. "Cuit... cuit... cuit... krrrrr... cuit... cuit...""Sryuuupp aah CLAP CLAP CLAP CLAP... Nyommmh... nyummmmpokh"Seorang wanita cantik tergolek pelan diatas dipan kayu dengan rambut awut-awutan.
Matanya masih berusaha terbuka dengan sempurna sementara pegal dirasakan si sekujur badanya yang bagus.
Terdengar kicau burung pagi bersamaan dengan sinar mentari yang menembus celah dinding kayu menyilaukan matanya.
Kesadaranya belum sepenuhnya terkumpul, namun ia merasakan benda lunak basah sedang menyapu dan menarik-narik daging payudaranya.
Disaat ia cukup mampu untuk sedikit menggerakan kepalanya, ia memandang kebawah, kearah buntalan buah dadanya yang menggunung.
Disana didapatinya kulit dadanya yang putih terdapat bekas-bekas merah.
Lumayan banyak karena memang area dadanya yang besar.
Ketika ia melihat lebih jelas, dari balik bulatan Susunya, atau dibagian bawahnya muncul kepala botak keriput dengan sisa-sia uban sedang bergerak-gerak.
Kepala itu perlahan naik, memperlihatkan wajah tua dengan wajah cabul tapi dengan mata terpejam.
Menyusuri areola dadanya dengan lidah penuh liur yang disapukan.
Wajah berkumis dan berSukro putih itu memiliki gigi ompong yang menggesek kulit payudaranya.
"HAMH!""AAAIIIIH""Mmh.. CPUK! Lhoh sudah bangun kowe cah ayu... khekhekhe""Auuh... kok Susu saya dicaplok mbah?""Wekhekhek abisnya aku ndak tahan, pagi-pagi dikasih liat Susu segini gedenya...""AUW"Kata Mbah Jenggot sambil memencet pentil Farah.
"...ya tak kenyot kenyot... Khekhek"Aih aih... tapi kok Susu Farah jadi mbekas merah-merah gini?", kata Farah sambil tanganya menyentuh dadanya sendiri.
"Wekhekhek kwi Mbah cupangin nduk, biar Susu putih mulusmu ada coraknya! Wekhekhekhekhe!", kekeh Mbah Jenggot kegirangan.
"Iii Mbah nakal tenan!", gerutu Farah.
"Sekarang ngangkang nduk! Mbah mau nyodok memekmu lagi!""Lho.. lho, buat apa Mbah?", kata Farah panik saat Mbah Jenggot berusaha menyibak selangkanganya.
"Lha ya buat ngisi rahimmu sama benih tuyul lagi!", jawab Mbah Jenggot sembari memegangi kontolnya.
"Lhah? Bukanya semalem sudah Mbah?""Owalah nduk, kalo cuma semprotan semalem ya masih kurang tho ya!""Eh, perkataan Farah terhenti saat ia lihat lagi wujud kontol Mbah Jenggot.
Kontol hitam besar panjang berurat itu sudah ngaceng penuh bersama kepala kemerahanya yang berkedut-kedut.
"Ooh kontol gede itu lagi... Kontol yang semalam menyodok-nyodok memeku sampe ngilu, yang menyumpal rongga memeku dan nyemprotin peju anget ke ra batin Farah dalam hatinya.
Tanpa ia sadari otot vagina didalam memeknya berkedut-kedut seakan merespon pikiran birahinya.
"Eh... kenapa ini...? Kenapa memeku jadi gatal? Kenapa memeku pengen digaruk?"Sementara Farah tenggelam dalam lamunanya, Mbah Jenggot sudah memposisikan kontolnya lurus menyentuh bibir memek Farah.
"CLEP""AAAAWH"" brrrrr... anget tenan!", tubuh Mbah Jenggot gemetar saat dirasakan bibir kemaluan Farah yang hangat menyentuh lubang kencingnya.
Akan tetapi, alih-alih memasukanya, Mbah Jenggot malah mendekatkan wajahnya di depan wajah Farah.
Farah yang tidak menyangka wajah mesum dukun itu mendekat didepan wajahnya, memasang ekspresi heran dan sedikit takut.
Ia perhatikan kulit wajah Mbah Jenggot dan gigi ompongya menyeringai seperti sedang merencnakan sesuatu yang nakal.
Sumber:Internet