. Malam itu, petir menggelegar mengiringi derasnya hujan yang mengguyur dusun Losawah.
Ditengah suasana malam yang dingin dan sunyi itu, Tono kecil terbangun dari tidurnya.
Ia tak tahu jam berapa itu, yang pasti terlalu larut untuk anak seumuran dia terbangun.
Namun ia tak peduli, kebelet pipis memaksanya bahkan untuk pergi ke kamar mandi yang letaknya di belakang rumah.
Tono kecil turun dari tempat tidurnya, bergegas keluar kamar, dan langsung membuka pintu samping rumah yang mana lebih dekat dengan kamarnya.
Di ambang pintu itu dia mengeluarkan pipisnya yang langsung mancur jatuh tergenang bersama air hujan.
Selang beberapa waktu dirasa hampir habis, ia menggoyangkan sedikit tititnya untuk menuntaskan sisa-sisa saat ia ingin menaikan lagi celana kolornya, di semak-semak ia melihat sesuatu bergerak-gerak.
Meskipun masih dalam keadaan setengah ngantuk, Tono kecil penasaran kenapa semak-semak yang terletak di antara rumahnya dan tetangganya itu bergoyang-goyang.
Ditengah guyuran hujan lebat dan deru geledek, sesosok tubuh putih pucat muncul dari balik semak-semak.
Tubuhnya kecil mirip anak-anak.
"Mungkin begitu batin Tono.
Kepalanya botak, kulitnya pucat, dan anehnya kok dia cuma pakai cawat yang lebih mirip popok bayi.
Makhluk itu kemudian menoleh kearah Tono kecil, wajah makhluk itu sepucat kulitnya, dengan mata bulat hitam kelam dan telinga sedikit runcing seperti peri dalam dongeng yang sering ia baca di buku.
Makhluk itu tersenyum, lebih tepat dikatakan menyeringai sebenarnya, menampakan gigi-gigi tajamnya, tepat kearah Tono dan masih dengan tatapan kosongnya.
Sebelum sempat Tono berpikir lebih jauh, makhluk tersebut lari secepat kilat dan hilang begitu saja seperti ditelan hujan.
Tono kecil cuma bisa melongo, tidak tau apa yang barusan terjadi.
Ia mengucek-ucek matanya memastikan ini bukan mimpi.
Entah apa itu tadi, satu hal yang pasti adalah dia punya bahan cerita heboh yang bisa diceritakan pada teman-temanya di sekolah besok pagi.
Pagi cerah di dusun Losawah, matahari menyinari tanah dan dedaunan basah bekas hujan semalam.
Masih sekitar pukul 7 pagi, setiap warga sibuk dengan aktifitas harianya.
"Sayure bu... teriak Totok, tukang sayur andalan dusun Losawah yang setiap pagi giat mengitari kampung sambil mendorong gerobak sayurnya.
"Tok, ada kangkung ndak kowe?", seorang ibu-ibu bertubuh gempal langsung menghampiri dan mengubek-ubek isi gerobak Totok.
"Oh ya tentu ada tho, Bu Denok...".
Tak lama kemudian datang satu persatu ibu-ibu langganan sayur Totok.
Gerobak Totok pun jadi rame seperti biasa.
"Seger-seger ndak?""Wah, masa iya Totok ndak bawa yang seger Bu, hehehe", cengir Totok dengan pedenya.
"Alah, gayamu kuwi...", cemooh Bu Denok sambil tetap memilah kangkung dan wortel.
"Kalo gosip yang seger ada ndak?", timpal Bu Mimin sembari memilih ikan asin.
Seketika ibu-ibu lainnya langsung berbinar matanya, ya karena memang ini yang ditunggu-tunggu, menu segar utama di pagi hari adalah gosip ibu-ibu.
Dan sumber utamanya tentu saja Totok si tukang sayur, secara dia orang yang paling pagi mengitari kampung, berdagang sambil mendengar celotehan ibu-ibu.
Alhasil dia tau segala obrolan fresh seputar kampung, ditambah mulutnya yang penuh bumbu gosip, jadilah ia infotainment berjalan.
"Ooo lhadalah ibu-ibu ini, beli sayur wae belum, udah minta go kata Totok.
"Wis tho, ada ndak? Kalo ada, tak beli dobel deh ini daging sapinya", jawab seorang ibu yang biasa dipanggil Yu Jum.
"Iya nih, Tok, kalo gosipmu yahud, kangkungmu tak beli banyak deh, ya ndak Jeng Yenni?", timpal Bu Denok sambil menyenggol bahu perempuan kurus di sampingnya.
Sumber:Internet