. Mendung bergelayut di langit makam umum dusun Losawah siang itu.
Tepat setelah jenasah dimakamkan dan doa-doa pengiring dilantunkan, rombongan warga dusun yang melayat kepergian almarhum kembali pulang.
Namun sosok wanita cantik masih berdiri mematung memandang kuburan almarhum suaminya yang baru saja dikebumikan.
Mata bulatnya sembab dan menimbulkan kantung mata akibat tangis kesedihan atas kepergian suami yang amat dicintainya.
Sesak masih dalam dada.
Ia memang ikhlas pada kehendak Tuhan ini, namun ia masih belum ingin beranjak pulang.
Tubuhnya serasa masih ingin berdekatan dengan jasad suaminya yang telah tertidur selamanya.
"Sudah Farah, ikhlaskan kata seorang ibu-ibu yang mendekati Farah sambil memeluk bahunya.
Farah cuma mengangguk pelan namun masih tak bergeming.
Sesaat lalu, ketika jenazah almarhum dikubur dan doa-doa mengiringi, Farah memang masih sesenggukan, namun ia sekarang nampak lebih tegar.
Bu Siti, seorang kerabat jauh Farah dari pihak suaminya merasa iba.
Sore itu, seperti halnya pelayat yang lain, dengan busana serba hitam dan kacamata hitam Bu Siti tetap tinggal sebentar di pemakaman untuk sekedar menemani Farah.
Secara penampilanya nampak angkuh dan parlente untuk ukuran warga dusun.
Meski begitu Ia merasa simpati kepada Farah yang kini hidup sebatangkara.
"Ayo kita pulang, Farah... Wira sudah tenang di alam ndak perlu kowe meratapi takdir Tuhan ini kata Bu Siti dengan pelan sambil mengajak Farah beranjak pergi dari pemakaman.
Lagi-lagi Farah hanya mengangguk pelan namun kali ini menurut untuk mengikuti langkah Bu Siti pulang kerumahnya.
Dengan langkah pelan kedua wanita itu berjalan beriringan menuju rumah Farah.
Selama perjalanan ke arah rumah Farah, Bu Siti berusaha untuk menenangkan Farah dengan mengajaknya mengobrol.
"Wira itu memang sosok lelaki yang baik.
Aku inget pas masih remaja dulu, dalam keluarga besar kami dia anak kecil yang sopan dan menurut pada orang tua.
Yah.. meskipun kami jarang berjumpa langsung karena memang kami kerabat jauh.
Tapi denger-denger dari keluarga, Wira tumbuh jadi lelaki yang bertanggung jawab.
Lelaki baik seperti dia memang beruntung mendapatkan wanita cantik kayak kowe Farah", cerita Bu Siti dengan lembut dan berusaha menghibur hati Farah.
Sejujurnya Farah tidak terlalu terkejut dengan pujian yang diberikan Bu Siti pada suaminya, karena memang benar adanya bahwa almarhum suaminya itu adalah sosok suami yang sangat baik dan bertanggung jawab.
Namun ia tetap menghargai niat baik Bu Siti.
"Terima kasih Bu...", jawab Farah lirih.
Selang tak berapa lama akhirnya mereka sampai di depan rumah Farah.
Di depan rumahnya sudah mulai sepi pelayat, para tetangga dan peralatan pemakaman juga sudah dibereskan oleh warga sekitar.
Kendaraan pelayatpun sudah mulai habis, tinggal satu mobil mercedes klasik mewah milik Bu Siti masih terparkir di depan pagar rumah Farah.
Tidak banyak di dusun Losawah yang memiliki kendaraan mobil, apalagi mercy mewah, maka itu jadi suatu pemandangan langka di lingkungan Farah.
Beberapa bocah kecil masih mengerubungi mobil Bu Siti namun Bu Siti tidak ambil pusing.
"Terima kasih Bu Siti, atas bela sungkawa dan maaf saya ndak bisa membalas a ucap Farah.
"Owalah ndak apa-apa Farah..., ya wis kalo gitu aku pulang dulu...", jawab Bu Siti sambil tersenyum kemudian menghampiri Farah untuk memeluk dan mendaratkan ciuman di pipi kanan kiri Farah.
"Baek-baek ya Farah..., yang yang pesan Bu Siti sekali lagi.
Farah kembali terharu namun air matanya sudah terlanjur habis.
Ia lalu melihat Bu Siti berbalik badan untuk pergi.
Farahpun tak ingin berlama-lama di depan rumah, ia segera berjalan kearah pintu depan rumahnya.
Baru ketika Farah memegang gagang pintu.
"FARAH!"Ia menoleh dan mendapati Bu Siti belum pergi untuk menyerukan namanya.
Kacamata hitamnya sudah dilepas dan menatap penuh arti ke arah Farah.
Sumber:Internet