. ***Hari ini adalah Senin pertamaku sebagai seorang istri yang ditinggal pergi kerja oleh suaminya.
Ya, Pak Lurah sudah mulai masuk kantor hari ini.
Dia pergi jam 8 pagi tadi setelah sebelumnya menggangguku dengan segala kemesumannya.
Ini juga Senin pertama bagiku membuat bekal untuk suami.
Resep hasil scroll tiktok seharian akhirnya tidak hanya nangkring di tanda simpan saja.
Perdana juga bagiku untuk mengikuti acara ibu-ibu, apalagi kalau bukan PKK.
Mulai hari ini aku resmi menjadi ketua tim penggerak PKK di desaku.
Tentu saja rasanya masih canggung karena ini hal pertama bagiku menjadi pemimpin.
Walaupun sebenarnya tidak begitu asing dengan kegiatan PKK sebab waktu KKN dulu aku selalu mengikuti kegiatan tersebut setiap minggunya.
Sebenarnya berkumpul dengan ibu-ibu sama sekali bukan hobiku.
Aku lebih suka mendekam di kamar, scrolling social media ataupun mengerjakan kerjaanku yang memang berbasis jarak jauh.
Jadi sudah bisa dipastikan bahwa sebelum ini aku sama sekali tidak pernah berbaur dengan ibu-ibu.
Paling hanya menyapa sedikit-sedikit kalau ada tetangga lewat depan rumah dan kebetulan aku sedang di teras.
Untung saja, Ibu Jami sebagai mantan ketua tim penggerak PKK sebelumnya adalah seorang ibu yang ramah dan baik hati.
Beliau dengan telaten membimbingku untuk membuka acara PKK kali ini dan dengan aktif mengenalkanku kepada ibu-ibu yang hadir.
Untungnya lagi, ternyata ibu-ibu disana sangat ramah dan menyambutku dengan baik sebagai ketua baru.
Walaupun tentu ada saja entah 2 atau 3 ibu-ibu yang agak julid.
Seperti Bu Tin ini contohnya.
“Mbak Tari ini sudah hampir 6 bulan di rumah, jarang keluar kumpul sama warga kok ndelalah* sekarang jadi Bu Lurah ya Mbak.
Mbok sekali-kali main gitu mbak ke rumah saya, wong ya ndak jauh kok.
Biar tau nanti ada berita terbaru apa saja.
” (*kebetulan) Bu Tin ini rumahnya memang nggak jauh dari rumahku, tapi tetap saja pernyataannya ini membuatku kaget, bagaimana bisa beliau ini tau sudah berapa lama aku di rumah?.
Apa aku masuk jadi bahan rasan-rasannya*?.
(*menggosip) Beliau punya warung sayur-mayur.
Setiap aku lewat depan rumahnya, memang selalu ramai oleh ibu-ibu yang berkumpul.
Entah berkumpul dalam rangka apa, yang pasti kalau belum sampai siang hari kumpulan ibu-ibu itu belum akan bubar.
Sebagai seorang manusia yang pasti punya rasa suudzon, tentu saja aku menerka bahwa mereka pasti menggosip.
Dan aku anti mengikuti kumpulan seperti itu, buang-buang waktu dan menambah dosa.
Tapi sebagai anggota baru, apa yang bisa kulakukan selain tersenyum ramah dan menjawab…“Ooh nggih Bu Tin, nanti kalau ada waktu pasti saya ikut mampir sebentar.
Karena kan saya punya kerjaan ya di rumah, jadi nggak bisa kalau harus ngikutin kumpul dari pagi sampai siang begitu Bu.
” Hmmm rasain!!! Kerasa nggak tuh disindir?.
Kayaknya sih kerasa ya karena orangnya sekarang agak melotot gitu ke arahku.
Aku balas saja dengan senyum manis, sampai mataku menyipit.
“Iyo Bu Tin, kapok aku wingi melu ngumpul neng omahmu.
Mulih-mulih diseneni bojoku mergo urung masak.
Lha tak kiro ngumpul acara opo, jebul rasan-rasan wae to.
Ngono kok yo betah ket isuk nganti panas ngentang-ngentang.
*” Jawab seorang ibu-ibu yang akhirnya di timpali oleh ibu-ibu lainnya.
Suasana menjadi ramai oleh sahut-sahutan dari kubu Bu Tin yang memang suka nongkrong vs ibu-ibu yang tidak suka rasan-rasan.
(*Iya Bu Tin, kapok aku kemarin ikut ngumpul di rumahmu.
Pulang-pulang dimarahin suami karena belum masak.
Lha aku kira kumpul acara apa, eh ternyata hanya menggosip.
Gitu kok betah dari pagi sampai siang bolong) Aku menoleh ke kanan saat lenganku di senggol oleh Bu Jami, beliau lalu berbisik.
“Jos Dek Tari.
Memang harus begitu kalau menghadapi Bu Tin, orang julid gitu harus di ulti.
” katanya sambil cekikikan.
Bu Jami ini tau-tauan ulti juga.
Aku jadi ikut terkikik.
“Bu Lurah, njenengan iku kudu waspada lho Bu.
*” Tiba-tiba Bu Ning yang duduk di seberangku berkata dengan lantang.
(*kamu harus waspada lho Bu) “Waspada kenapa Bu?.
”“Lho iyo, iku Pak Lurah sebelum nikah sama njenengan, dadi idamane wong sak desa lho Bu.
Ndadak ayu-ayu meneh.
*” Jawabnya, membuatku hanya tersenyum meringis saja.
(*Lha iya, itu Pak Lurah sebelum nikah sama kamu, jadi idaman orang sedesa lho Bu, mana cantik-cantik lagi).
“Ooo nggih to Bu? Sinten mawon e Bu?.
*” Jadi penasaran, siapa aja cewek-cewek yang ngincer Pak Lurah sebelumnya.
Kalau nanya ke orangnya langsung kan belum tentu dia tau.
(*Iyakah Bu? Siapa saja memangnya?) “Lho akeh Bu, Santi Carik seng rondo kae.
Terus anake pak RT 05.
Urung meneh anake Pak RW seng nembe lulus kuliah kae yen ketemu Pak Lurah mesti langsung nemplok.
Akeh Bu Lurah.
*” (*Lho banyak Bu, Santi Sekretaris Desa yang janda itu, terus anaknya Pak RT 05.
Belum lagi anaknya Pak RW yang baru lulus kuliah itu, kalau ketemu Pak Lurah Pasti langsung nempel.
Banyak Bu Lurah).
Nah kan, bener firasatku.
Si Santi itu pasti masih ngebet sama Pak Lurah.
Apa di desa ini bujangannya cuma Pak Lurah seorang kah? Nggak cukup gadis, janda pun suka sama Pak Lurah.
Lagi-lagi aku hanya bisa meringis.
“Ooo nggih, kathah nggih Bu.
*” Jawabku singkat, bingung juga mau menanggapai bagaimana.
(*Ooh iya, banyak ya Bu).
“Lhoo jelas Bu.
Ibarate barang, Pak Lurah iku barang eksklusif Bu.
ora ono tunggale.
*”(*Lho jelas Bu.
Misalkan barang, Pak Lurah itu barang ekslusif Bu.
Tidak ada duanya) “Makane Bu, servise njenengan iki kudu pol-polan.
*” Tambah Bu Ning.
Belum sempat menimpali, Bu Jami ikut-ikutan menambahi.
(*Makanya servismu harus habis-habisan).
“Bener Bu, nyervis laki-laki itu gampang-gampang susah.
Yang pasti sebelum keluar rumah harus kenyang perutnya sama kenyang itunya.
” “Itunya nopo Bu*?.
” Tanya Bu Sri sambil mesem-mesem.
(*Itunya apa Bu?).
“Halah Yu Sri koyo gak ngerti wae*, itunya lho… Pistolnya.
” (*Halah Mbak Sri kayak nggak tahu saja).
Jawaban tersebut sontak membuat hadirin saling tertawa bersahutan.
Mungkin hal semacam ini juga lumrah di kumpulan ibu-ibu ya.
Tapi sebagai peserta baru, tentu saja aku agak syok dengan pembicaraan ini.
“Ojo meneh nek iseh nganten anyar.
Wooo kudune minimal sedino ping 5 Bu.
*” Sahut Bu Yun.
(*apalagi kalau masih pengantin baru.
Wooo harusnya minimal sehari 5 kali Bu).
“Lha opo ra garing pistole bojone njenengan Bu.
*” Balas Bu Sri, dengan nada bercanda.
("Lha apa nggak kering pistolnya suamimu Bu).
“Lhoo ojo salah Bu….
*” Pembicaraan absurd itu berjalan semakin liar.
Aku yang awalnya menjadi objek utama hanya bisa diam, tidak bisa menimpali sama sekali.
(*Lho jangan salah Bu..) Pikiranku sekarang mengawang, memikirkan Pak Lurah yang sedang bekerja.
Apa Si Santi itu sekarang lagi godain suamiku?.
Pak Lurah bakal kegoda nggak ya? Diakan pecinta susu, susunya Santi kayaknya juga gede deh.
Apalagi dia kan janda, pasti lebih berpengalaman masalah goyang menggoyang.
Tanpa sadar aku menggeleng-gelengkan kepala.
“Heee, ojo saru-saru.
Mesakne Bu Lurah iki lho, nganten anyar iseh isin-isin.
*”(*Hee jangan tabu-tabu.
Kasihan Bu Lurah itu lho, pengantin baru masih malu-malu).
“Mergane urung pengalaman wae kuwi.
Kene Bu Lurah tak ajari ben Pak Lurah iso kenyang atas bawah.
*” Seorang Ibu yang sejak tadi vokal sekali tentang masalah penyervisan itu menggeretku mendekat.
Dan terjadilah doktrin-doktrin tabu yang dilontarkannya masuk ke dalam otakku yang sudah sedikit terkontaminasi oleh kemesuman Pak Lurah.
(*Karena belum pengalaman saja itu.
Sini Bu Lurah saya ajari biar Pak Lurah bisa kenyang atas bawah).
***Ehem e Siap-siap double up yaaa.
Sumber:Internet