Gelap

Anita Tragedi Perawan Desa 5

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Anita Tragedi Perawan Desa 5

. Gedung itu begitu riuh-rendah oleh para tetamu undangan penting, ke kerumunan itulah Raka melangkah menjajakan air niranya dan... apa yang terjadi kemudian? Mencari uang lebih mudah di kerumunan.
Itu pemahaman lama yang masih diyakini kebenarannya.
Bagi Raka tidak mutlak benar, sebab ia tidak terlalu mengejar uang.
Baginya cukup makan hari ini dan ada persiapkan untuk sehari besok saja, itu sudah lebih dari cukup.
Akan tetapi, naluri pergi ke arah kerumunan tetap ia miliki demi menjual air niranya.
Di kerumunan uang pasti banyak terkumpul dibanding tempat sepi seperti sehari-hari pedukuhannya.
Jarak berbilang harus ditempuhnya ke kota kecamatan, di sanalah tempat beradanya kerumunan.
Maka usai sholat subuh Raka meninggalkan gubuknya di atas huma, menuruni anak lembah yang akan membawanya ke kota kecamatan.
Dua tabung bambu berisi air nira sudah bertengger di pundaknya.
Rancatan terbuat dari bambu untuk memikul dua tabung itu sudah melengkung menyerupai busur panah, saking beratnya beban yang harus dipikul.
Berselempang kain sarung kotak-kotak dengan kopiah hitam yang dipasang melintang di kepala, Raka memulai kehidupannya.
Raka selalu ingat kata-kata almarhum bapaknya, katanya kalau bangun untuk kerja mencari kehidupan jangan sampai dadahului kokok ayam.
Bahkan ketika ayam masih tertidur, Raka sudah menuruni anak lembah.
Angkutan umun kemudian membawanya ke kota kecamatan.
Sebelum pukul sembilan pagi, Raka sudah tiba di pusat kerumunan.
Bukan pasar, tetapi aula besar tempat para panggede dan orang berada pesta atau mengadakan upacara kawinan.
Mentari sudah meninggi dan memancarkan panasnya sampai ke bumi.
Panas mentari yang di atas rata-rata pertanda bakal datangnya rezeki yang baik pula, setidak-tidaknya bagi Raka si tukang air nira.
Tidak salah, di antara kerumunan itu banyak yang menyerbu dua tabung air nira yang Raka dagangkan, praktis tidak ada saingan selain penjual es cendol atau pedagang asongan air dalam kemasan plastik.
Semakin mentari meninggi dan panas membakar bumi, semakin berduyun-duyunlah serpihan kerumunan itu menyerbu air niranya.
Maka tidak aneh, sebelum matahari mencapai ubun-ubun air nira Raka sudah nyaris tandas.
"Sebenarnya di gedung ini ada pesta apa, Nyai, bukan main ramainya?" tanya Raka pada pembeli terakhir, seorang perempuan muda berkain kebaya ditemani pasangannya.
"Pesta kawinan.
" "Sub Ramai bukan main, banyak panggede datang," gumam Raka.
"Benar, Mang.
Maklum amtenar kota yang kaya-raya meminang gadis desa dekat-dekat sini, jadi yang diundang juga orang-orang penting!" Raka mengangguk-angguk takjub.
Perempuan muda dan pasangannya itu selesai menegak air nira penghabisan.
Sebelum ia membayar, Raka sudah mengumpulkan uang hasil jerih payahnya itu.
Uang yang sebagian besar berbentuk recehan logam itu ia ikat dengan selampenya, lalu ia masukkan ke dalam kain sarungnya.
Tidak lupa ia berterima kasih kepada Sang Pemberi Hidup, sebagaimana pernah diajarkan mendiang bapaknya.
"Nyai, ngomong-omong siapa gerangan yang pesta besar-besaran di gedung ini?" Raka memberanikan diri bertanya sebelum si perempuan muda dan pasangannya berbalik badan untuk segera memasuki aula.
"Pak Johan, amtenar Jakarta, pejabat di kementrian energi..." "Emh, maksud Amang pengantin perempuannya, Nyai?" "Yuanita Handaruan.
" Yuanita "Oh, terima kasih, Nyai," Raka sedikit tergagap.
Wajahnya mendadak tegang yang celakanya terbaca oleh si pembeli air nira terakhir tadi.
"Lho kok seperti terperanjat begitu? Memangnya situ kenal sama pengantin perempuan, Neng Yuanita?" "Eh, tentu tidak, Nyai, apalah Mamang ini.
" Sempat terngiang di telinga Raka kata-kata kekasihnya beberapa tahun lalu di bawah lembah subur saat purnama berca "Untukmu, Raka!" Perempuan muda dan pasangannya segera ditelan mulut aula yang makin ramai.
Musik mengalun mengepung sekeliling.
Diam-diam Raka mengeja nama yang sudah sangat dikenalnya semasa duduk di bangku kelas satu SMA.
Yuanita Anita.
(Bersambung) ***
Sumber:Internet