. "Deek, bangun Sayang.
" Kupingku menangkap suara yang terdengar samar itu, tapi aku abaikan.
Masih ngantuk, rasanya seperti baru saja mataku ini merem.
"Deeek.. " Sekarang dengan tambahan elusan di dahiku.
Aku menggeliat merasa terganggu.
Kenapa sih Pak Lurah ini nggak bisa mengertiku.
"Eemm masih ngantuuk.
" Aku menjauhkan kepalaku dari tangan Pak Lurah yang sekarang menyunggar pelan rambut yang ada di dahiku.
Aku beneran masih ngantuk dan capek, efek digempur semalaman oleh Pak Lurah.
"Sudah jam 4 Dek.
Harus mandi wajib dulu, nanti ketinggalan subuhan.
" Suara Pak Lurah terdengar lagi berbisik di telingaku.
"Eem 5 menit.
" Jawabku pelan, masih dengan mata terpejam.
"Bangun sekarang apa Mas ewein lagi, hmm? Pagi-pagi gini, kontolnya Mas pas lagi keras-kerasnya lho Dek.
Memekmu bisa beneran lower.
" "Mandi, aku mau mandi aja.
Auhh.
" Aku spontan bangun dari tidur ketika mendengar bisikannya itu, mataku yang masih lengket langsung terbuka terang benderang.
Saking spontannya gerakanku, aku sampai mengaduh karena bagian bawahku itu terasa perih saat bergesekan.
"Lho, kenapa Dek?.
" Aku masih meringis perih sambil menahan selimut untuk menutupi tubuh polosku ini ketika Pak Lurah ikut bangun, dan mendekatiku.
"Eemh perihh Maaas.
" Aduku sambil menatap Pak Lurah dengan pandangan memelas.
Entah, setelah beberapa hari menjadi istri Pak Lurah, aku mulai merasa nyaman untuk berkeluh kesah, mengadu atau minta di sayang-sayang.
Walaupun terkadang kesel juga karena Pak Lurah yang mesum tingkat akut itu.
"Ha? Apanya yang perih?.
" Pertanyaan Pak Lurah membuatku ingin berdecak.
Ya masa dia nggak lihat tanganku sekarang memegang bagian mana sih.
"Itunyaaa.
" Rengekku, pandangan mataku jatuh ke arah tangan kiriku yang berada di atas selimut yang menutupi bagian bawahku.
"Ha? Apanya? Coba Mas lihat.
" Ucap Pak Lurah sambil menarik pelan selimut yang masih membungkus tubuhku.
Aku menurut saja.
Toh dia sudah berkali-kali melihat tubuh polosku.
Semalam bahkan tubuhku ini sudah macam gorengan, di bolak-balik sedemikian rupa.
"Oohh ini yang sakit.
Memeknya sakit ya.
Di elus gini ya, biar enakan.
" Setelah selimutku jatuh dan disingkirkan oleh Pak Lurah, dia mendekat dengan tubuh yang juga sama polosnya.
Kepalanya merunduk dan tangannya memisahkan kedua pahaku agar jarinya bisa mengelus di bagian sana.
Jarinya yang besar itu ternyata tidak hanya bisa menyodok dengan keras, tapi bisa mengelus lembut juga.
Aku merasa agak enakan di bawah sana, sampai…"Ouuhh, Maaass.
" Aku menjerit saat tiba-tiba ada sesuatu yang masuk begitu saja ke dalam tubuhku.
Aku otomatis menunduk untuk melihat apa yang sedang dilakukan Pak Lurah.
Jari tengahnya sudah amblas masuk ke dalam memekku.
Pandanganku beralih menatap wajah Pak Lurah, dia hanya menatapku polos dengan senyuman menyeringai yang tertahan.
"Uups, jari Mas kepleset Sayang.
Maaf ya, masuk dikit gak papalah yaa.
" Ucapnya sok polos.
Halah, sekali mesum ya tetep mesum.
Setelah berucap begitu, dia langsung menggerakkan jarinya keluar masuk dan mengobel pelan memekku yang mau tidak mau membuatku mendesah, antara sakit dan keenakan.
"Aaah Maas, katanya disuruh mandi.
Kok malah di kobelin memekku, keluarin jarinya Maaas, periiih.
" Pintaku sambil mendesah-desah.
Ya masa belum sembuh udah ditambahin lagi siih.
Aduh Pak Lurah ini.
"Salahin memekmu Sayang.
Pagi-pagi sudah becek aja.
Bikin jari Mas kepleset, sekarang jadi susah keluar kan jarinya Mas.
Kayaknya harus disembur dulu sama pejumu deh ini Dek.
" Dasar Lurah, bisa banget alibinya.
"Aaaahh Maaas gaak bisaa.
Ooo…oooh Maaas kok malah di cepeeetiin? Ooohh.
" Gerakan jari Pak Lurah semakin cepat, tidak hanya mengobel dan keluar masuk tapi juga menggaruk bagian dalamku dan memutar, mengabaikan protesan yang aku suarakan sambil mendesah-desah itu.
"Iya Sayang, Mas pengen lihat kamu muncrat.
Uuh Mas tambahin yaa.
" "Aaakk, uuuh udah Mas, uhh penuuh.
Aah aah aaaah.
" Aku menjerit lagi ketika satu jari tambahan merojok masuk menemani si jari tengah.
Membuatku merasa penuh sehingga secara otomatis memekku berkedut dan mengempot jari Pak Lurah.
"Katanya memekmu perih Dek, tapi kok bisa nyedot sama ngempot jari Mas gini? Baru dua jari nih, mau tambah satu lagi Dek?.
" Pertanyaan Pak Lurah membuatku menggeleng-geleng heboh.
"Aaah jangaaan, jangaan Maaas.
Ooooh udah pen… penuuuh.
Eeemh oooohh.
" Memekku ini sudah di gempur semalaman, masih perih sekarang sudah di isi sama dua jarinya yang besar-besar itu, nggak bisa kalau di tambah satu lagi jari, aku bakalan ngangkang terus seharian kalau itu terjadi.
Aduh, mana ini di rumah mertua lagi.
"Kamu nih malu-malu mau ya Dek.
Katanya gak mau gak mau, tapi kalau sudah di pegang, jerit-jerit keenakan kamu.
Nih rasain, Mas rojok memek kamu.
" Gerakan jari Pak Lurah semakin brutal, membuatku juga semakin mendesah-desah.
Tangan kananku bahkan sudah mengalung ke lehernya, sementara tangan kiriku memegangi tangan Pak Lurah yang merengkuh tubuhku dari belakang.
"Aaaaaaahh Maas, auh auh.
Geliii, gaak taahaann Maaas.
Aahh aaah, cepet… cepetiinn oooh.
" Mataku merem melek, memang benar kata Pak Lurah, aku ini malu-malu mau.
Ya gimana lagi, awalnya memang sakit, tapi semakin lama jadi enak kok.
Ayo, para istri di luar sana pasti juga sama kayak aku kan? Ngaku aja kalian.
"Waah beneran sangean istri Pak Lurah ini.
Kurang cepet ya? Haa, gini niih.
Uuh rasain niih.
" Menuruti permintaanku, Pak Lurah mempercepat gerakan jarinya sambil menyisipkan variasi gerakan yang membuatku semakin mau gila rasanya.
Memekku semakin penuh, ngilu dan geli.
Rasa yang bercampur bersamaan, membuat rasa lain hadir tak tertahankan.
Rasa yang mendorong ingin keluar, semakin terasa di pangkal vaginaku.
Semakin cepat gerakan tangan Pak Lurah, semakin rasa itu mendesak keluar.
Sampai aku gak bisa menahan lagi.
Jari-jari kakiku menekuk, tanganku yang awalnya mengalung di lehernya, sekarang mencengkeram keras menyalurkan rasa yang tidak tertahan itu seiring rojokan brutal jarinya.
"Oooooohh mau muncrat Mas, awaass aaah aaah aku mau muncraaat.
Aaaaahh.
" Jari Pak Lurah ditarik begitu saja saat cairan cinta ku menyembur deras.
Membuatnya menyemprot layaknya air mancur.
"Uuh ada pertunjukan air mancur.
Deres banget semburannya, tangan Mas sampai kuyup gini.
""Aah Maas udaaah, jangan masukin lagiih.
Aku gak bisa berhenti inii huhuu Maass.
" Tubuhku masih menyentak bergetar-getar ketika tangan Pak Lurah kembali lagi menyentuh memekku yang masih berkedut-kedut mengeluarkan sisa-sisa peju yang masih keluar sedikit-sedikit.
Was-was dikerjain lagi, aku memelas duluan.
"Udaaah, cuma pengen ngelus aja ini jari Mas.
Gemes, memek tembem pagi-pagi udah nyemprot aja.
" Ujarnya sambil menepuk-nepuk gemas memekku.
"Auhh udaah.
" Rengekku sambil menyurukkan kepala di dada polosnya.
Lemes, pagi-pagi sudah di kuras.
"Udaaah Deek.
Ayo sekarang mandi.
Mas mandiin kamu, kamu mandiin Mas ya.
" Pak Lurah berdiri, tubuhnya polos.
Sesuai dengan omongannya tadi, senjata Pak Lurah memang lagi keras-kerasnya.
Uratnya kelihatan menonjol.
Uh, untung bukan benda itu yang tadi keluar masuk.
"Eemh beneran mandi aja yaa.
Lemes Maas.
" Kataku saat berada di gendongan Pak Lurah.
Takut, karena kontolnya yang ngaceng sekarang terasa hangat menyentuh punggung telanjangku.
"Iyaa Deek, mandi aja.
" Jawabnya sambil berjalan menuju pintu kamar mandi.
***Selamat Malaaamm!!! Pak Lurah is back.
Ayo ramaikan, kasih emot 💦 yang banyak di kolom komentar yaa.
Transfer semangat kalian ke aku, supaya besok bisa upate lagi... Hihii
Sumber:Internet