. ***Ternyata memang benar, hidup di rumah sendiri setelah menikah jauh lebih enak daripada tinggal di rumah orangtua atau mertua.
Bebas ngapain aja tanpa perlu memikirkan rasa nggak enak.
Seperti aku dan Pak Lurah pagi ini, alih-alih bangun dan menyiapkan sarapan seperti biasa, aku malah masih bergelung nyaman di atas kasur bersamanya.
Selesai berkegiatan mesum dengan Pak Lurah sehabis subuh tadi, aku tidur sebentar.
Maklum, udara pagi yang dingin di tambah dengan lelah setelah disodok Pak Lurah dan muncrat sampai basah membuatku tidak bisa menahan rasa lelah itu, hingga kantuk datang menyerang.
Bangun-bangun kamar sudah terang benderang, karena matahari sudah naik seperempat.
Walaupun begitu, Pak Lurah masih saja menahanku di atas kasur.
Jadilah sekarang kami –aku dan Pak Lurah bersandar di kepala ranjang, lebih tepatnya Pak Lurah yang bersandar disana sedangkan aku bersandar nyaman di dadanya.
Masih dengan telanjang bulat, hanya di lindungi oleh selembar selimut.
Kedua tangannya mendekapku erat.
"Jadi, ukuran beha kamu berapa?.
""Ih Mas, apaan sih? Kayak nggak ada pertanyaan lain aja!.
" aku menepuk dadanya saat pertanyaan tanpa tedeng aling-aling itu menyapa telingaku.
"Lho, katamu tadi ngajakin saling mengenal lebih dalam lagi.
Ya pertanyaanku ini salah satunya yang bisa membuat kita saling mengenal lebih jauh.
" Ya, aku memang mengusulkan hal itu, karena memang penting menurutku untuk saling mengenal lebih dalam lagi.
Siapa tau hal ini bisa menjadi jalan untuk mempercepat pertumbuhan rasa cintaku kan.
Tapi bukan pertanyaan yang seperti ini yang kuharapkan tentu saja.
"Ya tapi bukan pertanyaan mesum macam ini juga Maaas.
" jawabku gemas dengannya.
"Kamu itu pikirannya nggak jauh-jauh dari hal mesum.
" tambahku kesal.
"Lha wong yang dimesumin aja suka kok, malah keenakan.
" jawabnya asal-asalan yang membuatku tidak terima dengan pernyataannya itu.
"Nggak ya, enak aj –aaaa Tangan kiri Pak Lurah yang merangkul pinggangku dengan sengaja menarik turun selimut yang menutupi dadaku, dan meremas susuku tanpa aba-aba.
Sontak saja membuatku langsung menjerit.
"Gini yang nggak keenakan itu, kok malah mendesah? Hmm?.
" tanyanya sambil tersenyum menyeringai.
"Aah lepasin Mas!.
" menolak menjawab, tanganku berusaha menyingkirkan tangannya.
Tapi sia-sia saja, tenaga besar Pak Lurah tentu saja bukan tandinganku.
"Enak nggak?.
" tanyanya lagi.
"Ngga –aaauuuh Maaassh.
" sekarang bukan hanya tangan kirinya yang mengerjaiku, tapi kedua tangannya menangkup masing-masing dadaku dan memuntir pentilnya.
"Masih bisa bilang nggak enak? Hmm?.
" bisiknya dengan senyum menyeringai puas.
"Enak nggak?.
" tanyanya menuntut.
Inisih namanya pemaksaan.
"He'em enaakh – enaaaakh, udaah lepasiin.
" terpaksa aku mengakuinya untuk membuat Pak Lurah melepas remasannya.
Tidak sepenuhnya berhasil karena jarinya masih tinggal disana, jempolnya menggoda pentilku.
Mengusap-usap gemas, kadang juga di cubit dan di tarik.
Aku hanya bisa merem melek.
Oke, aku akui memang perlakuan Pak Lurah kepadaku itu enak luar biasa, aku sengaja bohong untuk menjaga rasa gengsiku, sepertinya Pak Lurah tau dan dia berusaha meruntuhkan rasa gengsiku itu.
Selamat Pak Lurah, anda berhasil.
"Sampai sekarang Mas itu masih heran lho Dek sebenernya.
""Heemh?.
" aku hanya menjawab dengan gumaman sebab aku sibuk mengatur nafasku yang masih terengah-engah.
"Ini lho.
" matanya menatap pentilku yang belum di lepaskannya.
Otomatis pandanganku mengikutinya dan melihat dengan jelas bagaimana jari jempol dan telunjuknya memuntir-muntir pentilku.
Eemh, rasa gelinya menjalar cepat merambat menuju perutku dan terus turun menyenggol saraf sensitif di memekku.
"Beneran belum ada yang ngenyot pentilmu selain aku?.
""He'em benerh.
" jawabku sambil menahan desahan.
Matanya menyipit mendengar jawabanku.
"Bener kamu? Tapi kok bisa sebesar kelereng gini? Ini bener-bener gede dan padet lho.
" katanya sambil menjentik-jentik pentilku terus-menerus.
Aku hanya bisa menahan supaya nggak menjerit heboh.
Sudah ku bilangkan, kalau susu dan pentil adalah area sensitfiku?.
Dipermainkan seperti ini oleh Pak Lurah tentu saja membangkitkan hal lain dalam diriku.
Gairahku sudah kembali on, memekku di bawah sana sudah berkedut-kedut dan mengeluarkan cairan pembasahnya.
Aku berusaha merapatkan kedua pahaku, mencegah banjir melanda.
Ya, hanya dengan permainan jari Pak Lurah di pentilku, rasa-rasanya aku bisa saja orgasme.
"Dek?.
" Saking fokusnya menahan banjir, aku sampai mengabaikan pertanyaannya.
"Hem? Ooh bener, Mas yang pertama.
Mungkin ini keturunan.
" alibiku.
Rasanya masih malu untuk mengakui bahwa aku sendiri suka bermain dengan tubuhku dan memuntir-muntir pentilku dari SMA sehingga pentilku bisa jadi gede seperti sekarang.
Biarlah itu jadi rahasiaku, Pak Lurah nggak perlu tau.
"Eemh, sekarang gantian aku yang tanya.
Berapa mantan pacar Mas dan jelasin satu-satu.
" alihku, kalau tidak begini Pak Lurah akan mencecarku tentang pentil terus-terusan.
Sepertinya pertanyaanku berhasil mengusiknya, karena pelintirannya di pentilku berhenti saat pertanyaan itu meluncur dari mulutku.
Pandangan matanya mengedar, seperti enggan menatapku.
Mataku menyipit melihatnya.
"Hmmm berapa ya?.
" katanya pelan sambil menaikkan selimut untuk menutup kembali dadaku.
"Iihh, saking banyaknya sampai lupa?.
" nada suaraku naik.
Rasanya tidak rela saja membayangkan bukan aku pasangan pertamanya.
"Eeh hehe, bukan gitu Dek.
" kini Pak Lurah hanya bisa nyengir saja.
"Terus gimana? Kok kayak bingung gitu.
Jangan coba-coba bohong sama aku ya.
Perempuan itu bakalan tau kalau pasangannya bohong, sekecil apapun!.
" tegasku.
"Eem, janji nggak marah ya?.
" katanya.
"Jadi beneran banyak banget?.
" tanyaku, aku sampai menegakkan punggungku tidak lagi menyandar pada dadanya.
"Eeh, nggak banyak juga Dek.
Cuma 4.
" jawabnya sambil mengangkat keempat jarinya.
"Cuma empat?.
" tanyaku sambil melotot menatapnya.
Empat dibilang cuma?.
Yang bener aja.
"Yaa, dibanding temen-temenku memang mantan pacarku yang paling sedikit Dek.
" aku tambah melotot mendengar jawaban pedenya itu.
"Emang mantan pacar kamu berapa?.
" tambahnya lagi.
"Aku nggak pernah pacaran!.
Siapa aja mantan pacar kamu itu? Siapa namanya? Orang mana?.
" tanyaku memberondongnya.
"Bohong banget kalau kamu nggak pernah pacaran, pasti pernahlah, hayo ngaku.
""Nggak usah ngalihin pertanyaan ya.
Jawab dulu pertanyaanku!!.
" kataku menuntut.
Rasanya tidak adil saja, aku menjaga diriku untuk tidak jatuh cinta dan berpacaran, berharap pasanganku juga berlaku demikian, karena katanya jodoh adalah cerminan diri.
Eh, Pak Lurah malah dengan pedenya bilang mantannya empat.
Sungguh terlalu.
***Waduh, Pak Lurah nih diam-diam mantan pacarnya banyak ya.
Kira-kira Bu Lurah bakalan ngambek nggak kalau Pak Lurah jujur siapa aja mantannya?.
Sumber:Internet