. Hari berikutnya, sekitar pukul 3 sore Farah menyambangi kediaman Bu Siti yang berada di kampung sebelah dusun Losawah.
Tidak sulit bagi Farah setelah bertanya kemari karena suami Bu Siti merupakan orang terpandang di daerahnya.
Setelah ia sampai ke sebuah rumah yang tergolong megah dan besar, ia berdiri di depan pagar rumah itu.
"Kulo Nuwuun", seru Farah berharap didengar oleh empunya rumah.
Farah teringat pesan Bu Siti tempo hari yang bilang bahwa tidak usah sungkan masuk kerumahnya.
Lagian juga Pak Karto, suami Bu Siti yang seorang pengusaha meubel juga pasti sedang tidak ada di rumah jam segini.
Maka Farah bergegas masuk ke halaman rumah Bu Siti, tak lupa menutup kembali pagar rumah itu.
Namun baru dua langkah maju, Farah mendengar suara wanita mengerang.
Khawatir Bu Siti kenapa-napa Farah berlari kecil kearah teras, dan betapa terkejutnya ia, ketika yang didapati ternyata adalah"Aaa ouuu nikmaat... sodoook Maan sodddokk!""Huoooohhh, aku mau ngecrot Buliiik, ...... OOOOGGGHHH OOOHH!""CROOOT CROOOT CROOOO"Hiyaah Maaaan.... Bulik juga ngecrot lagiiiii.... OOOHH""CRUUUUTT CRUUURRSSH"Farah berjingkat untuk mengintip melalui jendela disamping pintu.
Tak percaya apa yang sedang dilihatnya, Farah melongo.
Herman, keponakan Pak Karto sedang menyemprotkan pejunya ke tubuh Buliknya, yaitu Bu Siti.
Kontolnya yang panjang terlihat jelas dari balik jendela tempat Farah mengintip.
Diatas karpet ruang tamu, tubuh Herman yang telanjang bermandikan peluh dengan posisi tegak bertumpu pada lututnya, kepalanya mendongak, matanya terpejam merasakan nikmat sambil tanganya terus mengurut kontolnya, mengeluarkan sisa-sisa pejuh ke paha Bu Siti.
sedangkan Bu Siti tepat dibawah Herman nampak terengah-engah, tubuhnya bergetar kecil, pasrah menerima semburan sperma keponakanya itu.
"Ha Hebat kamu Man, Bulik sampe ngecrot 3 x," puji Bu Siti dengan sisa nafas ngos-ngosanya.
"Ha Bu Lik juga, nikmat sekali ngentotin Bulik..., Herman puas, Bulik," kata Herman sambil mengambilkan baju Bu Siti yang berserakan di karpet.
Farah masih tidak percaya dan mengucek-ucek matanya, namun hal itu memanglah nyata.
Bu Siti habis disetubuhi oleh orang yang bukan suaminya! Ia sempat berpikir untuk beranjak pulang saja, namun saat mengingat keperluanya yang mendesak Farah jadi nekat.
"Persetan dengan yang kulihat barusan, Ndak mau tau sajalah, lagian bukan urusanku.
Masalahku sendiri jauh lebih penting untuk dipikirkan," begitu batin Farah dalam hati.
Maka dengan berlagak tidak tau dan cuek, Farah pura-pura menuju pintu depan teras rumah Bu Siti, kemudian memencet bel.
"Ting Tong!""GLODAK..! GEDEBUK...! Sreet!",Farah mendengar suara gaduh dari ruang tamu Bu Siti.
"Pastilah mereka kaget dan kabur tunggang langgang," batin Farah sambil menahan geli.
"Ting Tong!", sekali lagi Farah membunyikan bel.
Masih senyap.
Baru yang ketiga kali Farah hendak menekankan jarinya pada bel pintu lagi, pintu sudah keburu dibuka.
Bu Siti membuka pintu dengan gelagat tenang yang dibuat-buat, daster rumahnya sudah terpasang ditubuhnya meskipun acak-acakan.
Keringatnya masih bersimbah dan sanggulnya miring tidak rapi.
Sangat berbeda dengan bu Siti yang nampak elegan kemarin.
Lucu sekali pikir Farah.
Dengan nafas yang masih belum teratur Bu Siti mencoba berbicara.
"Oh, kowe to Farah..., ayo ayo, mari masuk".
"Inggih Bu, nuwun jawab Farah dengan sedikit membungkukan tubuhnya yang tinggi untuk masuk ke rumah Bu Siti.
Sumber:Internet