. "B BHU"Sss auuh... ada dimana aku...""GREEK GREEK BHU"...mm... mbah...?""Khekhek sudah bangun rupanya si Susu gede, khekhek" ada dimana ini?" sambil masih memegangi kepalanya Farah mencoba bangun.
Didapatinya mbah Jenggot sedang duduk diatas batu besar, tidak jauh dari tempatnya berbaring, sedang memarut sesuatu.
Kemudian ia melihat sekeliling.
"Khekhek aku yang membawamu kemari"Tempat yang sangat indah sekali, sebuah telaga yang terlihat terang karena disinari rembulan.
Gemericik airnya berbunyi ditengah lebatnya alam gunung kidul.
Air mengalir dengan lembut dan tenang diantara bebatuan.
Anginya juga berhembus pelan dan tidak terasa dingin di wajah ayu Farah.
"Kowe tadi sempet mau dikontolin Si Uwo nduk... Khekhek" Farah masih bingung, lalu mengingat lagi kejadian yang terakhir kali ia ingat.
Tiba-tiba ia merasa takut dan spontan berteriak ""Khekhek ndak usah jerit-jerit nduk, Si Uwo sudah kuhajar, wekhekhekSepenak udelnya aja mau ngentotin, lhawong aku aja belom sempet icip-icip, khekekhek gelak tawa keluar dari Mbah Jenggot meski dirinya masih sibuk meracik sesuatu.
Memang, terakhir kali Farah ingat ia sedang bercinta dengan suaminya, dan bahkan nyaris akan digagahi oleh suaminya.
Hingga Mbah Jenggot datang kok suaminya yang tampan tiba-tiba berubah jadi makhluk yang mengerikan.
Farah juga sekarang sudah bisa berpikir jernih.
Ia heran, bukankah suaminya sudah meninggal beberapa hari lalu.
Tidak mungkin orang meninggal bisa hidup lagi.
Lalu siapakah sosok yang menyerupai suaminya, apakah bangsa lelembut yang menyamar.
Dan jika dipikir lebih logis lagi kok bisa-bisanya Farah menurut saja semua kata-kata makhluk yang menyerupai suaminya itu.
Apakah dia semacam disirep atau bagaimana.
Semuanya nampak memusingkan bagi Farah.
"Ndak usah ngalamun nduk... khekhek biar kuperjelas, yang tadi menculik dan mau mengentotin kowe itu si Genderuwo, penunggu beringin.
Dia emang ngacengan khekhek dia nyamar jadi sosok yang paling kowe inginkan untuk bersetubuh, khekhek Tapi ya siapapun kalo liat badanmu yang behenol pasti ngaceng nduk... wekhekhek"Apa bener mbah, yang tadi sama saya bener-bener bukan mas Wira?""Wira? Sopo kuwi nduk?""A... anu... suami saya mbah""Dimana dia sekarang?""Emm... sudah ndak ada lagi di dunia ini mbah...", Farah mengatakan itu dengan raut wajah yang tertunduk murung.
"Khekhek jelas dia bukan suamimu nduk... Orang mati ndak bisa idup lagi.
Berpuluh tahun aku melajari ilmu ghoib, Ndak ada satupun ilmu yang bisa menghidupkan lagi orang mati.
Karena idup mati itu urusan-Nya dewe, ndak bisa diganggu gugat"Farah hanya manggut-manggut seperti anak TK.
Dia tak habis pikir sebegitu miripnya makhluk bernama genderuwo itu menyamar jadi mendiang suaminya.
Wajahnya, senyumnya, dekapanya membuat Farah terlena dan terbujuk rayu dengan mudahnya.
Akan tetapi sejujurnya ia benar-benar sangat merindukan belaian suaminya.
Ia rindu bercinta dan digumuli setiap hari oleh suaminya.
Gejolak kewanitaanya sekarang seperti hampa dan butuh diisi.
Ia mengidamkan dicintai dan dipuaskan secara batin maupun nyata.
Namun siapakah yang mampu mengatasi kegalauan hati dan tubuh Farah, ia sendiri bingung.
Yang pasti untuk sekarang ia ingin menepis dulu keinginan itu, ia sudah bertekad untuk melakukan sebuah langkah besar yaitu melakukan ikatan ghoib.
"YAK YAA.....", tiba-tiba Mbah Jenggot berteriak kegirangan, "Wis jadi ramuannya nduk, sana cepet basahi badanmu di kucuran aer sana, abis itu baru tak mandikan kowe, Khekhek
Sumber:Internet