. Dan tak henti-hentinya dia menciumku, menggigil rambutku dan paling suka menggigil keketku.
Aku merasakan pejunya yang bercampur dengan cairan memekku mengalir keluar.
Setelah cukup mensyaratkan dan saling meyakinkan, pelan-pelan kon tol yang telah menghantarkan aku ke awang awang itu dicabut sambil dia menciumku.
Tak lama kemudian tertidurlah aku dalam pelukannya, merasa nyaman dan benar-benar aku terpuaskan dan merasakan apa yang selama ini hanya kubayangkan saja.
Aku bangun masih dalam pelukannya.
Katanya aku tidur nyenyak sekali, sambil membekukan rambutku.
Hari dah menjelang sore.
Kurang lebih setengah jam kami berbaring berdampingan.
Ia lalu mengajakku mandi.
Dibimbingnya aku ke kamar mandi, saat berjalan rasanya masih ada yang mengganjal memekku dan ternyata masih ada peju yang mengalir di pahaku, mungkin saking banyaknya dia mengekretkan pejunya di dalam memekku.
Dalam bathtub yang berisi air hangat, aku duduk di atas pahanya.
Dia mengusap-usap menyabuni punggungku, dan akupun menyabuni punggungku.
Dia memelukku sangat erat hingga menekan toketku.
Sesekali aku menggeliatkan badanku sehingga pentilku bergesekan dengan dada yang berbulu dan diisi busa sabun.
Pentilku semakin mengeras.
Pangkal pahaku yang terendam air hangat tersenggol2 tititnya.
Hal itu menyebabkan napsuku mulai berkobar kembali.
Aku di tariknya sehingga menempel lebih erat ke tubuhnya.
Dia menyabuni punggungku.
Sambil mengusap-usapkan busa sabun, tangan terus menyusur hingga tenggelam ke dalam air.
Dia mengusap-usap pantatku dan diremasnya.
kon tolnya pun mulai ngaceng ketika menyentuh memekku.
Terasa bibir luar memekku bergesekan dengan kon tolnya.
Dengan usapan yang lembut, tapak tangan terus menerus menyentuh pantatku.
Dia mengusap beberapa kali hingga ujung jempol menyentuh lipatan daging antara lubang pantat dan memekku.
“mamang nakal!” desahku sambil menggeliat mengangkat pinggulku.
Walau tengkukku basah, aku merasakan bulu roma di tengkukku meremang akibat nikmat dan geli yang mengalir dari memekku.
Aku menggeliatkan pinggulku.
Ia mengecup leherku berulang kali sambil menyentuh bagian bawah bibir memekku.
Tak lama kemudian, tangannya semakin jauh menyusur hingga akhirnya kurasakan lipatan bibir luar memekku diusap-usap.
Dia berulang kali mengecup leherku.
Sesekali lidahnya menjilat, sesekali menggigit dengan gemas.
”Aarrgghh.. rintihku berulang kali.
Lalu aku bangkit dari pangkuannya.
Aku tak ingin nyampe hanya karena jari yang terasa kesat di memekku.
Tapi ketika berdiri, kedua lututku terasa goyah.
Dengan cepat dia pun bangkit berdiri dan segera membekukan tubuhku.
Dia tak ingin aku terjatuh.
Dia menyangga punggungku dengan payudara.
Lalu diusapkannya kembali cairan sabun ke perutku.
Dia menggerakkan tangan keatas, meremas dengan lembut kedua toketku dan pentil ku dijepit2 dengan jempol dan telunjuknya.
Pentil kiri dan kanan diremas secara bersamaan.
Lalu dia mengusap semakin ke atas dan berhenti di leherku.
“Mang, lama amat menyabuninya” rintihku sambil menggeliatkan pinggulku.
Aku merasakan kon tolnya semakin keras dan besar.
Hal itu dapat kurasakan karena kon tolnya semakin terselip di pantatku.
Tangan kiriku segera meluncur ke bawah, lalu meremas biji pelernya dengan gemas.
Dia menggerakkan telapak tangan ke arah pangkal pahaku.
Sumber:Internet