. Drrrtt drrttAku terganggu dengan hape yang tidak berhenti bergetar, aku menggerayangi nakas yang ada di sampingku, mataku menyipit melihat hapeku, ternyata alarm.
Sudah jam 5 pagi, waktunya sholat subuh.
Setelah mematikan alarm aku meletakkan kembali hapeku di meja nakas.
Entah mengapa bangun tidur pagi ini aku merasa tubuhku sangat enteng, lega dan puas.
Aku masih mengumpulkan nyawaku sebelum bangun dan sholat subuh, tetapi pikiranku seperti mengingat sesuatu samar-samar.
Aku diam sejenak dan menolehkan wajahku ke samping ranjang yang kosong.
Ow, aku ingat dengan jelas sekarang, kemarin aku sudah menikah.
Sama lurah baru yang kelakuannya sok dingin itu.
Aku bilang begini karena dia selalu menatapku dengan mata tajamnya dan wajah datar, tetapi kalau dengan orang tuaku atau orang lain dia bisa ramah dan senyum.
Apa dia pikir cuma dia yang terpaksa dengan pernikahan ini, aku juga kali.
"Jadi semalem dia nggak tidur disini? Untung deh kalau gitu.
Keenakan dia kalau sampek bisa lihat tubuh montokku.
" Aku bergumam sambil menyibakkan selimut dan perlahan turun dari ranjang.
Lagian, bisa-bisanya aku pakai baju tidur kayak gini semalam tanpa pikir panjang.
Kayaknya mulai sekarang aku harus selalu ingat kalau sudah punya suami, jadi aku harus pakai baju tidur yang tertutup.
"Emh auh.." Aku mendesah pelan karena merasa pentilku sedikit ngilu dan perih pas kegesek baju.
Aku keluarkan salah satu susuku dan mengamatinya.
Tidak biasanya pentilku tegang gini, aku heran.
Biasanya pentilku akan tegang membesar kalau aku jepit jepit dan pelintir aja pas aku pakein serum.
Ini masih pagi dan nggak aku apa-apain kok bisa kayak gini.
Dengan rasa penasaran, aku pegang pelan pentilku dengan ibu jari dan jari telunjuk.
Seketika aku menjerit kaget.
"Aaakk, aduhh.
" Pentilku lecet!!! Sakit banget.
Aku lepaskan peganganku pada pentilku dan mengeluarkan susuku yang satunya.
Aku amati lagi dalam-dalam dan aku pegang.
Sialan, pentilku dua-duanya lecet.
Kenapa bisa begini yaa? Apa semalem aku kekencengan mencetnya setelah aku pakein serum, kayaknya gak deh, aku mencetnya sama seperti malam-malam sebelumnya kok.
Aku mendongakkan kepalaku dan mataku menatap jam yang tepat berada di depanku.
Aduh kok sudah setengah 6 aja.
Nggak ada waktu untuk mikirin pentil lebih lama lagi.
Aku masukkan kedua susuku ke dalam baju dan berdiri masuk ke kamar mandi untuk ambil wudhu dan sholat.
***Setelah menghabiskan 10 menit sholat subuh, aku kembali duduk di kasur dan mengeluarkan kedua susuku karena masih terasa ngilu dan perih kalau tergesek baju.
Aku pegang susuku dan amati lagi.
Pentilku masih tegang dan besar.
"Perih banget.
" Aku meniup pentilku pelan-pelan, untuk mengurangi rasa perihnya.
Sambil mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi semalam.
Seingatku setelah mandi aku langsung pakai skincare dan serum susu, lalu aku pijit susuku sebentar, dan aku pelintir pentilku pelan habis itu aku langsung ke ranjang untuk tidur, baru bangun tadi pagi.
Apa aku melupakan sesuatu?? Kayaknya gak juga.
Entahlah mungkin saking capeknya aku, semalam kekencengan pas pelintir pentilnya sampai lecet dan bengkak pagi ini.
Aku menyamankan posisiku di tempat tidur dan menyandarkan punggungku di sandaran kasur setelah mengambil kipas kecil di laci nakas di sampingku untuk mengipasi pentilku.
"Hmm lumayan perihnya berkurang.
Tapi pentilku jadi tambah tegang karena dingin kena kipas.
" Aku memejamkan mataku sambil menunggu pentilku perihnya hilang.
Dengan satu tanganku untuk mengipasi pentil, dan tangan satunya lagi memijat susuku.
Rasanya enak seperti main squishy, empuk dan kenyal.
"Ngapain kamu itu?" Lagi enak menikmati kenyalnya susuku, aku mendengar suara laki-laki yang berat dan serak.
Seketika mataku terbuka, tanganku berhenti meremas susu.
Aku kaget melihat laki-laki yang kemarin baru jadi suamiku berdiri di pintu sambil bersedekap dada.
Dia memakai baju koko dan sarung, di pundaknya tersampir sajadah.
Pandangannya tajam seperti biasa menatapku, lalu pandangan matanya turun, aku mengikuti arah pandangannya dan mataku tepat melihat susu yang masih aku genggam dengan tangan kiri, serta tangan kananku yang memegang kipas masih mengipasi pentilku.
Aku kaget lagi, mataku membola dan aku menjerit.
Sumber:Internet