. Hari sudah mulai gelap di kaki bukit gunung kidul.
Suasana hutan yang sunyi terasa amat menyeramkan, beda dengan dusun Losawah tempat tinggal Farah yang walaupun hanya dusun tapi masih lebih ramai.
Ditengah kegelapan nan pekat dan cuma disinari rembulan yang mengintip disela dedaunan pohon-pohon tinggi yang menjulang perkasa, seorang kakek tua berjenggot putih sedang bersiap.
Di tempat yang sama, seorang wanita cantik jelita tengah duduk dan menunggu, ia bersiap untuk diajak Mbah Jenggot melakukan langkah awal pengambilan pesugihanya.
"Ingat nduk, selama perjalanan ke Sendang Toyowengi, kita akan melewati alas gunung kidul yang angker, jikalau nanti di kiri-kananmu ghoib bermunculan kowe ndak usah takut, Mbah sudah membuat jalur khuFarah dimana ghoib tidak bisa masuk ke dalamnya.
""Nggih Mbah", jawab Farah menurut.
"Tapi, jalur aman itu tidak akan bertahan lama setelah Mbah lewati.
Jadi kowe jangan jauh-jauh dari Mbah.
Sebenernya Mbah bisa membuat jalur yang awet, namun Mbah kan harus menyimpan tenaga untuk ritual yang kamu lakukan.
""Nggih Mbah", jawab Farah lagi.
Nampaknya Farah sudah siap dengan segala sesuatu demi ritual ini.
Termasuk menepis ketakutanya pada penampakan bangsa ghoib yang mungkin terjadi.
Dengan langkah pasti, Mbah Jenggot yang membawa kendi dan sebotol minyak mulai keluar dari gubuk kediamanya, berjalan sambil merapalkan mantra untuk membuat jalur yang aman dari gangguan ghoib.
Diikuti Farah yang hanya mengenakan jarit kemben batik, satu tanganya dipakai untuk membawa nampan kecil berisi kembang 7 rupa, satunya lagi memegangi simpul ikatan kemben yang tepat berada di belahan dada montoknya.
Hawa dingin langsung menyergap keduanya, terutama Farah yang pundak dan kakinya terbuka.
Beda denagan Mbah Jenggot yang walaupun bajunya selalu terbuka, ia sudah terbiasa.
Namun sekali lagi dengan modal nekat, Farah mantap untuk maju.
-----------------------------------------------Sementara itu dari kejauhan kegelapan hutan, sesosok bayangan tinggi besar bertengger di pohon beringin.
Matanya merah menyala, mengamati gerak-gerik tubuh indah Farah yang hanya terbalut kemben.
Makhluk itu menyeringai, lidahnya menjulur meneteskan liur.
"Ini dia wadon yang akan jadi mang tapi lagi-lagi si jenggot ituBiarlah... akan kuculik wadon itu ketika si jenggot lengah..."-----------------------------------------------"Nduk, jangan jauh-jauh lho! Nanti Mbah sulit mengawasi kowe", kata Mbah Jenggot sambil tetap merapalkan mantra.
"I... inggih Mbah...", jawab Farah agak terbata karena sedikit kesulitan mengikuti langkah Mbah Jenggot yang cepat.
Mbah Jenggot dan Farah sudah masuk ke dalam hutan, tiba-tiba hawa menyesakkan datang dari segala arah, perasaan Farah menjadi tidak nyaman.
Bulu kuduknya meremang.
Di sebelah kiri Farah sekitar berjarak 2 meter, dibalik ilalang yang mungkin cuma setinggi lutut berdiri sosok tinggi berbalut kafan putih.
Tangan, kaki dan kepala makhluk itu tersimpul, bagian tubuh yang terlihat cuma wajahnya yang menghitam.
Farah tertegun, secara reflek ia berucap""NDUK! Jangan disebut!", sergah Mbah Jenggot sebelum Farah selesai bicara.
"Nggih Mbah".
Farah langsung berusaha mengalihkan pandanganya kedepan, ke punggung Mbah Jenggot yang berjalan dengan cepat.
Ia menyadari mulai bermunculan makhluk-makhluk ghoib seperti yang Mbah Jenggot katakan tadi.
Di kiri bawahnya ada sepasang makhluk kerdil bertaring berlarian mencoba meraih kaki Farah tapi terhalang sesuatu seperti barrier yang tidak nampak.
Sedangkan di sisi kananya sedari tadi makhluk seperti kuntilanak melayang mengikuti Farah.
Entah apa maksudnya Farah tak mau mencoba menoleh untuk melihatnya.
Ia memantapkan hati dan fokus mengikuti Mbah Jenggot.
Sumber:Internet