajahi bagian bawahku yang masih basah.
Ayah segeramembuka bajunya.
Langsung seluruhnya.
Aku terkejut.
Kulihat penis ayahkujauh lebih besar, jauh lebih panjang dari penis si Anton.
Tak tahu akuberapa ukurannya, yang jelas panjang, besar, mendongak, keras, hitam,berurat, berbulu lebat.
Bahkan antara pusat dan kemaluannya juga berbuluhalus.
Beda benar dengan Anton.
Melihat ini saja aku sudah bergetar.
Kemudian Aku didudukkannya di sofa.
Pahaku dibukanya lebar-lebar.
Diaberlutut di hadapanku lalu kepalanya berada diantara kedua pangkalpahaku.
Tiba-tiba lidah hangat sudah menggesek ke dalam vaginaku.
Aduh,lidah ayahku menjilati vaginaku.
Dia menjilat lebih lihai, lebih lembut.
Jilatannya dari bawah ke atas berulang-ulang.
Kadang hanya klitoriskusaja yang dijilatinya.
Dihisapinya, bahkan digigit-gigit kecil.
Dijilatilagi.
Dijilati lagi.
"Oh.. oh.. enak, Yah di situ Yah, enak, nikmatYah," tanpa sadar, aku tidak malu lagi mendesah jorok begitu di hadapanayahku.
Ayah "memakan" vaginaku cukup lama.
Tiba-tiba, aku merasakannikmat yang sangat dahsyat, yang tak pernah kumiliki sebelumnya.
"Oh.. begini rupanya orgasme, nikmatnya," aku tiba-tiba merasa lemas.
Ayah mungkin tahu kalau aku sudah orgasme, maka dihentikannya menjilatlubang kewanitaanku.
Kini dia berdiri, tepat di hadapan hidungku,penisnya yang besar itu menengadah.
Dengan posisi, ayah berdiri dan akududuk di sofa, kumasukkan batang ayahku ke mulutku.
Kuhisap, kujilat dankugigit pelan.
Kusedot dan kuhisap lagi.
Begitu kulakukanberulang-ulang.
Ayah ikut menggoyangkan pantatnya, sehingga batangnyaterkadang masuk terlalu dalam, sehingga bisa kurasakan kepala penisnyamenyentuh kerongkonganku.
Aku kembali sangat bergairah merasakan kerasdan besarnya batang itu di dalam mulutku.
Aku ingin segera ayah memasukilubangku, tapi aku malu memintanya.
Lubangku sudah betul-betul ingin"menelan" batang yang besar dan panjang.
Tiba-tiba ayah menyeruhku berdiri.
"Mau main berdiri ini," pikirku.
Rupanya tidak.
Ayah berbaring di sofa dan mengangkatku ke atasnya.
"Masukkan Nit!" ujar Ayah.
Kuraih batang itu lalu kuarahkan ke vaginaku.
Ah.. sedikit sakit danagak susah masuknya, tapi ayah menyodokkan pantatnya ke depan.
"Aduh pelan-pelan, Ayah.
"Lalu berhenti sejenak, tapi batang itu sudah tenggelam setengah akibatsodokan ayah tadi.
Kugoyang perlahan.
Dengan perlahan pula batang itusemakin masuk dan semakin masuk.
Ajaibnya semakin masuk, semakin nikmat.
Lubang vaginaku betul-betul terasa penuh.
Nikmat rasanya.
Karenadikuasai nafsu, rasa maluku sudah hilang.
Kusetubuhi ayahku denganrakus.
Ekspresi ayahku makin menambah nafsuku.
Remasan tangan ayahku dikedua payudaraku semakin menimbulkan rasa nikmat.
Kogoyang pantatkudengan irama keras dan cepat.
Tiba-tiba, aku mau orgasme, tapi ayah berkata, "Stop! Kita ganti posisi.
Kamu nungging dulu.
""Mau apa ini?" pikirku.
Tiba-tiba kurasakan gesekan kepala penis di permukaan lubangkukemudian.. "Bless.." batang itu masuk ke lubangku.
Yang begini belumpernah kurasakan.
Anton tak pernah memperlakukanku begini, begitu jugaMuklis, lelaki yang mengambil perawanku.
Tapi yang begini ini rasanyaselangit.
Tak terkatakan nikmatnya.
Hujaman-hujaman batang itu terasamenggesek seluruh liang kewanitaanku, bahkan hantaman kepala penisitupun terasa membentur dasar vaginaku, yang membuatku merasa semakinnikmat.
Kurasakan sodokan ayah makin keras dan makin cepat.
Perasaanyang kudapat pun makin lama makin nikmat.
Makin nikmat, makin nikmat,dan makin nikmat.
Tiba-tiba, "Auh..oh.. oh..!" kenikmatan itu meladak.
Aku orgasme untukyang kedua kalinya.
Hentakan ayah makin cepat saja, tiba-tiba kudengardesahan panjangnya.
Seiring dengan itu dicabutnya penisnya dari lubangvaginaku.
Dengan gerakan cepat, ayah sudah berada di depanku.
Disodorkannya batangnya ke mulutku.
Dengan cepat kutangkap, kukulum dankumaju-mundurkan mulutku dengan cepat.
Tiba-tiba kurasakan semburansperma panas di dalam mulutku.
Aku tak peduli.
Terus kuhisap dankuhisap.
Sebagian sperma tertelan olehku, sebagian lagi kukeluarkan,lalu jatuh dan meleleh memenuhi daguku.
Ayah memelukku dan menciumku,"Nit, kapan-kapan, kalau nggak ada Mama, kita main lagi yah.
" Aku takmenjawab.
Sebagai jawaban, aku menggelayut dalam pelukan ayahku.
Yangjelas aku pasti mau.
Dengan pacarku aku tak pernah merasakan orgasme.
Dengan ayah, sekali main orgasme dua kali.
Siapa yang mau menolak?Sesudah itu asal ada kesempatan, kami melakukannya lagi.
Sementara mamamasih sering marah, dengan nada tinggi, berusaha mengajarkan disiplin.
Biasanya aku diam saja, pura-pura patuh.
Padahal suaminya, yang menjadiayahku itu, sering kugeluti dan kunikmati.
Beginilah kisah permainankudengan ayahku yang pendiam, tetapi sangat pintar di atas ranjang.
. . . .
Sumber:Internet