. Beberapa hari berlalu setelah kejadian Mbah Jenggot yang disatroni oleh Yono dan teman-temanya.
Keadaan fisik Mbah Jenggot yang babak belurpun sudah bukan menjadi masalah.
Sebagai dukun, ia tau bermacam ramuan yang dapat mempercepat proses penyembuhan.
Begitu juga dengan keadaan gubuk reotnya yang semula diobrak abrik oleh ketiga pengojek itu kini nampak sudah tertata kembali.
Semua ini tidak lepas juga berkat sedikit bantuan dari Farah yang begitu peduli dan merawat gubuk Mbah Jenggot seperti rumahnya sendiri.
Sedianya bagaikan ibu rumah tangga, sejak kehadiran Farah, Mbah Jenggot serasa menjadi seorang suami.
Semua kebutuhan hari-harinya seperti memasak, bersih-bersih dan lain-lain menjadi teratur.
Termasuk juga kebutuhan biologis keduanya.
Hampir setiap ada waktu luang mereka melakukan persetubuhan yang membara.
Tak peduli sedang berada di mana, di dalam gubuk, di semak-semak, dibawah pohon, juga salah satu tempat favorit mereka, sendang toyowengi, menjadi saksi bisu pergulatan gairah menggebu kedua manusia itu.
Bentuk fisik Farah yang menggoda memang selalu bisa memanjakan nafsu bejat dukun tua yang tersohor namanya di kaki bukit gunung kidul itu.
Berbagai macam aktivitas mesum yang mereka lakukan sanggup memuaskan keduanya.
Selain itu sifat Farah yang patuh, murah hati, dan belakangan ini sedikit genit membuat Mbah Jenggot memiliki rasa lebih dari sekedar nafsu.
Dukun itu mulai timbul rasa peduli dan ingin melindungi Farah, semacam rasa sayang.
Sudah hampir sebulan juga Farah berdiam di kaki bukit gunung kidul demi mencapai tujuanya mengambil pesugihan tuyul.
Kulit tubuhnya juga semakin nampak montok dan kencang.
Benih tuyul yang tertanam dalam rahimnya tumbuh subur akibat setiap harinya disiram oleh peju kental Mbah Jenggot.
Seperti pagi itu, sama dengan pagi-pagi sebelumnya, Mbah Jenggot sedang buas-buasnya mengentot badan montok Farah diatas dipan kayu beralaskan kain.
"KRIET... KRIET... KRIET...", bunyi ranjang yang berdecit-decit akibat genjotan-genjotan kasar Mbah Jenggot pada tubuh Farah yang menungging.
"SPLOK SPLOK SPLOK SPLOK SPLOK SPLOK SPLOK SPLOK SPLOK SPLOK", suara tumbukan paha keriput Mbah Jenggot menabrak-nabrak pantat bahenol Farah bagaikan binatang yang sedang mengawini betinanya.
"AAAAAAHHH OOUUU AAH AAH AH AH AH AH AH AH AWWH...""KHUEKHEKHEHKHEK Oooogh lihat Nduukk... kontolku menojos-nojos memek gundulmuuu!! ooogh""AAWH AWH... AAAAHHHHH Mana Farah bisssah lihaat mbaagh... awh... Farah kan nungging... ndak klia AAAWH""SPLOK SPLOK SPLOK SPLOK SPLOK SPLOK SPLOK""Lagiaann... Si Mbaa bukanyaa tadi wis ngecroot banyak di memek Farah ampe meluberrr... ooogg kok kontolnya masih kuat ngentot lagi aaaiihhh""Huekhekhek abisnya kalo liat badanmu yang semlohay, Mbah ndak tahan nduk... kayaknya goheman (sayang-sayang) kalo dianggurin... Oooghhh NGENTTOTTT!! HNGGGH NGGGH"Sambil mendengus-dengus, Mbah Jenggot mencengkeram erat-erat pantat bulat Farah yang daging kenyalnya memantul-mantul seiring sodokanya.
Sepertinya kakek tua itu sedang mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa untuk menumbuk habis daging kemaluan Farah.
Apalagi dilihatnya dari atas rambut hitam ikal Farah yang awut-awutan dan punggung mulusnya yang berkeringat membuat janda tanpa anak itu semakin seksi.
Maka ia lepaskan tangan kananya dari bokong Farah dan meraih rambut Farah.
Sementara tangan kirinya masih meremas bulatan putih itu, ia tarik rambut Farah dengan tangan kananya, membuat Farah mendongak dan menjerit.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAWWWWWWHHH"UOOOOGH HNGGGH HNNGHH HNGGGH MEMEKMU KOK MAKIN KETAT NDUUUKKK OOOOGH""SPLOK SPLOK SPLOK SPLOK SPLOK SPLOK SPLOK""NGGGH ooogh... kayaknya memekmu suka kalo dikasarin kayak giniii ooghh!"
Sumber:Internet