Gelap

Cinta Pak Lurah 15

🇲🇾 Malaysia
Kelajuan: 1.0x
Status: Sedia
×

Bantuan tetapan main balik

Jika sudah menggunakan Chrome/Edge, tetapi tetap tidak boleh putar, semak tetapan Telefon/PC Anda.
Pastikan enjin TTS aktif, menggunakan bahasa yang ingin anda dengar.

Untuk pengguna Android dan OS lain

Untuk pengguna Android, Harmony, Lineage, Ubuntu Touch, Sailfish, ColorOS / FuntouchOS, hyperOS, dll
Akses Menu: Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Output Teks-ke-Ucapan.
Jika tiada, Tetapan > kotak carian di atas > masukkan "text-to-speech" atau "text"
Lalu pilih teks-ke-suara atau teks-ke-ucapan, atau yang serupa dengannya.
Untuk menambah bahasa, klik ikon gear ⚙ > pasang data suara pilih bahasa yang anda inginkan.

Untuk pengguna iOS

Buka Tetapan > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan
Atau tetapan > kotak carian di atas > masukkan "kandungan diucapkan" enter
Untuk tambah bahasa pilih suara pilih suara

Untuk pengguna PC MacOS

Akses Menu: Klik Menu Apple () > Tetapan Sistem > Kebolehcapaian > Kandungan Diucapkan.

Untuk pengguna Windows

Windows 10 & 11
Akses Menu: Buka Mula > Tetapan > Masa & Bahasa > Pertuturan atau Speech.
Windows 7 & 8
Panel Kawalan > Kemudahan Akses > Pengecaman Pertuturan > Teks ke Ucapan
Windows XP
Mula > Panel Kawalan > Bunyi, Pertuturan dan Peranti Audio > Pertuturan
Windows 2000 & ME
Mula > Tetapan > Panel Kawalan > Pertuturan
Untuk pengguna PC jenis lain, seperti Linux, ChromeOS, FreeBSD, dll.
Sila cari tetapan untuk aktifkan text-to-speech di enjin carian, seperti Google, Bing, dll

Nota Buat masa ini, halaman ini berfungsi mengikut enjin daripada peranti anda.
Jadi suara yang dihasilkan, mengikut enjin TTS daripada peranti anda.

Cinta Pak Lurah 15

. ***Entah kenapa, sepertinya semesta tidak mendukung kenginginanku untuk menyemprot Pak Lurah, karena sampai kita pindah ke rumahnya di sore hari, Pak Lurah sangat sibuk entah menerima telepon atau menerima tamu.
Aku semakin jengkel lagi ketika suasana hatiku yang sedang tidak enak ini malah terpaksa harus beramah-tamah dengan warga yang datang ke rumah demi menjaga nama baik Pak Lurah juga.
Apalagi melihat Pak Lurah yang sepertinya sama sekali tidak peka dengan keadaanku saat ini, menambah rasa panas di dadaku.
Bisa-bisanya dia tidak menyadari raut wajahku yang aku yakin sinis saat menatapnya.
Menjelang malam, tamu-tamu Pak Lurah mulai berkurang.
Masih ada satu dua tamu yang bisa di atasi sendiri oleh Pak Lurah.
Aku bergegas pergi ke kamar, saat itu juga.
Badanku sudah minta di istirahatkan, dari pagi sampai malam begini belum sempat di rebahkan sama sekali.
Perihal diskusi dengan Pak Lurah, sepertinya harus dikesampingkan dulu.
Marah-marah juga butuh tenaga.
Selesai dengan rutinitas malamku yang hampir memakan waktu 1 jam seperti biasa, aku beranjak ke arah kasur yang seolah memanggilku untuk segera rebah.
Ahhh, nyamannya.
Perpaduan kasur yang empuk di balut dengan seprei yang lembut begitu memanjakan punggungku yang seharian ini rasanya tegang.
Akhirnya rasa badmoodku sedikit terobati berkat kasur empuk ini.
Baru juga ingin menarik selimut untuk menutupi tubuhku, pintu kamar terbuka.
Secara spontan pandanganku beralih kesana.
Ya, siapa lagi kalau bukan Pak Lurah.
Begitu pintu kamar tertutup, dia langsung nyelonong saja ke kamar mandi tanpa melihatku sama sekali.
Wah, aku mendengus tidak percaya.
Kenapa seolah dia yang marah dan aku pembuat onarnya?.
Aku menendang selimut kesal, dan menutup tubuhku sampai dengan kepala menggunakan selimut itu.
Bodo amat, aku butuh tidur sekarang juga.
***Getar alarm yang berada di nakas tepat di samping kasur membuatku menggeliat.
Masih dengan mata terpejam, tanganku berusaha menggapai hape yang masih menjeritkan suara yang mengganggu kenyamanan tidurku.
Rasanya seperti baru saja memejamkan mata, kenapa sudah pagi saja?.
Aku mendengus setelah berhasil membuat hapeku berhenti berdering.
Berguling ke arah kanan, aku mengetatkan selimut karena pagi ini dingin sekali rasanya.
Samar aku merasa ada angin hangat yang menerpa wajahku, membuatku mengernyit dalam tidur.
Aku abaikan.
Tapi tidak hilang-hilang, membuatku penasaran saja.
Aku memaksakan mataku untuk membuka, mengerjap-ngerjap sampai mataku menangkap sebuah wajah dengan ekspresi datar yang membuatku kaget.
"Heeh.
" Kepalaku sampai otomatis mundur saking kagetnya.
Mataku mendadak menjadi segar karena rasa kantuk yang sama sekali hilang.
"Ck.
" Aku berdecak saat kesadaranku sudah terkumpul sepenuhnya.
Menatap Pak lurah yang menyangga kepalanya menghadap ke arahku.
Tuk"Aduh.
" Aku memegang dahiku yang menjadi korban jentikan jari Pak Lurah.
Mataku memicing menatapnya kesal, apaan deh bangun-bangun kdrt.
"Bangun, shalat subuh.
" Katanya singkat sambil beranjak dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi.
Apa-apaan itu, kenapa sifatnya kayak balik lagi seperti waktu pertama bertemu.
Cuek, dingin dengan tatapan mata yang tajam.
Apa karena sudah berhasil merawanin aku? Terus sifat aslinya keluar lagi, nggak usah ngerayu-rayu aku lagi gitu?.
Lama berfikir kenapa jadi sikap Pak Lurah yang berubah, aturan aku yang bersikap kayak gitu karena dia sudah ingkar janji, pintu kamar mandi terbuka.
"Belum bangun juga?.
" Tanya Pak Lurah sambil bersedekap dada.
Sudah macam bapak yang lagi marahin anaknya saja.
"Ck.
" aku berdecak lagi, sambil membuka selimut dan bangun.
Melewatinya begitu saja yang masih berada di depan pintu kamar mandi.
Memangnya cuma dia aja yang bisa berlaku cuek, aku juga bisa kali.
***Keluar kamar mandi, aku tertegun karena Pak Lurah sudah siap dengan baju koko dan sarungnya, berdiri di atas sajadah membelakangiku.
Tidak hanya itu, di belakangnya juga sudah tergelar sajadah lengkap dengan mukena di atasnya.
Pak Lurah menoleh ke belakang, menatapku yang hanya berdiri mematung lalu berkata.
"Udah wudhunya?.
Ayo shalat jamaah.
" "Kamu nggak ke mushala?.
" tanyaku menyuarakan apa yang sejak tadi berseliweran di kepala.
Beberapa hari menjadi istrinya, baru ini aku lihat dia absen ke mushala.
Biasanya walaupun habis ngerjain aku sebelum subuh, dia tetap tuh pergi ke mushala.
"Nggak.
" Oke, mendengar jawaban singkatnya itu membuatku menghela nafas, rasanya agak aneh, karena sudah beberapa hari ini dia selalu antusias dan mesum kalau menghadapiku.
Tidak mau membuatnya menunggu lama, aku berjalan mendekat untuk segera memakai mukena.
***Sejenak setelah salam terakhir, Pak Lurah membalikkan badannya dan mengulurkan tangan kanannya ke hadapanku.
Aku menerima uluran tangan itu dan menciumnya.
Begitu pula Pak Lurah yang mendekatkan tubuhnya ke arahku lalu mencium keningku lama.
Rasanya segala amarah yang sejak kemarin mengganjal di hatiku dan tidak bisa ku salurkan luruh sudah.
Pak Lurah macam tau saja kalau kaum physical touch macam aku ini memang butuh perlakuan seperti ini untuk menenangkan hati.
Dan alih-alih memberondongku dengan banyak pertanyaan lebih dulu, dia memilih sebisa mungkin diam dan meruntuhkan pertahananku dengan ciuman di kening ini.
Melepaskan ciumannya, Pak Lurah berganti mengambil kedua tanganku untuk di genggamnya.
Tatapan matanya tidak lagi tajam, sekarang menatapku teduh.
"Sudah enakan belum hatinya?.
" Tanyanya dengan nada lembut yang entah kenapa malah membuatku ingin menangis.
Jadi aku hanya mengangguk saja sebagai jawaban.
"Oke.
Jadi, sudah bisa cerita kenapa kemarin seharian cemberut dan sinis kepada Mas?.
" Sambungnya lagi lamat-lamat, satu tangannya mengelus-elus dahiku.
Aku mengangguk lagi, mencoba menelan ludah untuk menghilangkan rasa sakit di tenggorokan akibat menahan tangis.
Entahlah, rasanya salah saja memikirkan perilakuku kemarin yang ingin mengkonfrontasinya begitu saja tanpa berfikir, terlihat sangat kekanakan.
Sedangkan Pak Lurah sendiri, memilih cara yang lebih dewasa untuk menghadapiku.
"Ehm.
" Aku berdehem dan mengangkat wajahku yang sedari tadi menunduk menatap tanganku yang berada dalam genggaman Pak Lurah.
"Malam itu waktu kita ngobrol, Mas janji akan diskusi dulu denganku perihal apapun kan?.
" Tanyaku pelan sambil menatap matanya.
"Hem, iya.
""Terus kenapa Mas ingkar janji?.
" Tanyaku lagi setelah mendapatkan jawabannya.
"Ingkar janji?.
" Tanya Pak Lurah, seperti memastikan.
"Iya, kemarin pagi.
""Coba bagian mananya Mas ingkar janji Dek, Mas sama sekali nggak ada bayangan dimana letak ingkar janjinya.
" Aku menghela nafas mendengar jawabannya, mencoba melapangkan rasa sabarku.
"Kemarin waktu sarapan, Mas tiba-tiba memutuskan untuk pindah dari rumah Mama sore harinya.
Padahal seharusnya kita dua hari di rumah sana.
Apa Mas ada bilang ke aku sebelumnya? Aku jadi bingung harus bereaksi seperti apa di hadapan mertuaku kemarin itu.
Lalu, Mas juga bilang kalau hari Senin sudah mulai masuk kerja, jadi honeymoon bisa dipikirkan nanti.
Yang ini okelah, ngga begitu masalah karena aku juga nggak begitu pengen honeymoon.
Tapi, tiba-tiba Mas bilang ke Mama kalau cucunya sudah on the way.
Memangnya kita pernah ngomong tentang masalah anak? setahuku belum lho Mas, kenapa main iyain saja permintaan orangtua?.
" Jelasku panjang lebar dengan nada yang tenang, tidak berniat memojokkannya, karena Pak Lurah pun berlaku seperti itu terhadapku.
Selama aku menyuarakan unek-unek yang sejak kemarin sudah aku tahan, Pak Lurah mendengarkan dan menatap mataku dengan seksama.
Begitu aku mengakhiri penjelasanku dengan pertanyaan, Pak Lurah perlahan menyunggingkan senyum teduhnya, tangannya kembali mengusap-usap dahiku.
"Hemm, jadi ini masalahnya.
" Gumamnya pelan, lalu mengecup keningku dan mengecup bibirku sekilas.
Ck kenapa malah cium-cium terus, sudah balik lagi sifat mesumnya nih?.
***Manis nggak perlakuan Pak Lurah?Mau double up?
Sumber:Internet