. ***Kata Ibuk, supaya di sayang mertua harus jadi menantu yang baik.
Menantu yang baik versi Ibukku adalah yang bangun pagi-pagi langsung masak, setelah itu mengurus suami yang mau berangkat kerja lanjut setelahnya berberes.
Sebenarnya aku kurang setuju, jika melakukan itu semua, lalu bedanya aku dengan pembantu itu apa?.
Aku pernah menyuarakan semua pendapatku ini kepada Ibuk.
Tapi tentu saja aku kalah.
Ibuk malah ceramah panjang kali lebar, yang kalau aku nekat menyangkal lagi, Ibuk akan membalas perkataanku 10 kali lipat lebih panjang.
Jadi ya sudah, saat beliau menasehatiku tentang bagaimana aku harus berlaku ketika di rumah ibu mertua, aku hanya iya iya saja.
Yang ternyata malah aku lakukan saat ini.
Setelah drama pengantin baru subuh tadi, sekarang aku sudah rapi, cantik dan wangi dengan dress panjang berwarna biru muda yang cerah serta kerudung berwarna senada.
Dengan langkah pelan dan berhati-hati, sebab bagian bawahku yang masih perih ketika bergesekan, aku bergerak ke arah dapur rumah mewah ini.
Tidak kudapati Mama Mertua disana.
Di dapur itu hanya ada satu orang perempuan paruh baya yang aku kenal sebagai Mbok Sari.
"Lho, Bu Lurah kok sudah bangun? Mau cari apa?.
" Belum sempat aku menyapa, Mbok Sari yang menyadari kehadiranku sudah lebih dulu bertanya.
"Oh enggak Mbok.
Mama dimana ya?.
" Entah kenapa aku malah menanyakan keberadaan Mama Mertuaku.
"Jam segini Ndoro Ibuk yo belum keluar kamar to Bu.
Nanti kalau sudah matang sarapannya, baru tak panggil buat sarapan bareng-bareng.
" Jawab Mbok Sari.
"Aaaa gitu ya Mbok.
" Balasku pelan.
Aku tersenyum tipis.
Ternyata gak semua ibu ibu itu pemikirannya kayak Ibukku.
Nyatanya, Mama Mertuaku tidak bangun pagi pagi buat masak kan.
Sepertinya aku beruntung, punya mertua seperti ini.
Tapi gak tau juga sih, ini kan pagi pertamaku berada disini.
"Mau masak apa Mbok? Aku bisa bantuin apa?.
" Tawarku pada Mbok Sari.
Aku sudah terbiasa menjalani hari dengan masak pagi, seperti ajaran Ibukku, jadi ya sebenarnya doktrin Ibuk sebagai menantu baik yang sempat aku sangkal itu memang sudah perlahan masuk ke otak dan alam bawah sadarku.
"Lho ndak usah Bu Lurah.
Tunggu aja, nanti kalau sudah matang, tak panggil buat sarapan.
" Tolak Mbok Sari.
"Eh nggak papa Mbok.
Aku biasa masak pagi-pagi kalau di rumah.
Jadi kalau nggak masak malah aneh rasanya.
Aku bantu petikin cabe sama kupas bawang ya Mbok.
" Tawarku lagi.
"Oalah Bu Lurah ini, udahlah cantik solehah, rajin lagi.
Makasih lho Bu sudah di bantuin.
""Hehe sama-sama Mbok.
" Aku mengambil cabe dan bawang-bawangan dan ku bawa ke meja makan untuk ku kupas.
Baru juga aku mengupas beberapa buah bawang, tiba-tiba ada benda kenyal yang menempel ke pipiku membuatku menjengit kaget.
"Eem.
" Aku menoleh dan mendapati Pak Lurah dengan baju casualnya tersenyum manis yang menampilkan kedua lesung pipinya.
"Tak cariin Dek.
" Katanya sambil bergerak ke kananku menarik kursi dan duduk disana.
Dejavu, posisi ini mengingatkanku pada hari pertama setelah kami menikah.
"Kok nggak istirahat aja di kamar? Emangnya udah nggak perih ya?.
" Tanyanya pelan sambil melihat ke arah bagian tubuhku yang di kerjainya tadi pagi.
Aku mendengus pelan, menatapnya sengit.
Yang ditatap malah cengar-cengir nggak merasa bersalah sama sekali.
"Nggak yakin aku bisa istirahat di kamar, ada orang mesum banget soalnya disana.
Mending disini aja.
" Jawabku sarkas, harusnya dia merasa ya.
Tapi Pak Lurah malah tergelak kecil, lalu menimpali.
Sumber:Internet