. "Aduhh.
" Aku spontan mengaduh ketika ada sepasang tangan menangkup susuku dari belakang ketika aku sedang berdiri di depan lemari bajuku, memindai baju mana saja yang akan aku bawa pindah ke rumah Pak Lurah.
"Sstt… inget kata Ibuk Dek, pelan-pelan jeritnya takut tetangga denger.
" Itu suara Pak Lurah.
Aku menoleh ke belakang dan melihatnya menyeringai mesum.
Tangannya bergerak serampangan mengunyel-unyel susuku, aku sampai membungkuk-bungkuk saking gelinya.
Gini kok di suruh jerit pelan-pelan, mana bisa.
"Aduhh, lepasin Mash.
Aku mau packing.
" Kataku sambil mencoba melepaskan tangannya dari gunung kembarku.
"Hmm packing apa?.
" Perkataanku berhasil membuat tangannya berhenti sejenak, tapi masih berada di sana menangkup susuku dari luar gamis.
"Katanya mau pindah?.
" Jawabku sambil menoleh ke arahnya lagi.
"Oh iya sih.
Mau packing sekarang.
?""Iyalah, nyicil.
""Oke deh mas bantuin.
Tapi….
.
" Dia menjeda ucapannya, tapi aku sudah langsung tahu dari senyuman mesum itu.
Pasti mau minta yang aneh-aneh.
"Nggak…nggak.
Nggak usah bantuin.
Aku bisa packing sendiri.
" Tolakku ribut.
"Yakiinn?.
" Tanyanya lagi dengan senyum mesum yang masih bertahan di wajahnya.
"Auuhhhh.
" Aku mendesah lagi karena tangannya kembali meremas-remas susuku.
"Pilih nyusuin mas apa di ewein?.
Disodok-sodok memeknya?.
Hmm?.
" Bisiknya seduktif di telingaku.
"Oohhmm…..ahh.
Okeh, nyusuin Mash ajah.
" Aku menyerah dengan cepat dan menjawab dengan susah payah karena menahan desahan akibat ulah tangannya yang benar-benar pintar memainkan susu kenyalku.
"Pilihan yang bijak Sayang, takut memeknya lower ya kalau di sodok lagi sama kontol jumbonya Mas?.
" Aku bergidik mendengar bisikannya di telingaku.
Suara seksinya membangunkan ingatanku akan kejadian semalam, saat dia mengambil keperawananku.
Kayaknya memekku bakalan beneran lower kalau di sodok kontol jumbonya lagi pagi ini.
Jadi nyusuin Pak Lurah mungkin memang pilihan yang paling pas.
"Ayo ikut mas.
""Lho, kemana?.
""Ya nyusuin Mas dong.
""Disini aja gimana?.
" Kataku sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling walk in closet kamarku.
Pak Lurah ikut mengedarkan pandangannya.
Setelah itu dia tersenyum singkat dan menggandeng tanganku.
Menarikku untuk mengikutinya berjalan ke arah lemari dengan pintu full cermin.
Lemari itu terletak di paling pojok dan menempel di dinding.
Di depannya ada lemari setengah badan yang berisi aksesoris-aksesorisku.
Aku berdiri di tengah dua lemari tersebut.
"Tunggu sini bentar.
" Katanya sebelum pergi ke arah ranjang dan mengambil 1 bantal lalu kembali ke arahku.
Dia memposisikan aku duduk bersandar di lemari setengah badan yang menghadap ke arah lemari dengan pintu full cermin itu.
Meluruskan kakiku dan menaruh bantal yang diambilnya di pahaku.
Lalu membaringkan kepalanya di sana membuat kepalanya tepat berada di depan gunung ku.
Dia benar-benar siap nyusu.
"Mau dibuka sendiri apa Mas bukain?.
" Matanya nakalnya menatapku sambil mengerling ketika bertanya.
"Ck.
Nyusu aja ya.
Jangan yang lain-lain.
" Aku berdecak pelan dan memperingatinya lalu membuka resleting depan baju gamisku.
"Tenang aja, ada dua hal yang bisa kamu pegang dari Mas.
Yang pertama kontol Mas dan yang kedua omongan Mas.
" Ucapnya sambil mengedipkan sebelah mata ke arahku.
"Woow… Mas selalu kagum sama tetekmu Dek.
" Ucapnya sambil mengelus susuku yang masih berada di dalam beha.
"Keluarin Dek.
" Menurut, aku mengeluarkan susu kiriku yang langsung memantul tepat di depan matanya.
Hawa dingin langsung menyambut susuku membuatku merinding sampai pentilku membesar dan mengeras seketika.
"Baru juga keluar kandang, pentilmu udah ngaceng aja Dek.
" Tangannya bergerak menyentuh pentilku.
"Ahh, geli Mas.
" "Haha, cuma di sentuh pentilnya kok udah sange Dek.
Lihat wajah sangemu di cermin tuh.
" Aku mengikuti perintahnya.
Memandang cermin yang memantulkan keadaanku disana.
Jadi ini rencananya membawaku untuk duduk di depan cermin.
Supaya aku bisa melihat keseluruhan keadaanku saat di kerjanya.
Aku menggigit bibir ketika tangan Pak Lurah mulai bermain-main di pentilku.
Jempol dan telunjuknya menjepit, memelintir dan menarik-narik pentilku.
Lalu tangan kirinya mengeluarkan susu kananku, dan memperlakukan hal yang sama ke putingnya.
"Eehhmm….
ahhh Maaas gelii.
" Aku mendesah sambil terus melihat ke arah cermin.
Memperhatikan wajahku sendiri ketika lagi sange dan mendesah-desah.
Entah kenapa rasanya semakin membuat libidoku meningkat.
"Pentilmu dua-duanya udah ngaceng Dek.
Waktunya Mas nyusu.
""Aaaahhhmm Mass oo..oohh enaak.
" Pentil kiriku masuk ke dalam mulut hangatnya.
Lidahnya langsung aktif menggoda, menyentil dan memutari pentilku.
Sekali waktu bibirnya menyedot pentilku keras.
"Aahhhhhhh Mass.
" Sedotannya membuat badanku tersentak, dadaku semakin membusung, tangan kiriku langsung merengkuh kepalanya.
Membenamkan kepala itu sedalam mungkin ke arah susuku.
Sudah kubilang kan kalau pentil adalah salah satu titik sensitif ku, makanya nggak heran ketika benda itu di garap sedemikian rupa oleh Pak Lurah, memekku langsung ikut gatel dan kedut-kedut.
"Enak ngghak?.
" Tanya Pak Lurah sedikit tidak jelas karena mulutnya sibuk mengenyot pentilku.
"Enak Maash.
Haaak aaaduhhh oohhh.
" tangan kirinya yang bermain di susu kananku tiba-tiba menarik puting itu.
Membuatku kesakitan dan menjerit.
"Sakit Mas pentilku ohh jangan di tarik gitu, di emut ajaa.
" Kataku sambil berusaha memindahkan kepalanya untuk berganti mengenyot pentil kananku.
Pak Lurah menarik kenyotannya dari pentil kiriku sampai berbunyi plop membuatku tersentak.
Kepalanya bergerak maju dan mengenyot pentil kananku yang sudah bengkak.
Tangannya tidak tinggal diam, dengan memainkan pentilku yang menganggur.
Jari-jarinya dengan aktif memainkan pentilku, memelintir, menjepit menariknya dengan gemas.
"Oohh Mass… pentilku tambah bengkak, emmhh.
" Ucapku ketika melihat pentilku yang di mainkan.
"Belum seberapa itu Dek.
Rasain nih.
" Setelah berkata itu, bibirnya kembali mengenyot pentilku, kali ini semakin brutal karena melibatkan giginya.
Gigi itu digunakannya untuk menggoda dan menggigit-gigit pentilku.
Kenyotannya juga semakin keras semakin menambah rasa geli dan gatal di memekku.
"Ahh ahh… ohh hmmh Maass enak bangett… ohhh.
" Akupun semakin mendesah kuat, mengabaikan nasihat Ibuk, tidak peduli kalau tetangga dengar.
Aku melihat ke arah cermin lagi.
Wajahku yang putih terlihat memerah.
Mulutku terbuka mendesah-desah.
Kepala Pak Lurah bergerak semakin cepat dan sedotannya di susuku semakin menguat sampai berbunyi clap clap.
"Aahh Masssh, nggak tahaaann.
Ampunnn.
Memekku Massh oohh.
" Pak Lurah mengabaikan semua rengekanku, tetapi matanya selalu melihat wajahku.
Dia mempercepat kenyotannya dan pelintirannya pada pentilku.
Aku mendongak memejamkan mata menahan rasa enak yang seakan mendesak keluar dari memekku yang rasanya semakin gatal.
Jari-jemari kakiku menekuk dan mengencang menahan rasa geli di pentil yang merambat ke memek.
"Maaassh ohh, maaass aaahh.
Memekku kedut-kedut Masshh, oooh mau muncrat Masshh ohhh.
Masss aahhh aahh aaaahhhhh.
" Suaraku melolong kencang, tanganku mendekap kepalanya dan badanku bergetar hebat kelojotan saat cairan hangat terasa keluar muncrat dari memekku.
Keringat membanjiri dahiku, nafasku juga terengah-engah karena orgasme yang baru saja aku alami.
Pak Lurah menarik putingku dan melepaskannya dari mulutnya.
Dia tersenyum melihatku yang berantakan lalu berkata.
"Pentilnya yang disedot memeknya yang muncrat Dek.
Binal banget memekmu.
"
Sumber:Internet