. BAGIAN 7"Krik.. krik.. krik..""HyuuuuuuuuuuuuuuuuussssshhhhhBunyi jangkrik mengerik ditengah kesunyian alas gunung kidul yang lebat.
Hanya suara angin yang berhembus melewati dedaunan dari pohon-pohon tinggi yang terdengar oleh telinga.
Sesekali kukuk burung hantu juga lewat terbawa angin.
Ditengah hutan nan sunyi itu dua sosok manusia sedang berjalan diatas rerumputan dari arah sendang toyowengi menuju sebuah gubuk.
Ternyata hanya satu orang saja yang berjalan.
Seorang wanita manis bertubuh tinggi dan sintal yang bertelanjang badan bersama seorang kakek tua berJenggot putih dalam gendonganya.
"Khekhek berat ndak cah ayu?""Emm, sedikit Mbah...""Khekhek bentar lagi juga khekhekhe, salahmu dewe jaritmu mbuk ilangke, jadinya kan sekarang kowe bugil""Ah Simbah, itu kan tadi karena Farah disirep sama genderuwo... kemben Farah ilang entah kemana""Khekhek Yo wis nduk, lha daripada kowe jalan bugil ditengah alas dingin-dingin gini? apalagi abis mandi, bisa masuk angin badan semokmu kalo ndak tak peluk, wekhekhekhe""Aiih!"Sambil digendong Farah seperti seorang anak, Mbah Jenggot menowel payudara Farah yang berguncang setiap ia melangkah.
Posisi Mbah Jenggot yang digendong di depan dan melingkarkan tanganya di leher lembab Farah persis seperti anak-anak yang digendong ibunya.
Namun bedanya dia seorang kakek tua bertubuh kerdil yang mesum dan sarat kata-kata cabul.
Dengan posisi tangan Farah yang menopang tubuh Mbah Jenggot di pinggang depanya membuatnya tidak leluasa dan hanya berkonsentrasi untuk berjalan.
Sedangkan Mbah Jenggot sendiri sambil menyenderkan kepala botak keriputnya dipundak Farah yang mulus, bebas kalau ingin menjamah tubuh Farah.
"Ah, tapi kan ndak perlu minta gendong mbah... kayak bocah cilik wae lho!", gerutu Farah dengan muka cemberut.
"Wekhekhek wis tho nduk, bentar lagi juga sampe ini...""Aiih..."Kali ini Mbah Jenggot meremas payudara Farah dengan pelan.
"Wekhekhek aku gemes liat Susu gedemu yang mentul-mentul ini Nduk, khekhkehe"Gubuk Mbah Jenggot sudah terlihat, maka dengan langkah sedikit cepat Farah segera masuk kehalaman.
Sesampainya di depan pintu gubuk itu, Mbah Jenggot segera meloncat turun dan membuka pintu.
Keduanyapun masuk dengan agak terburu untuk mengurangi hawa dingin hutan di tengah malam.
Hanya satu lampu minyak penerangan malam di dalam gubuk Mbah Jenggot, namun itu saja sudah cukup menerangi seluruh penjuru gubuk kecil itu.
"Khekhe duduk nduk!""Dibawah Mbah?""Ya dimana lagi?""Boleh diatas dipan saja?""Khekhekhe suka-suka kowelah nduk...""A... anu mbah, apa boleh Farah pake baju sekarang? Dingin mbah...""Wekhek jangan dululah... aku belom puas liat ke- khekhe""Ishh si mbah...", kata Farah cemberut.
"Yo wis kalo dingin ambil kemben lagi di lemari jawab Mbah Jenggot sambil menunjuk lemari kecilnya.
Farahpun beranjak membuka lemari kayu tua kecil itu.
Didapatinya banyak kain-kain batik dan kain hitam maupun cokelat gelap.
Ia kemudian memilih kain satu persatu.
Agak lama ia memilih sampai semua kain yang ada diawul-awul olehnya.
Sumber:Internet