. ***"Ih, jangan cium-cium dulu.
" Aku membungkam mulut Pak Lurah dengan tangan ketika wajahnya mendekatiku lagi.
Bukannya apa, kita perlu ngomong masalah ini dulu.
Kalau sudah cium-cium takut kebablasan, soalnya sifat mesumnya sudah balik lagi.
"Mas ih, kok malah senyam-senyum.
Kasih penjelasan dooong.
" Tuntutku ketika Pak Lurah bukannya menanggapi semua penjelasanku, tapi malah senyam-senyum tidak jelas.
"Hmm, ini baru Tari istrinya Pak Lurah.
Sukanya mendesah-desah padahal nggak di apa-apain.
" Katanya sambil menggodaku.
"Maaass.
" Jeritku pelan menabok bahunya.
Puas tertawa menggodaku, Pak Lurah sekarang mulai menatapku kembali dengan senyumnya yang teduh.
Tangan kanannya beralih ke pinggangku dan menarikku lebih dekat ke arahnya.
"Maaf.
" Ucapnya pelan terdengar sangat tulus, aku menatap dalam kedua matanya.
"Mas nggak akan mengelak, Mas akui salah.
Tapi, Mas bukannya sengaja untuk ngomong seperti yang kamu sebutkan itu kemarin.
""Mas kira untuk hal-hal kecil seperti kemarin, nggak perlu ngomong dulu ke kamu nggak akan jadi masalah.
Mas kira kamu juga akan setuju-setuju saja.
""Hal kecil? Keputusan untuk punya anak itu bukan hal kecil lho Mas.
" Kataku menatapnya serius.
"Terus, komunikasi antar pasangan itu penting, sekecil apapun.
Ya supaya untuk menghindari hal-hal seperti ini.
Kalau suami main memutuskan persoalan yang dianggapnya kecil, lalu peran istrinya apa dong.
?" Lanjutku menggebu.
"Iyaaa Dek, sabaar dulu Mas kan ngomongnya belum selesai.
" katanya pelan, sambil tangan kirinya mengusap-usap dahiku lagi.
Entahlah, sepertinya itu caranya menenangkanku.
Yang memang berhasil, aku menghela nafas mencoba bersabar mendengar penjelasannya lagi.
"Awalnya memang Mas bilang mau nginap di rumah Mama dua hari.
Tapi setelah memikirkan kalau kita juga harus pindahan dan nata-nata barang, Mas jadi berubah pikiran.
Senin besok, Mas sudah mulai tugas, jadi kalau dua hari di rumah Mama dan baru pindah besok, Mas nggak akan bisa bantuin kamu susun barang di rumah ini.
Dan Mas nggak mau itu.
Maaf karena nggak mendiskusikan hal ini dulu dengan kamu ya Dek.
""Lalu untuk masalah honeymoon, sejujurnya Mas sama sekali nggak ada pikiran kesana karena memang sebagai Lurah yang baru saja resmi di lantik, kerjaan Mas akan lumayan padat.
Tapi karena Mama tiba-tiba ngomong begitu, Mas jadi kepikiran pengen honeymoon.
Tapi karena memang belum ada waktu, jadi kemarin Mas jawab seadanya saja.
" Jelasnya lagi.
"Oh atau jangan-jangan kamu ngambeknya karena honeymoon ditunda Dek? Jadi nggak bisa main sepuasnya sama Mas?.
" Tanyanya tiba-tiba.
"Ih nggak ya, aku nggak mikir sampai kesana.
Aku nggak mesum kayak Mas ya, nggak bisa berduaan bentar, pasti langsung ngajakin aneh-aneh.
" Jawabku protes, enak saja, aku malah takut kalau di ajakin honeymoon.
Di rumah saja dia sudah lupa waktu, apalagi honeymoon, aku pasti di garap habis-habisan.
Pak Lurah terbahak mendengar protesanku.
Kepalanya sampai mendusel di ceruk leherku yang masih tertutup mukena.
Puas banget kayaknya godain aku.
"Haha, maaf maaf Dek, jangan cemberut dong.
Lagian kamu juga suka kan kalau di ajak aneh-aneh, malah keenakan kan.
Aaah Maas enak cepetiin Ahh Maa.....""Iiiih dieem.
" Aku meloncat ke pangkuannya dan membungkam mulutnya sebelum dia menyelesaikan godaannya itu.
Mau di taruh mana mukaku ini.
Maluuu.
"Diem, jangan ledekin gituu baru aku lepasin.
" kataku saat Pak Lurah berusaha melepas bungkaman tanganku.
Begitu melihat anggukan kepalanya, aku menjauhkan tanganku dari mulutnya.
Sumber:Internet